Teknologi semakin terintegrasi dengan berbagai aktivitas keuangan sehari-hari. Membayar belanja melalui aplikasi, mengakses pendanaan secara online, membeli produk investasi, hingga membandingkan produk keuangan kini dapat dilakukan melalui perangkat digital. Perkembangan tersebut tidak terlepas dari kehadiran financial technology atau fintech.
Secara sederhana, fintech adalah pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan, mengembangkan, atau mendukung layanan di sektor keuangan. Bentuknya sangat beragam sehingga fintech tidak dapat disamakan hanya dengan aplikasi pinjaman online atau dompet digital.
Dalam praktiknya, terdapat fintech yang bergerak pada sistem pembayaran, pendanaan, layanan urun dana, investasi, agregasi jasa keuangan, hingga teknologi yang membantu lembaga keuangan menjalankan proses bisnis secara lebih efisien.
Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai cara kerja, legalitas, biaya, risiko, dan keamanan data. Berikut penjelasan lengkap mengenai pengertian fintech, jenis-jenisnya, manfaat, pengawasan di Indonesia, hingga cara memilih layanan yang sesuai kebutuhan.
Daftar Isi
- Pengertian Fintech
- Perbedaan Fintech dan Bank
- Cara Kerja Fintech
- Alasan Fintech Berkembang Pesat
- Jenis-jenis Fintech yang Umum Digunakan
- Contoh Penggunaan Fintech dalam Kehidupan Sehari-hari
- Manfaat Fintech bagi Masyarakat
- Apa Manfaat Fintech bagi Pelaku Usaha?
- Pengawas Fintech di Indonesia
- Cara Memilih Fintech yang Aman dan Sesuai Kebutuhan
- Cara Menjaga Data dan Transaksi saat Menggunakan Fintech
- Gunakan Fintech Sesuai Kebutuhan dan Kondisi Keuangan
- FAQ Seputar Fintech
Pengertian Fintech
Fintech adalah singkatan dari financial technology, yaitu pemanfaatan teknologi untuk menyediakan, mengembangkan, atau mendukung produk, layanan, aktivitas, maupun proses di sektor keuangan.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membuat layanan lebih mudah diakses, mempercepat proses tertentu, menghubungkan pihak-pihak dalam transaksi, atau membantu lembaga keuangan mengolah informasi secara lebih efisien.
Fintech memiliki cakupan yang luas. Contohnya meliputi:
- layanan pembayaran digital;
- layanan pendanaan berbasis teknologi;
- layanan urun dana;
- platform investasi;
- agregator produk keuangan;
- layanan berbasis teknologi untuk industri asuransi; hingga
- teknologi pendukung analisis dan proses di sektor keuangan.
Karena cakupannya luas, istilah fintech tidak merujuk pada satu jenis perusahaan maupun satu izin tertentu. Regulasi dan otoritas pengawasnya dapat berbeda tergantung aktivitas yang dijalankan.
Hal ini penting dipahami karena masyarakat terkadang menggunakan istilah fintech hanya untuk menyebut pinjaman online. Padahal, layanan pendanaan berbasis teknologi hanyalah salah satu bagian dari ekosistem fintech.
Perbedaan Fintech dan Bank
1. Model Bisnis
Bank merupakan lembaga jasa keuangan yang menjalankan kegiatan perbankan sesuai izin dan ketentuan yang berlaku. Bank dapat menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menjalankan berbagai kegiatan perbankan lainnya.
Sementara itu, fintech merupakan istilah yang lebih luas untuk menggambarkan penggunaan teknologi di sektor keuangan.
Sebuah perusahaan fintech dapat memiliki model bisnis yang sangat spesifik, misalnya hanya menyediakan layanan pendanaan, agregasi informasi keuangan, atau teknologi pendukung.
Karena itu, fintech bukan pengganti istilah bank dan keduanya tidak dapat disamakan secara langsung.
