Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda sesuai kondisi hidup, penghasilan, pekerjaan, hingga prioritas masing-masing. Ada kebutuhan yang harus segera dipenuhi, seperti makanan dan tempat tinggal. Ada pula kebutuhan yang meningkatkan kenyamanan, serta kebutuhan yang lebih berkaitan dengan gaya hidup, prestise, atau pengalaman tertentu.
Salah satu kategori tersebut adalah kebutuhan tersier. Contohnya dapat berupa kendaraan premium, gadget kelas atas, perhiasan mewah, liburan eksklusif, atau berbagai barang dan layanan yang tidak bersifat mendesak.
Meski sering dikaitkan dengan kemewahan, kebutuhan tersier tidak selalu berarti sesuatu yang buruk atau harus dihindari. Selama kondisi keuangan memungkinkan, kebutuhan utama sudah terpenuhi, dan tujuan finansial tetap terjaga, seseorang dapat mengalokasikan sebagian uang untuk meningkatkan kenyamanan maupun menikmati hasil kerja.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan membedakan kebutuhan tersier yang memang direncanakan dengan pembelian impulsif yang muncul karena tren, promo, atau tekanan sosial. Pengelolaan yang kurang tepat dapat membuat pengeluaran gaya hidup meningkat, tabungan berkurang, bahkan menimbulkan utang konsumtif.
Untuk memahami konsepnya secara lebih lengkap, berikut pengertian, contoh, ciri, hingga cara mengelola kebutuhan tersier agar tidak mengganggu keuangan.
Daftar Isi
- Apa Itu Kebutuhan Tersier?
- Ciri-ciri Kebutuhan Tersier
- Perbedaan Kebutuhan Primer, Sekunder, dan Tersier
- Contoh Kebutuhan Tersier dalam Kehidupan Sehari-hari
- Alasan Kebutuhan Tersier Setiap Orang Bisa Berbeda
- Faktor yang Mendorong Munculnya Kebutuhan Tersier
- Dampak Kebutuhan Tersier terhadap Keuangan
- Kapan Kebutuhan Tersier Masih Sehat untuk Dipenuhi?
- Cara Menentukan Apakah Kebutuhan Tersier Layak Dibeli
- Cara Mengelola Kebutuhan Tersier agar Tidak Mengganggu Keuangan
- Perlukah Menabung untuk Membeli Kebutuhan Tersier?
- Bagaimana Membedakan Kebutuhan Tersier dan Keinginan Impulsif?
- Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Memenuhi Kebutuhan Tersier
- Kebutuhan Tersier Boleh Dipenuhi selama Keuangan Tetap Terkendali
- FAQ Seputar Kebutuhan Tersier
Apa Itu Kebutuhan Tersier?
Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang umumnya dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi serta lebih banyak berkaitan dengan peningkatan kenyamanan, gaya hidup, prestise, atau kepuasan pribadi.
Dalam pembagian kebutuhan berdasarkan tingkat kepentingannya, kebutuhan primer biasanya menjadi prioritas utama karena berkaitan dengan kehidupan dasar. Setelah itu terdapat kebutuhan sekunder yang membantu meningkatkan kenyamanan dan mendukung aktivitas sehari-hari. Sementara kebutuhan tersier cenderung berada pada tingkat prioritas setelah keduanya.
Contohnya, seseorang membutuhkan kendaraan untuk bekerja. Jika transportasi pribadi memang diperlukan, kendaraan dapat menjadi kebutuhan sekunder. Namun, memilih kendaraan mewah dengan fitur jauh di atas kebutuhan utama dapat masuk kategori tersier.
Meski demikian, pembagian ini tidak bersifat mutlak. Barang yang merupakan kebutuhan tersier bagi seseorang bisa menjadi kebutuhan yang lebih penting bagi orang lain karena pekerjaannya, kondisi lingkungan, atau situasi tertentu.
Karena itu, dalam mengelola keuangan, kategori kebutuhan sebaiknya dilihat berdasarkan fungsi dan konteks penggunaannya, bukan hanya berdasarkan jenis barang.
