Investasi dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mencapai berbagai tujuan keuangan, mulai dari menyiapkan dana pendidikan, membeli rumah, hingga mempersiapkan masa pensiun. Namun, setiap instrumen memiliki karakteristik, potensi keuntungan, jangka waktu, dan risiko yang berbeda.
Karena itu, memahami berbagai jenis investasi menjadi langkah penting sebelum menempatkan dana. Deposito, reksa dana, obligasi, saham, emas, hingga properti tidak dapat dibandingkan hanya berdasarkan potensi keuntungan. Investor juga perlu mempertimbangkan likuiditas, risiko penurunan nilai, biaya, pajak, serta kapan dana tersebut akan digunakan.
Pilihan yang tepat bukan selalu investasi dengan imbal hasil paling tinggi, melainkan instrumen yang paling sesuai dengan tujuan, kemampuan finansial, dan profil risiko masing-masing.
Berikut penjelasan mengenai berbagai jenis investasi, sumber potensi keuntungannya, risiko yang perlu dipahami, hingga cara memilih instrumen yang sesuai.
Ringkasan Artikel:
- Jenis investasi memiliki karakteristik, risiko, potensi hasil, likuiditas, dan jangka waktu yang berbeda.
- Pilihan investasi dapat mencakup deposito, reksa dana, obligasi, saham, emas, properti, SBN, ETF, sukuk, dan valuta asing.
- Potensi keuntungan investasi dapat berasal dari bunga, kupon, dividen, capital gain, maupun kenaikan nilai aset.
- Tingkat risiko suatu investasi tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan nama produknya dan tetap perlu dilihat berdasarkan karakteristik masing-masing instrumen.
- Investor sebaiknya menentukan tujuan dan profil risiko sebelum memilih serta melakukan diversifikasi jika diperlukan.
Daftar Isi
- Pengertian Investasi
- Pentingnya Mengenal Jenis-jenis Investasi
- Jenis-jenis Investasi yang Perlu Diketahui
- Jenis Investasi Berdasarkan Jangka Waktu
- Jenis Investasi Berdasarkan Tingkat Risiko
- Dari Mana Potensi Keuntungan Investasi Diperoleh?
- Risiko Investasi yang Perlu Dipahami
- Perbandingan Jenis-jenis Investasi
- Cara Memilih Jenis Investasi yang Sesuai
- Jenis Investasi yang Bisa Dipertimbangkan Pemula
- Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Memulai Investasi
- Mulai Investasi Lebih Praktis Bersama Bank Mega
- FAQ Seputar Investasi
Pengertian Investasi
Investasi adalah kegiatan menempatkan dana atau sumber daya pada suatu aset atau instrumen dengan harapan memperoleh manfaat ekonomi pada masa mendatang.
Manfaat tersebut dapat berupa pertumbuhan nilai aset, pendapatan berkala, bunga, kupon, dividen, atau kombinasi beberapa sumber hasil tersebut.
Dalam praktiknya, investasi tidak selalu berarti membeli saham. Seseorang dapat menempatkan dana pada reksa dana, obligasi, emas, properti, Surat Berharga Negara, maupun berbagai instrumen lainnya.
Deposito juga sering dimasukkan ke dalam pembahasan investasi dalam konteks perencanaan keuangan karena dana ditempatkan selama tenor tertentu untuk memperoleh bunga. Namun secara produk perbankan, deposito merupakan simpanan berjangka dan memiliki karakteristik yang berbeda dari produk pasar modal.
Investasi juga selalu memiliki risiko. Tidak ada instrumen yang dapat dinilai hanya dari potensi keuntungannya. Investor perlu memahami kemungkinan penurunan nilai, keterbatasan pencairan, risiko penerbit, hingga pengaruh inflasi sebelum mengambil keputusan.
Pentingnya Mengenal Jenis-jenis Investasi
1. Menyesuaikan Investasi dengan Tujuan Keuangan
Tujuan investasi dapat berbeda pada setiap orang. Dana untuk liburan tahun depan tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan dana pensiun yang baru akan digunakan 25 tahun mendatang.
Semakin dekat waktu penggunaan dana, biasanya semakin penting menjaga likuiditas dan mengendalikan risiko fluktuasi.
Sementara untuk tujuan jangka panjang, investor dapat memiliki waktu lebih banyak untuk menghadapi pergerakan pasar apabila profil risikonya mendukung.
2. Memahami Tingkat Risiko
Setiap instrumen memiliki sumber risiko yang berbeda. Saham dapat mengalami fluktuasi harga yang cukup besar, obligasi memiliki risiko perubahan suku bunga dan kredit, sedangkan properti dapat menghadapi risiko likuiditas.
Dengan mengetahui karakteristik tersebut, investor dapat memilih risiko yang masih sesuai dengan kemampuan dan kenyamanannya.