2. Jenis Layanan
Bank dapat menyediakan berbagai layanan dalam satu institusi, seperti:
- tabungan;
- giro;
- deposito;
- transfer;
- kredit;
- kartu debit;
- kartu kredit; dan
- layanan perbankan lainnya.
Fintech biasanya lebih fokus pada fungsi atau kebutuhan tertentu, meskipun cakupan setiap perusahaan dapat berbeda.
Contohnya, penyelenggara LPBBTI berfokus mempertemukan pemberi dana dengan penerima dana melalui sistem elektronik, sedangkan platform agregasi dapat membantu pengguna membandingkan atau memperoleh informasi mengenai produk jasa keuangan.
3. Infrastruktur Teknologi
Fintech biasanya dibangun dengan teknologi digital sebagai bagian utama dari model bisnis sejak awal.
Bank juga memanfaatkan teknologi secara luas. Mobile banking, internet banking, pembayaran digital, dan pembukaan rekening secara online merupakan contoh digitalisasi layanan bank.
Oleh sebab itu, perbedaan fintech dan bank tidak dapat hanya dilihat dari apakah sebuah layanan memiliki aplikasi.
Bank dapat memiliki aplikasi digital yang sangat lengkap, tetapi institusinya tetap merupakan bank dan mengikuti regulasi perbankan.
4. Regulasi dan Pengawasan
Bank dan fintech dapat berada dalam kerangka regulasi yang berbeda sesuai aktivitasnya.
Bank berada dalam pengaturan dan pengawasan sektor perbankan oleh Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, dengan Bank Indonesia juga memiliki kewenangan sesuai bidangnya, misalnya terkait sistem pembayaran dan kebijakan moneter.
Sementara itu, pengawasan perusahaan yang sering disebut fintech bergantung pada model bisnisnya.
Contohnya:
- LPBBTI berada dalam pengaturan dan pengawasan OJK;
- Layanan Urun Dana berbasis teknologi berada dalam ranah OJK;
- Inovasi Teknologi Sektor Keuangan tertentu berada dalam kerangka OJK; dan
- penyelenggara kegiatan sistem pembayaran berada dalam pengaturan serta pengawasan Bank Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.
Artinya, Anda sebaiknya mengecek legalitas berdasarkan jenis layanan, bukan hanya mencari label “fintech legal”.
Cara Kerja Fintech
1. Teknologi Menghubungkan Pengguna dengan Layanan Keuangan
Fintech menggunakan teknologi sebagai jembatan antara pengguna dan layanan yang dibutuhkan.
Contohnya, aplikasi pendanaan dapat menghubungkan pihak yang menyediakan dana dengan pihak yang membutuhkan pendanaan melalui sebuah sistem elektronik.
Pada layanan lain, teknologi dapat menghubungkan konsumen dengan produk investasi, pembayaran, atau informasi keuangan.
2. Proses Dilakukan melalui Platform Digital
Banyak proses dapat dilakukan melalui website atau aplikasi.
Tergantung jenis layanan, pengguna dapat melakukan:
- registrasi;
- verifikasi identitas;
- pengajuan layanan;
- pembayaran;
- pemantauan transaksi;
- pembelian produk keuangan; atau
- pengelolaan akun.
Namun, proses digital tidak menghilangkan kebutuhan verifikasi, keamanan, maupun kewajiban memenuhi persyaratan tertentu.
3. Data Digunakan untuk Mendukung Proses Layanan
Data dapat digunakan untuk melakukan verifikasi identitas, memproses transaksi, menilai risiko, menampilkan rekomendasi, atau mendukung pelayanan kepada konsumen.
Jenis data yang diperlukan bergantung pada layanan.
Karena fintech berkaitan erat dengan data, pengguna perlu memahami data apa yang dikumpulkan, untuk tujuan apa data digunakan, serta bagaimana kebijakan privasinya.
4. Transaksi Dapat Diproses Lebih Praktis
Salah satu nilai utama fintech adalah membuat proses tertentu dapat dilakukan secara digital.
