Reksadana menjadi salah satu pilihan investasi yang dapat dipertimbangkan oleh investor pemula karena pengelolaan portofolionya dilakukan oleh Manajer Investasi. Anda tidak harus memilih dan mengelola satu per satu saham, obligasi, atau instrumen pasar uang yang berada di dalam portofolio.
Namun, kemudahan tersebut bukan berarti investasi reksadana bebas risiko. Nilai investasi dapat meningkat maupun menurun mengikuti perkembangan aset yang menjadi isi portofolio. Setiap jenis reksadana juga mempunyai karakteristik, tingkat risiko, biaya, serta tujuan investasi yang berbeda.
Karena itu, memahami cara investasi reksadana sebaiknya dimulai dari tujuan finansial dan profil risiko, bukan sekadar mencari produk yang mencatatkan return tertinggi.
Investor juga perlu memahami dokumen produk, Manajer Investasi yang mengelola dana, komposisi portofolio, hingga mekanisme pembelian dan penjualan kembali unit penyertaan.
Lalu, bagaimana cara mulai investasi reksadana untuk pemula? Berikut panduan lengkapnya.
Daftar Isi
- Apa Itu Reksadana?
- Bagaimana Cara Kerja Investasi Reksadana?
- Kenali Jenis-jenis Reksadana Sebelum Mulai Investasi
- Cara Investasi Reksadana untuk Pemula
- Cara Memilih Reksadana yang Tepat
- Bagaimana Keuntungan dari Investasi Reksadana Diperoleh?
- Risiko Investasi Reksadana yang Perlu Dipahami
- Biaya yang Perlu Diperhatikan Saat Investasi Reksadana
- Cara Investasi Reksadana melalui Bank Mega di M-Smile
- Tips Investasi Reksadana untuk Pemula
- Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mulai Investasi Reksadana
- FAQ Seputar Cara Investasi Reksadana
Apa Itu Reksadana?
Reksadana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.
Secara sederhana, sejumlah investor menempatkan dana ke dalam suatu produk reksadana. Dana tersebut kemudian dikelola oleh Manajer Investasi berdasarkan kebijakan investasi yang telah ditetapkan dalam prospektus produk.
Portofolionya dapat berisi berbagai instrumen, misalnya:
- instrumen pasar uang;
- deposito sesuai ketentuan produk;
- surat utang atau obligasi;
- saham; atau
- kombinasi beberapa instrumen tersebut.
Komposisinya bergantung pada jenis dan kebijakan investasi masing-masing reksadana.
Hal ini membuat investor tidak perlu membeli dan mengelola setiap instrumen secara langsung. Keputusan pengelolaan portofolio dilakukan oleh Manajer Investasi.
Meski demikian, keputusan memilih produk dan risiko investasinya tetap menjadi tanggung jawab investor. Manajer Investasi tidak dapat menjamin bahwa nilai investasi akan selalu bertambah.
Reksadana juga berbeda dari tabungan maupun deposito. Tabungan dan deposito merupakan produk simpanan bank sesuai karakteristiknya, sedangkan reksadana merupakan produk pasar modal yang memiliki risiko fluktuasi nilai investasi.
Bagaimana Cara Kerja Investasi Reksadana?
Cara kerja reksadana dapat dipahami melalui alur sederhana.
- Investor menempatkan dana. Investor membeli unit penyertaan suatu produk reksadana melalui Manajer Investasi atau Agen Penjual Efek Reksa Dana yang menyediakan produk tersebut.
- Dana dari banyak investor dihimpun. Dana menjadi bagian dari kekayaan produk reksadana.
- Manajer Investasi mengelola portofolio. Pengelolaan dilakukan berdasarkan kebijakan investasi yang tercantum dalam prospektus.
- Dana ditempatkan pada instrumen investasi. Komposisinya dapat berupa pasar uang, obligasi, saham, atau kombinasi berdasarkan jenis reksadana.
- Nilai portofolio bergerak. Harga efek, kondisi pasar, suku bunga, nilai tukar, dan berbagai faktor lain dapat memengaruhi nilai aset dalam portofolio.
- Nilai investasi investor ikut berubah. Ketika nilai unit penyertaan meningkat, nilai investasi dapat bertambah. Sebaliknya, apabila nilainya turun, nilai investasi juga dapat menurun.
