Obligasi menjadi salah satu instrumen investasi yang dapat memberikan pendapatan secara berkala melalui kupon. Namun, sebelum membelinya, investor perlu memahami bahwa bunga obligasi atau kupon tidak sama dengan yield yang terlihat di pasar.
Besarnya kupon umumnya ditentukan berdasarkan nilai nominal obligasi dan tingkat kupon yang ditetapkan penerbit. Sementara itu, tingkat keuntungan yang benar-benar diperoleh investor dapat dipengaruhi pula oleh harga beli, waktu pembelian, jangka waktu hingga jatuh tempo, pajak, serta kondisi pasar.
Hal ini menjadi semakin penting ketika obligasi dibeli di pasar sekunder. Meskipun kupon obligasi dengan fixed rate tidak berubah, harga obligasinya dapat naik atau turun sehingga yield yang diperoleh investor bisa berbeda.
Lalu, berapa besar bunga obligasi, bagaimana cara menghitungnya, dan apa bedanya dengan yield? Berikut penjelasan lengkapnya.
Daftar Isi
- Apa Itu Bunga Obligasi?
- Cara Kerja Bunga Obligasi
- Jenis-jenis Bunga Obligasi
- Besaran Bunga Obligasi
- Cara Menghitung Bunga Obligasi
- Contoh Perhitungan Bunga Obligasi
- Perbedaan Kupon Obligasi dan Yield
- Mengapa Harga Obligasi Bisa Memengaruhi Yield?
- Apa Saja yang Memengaruhi Besarnya Imbal Hasil Obligasi?
- Jenis Obligasi Berdasarkan Penerbitnya
- Risiko yang Perlu Dipahami Sebelum Membeli Obligasi
- Tips Memilih Obligasi yang Sesuai
- Investasi Obligasi Lebih Praktis melalui M-Smile Bank Mega
- FAQ Seputar Bunga Obligasi
Apa Itu Bunga Obligasi?
Bunga obligasi adalah imbalan yang diterima pemegang obligasi dari penerbit sesuai karakteristik surat utang yang dimiliki. Dalam obligasi konvensional, imbalan berkala tersebut sering disebut sebagai kupon obligasi.
Secara sederhana, ketika membeli obligasi, investor pada dasarnya memberikan dana kepada pihak penerbit untuk jangka waktu tertentu. Sebagai imbalannya, penerbit dapat membayar kupon sesuai tingkat dan jadwal yang telah ditetapkan, kemudian mengembalikan pokok obligasi pada saat jatuh tempo sesuai persyaratan penerbitan.
Misalnya obligasi mempunyai:
- nilai nominal Rp100 juta;
- kupon 6% per tahun; dan
- pembayaran kupon satu kali dalam setahun.
Kupon bruto tahunannya secara sederhana adalah:
Rp100.000.000 × 6% = Rp6.000.000
Namun, angka Rp6 juta tersebut bukan berarti investor pasti memperoleh return 6% terhadap dana yang dikeluarkannya. Jika obligasi dibeli di pasar sekunder dengan harga di atas atau di bawah nilai nominal, yield investasinya dapat berbeda dari coupon rate.
Selain itu, hasil bersih juga dapat dipengaruhi pajak serta biaya transaksi yang berlaku.
Cara Kerja Bunga Obligasi
1. Nilai Nominal Obligasi
Nilai nominal atau nilai par merupakan nilai pokok obligasi yang menjadi salah satu dasar untuk menghitung kupon.
Misalnya obligasi memiliki nilai nominal Rp100 juta dengan coupon rate 6% per tahun. Kupon tetap dihitung dari nilai nominal Rp100 juta meskipun harga obligasi di pasar sekunder kemudian berubah menjadi Rp98 juta atau Rp103 juta.
Hal inilah yang menyebabkan coupon rate dan yield dapat memiliki angka berbeda.
2. Tingkat Kupon
Tingkat kupon atau coupon rate menunjukkan persentase imbalan berdasarkan nilai nominal obligasi.
Contohnya, obligasi dengan nilai nominal Rp100 juta dan kupon tetap 6% per tahun menghasilkan kupon bruto Rp6 juta per tahun.