Pengguna tidak selalu perlu berpindah lokasi untuk mengakses layanan. Proses administrasi tertentu juga dapat dilakukan melalui perangkat pribadi.
Meski demikian, praktis bukan berarti pengguna dapat mengabaikan pemeriksaan. Informasi seperti biaya, risiko, tenor, kewajiban, dan ketentuan produk tetap perlu dibaca sebelum transaksi dikonfirmasi.
Alasan Fintech Berkembang Pesat
1. Penggunaan Smartphone dan Internet
Smartphone memungkinkan berbagai layanan digital digunakan melalui satu perangkat.
Konsumen tidak lagi hanya menggunakan ponsel untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk berbelanja, melakukan pembayaran, mengelola rekening, mencari informasi produk keuangan, hingga berinvestasi.
Kebiasaan ini menciptakan ruang bagi pengembangan layanan keuangan berbasis teknologi.
2. Kebutuhan Transaksi yang Lebih Praktis
Konsumen menginginkan proses yang semakin sederhana.
Layanan yang sebelumnya membutuhkan beberapa tahap secara manual kini dapat dilakukan melalui aplikasi atau website, tergantung jenis layanan dan persyaratannya.
Misalnya pembayaran tagihan dapat dilakukan tanpa harus mendatangi loket pembayaran.
3. Perubahan Kebiasaan Konsumen
Aktivitas digital membuat konsumen semakin terbiasa dengan layanan yang dapat diakses kapan saja melalui perangkat pribadi.
Perubahan kebiasaan tersebut juga memengaruhi ekspektasi terhadap industri jasa keuangan.
Konsumen semakin mengharapkan pengalaman yang mudah dipahami, proses yang efisien, serta informasi yang dapat diakses secara digital.
4. Perkembangan Ekosistem Keuangan Digital
Fintech tidak berkembang sendiri.
Ekosistemnya didukung oleh berbagai pihak seperti:
- bank;
- perusahaan teknologi;
- merchant;
- marketplace;
- penyelenggara sistem pembayaran;
- perusahaan investasi;
- perusahaan asuransi; dan
- otoritas sektor keuangan.
Kolaborasi tersebut mendorong semakin banyak layanan keuangan yang terintegrasi dengan aktivitas digital masyarakat.
Jenis-jenis Fintech yang Umum Digunakan
Fintech dapat dikelompokkan dengan berbagai pendekatan. Untuk mempermudah pemahaman, berikut beberapa kategori berdasarkan fungsi layanan yang umum ditemui. Perlu dipahami bahwa pembagian berikut bersifat praktis dan tidak selalu sama dengan klasifikasi regulasi resmi.
1. Fintech Sistem Pembayaran
Teknologi pembayaran membantu masyarakat melakukan transaksi secara elektronik.
Penggunaannya dapat ditemukan pada berbagai aktivitas, seperti pembayaran belanja, transfer tertentu, pembayaran tagihan, atau transaksi dengan merchant.
Di Indonesia, aktivitas sistem pembayaran berada dalam kerangka pengaturan Bank Indonesia.
2. Fintech Pendanaan atau Lending
Salah satu bentuknya adalah Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi atau LPBBTI, yang sebelumnya juga populer disebut peer-to-peer lending atau fintech lending.
Secara umum, layanan tersebut menggunakan sistem elektronik untuk mempertemukan pemberi dana dan penerima dana dalam proses pendanaan sesuai ketentuan.
LPBBTI tidak sama dengan bank. Penyelenggara bertindak dalam penyediaan, pengelolaan, dan pengoperasian layanan pendanaan sesuai izin serta aturan yang berlaku.
Bagi calon penerima dana, kemudahan pengajuan tidak boleh menjadi alasan untuk berutang tanpa perhitungan. Periksa manfaat ekonomi, total kewajiban, biaya, kemampuan membayar, dan risiko keterlambatan sebelum menggunakan layanan.
3. Securities Crowdfunding
Securities crowdfunding atau Layanan Urun Dana berbasis teknologi memungkinkan pihak tertentu menghimpun dana melalui penawaran efek kepada pemodal melalui penyelenggara yang telah memperoleh izin sesuai ketentuan.