Ciri-ciri Kebutuhan Tersier
1. Tidak Bersifat Mendesak
Kebutuhan tersier pada umumnya tidak harus segera dipenuhi agar seseorang dapat menjalankan kehidupan sehari-hari.
Menunda pembelian jam tangan premium atau perjalanan liburan mewah, misalnya, biasanya tidak menghambat kebutuhan pokok seperti makan, tempat tinggal, kesehatan, atau transportasi utama.
2. Dipenuhi setelah Kebutuhan Utama Terpenuhi
Idealnya, kebutuhan tersier baru dipertimbangkan setelah kebutuhan primer, kewajiban rutin, dan kebutuhan penting lainnya sudah terpenuhi.
Jika pembelian barang mewah sampai membuat biaya makan, cicilan, atau kebutuhan kesehatan tidak terpenuhi, berarti urutan prioritas keuangannya perlu dievaluasi.
3. Sering Berkaitan dengan Kenyamanan atau Prestise
Beberapa kebutuhan tersier memberikan manfaat dalam bentuk kenyamanan lebih tinggi.
Contohnya mengganti kursi rumah biasa dengan furnitur premium atau memilih kelas perjalanan yang lebih tinggi.
Selain kenyamanan, kebutuhan tersier juga dapat berkaitan dengan prestise atau simbol status sosial, seperti barang bermerek premium atau kendaraan mewah.
4. Bentuknya Bisa Berbeda untuk Setiap Orang
Tidak ada daftar kebutuhan tersier yang berlaku mutlak untuk semua orang.
Laptop kelas atas dapat menjadi barang tersier bagi pengguna biasa, tetapi dapat menjadi alat kerja penting bagi editor video atau profesional kreatif.
Karena itu, fungsi barang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan kategorinya.
5. Dipengaruhi Kondisi Ekonomi dan Gaya Hidup
Penghasilan dan pola hidup dapat mengubah cara seseorang memandang kebutuhan.
Barang yang terasa sangat mahal bagi satu orang mungkin masih berada dalam batas anggaran orang lain.
Namun, kemampuan membeli tidak otomatis berarti semua barang harus dibeli. Prioritas dan tujuan keuangan tetap perlu menjadi pertimbangan.
Perbedaan Kebutuhan Primer, Sekunder, dan Tersier
1. Kebutuhan Primer
Kebutuhan primer merupakan kebutuhan dasar yang memiliki prioritas tinggi untuk menunjang kehidupan.
Contohnya:
- makanan dan minuman;
- tempat tinggal;
- pakaian;
- kesehatan; dan
- kebutuhan dasar lainnya.
Pemenuhan kebutuhan primer biasanya harus didahulukan sebelum pengeluaran lain.
2. Kebutuhan Sekunder
Kebutuhan sekunder merupakan kebutuhan yang dapat meningkatkan kenyamanan dan mendukung aktivitas setelah kebutuhan dasar terpenuhi.
Contohnya dapat berupa perangkat komunikasi, kendaraan sesuai kebutuhan, furnitur rumah, atau sarana penunjang pekerjaan.
Statusnya dapat berbeda tergantung konteks masing-masing orang.
3. Kebutuhan Tersier
Kebutuhan tersier berada pada tingkat prioritas yang lebih rendah dan umumnya berkaitan dengan kemewahan, pengalaman premium, prestise, atau peningkatan kenyamanan di luar kebutuhan utama.
Contohnya kendaraan mewah, perhiasan premium, liburan eksklusif, atau gadget kelas atas yang spesifikasinya jauh melebihi kebutuhan penggunaan.
Perbedaan utama ketiganya terletak pada tingkat urgensi dan fungsi dalam kehidupan seseorang.
Contoh Kebutuhan Tersier dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Kendaraan Premium
Kendaraan dapat menjadi kebutuhan pendukung mobilitas. Namun, kendaraan premium dengan harga dan fitur jauh di atas kebutuhan dasar transportasi dapat termasuk kebutuhan tersier.
