Prive adalah penarikan uang atau aset oleh pemilik usaha untuk kebutuhan pribadi. Istilah ini sering muncul dalam bisnis kecil, UMKM, hingga usaha keluarga. Soalnya, banyak pemilik usaha masih mencampur uang usaha dan uang pribadi. Akibatnya, kondisi keuangan usaha jadi sulit dibaca.
Padahal, prive bukan hal yang dilarang. Prive adalah hal yang wajar karena pemilik usaha berhak menggunakan sebagian aset usaha. Namun, prive perlu dicatat dan dikontrol. Dengan begitu, kamu tetap bisa memenuhi kebutuhan pribadi tanpa mengganggu kas usaha.
Di artikel ini, kamu akan memahami apa itu prive, contoh prive, cara pencatatan dalam akuntansi, perbedaan prive dan biaya usaha, serta tips mengelolanya agar keuangan usaha tetap sehat.
Apa Itu Prive?
Prive adalah pengambilan dana atau aset usaha oleh pemilik untuk kepentingan pribadi. Dalam akuntansi, prive biasanya disebut sebagai penarikan modal. Artinya, saat pemilik menarik uang, jumlah modal usaha akan berkurang.
Secara sederhana, prive menjawab situasi seperti ini: pemilik usaha mengambil uang dari kas bisnis untuk bayar kebutuhan rumah, belanja pribadi, atau biaya sekolah anak. Selama dicatat dengan benar, hal ini masih wajar. Namun, bila sering dilakukan tanpa kontrol, usaha bisa kekurangan modal kerja.
Kenapa Prive Sering Terjadi dalam Bisnis?
Prive sering terjadi karena pemilik usaha merasa semua uang di bisnis adalah “milik pribadi”. Selain itu, banyak UMKM belum memakai sistem pembukuan yang rapi. Jadi, penarikan dana untuk kebutuhan pribadi sering dianggap biasa.
Di sisi lain, jika prive tidak dicatat, kamu akan sulit menjawab pertanyaan dasar seperti:
- Apakah usaha sebenarnya untung atau tidak?
- Kenapa kas selalu terasa kurang?
- Uang keluar untuk produksi, operasional, atau kebutuhan pribadi?
Karena itu, memahami prive sejak awal penting agar bisnis berjalan lebih stabil.
Fungsi dan Tujuan Prive
Prive memiliki fungsi tertentu, terutama bagi pemilik usaha. Walau begitu, prive harus dilakukan dengan cara yang tepat.
1) Memenuhi kebutuhan pribadi pemilik
Prive bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari pemilik usaha. Misalnya, untuk biaya rumah tangga atau kebutuhan mendesak.
2) Mengambil hasil usaha secara fleksibel
Dalam bisnis kecil, pemilik sering tidak punya sistem gaji tetap. Oleh sebab itu, prive menjadi cara untuk mengambil “hasil usaha” tanpa sistem payroll.
3) Mengatur arus kas pribadi
Jika dicatat rapi, prive bisa membantu pemilik usaha merencanakan pengeluaran pribadi. Dengan demikian, kebutuhan pribadi tidak mengganggu keuangan usaha.
Contoh Prive dalam Kegiatan Usaha
Agar lebih jelas, berikut beberapa contoh prive yang sering terjadi dalam bisnis sehari-hari.
1) Prive berupa penarikan uang tunai
Contoh: pemilik usaha mengambil Rp500.000 dari kas untuk membayar kebutuhan rumah tangga. Ini termasuk prive karena uang usaha dipakai untuk kebutuhan pribadi.
2) Prive berupa transfer ke rekening pribadi
Contoh: pemilik mentransfer sebagian uang usaha ke rekening pribadi untuk membayar cicilan. Selama dicatat sebagai prive, hal ini masih bisa dipantau.
3) Prive berupa penggunaan aset usaha
Contoh: pemilik memakai kendaraan usaha untuk kebutuhan pribadi atau mengambil stok barang untuk dipakai sendiri. Dengan kata lain, prive tidak selalu berupa uang.
4) Prive dalam usaha kecil dan UMKM
Pada UMKM, prive sering terjadi karena usaha dan rumah tangga berjalan berbarengan. Karena itu, pemilik perlu punya aturan sederhana agar kas usaha tidak “bocor”.
Prive dalam Akuntansi
Dalam akuntansi, prive dicatat sebagai pengurang modal. Artinya, prive tidak masuk ke biaya operasional, dan tidak memengaruhi laba rugi secara langsung. Namun, prive memengaruhi jumlah modal yang tersisa di usaha.
Cara mencatat prive secara sederhana
Jika kamu menggunakan pembukuan dasar, pencatatan prive bisa dibuat seperti ini:
- Debit: Prive (Penarikan Pemilik)
- Kredit: Kas / Bank
Contoh kasus: pemilik mengambil uang Rp500.000 dari kas.
- Debit: Prive Rp500.000
- Kredit: Kas Rp500.000
Dengan demikian, laporan keuangan tetap rapi dan jelas, karena ada pemisahan antara pengeluaran usaha dan pengambilan pemilik.