Efek yang ditawarkan dapat memiliki karakteristik serta risiko yang berbeda.
Pemodal perlu memahami bisnis penerbit, informasi penawaran, risiko kehilangan sebagian atau seluruh modal, likuiditas, serta ketentuan produk sebelum melakukan investasi.
4. Wealthtech dan Layanan Investasi Digital
Istilah wealthtech umumnya digunakan untuk menggambarkan pemanfaatan teknologi dalam membantu masyarakat mengakses atau mengelola layanan investasi dan kekayaan.
Contohnya dapat mencakup platform yang mempermudah pembelian produk investasi, pemantauan portofolio, atau penyediaan informasi yang mendukung keputusan investasi.
Legalitas dan izin perlu dicek sesuai produk yang ditawarkan. Jangan menganggap seluruh aplikasi investasi memiliki model bisnis dan regulasi yang sama.
5. Insurtech
Insurtech mengacu pada penggunaan teknologi dalam ekosistem asuransi.
Teknologi dapat digunakan untuk membantu proses distribusi, pengajuan layanan, pengelolaan informasi polis, klaim, atau fungsi lainnya sesuai model bisnis masing-masing penyelenggara.
Ketika membeli produk asuransi melalui kanal digital, pengguna tetap perlu memahami manfaat, pengecualian, premi, masa pertanggungan, dan proses klaim.
6. Financial Aggregator
Financial aggregator membantu mengumpulkan dan menyajikan informasi mengenai berbagai produk atau layanan keuangan sehingga pengguna dapat membandingkan pilihan dengan lebih praktis.
Dalam perkembangan regulasi Indonesia, terdapat pula Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan dalam ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK.
Namun, layanan agregator tidak berarti sebuah produk otomatis menjadi paling sesuai bagi Anda. Keputusan tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan finansial.
7. Teknologi Pendukung Layanan Keuangan
Tidak semua fintech berhadapan langsung dengan konsumen.
Ada perusahaan teknologi yang membantu lembaga keuangan menjalankan fungsi tertentu, misalnya:
- analisis data;
- verifikasi identitas;
- manajemen risiko;
- keamanan digital;
- pemeringkatan kredit alternatif; atau
- infrastruktur teknologi lainnya.
Teknologi tersebut dapat berperan di belakang layanan yang digunakan masyarakat.
Contoh Penggunaan Fintech dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Membayar Belanja secara Digital
Saat berbelanja, konsumen dapat menggunakan metode pembayaran digital yang didukung oleh penyelenggara sesuai ekosistem pembayaran.
Proses ini membantu transaksi dilakukan tanpa selalu menggunakan uang tunai.
2. Transfer Dana
Teknologi keuangan juga digunakan dalam berbagai layanan transfer dana.
Pengguna dapat mengirim dana menggunakan aplikasi yang mendukung layanan tersebut sesuai ketentuan dan jaringan pembayaran yang tersedia.
3. Membayar Tagihan
Tagihan listrik, telekomunikasi, internet, dan kebutuhan lain dapat dibayar melalui berbagai kanal digital.
Hal ini membuat pengguna tidak harus mendatangi lokasi pembayaran secara langsung.
4. Mengakses Pendanaan
Masyarakat maupun pelaku usaha dapat menemukan layanan pendanaan berbasis teknologi.
Namun, pendanaan tetap merupakan kewajiban yang harus dikembalikan sesuai perjanjian.
Sebelum mengajukan, hitung kemampuan membayar dan gunakan hanya untuk kebutuhan yang memiliki alasan finansial yang jelas.
5. Membeli Produk Investasi
Platform digital dapat mempermudah akses terhadap berbagai produk investasi.
Namun, kemudahan membeli tidak mengurangi risiko investasi. Pengguna tetap perlu memahami instrumen, potensi keuntungan, risiko kerugian, biaya, dan jangka waktu.