Selain harga pembelian, pertimbangkan biaya bahan bakar, pajak, asuransi, dan perawatan sebelum membuat keputusan.
2. Produk Fashion Mewah
Tas, pakaian, sepatu, atau aksesori dari merek premium sering dikategorikan sebagai kebutuhan tersier apabila fungsi yang sama dapat dipenuhi oleh barang dengan harga lebih terjangkau.
Nilai tambahnya lebih banyak berasal dari desain, merek, eksklusivitas, atau prestise.
3. Gadget Kelas Premium
Smartphone atau laptop merupakan perangkat penting bagi banyak orang. Namun, versi premium dengan fitur yang tidak benar-benar digunakan dapat masuk kategori tersier.
Sebelum membeli, periksa apakah peningkatan spesifikasi memang memberikan manfaat nyata bagi aktivitas sehari-hari.
4. Perhiasan dan Jam Tangan Mewah
Perhiasan, jam tangan premium, dan aksesori bernilai tinggi dapat menjadi bagian dari gaya hidup atau koleksi.
Pembelian sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan dan tidak menggunakan dana yang dialokasikan untuk kebutuhan mendesak.
5. Liburan Mewah
Liburan dapat memberikan manfaat untuk rekreasi dan keseimbangan hidup. Namun, paket perjalanan eksklusif, hotel premium, atau penerbangan kelas tertentu dapat menjadi kebutuhan tersier.
Liburan seperti ini lebih aman jika dananya sudah disiapkan sebelumnya.
6. Furnitur atau Dekorasi Premium
Meja, sofa, lampu dekoratif, maupun berbagai perlengkapan rumah premium dapat meningkatkan kenyamanan dan estetika.
Namun, pembelian tersebut perlu dibandingkan dengan kebutuhan rumah lain yang lebih prioritas.
7. Barang Koleksi Bernilai Tinggi
Barang seperti karya seni, sneakers terbatas, memorabilia, atau koleksi lainnya dapat memiliki harga tinggi karena kelangkaan dan minat pasar.
Jika membelinya untuk tujuan koleksi atau investasi, tetap pahami bahwa nilai jual kembali tidak dijamin selalu meningkat.
8. Layanan Eksklusif atau Premium
Kebutuhan tersier juga dapat berbentuk layanan, bukan barang.
Contohnya layanan membership premium, kelas eksklusif, perjalanan khusus, atau berbagai fasilitas tambahan yang meningkatkan kenyamanan.
Alasan Kebutuhan Tersier Setiap Orang Bisa Berbeda
1. Tingkat Pendapatan
Besarnya pendapatan memengaruhi kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan setelah pengeluaran utama.
Semakin besar pendapatan yang tersedia setelah kewajiban, semakin luas pilihan konsumsi yang dapat dilakukan.
Namun, tetap penting menjaga proporsi pengeluaran agar kenaikan pendapatan tidak seluruhnya berubah menjadi kenaikan gaya hidup.
2. Pekerjaan
Pekerjaan dapat mengubah fungsi suatu barang.
Kamera premium mungkin merupakan kebutuhan tersier bagi sebagian orang, tetapi dapat menjadi alat produksi utama bagi fotografer profesional.
Hal yang sama berlaku pada laptop, kendaraan, pakaian tertentu, atau perangkat lainnya.
3. Lingkungan Sosial
Lingkungan pertemanan atau pekerjaan dapat memengaruhi preferensi konsumsi.
Seseorang dapat merasa perlu memiliki barang tertentu karena sering melihat orang di sekitarnya menggunakannya.
Karena itu, penting membedakan kebutuhan pribadi dengan tekanan sosial.
4. Gaya Hidup
Orang yang memiliki hobi perjalanan akan memiliki prioritas berbeda dari orang yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Begitu pula seseorang yang menyukai teknologi dapat memiliki alokasi lebih besar untuk gadget.
5. Prioritas Pribadi
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menggunakan uang yang tersisa setelah kebutuhan utama.