Perbedaan Prive dan Biaya Usaha
Prive sering disalahartikan sebagai biaya usaha. Padahal, keduanya berbeda. Biaya usaha adalah pengeluaran untuk menjalankan bisnis, sedangkan prive adalah pengambilan pemilik untuk kebutuhan pribadi.
Contoh biaya usaha
- Bahan baku produksi
- Gaji karyawan
- Sewa tempat
- Listrik dan air untuk operasional
- Biaya promosi
Contoh prive
- Mengambil uang kas untuk belanja pribadi
- Transfer uang usaha untuk biaya rumah tangga
- Mengambil stok barang untuk dipakai sendiri
Jika prive dicatat sebagai biaya usaha, laporan laba rugi bisa terlihat lebih kecil dari kondisi sebenarnya. Akibatnya, kamu sulit menilai performa bisnis.
Baca juga: 5 Tips Menabung Modal Usaha yang Bisa Anda Mulai Hari Ini
Dampak Prive terhadap Keuangan Usaha
Prive tidak memengaruhi laba rugi secara langsung, tetapi tetap berdampak besar pada keuangan usaha. Terutama jika prive dilakukan terlalu sering atau tanpa batas.
1) Mengurangi kas dan modal kerja
Jika kas sering diambil, usaha bisa kesulitan membayar kebutuhan operasional. Misalnya, bahan baku atau biaya sewa.
2) Mengganggu rencana pengembangan usaha
Usaha butuh modal untuk berkembang. Namun, prive yang berlebihan bisa membuat rencana ekspansi tertunda.
3) Membuat laporan keuangan jadi tidak akurat
Jika prive tidak dicatat, kamu tidak tahu uang usaha sebenarnya dipakai untuk apa. Dengan begitu, kontrol keuangan jadi lemah.
Kesalahan Umum dalam Mengelola Prive
Beberapa kesalahan ini sering terjadi, terutama pada usaha kecil. Karena itu, penting untuk mewaspadainya sejak awal.
- Tidak mencatat prive sehingga uang keluar tidak jelas.
- Mencampur rekening usaha dan pribadi sehingga arus kas sulit dipantau.
- Menganggap prive sebagai biaya operasional sehingga laporan laba rugi jadi bias.
- Tidak menentukan batas prive sehingga pengambilan sering berlebihan.
Tips Mengelola Prive agar Keuangan Tetap Sehat
Prive bisa tetap aman selama kamu punya aturan dan kebiasaan yang rapi. Berikut tips yang bisa kamu terapkan.
1) Pisahkan uang usaha dan uang pribadi
Gunakan rekening berbeda untuk usaha dan pribadi. Dengan cara ini, kamu bisa melihat kas usaha secara jelas.
2) Tentukan batas prive
Tentukan jumlah prive per minggu atau per bulan. Selain itu, sesuaikan dengan kondisi kas agar tidak mengganggu operasional.
3) Catat prive secara rutin
Catat setiap penarikan, sekecil apa pun. Dengan demikian, kamu punya data yang akurat untuk evaluasi.
4) Buat laporan sederhana
Kamu bisa mulai dari laporan kas masuk-keluar. Setelah itu, kamu bisa berkembang ke laporan laba rugi sederhana.
Prive dan Perencanaan Keuangan Usaha
Prive yang terkontrol membantu usaha tetap stabil. Di sisi lain, prive yang tidak teratur dapat membuat arus kas mudah terganggu.
Jika kamu ingin usaha berkembang, penting untuk mengatur prioritas. Misalnya, pastikan kebutuhan produksi dan operasional aman terlebih dahulu. Setelah itu, baru tentukan jumlah prive yang realistis.
Pada akhirnya, tujuan utama bukan melarang prive. Yang lebih penting adalah membuat prive tetap rapi, tercatat, dan sesuai kemampuan usaha.
FAQ Seputar Prive
Apakah prive boleh dilakukan kapan saja?
Boleh, selama kondisi kas usaha aman dan penarikan dicatat. Namun, akan lebih baik jika ada jadwal atau batas agar keuangan lebih stabil.
Apakah prive harus selalu dicatat?
Iya. Pencatatan membantu kamu membedakan uang usaha dan uang pribadi. Dengan begitu, laporan keuangan jadi lebih jelas.
Apakah prive memengaruhi laba usaha?
Prive tidak memengaruhi laba rugi secara langsung. Namun, prive mengurangi kas dan modal. Jika prive terlalu besar, usaha bisa kesulitan berjalan.
Penutup
Prive adalah pengambilan uang atau aset usaha oleh pemilik untuk kebutuhan pribadi. Prive adalah hal yang wajar, tetapi harus dicatat dan dikontrol agar tidak mengganggu kas dan modal usaha. Dengan pencatatan yang rapi, kamu bisa menilai performa bisnis dengan lebih akurat dan membuat keputusan yang lebih tepat.
Dengan kata lain, kunci utamanya adalah pemisahan uang, aturan prive yang jelas, dan kebiasaan mencatat. Jika itu dilakukan, usaha bisa tetap jalan, kebutuhan pribadi terpenuhi, dan keuangan tetap sehat.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store
Daftar dan apply Tabungan dan Kartu Kredit Mega sekarang juga! Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di approve lewat sini.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