Investor memiliki sejumlah unit penyertaan yang menunjukkan bagian kepentingannya dalam portofolio reksadana.
Nilai unit tersebut berkaitan dengan Nilai Aktiva Bersih atau NAB reksadana. Oleh sebab itu, keuntungan tidak diperoleh dalam bentuk bunga tetap seperti deposito.
Kenali Jenis-jenis Reksadana Sebelum Mulai Investasi
Sebelum mempelajari cara investasi reksadana, investor sebaiknya mengenali karakteristik setiap jenis produk terlebih dahulu.
Pilihan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada return tertinggi yang terlihat dalam satu periode.
1. Reksadana Pasar Uang
Reksadana pasar uang merupakan jenis reksadana yang berinvestasi pada instrumen pasar uang dalam negeri dan/atau efek bersifat utang dengan jangka waktu tertentu yang sesuai dengan ketentuan produk pasar uang.
Dibandingkan beberapa jenis reksadana lain, fluktuasinya secara umum relatif lebih rendah sehingga sering dipertimbangkan oleh investor dengan profil lebih konservatif atau tujuan investasi dengan jangka waktu relatif pendek.
Namun, istilah risiko lebih rendah tidak berarti bebas risiko. Nilai investasi tetap dapat berubah.
2. Reksadana Pendapatan Tetap
Reksadana pendapatan tetap menempatkan sekurang-kurangnya sebagian besar portofolionya pada efek bersifat utang sesuai ketentuan yang berlaku.
Instrumennya dapat berupa surat utang pemerintah maupun korporasi, tergantung kebijakan produk.
Potensi fluktuasinya umumnya lebih tinggi dibandingkan pasar uang karena harga obligasi dapat dipengaruhi pergerakan suku bunga dan kondisi pasar.
Jenis ini dapat dipertimbangkan untuk tujuan investasi dengan horizon lebih panjang dibandingkan kebutuhan dana yang sangat dekat, setelah disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
3. Reksadana Campuran
Reksadana campuran mengombinasikan beberapa kelas aset dalam satu portofolio.
Portofolionya dapat berisi:
- saham;
- efek bersifat utang; dan
- instrumen pasar uang.
Proporsi masing-masing mengikuti kebijakan investasi produk.
Karena memiliki kombinasi aset, tingkat fluktuasinya dapat berada di antara reksadana pendapatan tetap dan saham, tergantung komposisi portofolio aktual.
4. Reksadana Saham
Reksadana saham menempatkan sebagian besar Nilai Aktiva Bersihnya pada efek bersifat ekuitas atau saham.
Pergerakan harga saham dalam portofolio membuat nilainya dapat mengalami fluktuasi cukup tinggi dalam jangka pendek.
Di sisi lain, jenis ini memiliki potensi pertumbuhan yang dapat dipertimbangkan untuk tujuan investasi berjangka lebih panjang oleh investor yang mampu menerima perubahan nilai yang lebih besar.
Empat kategori tersebut—Pasar Uang, Pendapatan Tetap, Campuran, dan Saham—juga tersedia dalam pilihan investasi reksadana melalui Bank Mega.
Cara Investasi Reksadana untuk Pemula
Setelah memahami konsep dan jenisnya, berikut langkah investasi reksadana yang dapat dipertimbangkan oleh pemula.
1. Tentukan Tujuan dan Target Waktu Investasi
Jangan memulai dengan pertanyaan “produk mana yang return-nya paling tinggi?”. Mulailah dari tujuan penggunaan dana.
Contohnya:
- dana liburan;
- persiapan uang muka rumah;
- dana pendidikan;
- persiapan pensiun; atau
- tujuan jangka panjang lainnya.
Setelah menentukan tujuan, tetapkan target waktu.
Dana yang dibutuhkan satu tahun lagi memerlukan pendekatan berbeda dengan dana yang baru akan digunakan 10 tahun kemudian.
Jangka waktu memberikan gambaran mengenai berapa lama investor dapat menghadapi fluktuasi pasar sebelum dana dibutuhkan.
2. Kenali Profil Risiko Anda
Profil risiko menggambarkan kemampuan dan kenyamanan investor dalam menghadapi perubahan nilai investasi.
Seseorang yang panik ketika nilai investasi turun beberapa persen mungkin membutuhkan pendekatan berbeda dari investor yang mampu menghadapi fluktuasi besar untuk tujuan jangka panjang.