Sebagian lebih memilih membeli barang premium, sementara lainnya memilih liburan, hobi, atau menambah investasi.
6. Tahap Kehidupan
Kebutuhan dapat berubah seiring usia dan kondisi keluarga.
Seseorang yang masih lajang mungkin memiliki pengeluaran gaya hidup berbeda dibandingkan ketika sudah memiliki anak atau mulai mempersiapkan pensiun.
Faktor yang Mendorong Munculnya Kebutuhan Tersier
1. Kenaikan Pendapatan
Ketika penghasilan meningkat, kemampuan konsumsi juga biasanya bertambah.
Hal tersebut dapat mendorong seseorang meningkatkan kualitas barang atau layanan yang digunakan.
Selama peningkatan gaya hidup masih sejalan dengan kemampuan finansial, hal ini tidak selalu menjadi masalah.
2. Pengaruh Media Sosial
Media sosial membuat seseorang lebih sering melihat produk, perjalanan, kendaraan, atau gaya hidup orang lain.
Paparan berulang dapat membuat barang yang sebelumnya tidak terpikirkan terasa seperti kebutuhan.
Karena itu, pembelian sebaiknya tetap didasarkan pada kebutuhan dan kemampuan pribadi.
3. Tren dan FOMO
Fear of missing out atau FOMO dapat mendorong seseorang membeli karena takut tertinggal tren.
Produk edisi terbatas, gadget baru, hingga destinasi populer dapat memicu keputusan yang terburu-buru.
4. Lingkungan Pertemanan
Kebiasaan kelompok dapat memengaruhi pola konsumsi.
Jika lingkungan sering menghabiskan uang untuk aktivitas premium, seseorang dapat terdorong mengikuti pola tersebut meskipun kondisi keuangannya berbeda.
5. Keinginan Meningkatkan Kenyamanan
Tidak semua kebutuhan tersier muncul karena gengsi.
Sebagian orang memang mengalokasikan dana untuk membeli kenyamanan, misalnya kendaraan lebih nyaman, furnitur berkualitas tinggi, atau perjalanan dengan fasilitas lebih baik.
6. Lifestyle Inflation
Lifestyle inflation terjadi ketika peningkatan penghasilan diikuti kenaikan pengeluaran gaya hidup secara terus-menerus.
Contohnya, setiap kali gaji meningkat, seseorang langsung menaikkan standar kendaraan, tempat tinggal, restoran, atau belanja.
Jika seluruh kenaikan pendapatan habis untuk gaya hidup, kemampuan menabung tidak banyak berubah meskipun penghasilan terus meningkat.
Dampak Kebutuhan Tersier terhadap Keuangan
1. Pengeluaran Lifestyle Bisa Meningkat
Kebutuhan tersier dapat memperbesar pos gaya hidup jika tidak memiliki batas yang jelas.
Beberapa pembelian kecil maupun langganan premium dapat terkumpul menjadi pengeluaran besar setiap bulan.
2. Tabungan Bisa Berkurang
Jika kebutuhan tersier selalu diprioritaskan, dana yang seharusnya digunakan untuk tabungan dapat berkurang.
Hal ini sering terjadi ketika seseorang menabung hanya dari uang yang tersisa di akhir bulan.
3. Tujuan Keuangan Bisa Tertunda
Pengeluaran tersier juga memiliki biaya peluang.
Uang yang digunakan untuk satu kebutuhan tidak dapat digunakan pada tujuan lainnya.
Contohnya, pembelian gadget premium dapat memperlambat pengumpulan dana uang muka rumah jika anggaran terbatas.
4. Risiko Utang Konsumtif Meningkat
Keinginan memiliki barang premium tanpa dana yang cukup dapat mendorong penggunaan cicilan atau pinjaman.
Jika tidak dihitung berdasarkan kemampuan, beberapa cicilan kecil dapat berkembang menjadi beban bulanan yang besar.
5. Cash Flow Menjadi Lebih Ketat
Semakin besar pengeluaran tetap untuk gaya hidup, semakin sedikit ruang dalam cash flow.
Kondisi ini dapat membuat seseorang kesulitan beradaptasi ketika terdapat pengeluaran mendadak atau perubahan pendapatan.
Kapan Kebutuhan Tersier Masih Sehat untuk Dipenuhi?
Kebutuhan tersier tidak harus selalu dihindari. Menikmati hasil kerja, membeli barang yang disukai, atau melakukan perjalanan merupakan bagian dari penggunaan uang selama dilakukan secara terencana.
Pemenuhan kebutuhan tersier dapat dianggap lebih sehat apabila:
- kebutuhan primer sudah terpenuhi;
- cicilan dan kewajiban dapat dibayar sesuai jadwal;
- dana darurat tidak digunakan untuk membiayainya;
- alokasi tabungan tetap berjalan;
- tujuan keuangan utama tidak terganggu; dan
- pembelian sesuai dengan kemampuan cash flow.
Contohnya, jika Anda ingin berlibur dengan anggaran Rp12 juta, dana tersebut dapat dikumpulkan selama beberapa bulan tanpa mengurangi dana darurat.
Dengan cara ini, kebutuhan tersier tetap dapat dinikmati tanpa menciptakan masalah finansial baru.
Cara Menentukan Apakah Kebutuhan Tersier Layak Dibeli
1. Tanyakan Apa Tujuan Pembeliannya
Sebelum membeli, tanyakan mengapa Anda menginginkan barang tersebut.
Apakah benar-benar memberikan manfaat atau hanya karena sedang populer?
Pertanyaan sederhana ini membantu menghindari keputusan berdasarkan tekanan sosial.
2. Cek Apakah Barang Benar-benar Akan Digunakan
Harga mahal belum tentu berarti barang memiliki manfaat besar.
Pertimbangkan seberapa sering barang digunakan dan apakah fitur premiumnya memang diperlukan.
3. Bandingkan dengan Alternatif yang Lebih Terjangkau
Cari barang dengan fungsi serupa sebelum memilih versi premium.
Jika alternatif dengan harga lebih rendah sudah memenuhi kebutuhan, selisih dana dapat dialihkan untuk tujuan lainnya.
4. Periksa Kondisi Keuangan
Jangan hanya mengecek saldo rekening saat ini.
Periksa juga:
- pengeluaran rutin;
- cicilan;
- dana darurat;
- tabungan;
- kebutuhan beberapa bulan ke depan; dan
- tujuan keuangan.
5. Pertimbangkan Dampak terhadap Tujuan Finansial
Pembelian Rp10 juta mungkin masih terjangkau dari saldo yang tersedia, tetapi dapat mengurangi dana yang sedang dikumpulkan untuk tujuan penting.
Karena itu, pertimbangkan tidak hanya kemampuan membeli hari ini, tetapi juga dampaknya terhadap rencana masa depan.
6. Beri Jeda sebelum Membeli
Untuk barang bernilai besar, beri waktu sebelum mengambil keputusan.
Anda dapat memasukkannya ke daftar keinginan selama beberapa hari atau minggu.
Jika setelah jeda kebutuhan tersebut masih terasa relevan dan anggaran tersedia, keputusan pembelian dapat dilakukan dengan lebih tenang.
Cara Mengelola Kebutuhan Tersier agar Tidak Mengganggu Keuangan
1. Buat Bujet Lifestyle
Tentukan batas khusus untuk hiburan, hobi, belanja, dan kebutuhan tersier.
Besarnya tidak harus sama untuk semua orang. Sesuaikan dengan pendapatan, kewajiban, dan target keuangan.
2. Dahulukan Kebutuhan Primer dan Kewajiban
Sebelum menggunakan uang untuk kebutuhan tersier, pastikan kebutuhan pokok dan kewajiban rutin sudah dialokasikan.
Termasuk di dalamnya biaya makan, tempat tinggal, transportasi, kesehatan, pendidikan, dan cicilan.
