Komisi sering jadi kata kunci saat orang cari kerja sales, agen, atau kerja berbasis target. Banyak yang tertarik karena komisi bisa bikin hasil uang naik saat kinerja bagus. Namun, tidak sedikit juga yang bingung: komisi itu apa, kapan dibayar, dan hitungnya gimana?
Secara singkat, komisi adalah upah dari hasil kerja. Umum nya komisi muncul saat kamu sukses jual barang, jual jasa, atau bawa klien. Jadi, komisi beda dari gaji tetap. Kalau kerja kamu makin bagus, komisi bisa ikut naik. Kalau target tidak kena, komisi bisa kecil, bahkan nol.
Di artikel ini, kamu akan paham arti komisi, cara kerja komisi, jenis komisi, cara hitung komisi, dan contoh komisi di dunia kerja serta jual beli. Di akhir, ada tips atur uang dari komisi agar tetap aman, plus cara pakai alat bank supaya catat uang lebih rapi, termasuk lewat layanan Bank Mega.
Apa Itu Komisi?
Komisi adalah upah yang kamu terima karena ada hasil yang kamu capai. Hasil itu bisa bentuk jual, nilai jual, jumlah klien, atau sukses ajak orang pakai layanan.
Misal, kamu kerja jual ponsel. Tiap ponsel laku, kamu dapat komisi. Atau kamu jadi agen rumah. Saat rumah laku, kamu dapat komisi dari nilai jual. Inti nya sama: ada hasil, ada komisi.
Karena sifat nya ikut hasil, komisi sering jadi pemicu semangat. Banyak orang jadi lebih giat cari klien, lebih rapi susun cara jual, dan lebih rajin follow up.
Komisi dan Gaji: Apa Bedanya?
Supaya tidak salah paham, kamu perlu tahu beda komisi dan gaji.
- Gaji umumnya dibayar rutin tiap bulan, walau hasil kerja naik turun (sesuai aturan kerja).
- Komisi dibayar jika ada hasil yang diukur, misal ada jual, ada deal, atau target kena.
Ada juga skema campur. Misal, gaji tetap kecil + komisi. Skema ini sering dipakai di tim sales atau agen. Tujuan nya agar tetap ada uang dasar, tapi masih ada dorong agar kerja makin giat.
Kenapa Sistem Komisi Banyak Dipakai?
Sistem komisi banyak dipakai karena dua sisi sama-sama dapat nilai.
Dari sisi usaha atau kantor, komisi bikin biaya ikut hasil. Saat hasil naik, biaya komisi naik. Saat hasil turun, biaya komisi ikut turun. Ini bikin arus kas lebih aman, apalagi untuk tim jual.
Dari sisi pekerja, komisi bikin hasil uang punya peluang naik tanpa harus tunggu naik peran. Kalau kamu rajin, rapi, dan konsis, hasil komisi bisa jadi signif.
Cara Kerja Komisi
Cara kerja komisi tampak mudah, tapi tetap perlu aturan yang jelas. Umum nya alur nya seperti ini:
- Ada target atau syarat hasil (misal nilai jual, jumlah order, atau jumlah klien).
- Ada rumus komisi (misal persen dari nilai jual, atau angka tetap per item).
- Ada waktu bayar (harian, mingguan, atau bulanan).
- Ada syarat sah (misal transaksi lunas, bukan batal, dan bukan retur).
Karena itu, sebelum terima kerja berbasis komisi, cek dulu: komisi dihitung dari apa, kapan dibayar, dan apakah ada batas min.
Jenis-Jenis Komisi yang Sering Ada
Walau sama-sama disebut komisi, bentuk nya bisa beda. Ini jenis yang paling umum.
1) Komisi dari Jual
Ini tipe paling sering. Kamu dapat komisi tiap ada jual produk atau jasa. Bisa per item, bisa persen dari nilai jual.
2) Komisi Agen
Komisi agen umum di bidang rumah, alat berat, mobil, tur, dan lain nya. Agen dapat komisi saat deal jadi.