Secara umum, profil risiko sering digambarkan mulai dari konservatif, moderat, hingga agresif, meskipun istilah dan pengelompokannya dapat berbeda pada masing-masing penyedia layanan.
Jawablah kuesioner profil risiko berdasarkan kondisi sebenarnya. Jangan sengaja memilih jawaban agresif hanya agar memperoleh akses ke produk yang memiliki potensi return lebih tinggi.
3. Pilih Jenis Reksadana yang Sesuai
Setelah mengetahui tujuan, target waktu, dan profil risiko, Anda dapat mempersempit pilihan.
Contohnya, kebutuhan jangka relatif pendek biasanya tidak ideal jika seluruh dananya ditempatkan pada instrumen dengan fluktuasi tinggi.
Sementara itu, tujuan jangka panjang dapat memberikan waktu lebih panjang untuk menghadapi perubahan kondisi pasar, meskipun risikonya tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan investor.
Tidak ada satu jenis reksadana yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua orang.
4. Pilih Manajer Investasi dan Produk Reksadana
Selanjutnya, periksa Manajer Investasi yang mengelola produk.
Beberapa aspek yang dapat diperhatikan antara lain:
- legalitas dan perizinan;
- pengalaman pengelolaan;
- strategi dan kebijakan investasi;
- konsistensi pengelolaan produk;
- tingkat risiko;
- kualitas informasi yang disampaikan; dan
- rekam jejak produk dalam berbagai kondisi pasar.
Jangan memilih hanya berdasarkan satu angka return tertinggi.
Produk yang memiliki return sangat tinggi dalam satu tahun dapat mengalami hasil berbeda pada periode berikutnya.
5. Pelajari Prospektus dan Fund Fact Sheet
Sebelum melakukan pembelian, baca prospektus dan fund fact sheet produk.
Prospektus merupakan dokumen yang memberikan informasi lebih lengkap mengenai reksadana, antara lain kebijakan investasi, risiko, hak investor, biaya, mekanisme transaksi, Manajer Investasi, dan Bank Kustodian.
Sementara itu, fund fact sheet memberikan ringkasan informasi produk yang lebih praktis dan biasanya diperbarui secara berkala.
Informasi yang dapat diperhatikan meliputi:
- kinerja historis;
- komposisi aset;
- alokasi portofolio;
- tingkat risiko;
- NAB;
- dana kelolaan; dan
- informasi relevan lainnya.
Kinerja pada fund fact sheet merupakan data historis, bukan jaminan hasil investasi pada masa mendatang.
6. Lakukan Pembelian atau Subscription
Jika produk sudah dipilih, investor dapat melakukan subscription atau pembelian unit penyertaan.
Transaksi dapat dilakukan melalui Manajer Investasi maupun Agen Penjual Efek Reksa Dana atau APERD yang menyediakan produk secara resmi.
Masukkan nominal sesuai kebutuhan dan minimum investasi produk.
Sebelum mengonfirmasi transaksi, pastikan Anda sudah memahami:
- produk yang dibeli;
- jumlah investasi;
- rekening sumber dana;
- biaya transaksi jika ada;
- cut-off transaksi; dan
- ketentuan produk.
7. Pantau Perkembangan Investasi Secara Berkala
Setelah membeli, investor dapat memantau perkembangan nilai investasi.
Namun, tidak perlu mengeceknya setiap beberapa menit atau bereaksi terhadap setiap pergerakan harian, terutama jika tujuan investasi masih bertahun-tahun lagi.
Lebih penting mengevaluasi apakah:
- produk masih sesuai tujuan;
- risiko masih dapat diterima;
- kinerja sesuai karakteristik produk; dan
- strategi investasi masih relevan.
8. Evaluasi dan Lakukan Penyesuaian Jika Diperlukan
Kondisi finansial dapat berubah.
Anda mungkin memperoleh penghasilan lebih besar, menikah, mempunyai anak, membeli rumah, mendekati target keuangan, atau mengalami perubahan toleransi terhadap risiko.
Dalam kondisi tersebut, komposisi investasi dapat dievaluasi.
Penyesuaian tidak harus dilakukan hanya karena pasar turun sementara. Dasarkan keputusan pada perubahan tujuan, kebutuhan likuiditas, profil risiko, atau pertimbangan fundamental terhadap produk.