Besarnya tingkat kupon ditentukan berdasarkan karakteristik penerbitan dan dapat berbeda antara satu obligasi dengan obligasi lainnya.
3. Periode Pembayaran Kupon
Kupon tidak selalu dibayarkan satu kali setiap tahun.
Pembayaran dapat dilakukan:
- tahunan;
- semesteran;
- triwulanan;
- bulanan; atau
- berdasarkan jadwal lain sesuai ketentuan obligasi.
Jika tingkat kupon dinyatakan per tahun, besarnya pembayaran setiap periode dapat dihitung berdasarkan frekuensi pembayarannya.
Contohnya, kupon Rp6 juta per tahun yang dibayarkan setiap enam bulan akan menghasilkan pembayaran bruto sekitar Rp3 juta setiap periode.
4. Tanggal Jatuh Tempo
Jatuh tempo merupakan waktu ketika kewajiban pokok obligasi berakhir dan penerbit mengembalikan nilai pokok sesuai ketentuan.
Obligasi dapat mempunyai tenor beberapa tahun hingga puluhan tahun.
Semakin panjang tenor, investor perlu mempertimbangkan semakin banyak faktor yang dapat berubah, seperti suku bunga pasar, inflasi, kondisi penerbit, maupun kebutuhan likuiditas pribadi.
Jenis-jenis Bunga Obligasi
1. Kupon Tetap atau Fixed Rate
Fixed rate berarti tingkat kupon ditetapkan tetap selama periode yang ditentukan dalam persyaratan obligasi.
Misalnya obligasi memiliki kupon 6% per tahun sampai jatuh tempo. Selama tidak terdapat ketentuan lain, besarnya persentase kupon tetap 6% meskipun tingkat suku bunga pasar berubah.
Namun, harga obligasi di pasar sekunder dapat tetap bergerak sehingga yield investor dapat berubah.
2. Kupon Mengambang atau Floating Rate
Floating rate merupakan kupon yang tingkatnya dapat berubah berdasarkan acuan tertentu sesuai ketentuan penerbitan obligasi.
Contohnya, tingkat kupon dapat dikaitkan dengan suku bunga acuan atau indikator tertentu dan dievaluasi secara berkala.
Pada beberapa instrumen, terdapat pula mekanisme batas minimum kupon atau floor. Karena mekanismenya dapat berbeda, investor perlu membaca memorandum informasi atau dokumen produk sebelum membeli.
3. Zero Coupon Bond
Zero coupon bond merupakan obligasi yang tidak membayarkan kupon secara berkala.
Investor memperoleh potensi hasil dari selisih antara harga pembelian dan nilai yang diterima pada saat jatuh tempo.
Contohnya, obligasi bernilai nominal Rp100 juta dapat diterbitkan atau diperdagangkan pada harga Rp90 juta. Jika investor memegangnya hingga jatuh tempo dan memperoleh Rp100 juta sesuai ketentuan, selisih Rp10 juta menjadi sumber hasil investasinya sebelum memperhitungkan pajak dan faktor lainnya.
Besaran Bunga Obligasi
Tidak ada satu tingkat bunga obligasi yang berlaku untuk semua produk. Setiap obligasi dapat mempunyai coupon rate berbeda.
1. Besaran Kupon Berdasarkan Nilai Nominal
Untuk obligasi dengan kupon tetap, besarnya kupon dapat dihitung dari nilai nominal dikalikan tingkat kupon.
Misalnya:
- nominal Rp50 juta dengan kupon 5% menghasilkan Rp2,5 juta per tahun;
- nominal Rp100 juta dengan kupon 6% menghasilkan Rp6 juta per tahun; dan
- nominal Rp500 juta dengan kupon 7% menghasilkan Rp35 juta per tahun.
Angka tersebut merupakan ilustrasi bruto dan belum memperhitungkan pajak maupun biaya.
2. Pengaruh Jenis Obligasi terhadap Tingkat Kupon
Tingkat kupon dapat berbeda berdasarkan jenis instrumen dan penerbitnya.
Penerbit dengan tingkat risiko lebih tinggi umumnya perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik agar investor bersedia menempatkan dana. Namun, kupon tinggi tidak otomatis berarti obligasi tersebut lebih baik.