3) Komisi Referal
Kamu dapat komisi saat sukses ajak orang jadi klien, daftar layanan, atau beli lewat kode kamu. Model ini sering ada di dunia online.
4) Komisi Target
Komisi keluar jika kamu tembus target dalam satu masa (misal 1 bulan). Jika tidak tembus, komisi bisa turun, atau tidak ada.
Komisi Tetap vs Komisi Bertahap
Selain jenis, komisi juga beda dari sisi skema hitung.
Komisi Tetap
Skema ini pakai angka yang sama. Misal, komisi 2% dari nilai jual, apa pun hasil jual kamu. Skema ini mudah dipantau dan mudah jelaskan.
Komisi Bertahap
Skema ini naik saat hasil makin besar. Misal, sampai Rp50 juta komisi 2%, lalu di atas itu jadi 3%. Tujuan nya agar tim makin semangat kejar hasil tinggi.
Jika kamu kerja pakai skema ini, pastikan tahap dan batas nya jelas agar tidak salah hitung.
Rumus dan Cara Hitung Komisi
Rumus dasar komisi umumnya begini:
Komisi = Nilai Jual × Persen Komisi
Contoh 1:
Nilai jual: Rp10.000.000
Persen komisi: 5%
Komisi = Rp10.000.000 × 5% = Rp500.000
Jika komisi pakai angka tetap, contoh nya begini:
Komisi = Jumlah Item × Komisi per Item
Contoh 2:
Jual 12 unit barang
Komisi per unit Rp20.000
Komisi = 12 × Rp20.000 = Rp240.000
Di lapangan, bisa ada syarat lain. Misal, komisi baru cair jika order lunas. Atau komisi dipotong jika ada retur. Karena itu, baca aturan kerja dengan teliti.
Contoh Komisi di Berbagai Bidang
Agar makin kebayang, ini contoh komisi di beberapa bidang kerja.
1) Sales Toko
Seorang sales dapat komisi 2% dari total nilai jual bulanan. Jika nilai jual sebulan Rp80 juta, komisi = Rp1,6 juta. Ini di luar gaji dasar (jika ada).
2) Agen Rumah
Agen dapat komisi 1,5% dari nilai jual rumah. Jika rumah laku Rp900 juta, komisi = Rp13,5 juta. Namun, komisi bisa cair saat ada tanda jadi atau saat akad, sesuai aturan.
3) Referal Online
Kamu bagikan tautan, lalu orang beli lewat tautan itu. Kamu dapat komisi Rp10.000 per transaksi. Jika ada 200 transaksi, total komisi Rp2 juta.
4) Tim Lapangan
Ada tim yang dapat komisi jika sukses bawa klien baru. Misal, Rp150.000 per klien yang aktif. Ini umum di layanan yang butuh akuisisi klien.
Komisi dan Bonus: Beda Tipis, Tapi Tidak Sama
Sering orang samakan komisi dan bonus. Padahal beda.
- Komisi terkait langsung dengan hasil (ada jual/deal, ada komisi).
- Bonus biasa nya hadiah tambahan, bisa karena tim capai target, bisa juga karena momen khusus.
Komisi lebih “terukur” karena rumus nya sudah disepakati. Bonus bisa lebih fleks.
Kelebihan dan Risiko Kerja Berbasis Komisi
Kerja berbasis komisi punya sisi baik, tapi juga ada tantang. Kamu perlu paham dua sisi ini agar tidak kaget.
Kelebihan
- Hasil uang bisa naik jika kerja kamu bagus.
- Kamu bisa atur gaya kerja sendiri (tergantung aturan tim).
- Skill jual, nego, dan relasi makin tajam.
Risiko
- Hasil uang bisa naik turun.
- Ada masa sepi yang bikin komisi kecil.
- Jika tidak atur uang, komisi cepat habis saat baru cair.
Karena itu, kerja berbasis komisi perlu kebiasaan atur uang yang rapi, bukan cuma fokus cari deal.