Cara Memilih Reksadana yang Tepat
1. Perhatikan Tingkat Risiko
Setiap produk mempunyai tingkat risiko berbeda berdasarkan aset yang terdapat dalam portofolio.
Reksadana saham, misalnya, umumnya mempunyai fluktuasi lebih tinggi dibandingkan reksadana pasar uang.
Pastikan tingkat risiko produk sesuai dengan kemampuan Anda menerima penurunan nilai investasi.
2. Pelajari Komposisi Portofolio
Jangan hanya membaca nama produknya.
Lihat instrumen yang terdapat dalam portofolio dan bagaimana dana dialokasikan.
Pada reksadana pendapatan tetap, misalnya, Anda dapat melihat jenis efek utang yang dimiliki. Pada reksadana saham, lihat sektor dan saham utama dalam portofolio apabila informasi tersebut tersedia.
Komposisi membantu investor memahami sumber potensi keuntungan sekaligus risikonya.
3. Lihat Kinerja dalam Beberapa Periode
Kinerja satu bulan atau satu tahun saja belum memberikan gambaran lengkap.
Bandingkan performa dalam beberapa periode dan lihat bagaimana produk bergerak ketika kondisi pasar berbeda.
Namun, perlu selalu diingat bahwa kinerja historis tidak menjamin hasil pada masa mendatang.
Return masa lalu sebaiknya digunakan sebagai salah satu bahan evaluasi, bukan dasar tunggal untuk membeli.
4. Periksa Manajer Investasinya
Periksa siapa Manajer Investasi yang mengelola dana.
Pastikan pihak tersebut memiliki izin dan produk dapat diverifikasi melalui sumber resmi.
Selain legalitas, perhatikan pengalaman dan konsistensi strategi investasi yang digunakan.
5. Perhatikan Dana Kelolaan dan Informasi Produk
Informasi mengenai dana kelolaan dapat membantu Anda memperoleh gambaran mengenai skala produk.
Namun, dana kelolaan besar bukan jaminan return lebih tinggi.
Lihat bersamaan dengan informasi lain seperti:
- umur produk;
- NAB per unit;
- komposisi portofolio;
- kinerja;
- Bank Kustodian; dan
- kebijakan investasinya.
6. Pahami Biaya Transaksi
Biaya dapat memengaruhi hasil investasi bersih.
Sebelum membeli, cek apakah terdapat biaya pembelian, penjualan kembali, maupun pengalihan investasi.
Besarnya biaya dapat berbeda pada setiap produk dan kanal transaksi.
Jangan menganggap seluruh reksadana mempunyai struktur biaya yang sama.
Bagaimana Keuntungan dari Investasi Reksadana Diperoleh?
Investor reksadana memiliki unit penyertaan. Nilai investasi dapat dihitung berdasarkan jumlah unit yang dimiliki dan nilai NAB per unit penyertaan.
Secara sederhana:
Nilai investasi = Jumlah Unit Penyertaan × NAB per Unit
Misalnya Anda membeli reksadana ketika NAB per unit adalah Rp1.500.
Dengan investasi Rp3.000.000 dan mengabaikan biaya untuk menyederhanakan ilustrasi:
Rp3.000.000 ÷ Rp1.500 = 2.000 unit
Anda memiliki 2.000 unit penyertaan.
Beberapa waktu kemudian, misalnya NAB per unit meningkat menjadi Rp1.650.
Nilai investasi menjadi:
2.000 × Rp1.650 = Rp3.300.000
Secara ilustratif, terdapat kenaikan nilai investasi Rp300.000 atau 10% dibandingkan modal Rp3 juta.
Namun, kondisi sebaliknya juga dapat terjadi.
Jika NAB per unit turun menjadi Rp1.350:
2.000 × Rp1.350 = Rp2.700.000
Nilai investasi menjadi Rp300.000 lebih rendah dibandingkan modal awal.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa reksadana tidak memberikan keuntungan tetap. Nilainya mengikuti perkembangan portofolio yang dikelola.
Investor merealisasikan hasil investasinya ketika melakukan penjualan kembali atau redemption, dengan memperhatikan NAB yang digunakan, biaya jika ada, dan ketentuan transaksi produk.