Investor tetap perlu menilai kualitas penerbit, tenor, likuiditas, peringkat kredit jika tersedia, dan risiko lainnya.
3. Pengaruh Kondisi Suku Bunga terhadap Kupon Obligasi
Kondisi suku bunga ketika obligasi diterbitkan dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat kupon.
Jika tingkat bunga pasar relatif tinggi, penerbit baru mungkin perlu menawarkan kupon yang lebih kompetitif.
Sementara itu, obligasi fixed rate yang sudah diterbitkan tidak otomatis mengubah kupon ketika suku bunga berubah. Penyesuaian justru dapat terlihat melalui perubahan harga obligasi di pasar sekunder dan yield-nya.
Cara Menghitung Bunga Obligasi
1. Rumus Menghitung Kupon Tahunan
Rumus dasar untuk obligasi dengan kupon tetap:
Kupon tahunan = Nilai nominal obligasi × Coupon rate
Contohnya:
- nilai nominal: Rp100.000.000;
- kupon: 6% per tahun.
Maka:
Rp100.000.000 × 6% = Rp6.000.000 per tahun
2. Rumus Menghitung Kupon per Periode
Jika kupon dibayarkan lebih dari sekali dalam setahun, gunakan rumus sederhana:
Kupon per periode = Kupon tahunan ÷ Frekuensi pembayaran dalam setahun
Misalnya kupon tahunan Rp6 juta dibayarkan semesteran:
Rp6.000.000 ÷ 2 = Rp3.000.000
Jika dibayarkan bulanan:
Rp6.000.000 ÷ 12 = Rp500.000
Besarnya pembayaran aktual tetap mengikuti jadwal, metode perhitungan, dan ketentuan obligasi.
3. Cara Menghitung Total Kupon hingga Jatuh Tempo
Untuk obligasi fixed rate yang dipegang sejak awal periode sampai jatuh tempo, ilustrasi total kupon dapat dihitung dengan:
Total kupon = Kupon tahunan × Jumlah tahun
Misalnya:
- nominal Rp100 juta;
- kupon 6%;
- tenor 5 tahun.
Kupon tahunan:
Rp100 juta × 6% = Rp6 juta
Total kupon bruto selama lima tahun:
Rp6 juta × 5 = Rp30 juta
Perhitungan tersebut hanya ilustrasi sederhana dan belum memasukkan pajak, harga pembelian, reinvestasi kupon, maupun kondisi apabila obligasi dijual sebelum jatuh tempo.
Contoh Perhitungan Bunga Obligasi
1. Contoh Obligasi dengan Kupon Tahunan
Misalnya Anda memiliki obligasi dengan:
- nilai nominal Rp100 juta;
- kupon 6% per tahun;
- pembayaran satu kali per tahun.
Kupon bruto:
Rp100.000.000 × 6% = Rp6.000.000 per tahun
Artinya, selama persyaratan obligasi terpenuhi, investor menerima kupon bruto Rp6 juta setiap tahun sesuai jadwal pembayaran.
2. Contoh Obligasi dengan Pembayaran Kupon Semesteran
Gunakan nominal dan tingkat kupon yang sama:
- nominal Rp100 juta;
- kupon 6% per tahun;
- pembayaran dua kali setahun.
Total kupon setahun tetap:
Rp6.000.000
Karena dibayar dua kali:
Rp6.000.000 ÷ 2 = Rp3.000.000 per enam bulan
Jadi, pembayaran bruto setiap periode adalah Rp3 juta.
3. Contoh Obligasi dengan Pembayaran Kupon Bulanan
Jika obligasi Rp100 juta dengan kupon 6% membayar imbalan setiap bulan:
Rp6.000.000 ÷ 12 = Rp500.000 per bulan
Dalam satu tahun, total kupon bruto tetap Rp6 juta.
Untuk Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap yang memenuhi ketentuan umum perpajakan obligasi, penghasilan berupa bunga obligasi pada saat artikel ini ditulis dikenai PPh Final 10% sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, jumlah bersih yang diterima dapat lebih rendah daripada kupon bruto.
Perbedaan Kupon Obligasi dan Yield
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap coupon rate sama dengan yield. Padahal, keduanya menunjukkan hal berbeda.
1. Coupon Rate
Coupon rate adalah tingkat kupon yang dihitung berdasarkan nilai nominal obligasi.
Misalnya nilai nominal Rp100 juta dengan kupon 6% menghasilkan kupon Rp6 juta per tahun.
Untuk fixed rate bond, tingkat kupon tersebut tidak berubah hanya karena harga obligasi di pasar naik atau turun.
2. Current Yield
Current yield membandingkan kupon tahunan dengan harga obligasi yang dibayar investor.
Rumusnya:
Current Yield = Kupon Tahunan ÷ Harga Obligasi × 100%
Misalnya obligasi bernilai nominal Rp100 juta memberikan kupon Rp6 juta per tahun, tetapi dapat dibeli di pasar seharga Rp95 juta.
Maka:
Rp6.000.000 ÷ Rp95.000.000 × 100% = sekitar 6,32%
Coupon rate-nya tetap 6%, tetapi current yield investor sekitar 6,32% karena harga pembelian berada di bawah nilai nominal.
3. Yield to Maturity
Yield to Maturity atau YTM menggambarkan tingkat pengembalian yang diperkirakan diperoleh apabila obligasi dibeli pada harga tertentu kemudian dimiliki sampai jatuh tempo, dengan mempertimbangkan kupon dan selisih antara harga pembelian dengan nilai yang diterima pada jatuh tempo serta asumsi tertentu.
Karena menghitung lebih banyak komponen, YTM memberikan gambaran yang lebih menyeluruh daripada current yield.
Namun, YTM bukan jaminan return aktual jika obligasi dijual sebelum jatuh tempo atau asumsi perhitungannya tidak terpenuhi.
Mengapa Harga Obligasi Bisa Memengaruhi Yield?
1. Ketika Harga Obligasi Naik
Untuk obligasi fixed rate, kenaikan harga pasar tidak meningkatkan nominal kupon.
Misalnya kupon tahunan tetap Rp6 juta tetapi harga obligasi naik menjadi Rp105 juta.
Current yield menjadi:
Rp6.000.000 ÷ Rp105.000.000 × 100% = sekitar 5,71%
Jadi, ketika harga naik dan kupon tetap, current yield cenderung turun.
2. Ketika Harga Obligasi Turun
Jika harga obligasi turun menjadi Rp95 juta sementara kupon tetap Rp6 juta, current yield menjadi sekitar 6,32%.
Artinya, untuk kupon tetap, harga yang lebih rendah dapat menghasilkan current yield yang lebih tinggi bagi pembeli baru.
Namun, harga murah tidak otomatis berarti lebih menguntungkan. Penurunan harga dapat terjadi karena perubahan suku bunga, persepsi risiko penerbit, kondisi pasar, maupun faktor lain.
3. Hubungan Suku Bunga Pasar dengan Harga Obligasi
Harga obligasi fixed rate secara umum mempunyai hubungan berlawanan dengan perubahan tingkat bunga pasar.
Ketika tingkat bunga pasar meningkat, obligasi lama dengan kupon lebih rendah dapat menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen baru sehingga harga pasarnya cenderung mendapat tekanan.
Sebaliknya, ketika tingkat bunga pasar turun, obligasi lama dengan kupon relatif tinggi dapat menjadi lebih menarik sehingga harga dapat meningkat.
Hubungan ini menjadi salah satu alasan investor obligasi perlu memahami risiko suku bunga, terutama ketika berencana menjual sebelum jatuh tempo.
Apa Saja yang Memengaruhi Besarnya Imbal Hasil Obligasi?
1. Tingkat Suku Bunga
Perubahan suku bunga dapat memengaruhi harga obligasi dan yield di pasar sekunder.
Efeknya biasanya semakin terasa pada obligasi dengan tenor panjang karena investor akan menerima tingkat kupon yang sama untuk periode yang lebih lama.
2. Tenor Obligasi
Tenor menunjukkan berapa lama waktu sampai obligasi mencapai jatuh tempo.
Obligasi berjangka lebih panjang memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap perubahan suku bunga dibandingkan obligasi berjangka pendek.
Karena itu, jangan memilih tenor hanya berdasarkan besarnya kupon.
3. Harga Beli Obligasi
Harga pembelian sangat berpengaruh terhadap yield.
Obligasi dapat diperdagangkan:
- at par, yaitu sekitar 100% dari nilai nominal;
- at premium, yaitu di atas nilai nominal; atau
- at discount, yaitu di bawah nilai nominal.
Dua investor yang memiliki obligasi dengan kupon sama dapat memperoleh tingkat yield berbeda apabila membeli pada harga berbeda.
4. Risiko Penerbit
Obligasi pemerintah dan obligasi korporasi memiliki karakteristik risiko penerbit yang berbeda.
Pada obligasi korporasi, kemampuan perusahaan membayar kupon dan pokok menjadi faktor penting. Peringkat kredit dapat menjadi salah satu referensi untuk menilai risiko kredit suatu penerbit.
Potensi imbal hasil yang lebih tinggi biasanya perlu dilihat bersama risiko yang menyertainya.
5. Kondisi Pasar
Inflasi, kondisi ekonomi, likuiditas pasar, kebijakan moneter, sentimen investor, dan berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi harga serta yield obligasi.
Akibatnya, yield di pasar sekunder dapat berubah setiap saat meskipun coupon rate tetap.
6. Pajak atas Kupon atau Imbal Hasil
Investor juga perlu memperhitungkan pajak untuk mengetahui hasil bersih.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku saat artikel ini ditulis, penghasilan berupa bunga obligasi yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap pada prinsipnya dikenai PPh Final sebesar 10% dari dasar pengenaan pajak yang relevan.
Perlakuan dapat berbeda untuk kategori Wajib Pajak tertentu maupun instrumen tertentu sesuai ketentuan perpajakan.
Karena itu, ketika membandingkan investasi, sebaiknya jangan hanya melihat yield bruto tetapi pertimbangkan pula hasil setelah pajak dan biaya.
Jenis Obligasi Berdasarkan Penerbitnya
1. Obligasi Pemerintah
Obligasi pemerintah merupakan surat utang yang diterbitkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan negara.
Di Indonesia, instrumen pemerintah dapat mencakup berbagai seri Surat Berharga Negara dengan karakteristik kupon, tenor, mata uang, dan mekanisme perdagangan yang berbeda.
Untuk Surat Utang Negara, pembayaran bunga dan pokok dijamin oleh Negara Republik Indonesia berdasarkan ketentuan perundang-undangan.
2. Obligasi Korporasi
Obligasi korporasi diterbitkan oleh perusahaan untuk memperoleh pendanaan.
Dana hasil penerbitan dapat digunakan untuk ekspansi, refinancing, modal kerja, maupun kebutuhan perusahaan lainnya.
Investor perlu memperhatikan kemampuan keuangan perusahaan, profil utang, prospek bisnis, dan peringkat kredit jika tersedia karena terdapat risiko gagal bayar.
3. Obligasi Daerah
Obligasi daerah merupakan surat utang yang dapat diterbitkan oleh pemerintah daerah berdasarkan ketentuan peraturan yang berlaku.
Penerbitannya dapat berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan pembangunan daerah dan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan regulator.
Karakteristik dan tingkat risiko perlu diperiksa berdasarkan penerbit serta ketentuan masing-masing efek.
Risiko yang Perlu Dipahami Sebelum Membeli Obligasi
1. Risiko Suku Bunga
Ketika tingkat bunga pasar meningkat, harga obligasi fixed rate yang sudah beredar dapat turun.
Risiko ini penting terutama jika investor membutuhkan dana dan harus menjual obligasi sebelum jatuh tempo.
2. Risiko Kredit atau Gagal Bayar
Risiko kredit merupakan kemungkinan penerbit tidak mampu memenuhi pembayaran kupon atau pokok sesuai jadwal.
Risiko ini menjadi pertimbangan penting pada obligasi korporasi.
Kupon yang tinggi tidak boleh dilihat terpisah dari kemampuan penerbit memenuhi kewajibannya.
3. Risiko Likuiditas
Tidak semua obligasi aktif diperdagangkan.
Pada obligasi dengan likuiditas rendah, investor mungkin sulit menemukan pembeli ketika ingin menjual atau harus menerima harga yang kurang sesuai dengan harapan.
4. Risiko Perubahan Harga
Harga obligasi di pasar sekunder dapat naik maupun turun.
Jika investor membeli Rp100 juta kemudian harus menjual ketika harga pasarnya Rp95 juta, terdapat potensi capital loss sebelum memperhitungkan kupon yang telah diterima dan biaya lainnya.
5. Risiko Reinvestasi
Kupon yang diterima secara berkala mungkin ingin diinvestasikan kembali.
Namun, tingkat imbal hasil yang tersedia ketika kupon diterima belum tentu sama dengan tingkat yang tersedia saat obligasi pertama kali dibeli.
Jika suku bunga turun, investor mungkin hanya dapat menginvestasikan kembali kupon pada tingkat yang lebih rendah.
Tips Memilih Obligasi yang Sesuai
1. Sesuaikan dengan Tujuan Investasi
Tentukan terlebih dahulu untuk apa dana ditempatkan.
Tujuan memperoleh arus kas berkala dapat membutuhkan pertimbangan berbeda dengan tujuan menyimpan dana hingga beberapa tahun ke depan.
2. Perhatikan Jangka Waktu
Pilih tenor berdasarkan kapan dana akan dibutuhkan.
Jangan menggunakan uang untuk kebutuhan jangka dekat membeli obligasi berjangka panjang jika Anda tidak siap menghadapi risiko perubahan harga ketika harus menjual lebih awal.
3. Bandingkan Kupon dan Yield
Jangan hanya memilih obligasi dengan coupon rate tertinggi.
Jika membeli di pasar sekunder, lihat pula:
- harga pembelian;
- current yield;
- yield to maturity;
- sisa tenor; dan
- bunga berjalan.
Obligasi dengan coupon rate rendah dapat memiliki yield menarik apabila dibeli pada harga diskon, begitu pula sebaliknya.
4. Periksa Risiko dan Kredibilitas Penerbit
Untuk obligasi korporasi, pelajari laporan keuangan dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban.
Peringkat kredit juga dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya dasar mengambil keputusan.
5. Perhatikan Harga di Pasar Sekunder
Harga pasar menentukan berapa dana yang perlu dibayarkan dan memengaruhi yield.
Jangan hanya melihat apakah harga berada di bawah nilai nominal. Cari tahu mengapa harga tersebut turun dan apakah risiko yang menyebabkannya sesuai dengan profil Anda.
6. Sesuaikan dengan Profil Risiko
Setiap investor mempunyai kemampuan menghadapi risiko yang berbeda.
Pilih obligasi berdasarkan kondisi finansial, kebutuhan likuiditas, horizon investasi, dan kemampuan menerima perubahan nilai.
Hindari mengambil keputusan hanya karena melihat tingkat kupon tinggi.
Investasi Obligasi Lebih Praktis melalui M-Smile Bank Mega
Bagi nasabah Bank Mega yang ingin mempertimbangkan investasi surat utang pemerintah, M-Smile menyediakan akses investasi Obligasi Pemerintah secara digital.
Melalui M-Smile, nasabah dapat melakukan pemesanan SBN Ritel di pasar perdana ketika masa penawaran tersedia maupun membeli Obligasi Pemerintah di pasar sekunder sesuai produk dan kuota yang tersedia.
Berdasarkan informasi Bank Mega saat ini, investasi obligasi melalui M-Smile dapat dimulai dari Rp1.000.000 sesuai ketentuan produk.
Sebelum bertransaksi, investor perlu memiliki Single Investor Identification atau SID dan melengkapi Risk Profile.
Untuk pembelian Obligasi Pemerintah di pasar sekunder melalui M-Smile, alurnya secara umum adalah:
- buka menu Apply dan pilih Obligasi;
- pastikan SID dan Risk Profile sudah tersedia;
- pilih Obligasi Pemerintah untuk transaksi pasar sekunder;
- pilih seri obligasi yang diinginkan;
- masukkan nominal pembelian;
- lengkapi data pemesanan;
- pilih rekening yang digunakan dalam transaksi; dan
- konfirmasikan transaksi menggunakan M-PIN sesuai instruksi aplikasi.
M-Smile menyediakan pilihan Obligasi Pemerintah berdasarkan jangka waktu dan mata uang yang tersedia, termasuk IDR maupun USD sesuai informasi produk.
Perlu dipahami bahwa obligasi merupakan produk pasar modal, bukan produk simpanan Bank Mega. Karena itu, obligasi tidak diperlakukan seperti tabungan atau deposito dan bukan objek program penjaminan LPS.
Khusus Obligasi Pemerintah yang tersedia melalui layanan tersebut, pembayaran pokok dan kupon mengikuti jaminan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Jaminan tersebut berasal dari pemerintah, bukan dari PT Bank Mega Tbk.
Investor tetap perlu memahami harga, kupon, yield, tenor, risiko pasar, serta ketentuan transaksi sebelum membeli, terutama apabila berencana menjual obligasi sebelum jatuh tempo.
Baca Juga: Obligasi Negara Ritel (ORI): Cara Kerja dan Keuntungannya untuk Investor
FAQ Seputar Bunga Obligasi
1. Apakah Kupon Obligasi Selalu Dibayarkan sampai Jatuh Tempo?
Pada obligasi yang memang memiliki kupon, pembayaran dilakukan berdasarkan jadwal dan ketentuan penerbitan selama obligasi masih berlaku dan penerbit memenuhi kewajibannya. Namun, terdapat pula obligasi tanpa pembayaran kupon berkala seperti zero coupon bond. Pada obligasi korporasi, investor juga perlu memahami adanya risiko gagal bayar. Karena itu, kupon tidak boleh dianggap sebagai keuntungan yang selalu tanpa risiko.
2. Apakah Obligasi Bisa Dijual Sebelum Jatuh Tempo?
Bisa untuk obligasi yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Investor dapat menjual sebelum jatuh tempo pada harga pasar yang tersedia. Harga jual dapat lebih tinggi, sama, maupun lebih rendah daripada harga pembelian sehingga investor berpotensi memperoleh capital gain atau mengalami capital loss. Beberapa seri surat berharga tertentu dapat memiliki ketentuan perdagangan yang berbeda sehingga cek karakteristik produknya terlebih dahulu.
3. Apa yang Dimaksud dengan Bunga Berjalan pada Obligasi?
Bunga berjalan atau accrued interest adalah bagian kupon yang telah terakumulasi sejak tanggal pembayaran kupon terakhir sampai tanggal penyelesaian transaksi obligasi. Ketika obligasi diperdagangkan di antara dua tanggal pembayaran kupon, pembeli pada umumnya perlu memperhitungkan bunga berjalan yang menjadi hak ekonomi penjual untuk periode kepemilikannya. Karena itu, nilai penyelesaian transaksi dapat berbeda dari sekadar harga bersih obligasi yang tercantum.
4. Apakah Investor Tetap Mendapat Kupon Jika Membeli Obligasi di Pasar Sekunder?
Ya, investor yang membeli obligasi berkupon di pasar sekunder dapat memperoleh pembayaran kupon berikutnya apabila tercatat sebagai pemegang yang berhak sesuai mekanisme dan tanggal yang ditentukan. Namun, harga transaksi dapat sudah memperhitungkan bunga berjalan sejak pembayaran kupon sebelumnya. Karena itu, pembayaran kupon berikutnya tidak otomatis berarti seluruh nominal kupon tersebut merupakan keuntungan sejak tanggal pembelian.
5. Apakah Semua Obligasi Memberikan Kupon Secara Tunai?
Tidak. Zero coupon bond, misalnya, tidak memberikan pembayaran kupon berkala. Potensi hasil investor berasal dari selisih harga perolehan dengan nilai yang diterima pada saat jatuh tempo. Selain itu, instrumen berbasis prinsip syariah dapat menggunakan istilah dan mekanisme imbalan seperti ujrah, bagi hasil, atau margin, bukan bunga konvensional. Karena itu, selalu periksa karakteristik instrumen sebelum membeli.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