3. Sisihkan Tabungan sebelum Berbelanja
Jangan menunggu uang tersisa setelah berbelanja.
Tentukan alokasi tabungan ketika menerima penghasilan sehingga pengeluaran gaya hidup menggunakan dana yang memang sudah dialokasikan.
4. Hindari Menggunakan Dana Darurat
Dana darurat dibuat untuk kebutuhan yang tidak direncanakan dan penting.
Menggunakannya untuk liburan atau barang premium dapat mengurangi perlindungan finansial saat benar-benar terjadi kondisi darurat.
5. Batasi Cicilan untuk Pengeluaran Nonprioritas
Cicilan dapat membuat barang mahal terlihat lebih terjangkau karena pembayaran dibagi menjadi beberapa bulan.
Namun, tetap hitung total kewajiban dan cicilan lain yang sudah berjalan.
Jangan sampai beberapa transaksi konsumtif membuat cash flow bulanan terlalu ketat.
6. Evaluasi Pengeluaran secara Berkala
Setiap bulan, cek berapa besar dana yang digunakan untuk gaya hidup dan kebutuhan tersier.
Jika porsinya terus meningkat, tentukan kategori yang dapat dikurangi sebelum mengganggu tabungan atau kebutuhan lainnya.
Perlukah Menabung untuk Membeli Kebutuhan Tersier?
Menabung terlebih dahulu dapat menjadi salah satu cara yang lebih terencana untuk memenuhi kebutuhan tersier.
Strategi ini membantu Anda mengetahui apakah kebutuhan tersebut benar-benar sesuai kemampuan tanpa harus mengganggu cash flow rutin.
Misalnya Anda ingin membeli barang premium seharga Rp12 juta dalam satu tahun. Secara sederhana, target tersebut dapat dibagi:
Rp12.000.000 ÷ 12 bulan = Rp1.000.000 per bulan
Jika Rp1 juta masih dapat dialokasikan tanpa mengurangi kebutuhan utama, dana darurat, dan tabungan lain, target tersebut lebih realistis untuk dikejar.
Sebaliknya, jika nominalnya terlalu besar, Anda dapat memperpanjang waktu menabung, menurunkan target harga, atau memilih alternatif lain.
Menabung juga memberikan waktu untuk mengevaluasi keinginan. Tidak jarang setelah beberapa bulan seseorang menyadari bahwa barang yang semula sangat diinginkan ternyata tidak lagi menjadi prioritas.
Bagaimana Membedakan Kebutuhan Tersier dan Keinginan Impulsif?
1. Kebutuhan Tersier Bisa Direncanakan
Meski prioritasnya lebih rendah, kebutuhan tersier tetap dapat masuk ke perencanaan keuangan.
Contohnya menyiapkan dana liburan selama enam bulan atau menabung sebelum membeli gadget premium.
2. Belanja Impulsif Cenderung Spontan
Pembelian impulsif biasanya terjadi tanpa rencana.
Keputusan dapat muncul hanya dalam beberapa menit karena melihat barang di toko, media sosial, atau aplikasi belanja.
3. Kebutuhan Tersier Tetap Perlu Disesuaikan dengan Kemampuan
Sesuatu tetap dapat disebut kebutuhan tersier meskipun harganya mahal, tetapi bukan berarti harus dibeli.
Keputusan akhir tetap perlu mempertimbangkan kemampuan finansial.
4. Keinginan Impulsif Sering Dipicu Emosi atau Promo
Diskon, stok terbatas, atau pesan seperti “hanya hari ini” dapat menciptakan rasa takut kehilangan kesempatan.
Jika Anda sebelumnya tidak berencana membeli barang tersebut, beri jeda sebelum melakukan transaksi.
Diskon tidak menghasilkan penghematan jika barangnya sebenarnya tidak dibutuhkan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Memenuhi Kebutuhan Tersier
1. Membeli demi Gengsi
Membeli hanya untuk mendapatkan pengakuan sosial dapat membuat keputusan keuangan tidak lagi didasarkan pada kebutuhan pribadi.