6. Membandingkan Produk Keuangan
Aggregator dapat membantu konsumen melihat informasi mengenai beberapa pilihan produk dalam satu platform.
Fitur seperti ini dapat digunakan sebagai langkah awal sebelum mempelajari dokumen resmi masing-masing produk.
7. Mengakses Layanan Asuransi secara Digital
Teknologi dapat mempermudah akses informasi, pembelian produk tertentu, pengelolaan polis, hingga proses layanan asuransi.
Meski prosesnya digital, konsumen tetap perlu membaca ringkasan informasi produk dan ketentuan polis.
Manfaat Fintech bagi Masyarakat
1. Mempermudah Akses ke Layanan Keuangan
Teknologi memungkinkan sebagian layanan keuangan diakses melalui smartphone atau komputer.
Hal ini dapat membantu masyarakat yang memiliki akses internet tetapi berada jauh dari kantor layanan fisik.
2. Membuat Transaksi Lebih Praktis
Pengguna dapat menjalankan berbagai transaksi tanpa harus berpindah tempat.
Selain menghemat waktu, riwayat transaksi digital juga dapat membantu pengguna memantau aktivitas keuangan.
3. Memperluas Pilihan Produk Keuangan
Fintech memperluas cara masyarakat menemukan produk dan layanan keuangan.
Namun, banyaknya pilihan juga berarti pengguna perlu melakukan perbandingan dengan lebih teliti.
Jangan hanya memilih karena prosesnya paling cepat atau promosinya paling menarik.
4. Membantu Pelaku Usaha Mengakses Layanan Keuangan
Pelaku usaha dapat menggunakan teknologi untuk pembayaran, pencatatan, pendanaan, hingga berbagai aktivitas keuangan lainnya.
Hal tersebut dapat membantu proses bisnis menjadi lebih terdigitalisasi.
5. Mendukung Inklusi Keuangan
Teknologi dapat memperluas jangkauan layanan keuangan kepada masyarakat maupun pelaku usaha yang sebelumnya memiliki akses terbatas.
Namun, inklusi perlu berjalan bersama literasi. Semakin mudah layanan digunakan, semakin penting pula pemahaman mengenai biaya, manfaat, risiko, dan tanggung jawab pengguna.
Apa Manfaat Fintech bagi Pelaku Usaha?
1. Mempermudah Penerimaan Pembayaran
Pelaku usaha dapat menyediakan berbagai metode pembayaran digital agar pelanggan memiliki pilihan ketika bertransaksi.
Pembayaran digital juga dapat mengurangi kebutuhan menangani uang tunai dalam setiap transaksi.
2. Membuka Alternatif Pendanaan
Selain produk perbankan, terdapat berbagai model pendanaan berbasis teknologi yang dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan dan kelayakan usaha.
Namun, tambahan pendanaan bukan selalu solusi terbaik.
Pelaku usaha perlu menghitung:
- tujuan penggunaan dana;
- kemampuan pembayaran;
- biaya pendanaan;
- dampak terhadap cash flow; dan
- potensi hasil dari modal yang digunakan.
3. Membantu Digitalisasi Transaksi
Transaksi digital dapat mempermudah proses penjualan, terutama bagi bisnis yang beroperasi melalui marketplace, media sosial, atau kanal online.
Digitalisasi juga dapat membantu usaha menerima transaksi dari pelanggan tanpa harus selalu bertemu secara langsung.
4. Mempermudah Pencatatan Aktivitas Keuangan
Riwayat transaksi digital dapat digunakan sebagai salah satu sumber dalam proses pencatatan keuangan.
Namun, pelaku usaha tetap sebaiknya memiliki pembukuan atau pencatatan sendiri agar pemasukan, biaya, laba, stok, dan arus kas dapat dianalisis dengan benar.
Pengawas Fintech di Indonesia
1. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Otoritas Jasa Keuangan atau OJK memiliki kewenangan pengaturan dan pengawasan terhadap berbagai aktivitas di sektor jasa keuangan yang memanfaatkan teknologi sesuai ruang lingkup kewenangannya.
Salah satu kerangka yang berlaku adalah penyelenggaraan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan atau ITSK.
Selain ITSK, OJK juga mengatur sektor spesifik seperti:
- Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi atau LPBBTI;
- Layanan Urun Dana berbasis teknologi;
- aktivitas di sektor investasi yang berada dalam kewenangannya;
- asuransi; serta
- berbagai sektor jasa keuangan lain sesuai peraturan.
Karena terdapat beberapa jenis izin dan registrasi, pengecekan legalitas sebaiknya dilakukan berdasarkan nama perusahaan serta jenis layanan melalui kanal resmi OJK.
2. Bank Indonesia (BI)
Bank Indonesia memiliki kewenangan dalam pengaturan dan pengawasan sistem pembayaran.
Karena itu, perusahaan teknologi yang menjalankan aktivitas di sektor pembayaran dapat memiliki kewajiban perizinan atau penetapan berdasarkan kerangka sistem pembayaran yang berlaku.
Pada 2026, pengaturan industri sistem pembayaran juga memasuki kerangka terbaru Bank Indonesia yang berlaku sejak 31 Maret 2026.
Pembagian peran tersebut menunjukkan bahwa tidak tepat menyebut seluruh fintech diawasi hanya oleh OJK atau hanya oleh Bank Indonesia.
Otoritas yang relevan bergantung pada aktivitas yang dijalankan perusahaan.
Cara Memilih Fintech yang Aman dan Sesuai Kebutuhan
1. Cek Legalitas
Sebelum menggunakan layanan, periksa terlebih dahulu status perusahaan melalui otoritas yang sesuai.
Untuk layanan yang berada dalam kewenangan OJK, gunakan informasi dan direktori resmi OJK. Untuk penyelenggara di sistem pembayaran, periksa informasi melalui kanal resmi Bank Indonesia.
Jangan hanya percaya pada logo OJK atau BI yang tercantum pada website maupun materi promosi karena logo dapat disalahgunakan.
2. Pahami Produk dan Cara Kerjanya
Legalitas tidak berarti sebuah produk otomatis sesuai dengan kebutuhan Anda.
Pahami:
- fungsi produk;
- cara transaksi;
- hak pengguna;
- kewajiban pengguna;
- jangka waktu; dan
- mekanisme apabila terjadi masalah.
3. Periksa Biaya dan Ketentuan
Jangan hanya memperhatikan manfaat utama yang ditampilkan dalam promosi.
Cari tahu apakah terdapat:
- biaya administrasi;
- bunga atau imbal hasil;
- biaya transaksi;
- biaya keterlambatan;
- biaya pencairan; atau
- biaya lainnya.
Jenis biaya bergantung pada produk yang digunakan.
4. Pelajari Risiko
Setiap layanan keuangan memiliki risiko yang berbeda.
Pendanaan memiliki risiko pembayaran, investasi memiliki risiko penurunan nilai, sementara transaksi digital memiliki risiko keamanan apabila akun tidak dijaga dengan baik.
Jangan menggunakan produk yang risikonya belum Anda pahami.
5. Baca Kebijakan Privasi
Periksa jenis data yang diminta dan alasan penggunaannya.
Waspadai aplikasi yang meminta akses perangkat secara berlebihan dan tidak relevan dengan fungsi layanan.
Gunakan aplikasi dari kanal resmi serta periksa identitas pengembang sebelum instalasi.
6. Sesuaikan dengan Kondisi Keuangan
Layanan yang mudah diakses belum tentu perlu digunakan.
Sebelum mengambil pendanaan, misalnya, evaluasi apakah arus kas memiliki kemampuan membayar.
Sebelum berinvestasi, pastikan dana darurat dan kebutuhan utama tidak dikorbankan untuk mengejar potensi keuntungan.
Cara Menjaga Data dan Transaksi saat Menggunakan Fintech
1. Jangan Memberikan PIN dan OTP
PIN, password, kode OTP, CVV, dan data autentikasi lainnya merupakan informasi rahasia.
Jangan memberikannya kepada pihak yang mengaku sebagai staf perusahaan, petugas bank, maupun pihak lainnya.
Kode OTP digunakan untuk proses autentikasi dan tidak seharusnya dibagikan kepada orang lain.
2. Gunakan Password yang Kuat
Hindari menggunakan password yang terlalu mudah ditebak, seperti tanggal lahir atau urutan angka sederhana.
Gunakan kombinasi yang berbeda untuk akun penting dan aktifkan autentikasi tambahan apabila tersedia.
3. Hindari Mengakses Akun melalui Perangkat Sembarangan
Gunakan perangkat pribadi yang keamanannya terjaga untuk melakukan transaksi keuangan.
Hindari menyimpan password pada komputer publik atau perangkat milik orang lain.
Pastikan pula perangkat mendapatkan pembaruan sistem keamanan secara berkala.
4. Waspadai Tautan atau Pesan Mencurigakan
Modus phishing dapat menggunakan pesan yang seolah-olah berasal dari perusahaan resmi.
Pelaku dapat mengirim tautan palsu dengan alasan:
- akun akan diblokir;
- pengguna memperoleh hadiah;
- terdapat transaksi mencurigakan;
- perlu memperbarui data; atau
- perlu melakukan verifikasi segera.
Jangan langsung membuka tautan. Akses layanan melalui aplikasi atau website resmi yang Anda ketahui.
5. Periksa Riwayat Transaksi secara Berkala
Lakukan pengecekan akun dan riwayat transaksi agar aktivitas yang tidak dikenali dapat ditemukan lebih cepat.
Jika menemukan transaksi mencurigakan, segera hubungi kanal resmi penyedia layanan dan lakukan langkah pengamanan akun sesuai prosedur.
Gunakan Fintech Sesuai Kebutuhan dan Kondisi Keuangan
Fintech adalah pemanfaatan teknologi untuk menyediakan, mengembangkan, atau mendukung berbagai aktivitas dalam sektor keuangan. Cakupannya jauh lebih luas daripada sekadar aplikasi pinjaman online.
Dalam kehidupan sehari-hari, teknologi finansial dapat ditemukan pada pembayaran digital, pendanaan, investasi, urun dana, asuransi, agregasi produk keuangan, hingga teknologi yang digunakan lembaga keuangan di balik layar.
Keberadaan fintech dapat memberikan banyak manfaat. Transaksi dapat dilakukan dengan lebih praktis, pilihan layanan semakin beragam, dan masyarakat maupun pelaku usaha memperoleh lebih banyak cara untuk mengakses ekosistem keuangan.
Namun, kemudahan tersebut tidak menghilangkan risiko.
Sebelum menggunakan layanan, selalu periksa legalitas perusahaan sesuai otoritas yang relevan. Baca ketentuan, pahami biaya dan risiko, serta periksa bagaimana perusahaan menggunakan data pribadi.
Untuk layanan pendanaan, jangan hanya melihat cepatnya proses pencairan. Hitung total kewajiban dan kemampuan pembayaran terlebih dahulu. Sementara untuk investasi, jangan hanya melihat potensi keuntungan tanpa memahami kemungkinan kerugiannya.
Keamanan akun juga perlu menjadi perhatian. Jangan pernah memberikan PIN, password, OTP, atau data autentikasi kepada orang lain dan selalu waspada terhadap tautan yang mengatasnamakan perusahaan keuangan.
Dengan literasi yang baik, fintech dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mempermudah aktivitas finansial. Pilih layanan berdasarkan kebutuhan nyata, kondisi keuangan, serta kemampuan Anda memahami manfaat dan risikonya.