Baca juga: Frugal Living: Cara Mengatur Keuangan agar Lebih HematTips Atur Uang dari Komisi Agar Aman
Karena komisi itu tidak selalu tetap, kamu perlu cara atur yang aman. Ini tips yang bisa kamu coba.
1) Pakai Patokan “Rata-Rata”, Bukan “Puncak”
Saat komisi besar, jangan buru-buru naik gaya hidup. Lebih aman pakai patokan rata-rata hasil bulanan. Dengan cara ini, saat masa sepi, kamu tidak panik.
2) Bagi Komisi Jadi 3 Pos
- Pos hidup: makan, sewa, trans, dan tagih rutin.
- Pos simpan: dana aman untuk masa sepi.
- Pos senang: jajan, hobi, atau rehat.
Bagi pos ini bikin kamu tetap bisa nikmat hidup, tapi uang juga tetap aman.
3) Sisih di Awal
Saat komisi cair, sisih dulu untuk pos simpan. Jangan tunggu “sisa”. Jika tunggu sisa, sering kali tidak ada yang tersisa.
4) Catat Uang Masuk dan Keluar
Catat itu kunci. Tanpa catat, kamu mudah lupa uang habis buat apa. Catat juga bantu kamu lihat pola: bulan ramai, bulan sepi, dan bulan sedang.
Komisi dan Catat Transaksi: Kenapa Ini Penting?
Orang yang dapat komisi sering punya banyak transaksi kecil: ongkos, pulsa, kuota, traktir klien, dan lain nya. Jika tidak rapi, uang bisa bocor pelan-pelan.
Karena itu, alat yang bisa bantu lihat riwayat transaksi itu berguna. Saat kamu bisa cek mutasi dan riwayat, kamu jadi lebih sadar: uang kamu lari ke mana, dan pos mana yang perlu ditekan.
Kelola Komisi Lebih Rapi dengan Bank Mega
Jika kamu kerja dengan komisi, alur uang masuk bisa beda tiap bulan. Agar tetap rapi, kamu bisa pakai alat bank untuk bantu pisah dana dan pantau riwayat transaksi.
Lewat layanan Bank Mega dan kanal digital seperti M-Smile, kamu bisa cek transaksi, pantau arus dana, dan bikin kebiasaan kelola uang jadi lebih tertib. Ini bukan soal ribet, tapi soal bikin uang hasil kerja kamu lebih “nempel”.
Kalau kamu sering pakai kartu untuk kerja (misal buat beli kebutuhan kerja, bayar makan tim, atau bayar hal darurat), kamu juga bisa lebih mudah telusur catat belanja. Saat catat rapi, kamu jadi lebih mudah atur pos dan jaga dana aman.
Hal yang Perlu Kamu Cek Sebelum Terima Skema Komisi
Sebelum kamu setuju kerja berbasis komisi, cek hal ini agar tidak salah harap.
- Komisi dihitung dari apa: nilai jual, laba, atau jumlah unit?
- Komisi dibayar kapan: tiap deal, tiap pekan, atau tiap bulan?
- Ada syarat lunas atau tidak?
- Ada potong jika retur atau batal?
- Ada batas min komisi atau tidak?
Jika semua jelas, kamu bisa kerja lebih tenang dan fokus ke hasil.
Penutup
Komisi adalah upah dari hasil kerja, umum nya dari jual, deal, atau bawa klien. Sistem ini bisa bikin hasil uang naik saat kinerja bagus, tapi juga bisa naik turun saat masa sepi. Karena itu, selain paham cara kerja dan cara hitung, kamu juga perlu cara atur uang yang rapi.
Mulai dari langkah mudah: pahami skema komisi, catat uang masuk dan keluar, sisih dana aman di awal, dan pisah pos agar uang tidak cepat habis. Dengan alat bank yang pas, seperti layanan Bank Mega, kamu bisa pantau transaksi dan kelola komisi dengan cara yang lebih tertib. Hasil nya, komisi bukan cuma numpang lewat, tapi bisa bantu capai target hidup kamu.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS