Dalam dunia keuangan dan bisnis, istilah current ratio sering muncul saat membahas kesehatan suatu perusahaan.
Rasio ini membantu menilai apakah sebuah usaha mampu membayar kewajiban jangka pendeknya dengan aset yang dimiliki sekarang.
Bagi pemula, pekerja kantoran, atau pemilik usaha kecil, memahami current ratio penting sebagai langkah awal belajar membaca kondisi keuangan.
Tenang, kamu tidak perlu jadi ahli akuntansi dulu. Konsepnya sebenarnya cukup sederhana.
Di artikel ini, kamu akan mengenal pengertian current ratio, rumus, cara menghitung, contoh, hingga kaitannya dengan pengelolaan keuangan yang lebih sehat.
Selain itu, akan dibahas juga bagaimana layanan Bank Mega bisa mendukung arus kas bisnismu.
Apa Itu Current Ratio?
Current ratio adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar yang dimiliki.
Sederhananya, current ratio menjawab pertanyaan:
“Apakah perusahaan punya cukup aset yang bisa segera digunakan untuk membayar utang yang jatuh tempo dalam waktu dekat?”
Jika jawabannya ya, berarti kondisi likuiditas perusahaan cenderung aman.
Sebaliknya, jika current ratio terlalu rendah, perusahaan bisa berisiko kesulitan membayar kewajibannya.
Komponen dalam Current Ratio
Sebelum masuk ke rumus, ada dua komponen utama yang perlu kamu pahami, yaitu aset lancar dan kewajiban lancar.
Apa Itu Aset Lancar?
Aset lancar adalah aset yang bisa dicairkan menjadi kas dalam waktu maksimal 12 bulan.
Aset ini biasanya digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional sehari-hari.
- Kas dan setara kas.
- Saldo rekening giro atau tabungan bisnis.
- Piutang dagang.
- Persediaan barang dagang.
- Deposito jangka pendek.
Apa Itu Kewajiban Lancar?
Kewajiban lancar adalah utang atau kewajiban yang harus dibayar dalam jangka waktu maksimal 12 bulan.
- Utang dagang kepada pemasok.
- Utang jangka pendek ke bank.
- Utang gaji karyawan.
- Utang pajak.
- Tagihan lain yang jatuh tempo dalam waktu dekat.
Rumus Current Ratio
Rumus current ratio sebenarnya sangat sederhana. Berikut bentuknya:
Current Ratio = Aset Lancar / Kewajiban Lancar
Hasil perhitungan biasanya berupa angka.
Semakin tinggi angkanya, semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek dengan aset lancar yang dimiliki.
Contoh Perhitungan Current Ratio
Agar lebih mudah dipahami, mari lihat contoh sederhana.
Misalkan sebuah usaha memiliki:
- Aset lancar: Rp120.000.000
- Kewajiban lancar: Rp60.000.000
Maka perhitungan current ratio adalah:
Current Ratio = 120.000.000 / 60.000.000 = 2,0
Hasil 2,0 artinya perusahaan memiliki aset lancar dua kali lebih besar dari kewajiban jangka pendeknya.
Kondisi seperti ini umumnya dianggap cukup aman.
Berapa Current Ratio yang Dianggap Baik?
Tidak ada angka baku yang berlaku untuk semua jenis bisnis.
Namun, ada panduan umum yang sering digunakan sebagai acuan.
- Di bawah 1,0: aset lancar lebih kecil dibanding kewajiban. Risiko likuiditas cenderung lebih tinggi.
- Antara 1,0 – 3,0: sering dianggap sehat untuk banyak jenis usaha.
- Terlalu tinggi (misalnya > 3,0): bisa berarti banyak aset menganggur dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Meskipun begitu, setiap industri bisa memiliki standar rasio yang berbeda.
Karena itu, membandingkan current ratio dengan perusahaan sejenis akan lebih relevan.
Manfaat Current Ratio untuk Bisnis
Current ratio bukan hanya angka di laporan keuangan.
Rasio ini punya beberapa manfaat penting, terutama bagi pemilik usaha dan pengambil keputusan.
- Menilai kesehatan keuangan: membantu melihat apakah bisnis mampu bertahan dalam jangka pendek.
- Mendukung pengambilan keputusan: pemilik usaha bisa memutuskan kapan perlu menambah modal atau menekan utang.
- Menjadi pertimbangan bagi bank: lembaga keuangan sering melihat rasio ini saat menilai kelayakan kredit.
- Membantu mengelola arus kas: mempermudah pengaturan kapan harus bayar tagihan dan kapan bisa berinvestasi.
Contoh Current Ratio dalam Kehidupan Usaha
Berikut beberapa contoh sederhana agar konsep current ratio terasa lebih dekat dengan keseharian bisnis.
Contoh 1: UMKM Kuliner
- Aset lancar: Rp30 juta (kas, saldo rekening, dan persediaan bahan baku).
- Kewajiban lancar: Rp15 juta (utang ke pemasok dan tagihan lain).
Current ratio = 30 juta / 15 juta = 2,0.
Artinya, usaha ini cukup likuid dan relatif aman untuk jangka pendek.
Contoh 2: Toko Fashion
- Aset lancar: Rp20 juta.
- Kewajiban lancar: Rp25 juta.
Current ratio = 20 juta / 25 juta = 0,8.
Angka ini menunjukkan kewajiban lebih besar daripada aset lancar.
Jika kondisi ini dibiarkan, bisnis mungkin kesulitan membayar tagihan tepat waktu.
Faktor yang Mempengaruhi Current Ratio
Ada beberapa hal yang bisa membuat current ratio naik atau turun.
Memahami faktor ini akan membantumu mengelola bisnis dengan lebih hati-hati.
- Persediaan menumpuk: stok terlalu banyak bisa membuat aset terikat dan tidak cepat menjadi kas.
- Piutang sulit tertagih: banyak penjualan kredit tetapi pembayarannya lambat.
- Utang jangka pendek meningkat: misalnya sering mengambil utang pemasok tanpa perencanaan.
- Kas menipis: terlalu banyak pengeluaran operasional tanpa kontrol.
Karena itu, pengelolaan kas, piutang, dan utang sangat berpengaruh terhadap current ratio.
Peran Bank Mega dalam Mendukung Kesehatan Current Ratio
Menjaga current ratio tetap sehat membutuhkan pengelolaan keuangan yang rapi.
Di sini, layanan perbankan berperan penting, termasuk dari Bank Mega.
1. Rekening untuk Bisnis dan Transaksi Harian
Dengan memanfaatkan produk tabungan dan layanan transaksi dari Bank Mega, kamu bisa memisahkan dana pribadi dan dana usaha.
Cara ini membantu pencatatan aset lancar menjadi lebih jelas dan terstruktur.
2. Kartu Kredit Bank Mega
Kartu Kredit Bank Mega dapat digunakan untuk membayar kebutuhan operasional tertentu, seperti pembelian bahan baku atau peralatan kerja.
Semua transaksi tercatat otomatis sehingga kamu lebih mudah memantau pengeluaran.
3. Aplikasi M-Smile
Melalui M-Smile, kamu dapat mengecek saldo, memantau mutasi rekening, dan melakukan transfer kapan saja.
Dengan pemantauan yang rutin, kamu bisa mengontrol kas dan menjaga aset lancar tetap cukup.
4. Fitur Cicilan MegaPay
Untuk pengeluaran besar, kamu bisa memanfaatkan fitur MegaPay yang membantu mengubah transaksi menjadi cicilan.
Dengan begitu, kewajiban jangka pendek bisa diatur agar tidak terlalu berat di satu waktu.
Tips Menjaga Current Ratio Tetap Sehat
Ada beberapa langkah praktis yang bisa kamu lakukan untuk menjaga current ratio tetap ideal.
- Catat aset lancar dan kewajiban secara rutin.
- Hindari mengambil utang jangka pendek tanpa perhitungan.
- Kelola persediaan agar tidak terlalu berlebihan.
- Tagih piutang sesuai kesepakatan waktu pembayaran.
- Gunakan fasilitas perbankan untuk membantu pengaturan arus kas.
Kesimpulan
Current ratio adalah alat penting untuk melihat kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar.
Rasio ini membantu pemilik usaha, pekerja kantoran, hingga pemula memahami kondisi likuiditas dengan cara yang sederhana.
Dengan pengelolaan kas yang baik, pencatatan yang rapi, dan dukungan layanan keuangan dari Bank Mega, kamu bisa menjaga current ratio tetap sehat.
Pada akhirnya, bisnis pun akan berjalan lebih stabil dan siap menghadapi kebutuhan jangka pendek dengan lebih tenang.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga! Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