Di tengah perkembangan fintech dan layanan keuangan digital, Anda juga dapat memanfaatkan M-Smile dari Bank Mega untuk membantu memenuhi berbagai kebutuhan transaksi perbankan melalui smartphone. Melalui M-Smile, Anda dapat mengakses berbagai layanan Bank Mega secara digital, mulai dari transfer dana, pembayaran, hingga transaksi menggunakan QRIS sesuai fitur dan ketentuan yang berlaku. Dengan memanfaatkan layanan digital secara bijak serta tetap menjaga keamanan data dan transaksi, aktivitas keuangan sehari-hari dapat dilakukan dengan lebih praktis dan terarah.
Baca Juga: Aplikasi Menabung, Cara Buka Tabungan Online lewat M-Smile
FAQ Seputar Fintech
1. Fintech adalah apa?
Fintech adalah singkatan dari financial technology, yaitu pemanfaatan teknologi untuk menyediakan, mengembangkan, atau mendukung produk, aktivitas, proses, maupun layanan di sektor keuangan. Contohnya dapat ditemukan pada sistem pembayaran, pendanaan, investasi, layanan urun dana, agregator, dan teknologi pendukung keuangan lainnya.
2. Apa saja jenis fintech?
Secara praktis, fintech dapat dikelompokkan antara lain menjadi fintech sistem pembayaran, pendanaan atau lending, securities crowdfunding, wealthtech, insurtech, financial aggregator, serta teknologi pendukung layanan keuangan. Pembagian tersebut tidak selalu sama dengan klasifikasi regulasi resmi karena aturan mengikuti aktivitas masing-masing perusahaan.
3. Apa contoh fintech dalam kehidupan sehari-hari?
Contohnya adalah melakukan pembayaran secara digital, mengakses layanan transfer, membayar tagihan, mengajukan pendanaan melalui penyelenggara berizin, membeli produk investasi melalui platform digital, membandingkan produk jasa keuangan, dan mengakses layanan asuransi secara online.
4. Apa manfaat fintech?
Fintech dapat membuat akses terhadap berbagai layanan keuangan menjadi lebih praktis, memperluas pilihan produk, membantu proses transaksi digital, serta mendukung inklusi keuangan. Namun, manfaat tersebut tetap perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai biaya, risiko, legalitas, dan keamanan.
5. Apa perbedaan fintech dan bank?
Bank merupakan lembaga yang menjalankan kegiatan perbankan berdasarkan izin dan regulasi perbankan. Sementara fintech merupakan istilah yang lebih luas untuk penggunaan teknologi di sektor keuangan. Sebuah fintech tidak otomatis memiliki kewenangan menghimpun simpanan seperti bank karena model bisnis dan izinnya dapat berbeda.
6. Apa perbedaan fintech dan digital banking?
Fintech merupakan konsep luas mengenai pemanfaatan teknologi dalam sektor keuangan, sedangkan digital banking merupakan penyediaan layanan perbankan melalui kanal dan teknologi digital oleh bank sesuai ketentuan perbankan. Karena itu, aplikasi bank digital tetap merupakan layanan dari institusi bank dan tidak otomatis menjadi perusahaan fintech yang terpisah.
7. Siapa yang mengawasi fintech di Indonesia?
Pengawasnya bergantung pada aktivitas layanan. OJK mengatur dan mengawasi berbagai kegiatan di sektor jasa keuangan, termasuk LPBBTI, Layanan Urun Dana, dan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan sesuai kewenangannya. Sementara Bank Indonesia memiliki kewenangan dalam pengaturan dan pengawasan sistem pembayaran. Karena itu, tidak seluruh perusahaan yang disebut fintech berada di bawah satu kategori pengawasan yang sama.
8. Bagaimana cara mengetahui fintech legal atau tidak?
Periksa nama perusahaan serta jenis layanannya melalui kanal resmi otoritas yang berwenang. Untuk produk atau layanan di bawah kewenangan OJK, cek direktori dan informasi resmi OJK. Untuk penyelenggara di sistem pembayaran, cek informasi resmi Bank Indonesia. Jangan hanya percaya pada logo atau klaim “terdaftar” yang ditampilkan dalam iklan karena informasi tersebut perlu diverifikasi langsung.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