Risiko Investasi Reksadana yang Perlu Dipahami
1. Risiko Penurunan Nilai Unit Penyertaan
Nilai unit penyertaan dapat turun karena harga efek yang berada dalam portofolio mengalami penurunan.
Artinya, investor dapat mempunyai nilai investasi yang lebih rendah daripada modal yang ditempatkan.
2. Risiko Pasar
Kondisi pasar dapat memengaruhi Nilai Aktiva Bersih reksadana.
Faktor yang dapat memengaruhi pasar antara lain:
- suku bunga;
- nilai tukar;
- inflasi;
- kondisi ekonomi;
- sentimen pasar; dan
- berbagai faktor lainnya.
Dampaknya berbeda tergantung jenis dan komposisi portofolio reksadana.
3. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas dapat terjadi ketika terdapat penjualan kembali dalam jumlah besar secara bersamaan sehingga pengelola perlu menyediakan dana untuk memenuhi permintaan investor.
Kondisi tertentu dapat memengaruhi proses pencairan maupun pengelolaan aset sesuai ketentuan produk dan peraturan yang berlaku.
4. Risiko Perubahan Peraturan dan Perpajakan
Perubahan regulasi dan ketentuan perpajakan dapat memengaruhi pengelolaan maupun tingkat pengembalian investasi.
Investor perlu memperhatikan pembaruan aturan yang relevan dengan produk pasar modal.
5. Risiko Pembubaran dan Likuidasi Reksadana
Reksadana dapat dibubarkan dan dilikuidasi dalam kondisi yang ditentukan oleh peraturan maupun prospektus.
Karena itu, pembubaran dan likuidasi juga menjadi risiko yang perlu diketahui sebelum berinvestasi.
Bank Mega turut mencantumkan risiko penurunan nilai unit penyertaan, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko perubahan peraturan dan perpajakan, serta risiko pembubaran dan likuidasi dalam informasi investasinya.
Reksadana merupakan produk pasar modal, bukan produk Bank Mega, tidak dijamin oleh PT Bank Mega Tbk, serta tidak termasuk objek program penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS.
Biaya yang Perlu Diperhatikan Saat Investasi Reksadana
Selain potensi return dan risiko, investor perlu memahami biaya transaksi.
Struktur biaya berbeda pada setiap produk. Beberapa kategori biaya yang dapat ditemui antara lain:
- Subscription fee, yaitu biaya pembelian unit penyertaan;
- Redemption fee, yaitu biaya ketika melakukan penjualan kembali unit penyertaan;
- Switching fee, yaitu biaya pengalihan investasi dari satu produk ke produk lain sesuai fasilitas yang tersedia; dan
- pajak atas biaya transaksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Bank Mega juga mencantumkan kategori subscription fee, redemption fee, switching fee, dan PPN atas biaya-biaya transaksi dalam informasi produk investasinya.
Namun, keberadaan dan besarnya biaya aktual perlu dilihat pada produk yang Anda pilih.
Karena itu, baca prospektus dan informasi transaksi sebelum memberikan konfirmasi pembelian.
Cara Investasi Reksadana melalui Bank Mega di M-Smile
Bagi nasabah Bank Mega, investasi reksadana dapat dilakukan melalui M-Smile.
Dalam transaksi reksadana, PT Bank Mega Tbk bertindak sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana atau APERD. Dana investor dikelola oleh Manajer Investasi sesuai produk yang dipilih, bukan dikelola sebagai produk simpanan Bank Mega.
M-Smile saat ini menyediakan produk kategori Pasar Uang, Pendapatan Tetap, Campuran, dan Saham dalam pilihan produk berdenominasi IDR maupun USD.
1. Buat SID dan Isi Profil Risiko melalui M-Smile
Langkah awal adalah memiliki Single Investor Identification atau SID dan profil risiko.
Melalui M-Smile, nasabah dapat memulai dari menu:
- pilih menu Apply;
- pilih Reksadana;
- isi kuesioner Profil Risiko; dan
- ikuti proses pembuatan SID.
Berdasarkan informasi Bank Mega saat ini, Profil Risiko dan SID diproses maksimal 3 × 24 jam.
Setelah SID tersedia, nasabah dapat melanjutkan pemesanan reksadana.
2. Pilih Manajer Investasi atau Jenis Reksadana
Setelah memiliki SID, investor dapat memilih berdasarkan Manajer Investasi maupun jenis produk.
Rekanan Manajer Investasi yang saat ini tercantum pada layanan investasi Bank Mega meliputi:
- PT Ashmore Asset Management Indonesia;
- PT Mega Asset Management;
- PT Manulife Aset Manajemen Indonesia; dan
- PT Schroder Investment Management Indonesia.
Setiap Manajer Investasi menyediakan produk dengan kebijakan, komposisi aset, risiko, serta riwayat kinerja berbeda.
Sebelum memilih, manfaatkan informasi produk yang tersedia dan baca prospektus serta fund fact sheet.
3. Tentukan Nominal Investasi
Setelah produk dipilih, tentukan jumlah dana yang akan ditempatkan.
Berdasarkan informasi resmi Bank Mega yang berlaku saat artikel ini ditulis, investasi reksadana melalui M-Smile dapat dimulai dari Rp1.000.000.
Ketentuan minimum dapat berubah. Karena itu, lihat kembali nominal minimum yang ditampilkan di M-Smile pada saat Anda melakukan transaksi.
Jangan memaksakan nominal investasi hanya untuk mengejar potensi keuntungan.
Pastikan kebutuhan rutin, dana darurat, dan kewajiban finansial memiliki alokasi yang memadai sebelum menempatkan dana pada investasi.
4. Lakukan Transaksi Reksadana melalui M-Smile
Setelah menentukan produk dan nominal, nasabah dapat melanjutkan transaksi secara online melalui M-Smile.
Layanan reksadana di M-Smile saat ini mendukung beberapa jenis transaksi, yaitu:
- subscribe untuk melakukan pembelian;
- top up untuk menambah investasi;
- redeem untuk melakukan penjualan kembali; dan
- switch untuk melakukan pengalihan investasi sesuai ketentuan.
Pada proses subscription, nasabah memilih produk berdasarkan Manajer Investasi atau jenis reksadana, memasukkan nominal investasi, memeriksa informasi transaksi, kemudian mengikuti proses konfirmasi di M-Smile.
Sebelum menyelesaikan transaksi, pastikan Anda sudah memahami karakteristik, risiko, biaya, serta dokumen produk.
Perlu kembali ditekankan bahwa Bank Mega bertindak sebagai APERD. Reksadana adalah produk pasar modal, bukan simpanan Bank Mega dan tidak dijamin LPS.
Tips Investasi Reksadana untuk Pemula
Bagi investor yang baru mulai, hal terpenting bukan mengejar return setinggi mungkin dalam waktu singkat. Bangun kebiasaan investasi yang sesuai kemampuan dan tujuan.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:
- Mulai sesuai kemampuan finansial. Tidak perlu menempatkan dana besar apabila kondisi cash flow belum memungkinkan.
- Jangan menggunakan dana kebutuhan sehari-hari. Pisahkan investasi dari uang makan, tempat tinggal, cicilan, dan kebutuhan rutin.
- Siapkan dana darurat terlebih dahulu. Hal ini membantu mengurangi kebutuhan menjual investasi ketika muncul pengeluaran mendadak.
- Sesuaikan produk dengan profil risiko. Jangan mengikuti pilihan teman atau influencer tanpa mempertimbangkan kondisi sendiri.
- Berinvestasi secara konsisten jika sesuai tujuan. Nominal yang realistis dan dilakukan secara terencana dapat lebih mudah dipertahankan.
- Jangan mengejar return jangka pendek. Produk yang sedang naik belum tentu menjadi produk paling sesuai untuk tujuan Anda.
- Pertimbangkan diversifikasi. Jangan menempatkan seluruh dana pada satu produk tanpa memahami risiko konsentrasinya.
- Baca prospektus dan fund fact sheet. Jangan membeli produk yang mekanismenya belum Anda pahami.
- Evaluasi berdasarkan tujuan. Pergerakan pasar harian tidak selalu membutuhkan perubahan strategi.
Semakin panjang jangka waktu investasi, semakin penting menjaga disiplin dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi akibat perubahan pasar sementara.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mulai Investasi Reksadana
Pemula dapat melakukan kesalahan karena terlalu fokus pada potensi keuntungan dan belum memahami mekanisme produk.
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:
- Memilih hanya karena return tertinggi. Return tinggi pada periode sebelumnya bukan jaminan hasil yang sama akan berulang.
- Tidak mengenali profil risiko. Produk yang terlalu agresif dapat memicu kepanikan ketika pasar turun.
- Menganggap return historis sebagai keuntungan pasti. Seluruh investasi memiliki ketidakpastian hasil.
- Menggunakan uang untuk kebutuhan jangka dekat. Anda dapat terpaksa menjual ketika pasar sedang turun.
- Langsung melakukan redemption saat nilai turun sementara. Evaluasi penyebab penurunan serta kesesuaian dengan tujuan sebelum mengambil keputusan.
- Tidak membaca informasi produk. Nama atau return saja tidak cukup untuk memahami reksadana.
- Menempatkan seluruh dana pada satu produk tanpa pertimbangan. Diversifikasi dapat dipertimbangkan berdasarkan tujuan dan kebutuhan risiko.
Investasi yang baik bukan hanya tentang memilih produk, tetapi juga bagaimana Anda mengelola ekspektasi, risiko, dan keputusan selama proses investasi berlangsung.
Baca Juga: Nabung dan Investasi Reksadana dalam Satu Aplikasi M-Smile
FAQ Seputar Cara Investasi Reksadana
1. Apakah Reksadana Bisa Dimiliki Lebih dari Satu Produk Sekaligus?
Bisa. Investor dapat memiliki beberapa produk reksadana sekaligus sesuai ketentuan penyedia layanan. Memiliki beberapa produk dapat digunakan untuk membagi alokasi investasi berdasarkan tujuan, kelas aset, Manajer Investasi, atau tingkat risiko. Namun, jumlah produk yang banyak tidak otomatis membuat portofolio lebih baik. Pastikan setiap produk memiliki fungsi yang jelas dalam strategi investasi.
2. Apakah Ada Reksadana Syariah untuk Investor yang Menginginkannya?
Ada. Reksadana syariah mengelola portofolio dengan memperhatikan prinsip syariah di pasar modal sesuai ketentuan yang berlaku. Bank Mega saat ini juga mencantumkan sejumlah produk reksadana syariah dalam daftar produk investasinya, termasuk produk berbasis saham syariah. Sebelum membeli, periksa jenis, mata uang, kebijakan investasi, tingkat risiko, serta prospektus produk yang dipilih.
3. Berapa Lama Transaksi Pembelian Reksadana Sampai Unit Penyertaan Terbentuk?
Waktu pemrosesan bergantung pada cut-off transaksi, kelengkapan instruksi, penerimaan dana, hari bursa, serta ketentuan dalam prospektus masing-masing reksadana. Secara umum, pesanan yang telah lengkap dan dananya diterima akan diproses menggunakan NAB sesuai ketentuan cut-off produk. Bank Kustodian kemudian menyediakan konfirmasi transaksi sesuai jangka waktu yang ditetapkan dalam prospektus. Pada ketentuan reksadana terbuka, konfirmasi kepemilikan umumnya disediakan paling lambat beberapa hari bursa dan dapat mencapai 7 Hari Bursa sesuai ketentuan produk. Karena mekanismenya dapat berbeda, periksa prospektus reksadana dan status transaksi pada layanan yang digunakan.
4. Apakah Reksadana Bisa Diwariskan?
Bisa. Berdasarkan ketentuan OJK mengenai reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif, kepemilikan Unit Penyertaan dapat dialihkan kepada pihak lain dalam rangka pewarisan atau hibah. Ahli waris perlu menyampaikan pemberitahuan dan dokumen pendukung kepada Manajer Investasi atau Agen Penjual Efek Reksa Dana agar pengalihan dapat diadministrasikan oleh Bank Kustodian. Prosedur dokumen dapat berbeda sesuai kondisi dan produk.
5. Apakah Nilai Investasi Reksadana Bisa Turun hingga di Bawah Modal Awal?
Bisa. Reksadana tidak menjamin modal investor selalu utuh. Jika NAB per unit turun dibandingkan nilai ketika pembelian dilakukan, nilai investasi dapat berada di bawah modal awal. Besarnya penurunan bergantung pada kondisi pasar, jenis reksadana, komposisi portofolio, serta berbagai risiko lainnya. Karena itu, gunakan dana yang sesuai dengan jangka waktu tujuan dan pilih produk berdasarkan profil risiko, bukan hanya potensi return.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