Ingat bahwa kondisi finansial setiap orang berbeda meskipun gaya hidup yang terlihat tampak serupa.
2. Mengikuti Tren tanpa Mempertimbangkan Manfaat
Tren berubah dengan cepat.
Barang yang terasa wajib dimiliki saat ini dapat kehilangan daya tarik beberapa bulan kemudian.
Pertimbangkan masa penggunaan sebelum mengeluarkan uang dalam jumlah besar.
3. Menggunakan Utang di Luar Kemampuan
Jangan menggunakan kredit hanya untuk mengejar gaya hidup yang sebenarnya berada di luar kemampuan.
Hitung cicilan berdasarkan pendapatan dan kewajiban yang sudah ada.
4. Mengorbankan Dana Darurat
Dana darurat sebaiknya tidak digunakan untuk pengeluaran yang dapat ditunda.
Jika pembelian harus menggunakan dana cadangan, pertimbangkan menunggu sampai dana khusus tersedia.
5. Menganggap Kenaikan Penghasilan sebagai Alasan untuk Menaikkan Semua Pengeluaran
Kenaikan pendapatan memang memberikan ruang finansial lebih besar, tetapi tidak berarti seluruh gaya hidup harus ikut meningkat.
Gunakan sebagian kenaikan tersebut untuk memperbesar tabungan, investasi, atau tujuan jangka panjang agar kondisi finansial ikut berkembang.
6. Tidak Membandingkan Harga dan Alternatif
Pembelian tersier biasanya tidak mendesak sehingga Anda memiliki waktu untuk melakukan perbandingan.
Periksa harga, kualitas, biaya perawatan, garansi, hingga alternatif produk sebelum mengambil keputusan.
Kebutuhan Tersier Boleh Dipenuhi selama Keuangan Tetap Terkendali
Kebutuhan tersier merupakan kebutuhan yang umumnya dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder serta lebih banyak berkaitan dengan kenyamanan, gaya hidup, prestise, atau kepuasan pribadi.
Contohnya dapat berupa kendaraan premium, fashion mewah, gadget kelas atas, perhiasan, perjalanan eksklusif, furnitur premium, atau barang koleksi.
Namun, klasifikasi kebutuhan bersifat kontekstual. Barang yang merupakan kebutuhan tersier bagi satu orang dapat menjadi kebutuhan penting bagi orang lain jika digunakan untuk pekerjaan atau aktivitas utama.
Karena itu, fokus utama bukan sekadar menentukan apakah sebuah barang termasuk primer, sekunder, atau tersier. Hal yang lebih penting adalah memahami prioritas penggunaannya dalam kondisi finansial Anda.
Kebutuhan tersier juga tidak selalu harus dihindari. Menikmati hasil kerja dan meningkatkan kenyamanan merupakan hal yang wajar selama dilakukan sesuai kemampuan.
Sebelum membeli, pastikan kebutuhan pokok sudah terpenuhi, kewajiban rutin dapat dibayar, dana darurat tetap tersedia, dan tujuan keuangan utama tidak terganggu.
Jika kebutuhan tersier memiliki harga cukup besar, pertimbangkan menabung terlebih dahulu daripada langsung membebani cash flow bulanan.
Selain itu, beri jeda sebelum pembelian agar Anda dapat membedakan kebutuhan yang memang diinginkan dalam jangka panjang dengan keputusan impulsif akibat tren, FOMO, atau promo.
Pada akhirnya, pengelolaan kebutuhan tersier merupakan bagian dari manajemen keuangan. Selama memiliki batas yang jelas dan tidak mengorbankan kebutuhan utama, Anda tetap dapat menikmati berbagai keinginan tanpa mengabaikan kestabilan finansial.
Jika Anda ingin memenuhi kebutuhan tersier tanpa mengganggu kebutuhan utama, pertimbangkan untuk menyiapkan dananya secara bertahap melalui Tabungan Bank Mega. Dengan memisahkan dana khusus untuk kebutuhan lifestyle, seperti liburan, gadget premium, atau barang bernilai tinggi, Anda dapat merencanakan pembelian dengan lebih terarah tanpa harus mengambil dari dana darurat maupun anggaran rutin. Cara ini membantu Anda tetap menikmati kebutuhan tersier sesuai kemampuan sekaligus menjaga tujuan keuangan lainnya tetap berjalan.
Baca Juga: Tabungan Sesuai Kebutuhan, Ini Jenis dan Cara Pilihnya
FAQ Seputar Kebutuhan Tersier
1. Apakah kebutuhan tersier hanya dimiliki orang berpenghasilan tinggi?
Tidak. Setiap orang dapat memiliki kebutuhan atau keinginan yang tergolong tersier. Perbedaannya terletak pada bentuk, harga, dan kemampuan untuk memenuhinya. Orang dengan tingkat pendapatan berbeda dapat memiliki prioritas tersier yang berbeda pula.
2. Bisakah kebutuhan tersier berubah menjadi kebutuhan sekunder?
Bisa, tergantung fungsi dan kondisi seseorang. Contohnya perangkat komputer kelas tinggi dapat dianggap kebutuhan tersier bagi pengguna umum, tetapi dapat menjadi kebutuhan penunjang pekerjaan bagi profesional yang membutuhkan spesifikasi tersebut. Karena itu, kategori kebutuhan tidak selalu bersifat mutlak.
3. Apakah liburan selalu termasuk kebutuhan tersier?
Tidak selalu. Rekreasi dapat menjadi bagian dari kebutuhan untuk menjaga keseimbangan hidup, tetapi bentuk dan skalanya dapat berbeda. Liburan sederhana yang sudah direncanakan dapat dipandang berbeda dengan perjalanan mewah yang membutuhkan pengeluaran sangat besar. Konteks dan kemampuan finansial perlu diperhatikan.
4. Apakah smartphone termasuk kebutuhan tersier?
Smartphone dapat menjadi kebutuhan sekunder atau bahkan penunjang penting bagi pekerjaan dan komunikasi. Namun, memilih smartphone premium dengan fitur jauh melebihi kebutuhan penggunaan dapat dikategorikan sebagai kebutuhan tersier. Fungsi penggunaan lebih penting daripada sekadar jenis produknya.
5. Apakah kebutuhan tersier harus dihindari?
Tidak. Kebutuhan tersier boleh dipenuhi selama tidak mengganggu kebutuhan pokok, kewajiban, dana darurat, tabungan, dan tujuan keuangan lainnya. Buat anggaran khusus agar pengeluaran tersebut tetap terkendali.
6. Bagaimana jika kebutuhan tersier menjadi bagian dari pekerjaan?
Jika suatu barang atau layanan benar-benar diperlukan untuk menjalankan pekerjaan, kategorinya dapat berubah karena memiliki fungsi produktif. Contohnya kamera profesional untuk fotografer atau laptop berperforma tinggi untuk editor video. Tetap pertimbangkan kebutuhan spesifikasi dan kemampuan finansial sebelum membeli.
7. Berapa porsi pendapatan yang ideal untuk kebutuhan tersier?
Tidak ada satu persentase yang ideal untuk semua orang. Besarnya bergantung pada pendapatan, kebutuhan utama, tanggungan, utang, dana darurat, serta tujuan finansial. Tentukan anggaran gaya hidup berdasarkan sisa dana setelah prioritas utama sudah terpenuhi, bukan mengikuti angka tertentu tanpa melihat kondisi pribadi.
8. Apakah kebutuhan tersier berbeda antara satu generasi dan generasi lain?
Bisa. Perubahan teknologi, budaya, jenis pekerjaan, serta gaya hidup dapat membuat prioritas setiap generasi berbeda. Barang yang dahulu dianggap mewah dapat menjadi kebutuhan yang lebih umum di masa sekarang. Karena itu, penentuan kebutuhan sebaiknya mempertimbangkan fungsi dan kondisi saat ini.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