3. Membantu Menentukan Jangka Waktu Investasi
Beberapa instrumen lebih cocok untuk kebutuhan jangka pendek, sedangkan lainnya lebih relevan ketika digunakan dalam jangka panjang.
Mengetahui kapan dana akan digunakan membantu menghindari kondisi ketika investor terpaksa menjual aset saat nilainya sedang turun.
4. Mendukung Diversifikasi Aset
Diversifikasi berarti membagi dana ke beberapa instrumen atau sumber risiko yang berbeda.
Tujuannya bukan untuk menghilangkan seluruh risiko, tetapi membantu mengurangi ketergantungan portofolio terhadap satu aset.
Misalnya, investor dapat mengombinasikan instrumen pasar uang, pendapatan tetap, dan saham berdasarkan tujuan serta profil risikonya.
Jenis-jenis Investasi yang Perlu Diketahui
1. Deposito
Deposito merupakan simpanan berjangka yang dananya ditempatkan di bank untuk periode tertentu. Nasabah memperoleh bunga berdasarkan ketentuan produk dan biasanya baru dapat melakukan pencairan secara optimal pada saat jatuh tempo.
Tenornya dapat tersedia mulai dari hitungan bulan hingga periode yang lebih panjang tergantung bank.
Deposito memiliki karakteristik nilai pokok yang tidak berfluktuasi mengikuti pasar seperti saham. Namun, nasabah tetap perlu memperhatikan tingkat bunga, pajak, penalti pencairan sebelum jatuh tempo, serta ketentuan penjaminan simpanan oleh LPS.
2. Reksa Dana
Reksa dana menghimpun dana dari investor kemudian dikelola oleh Manajer Investasi untuk ditempatkan dalam portofolio efek sesuai kebijakan investasinya.
Jenisnya antara lain reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham.
Karakteristik risiko dan potensi hasilnya berbeda. Reksa dana pasar uang umumnya memiliki fluktuasi lebih rendah dibandingkan reksa dana saham, tetapi seluruh reksa dana tetap memiliki risiko penurunan nilai.
Sebelum membeli, investor perlu membaca Prospektus dan Fund Fact Sheet serta memahami profil risiko produk.
3. Obligasi
Obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan. Investor pada dasarnya memberikan dana kepada penerbit dan berpotensi memperoleh kupon serta pengembalian pokok sesuai ketentuan obligasi.
Investor juga dapat memperoleh capital gain apabila obligasi diperdagangkan di pasar sekunder pada harga lebih tinggi dibandingkan harga pembelian.
Risikonya dapat meliputi risiko gagal bayar, perubahan suku bunga, perubahan harga, dan likuiditas. Tingkat risiko sangat bergantung pada siapa penerbitnya dan karakteristik obligasinya.
4. Saham
Saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Investor dapat memperoleh potensi keuntungan dari kenaikan harga saham atau capital gain serta dividen apabila perusahaan membagikannya.
Di sisi lain, harga saham dapat naik dan turun secara signifikan mengikuti kondisi perusahaan, industri, ekonomi, serta sentimen pasar.
Karena volatilitasnya, saham membutuhkan pemahaman mengenai bisnis perusahaan dan kemampuan menghadapi perubahan nilai investasi.
5. Emas
Emas merupakan aset yang banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dalam jangka tertentu. Bentuk investasinya dapat berupa emas fisik maupun layanan emas digital melalui penyelenggara yang memiliki legalitas sesuai ketentuan.
Potensi keuntungan diperoleh ketika harga jual emas lebih tinggi dibandingkan harga pembelian.
Namun, emas tetap dapat mengalami penurunan harga. Investor juga perlu memperhatikan spread antara harga beli dan jual, biaya penyimpanan, serta keamanan apabila memiliki emas secara fisik.
6. Properti
Properti seperti rumah, apartemen, tanah, atau bangunan komersial dapat digunakan sebagai aset investasi.
Potensi hasilnya dapat berasal dari kenaikan nilai properti dan pendapatan sewa.
Namun, properti biasanya membutuhkan modal relatif besar, memiliki biaya perawatan serta pajak, dan tidak selalu mudah dijual dalam waktu singkat. Karena itu, likuiditas menjadi salah satu risiko utamanya.
7. Surat Berharga Negara
Surat Berharga Negara atau SBN merupakan surat berharga yang diterbitkan Pemerintah Republik Indonesia untuk membiayai APBN dan kebutuhan pembangunan.
Untuk investor ritel, pemerintah secara berkala menawarkan berbagai seri SBN Ritel. Karakteristiknya dapat berbeda dari sisi kupon atau imbalan, tenor, serta apakah instrumen tersebut dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Pembayaran pokok dan kupon atau imbalannya dijamin oleh negara berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Namun, investor masih dapat menghadapi risiko pasar apabila membeli instrumen yang dapat diperdagangkan dan menjualnya sebelum jatuh tempo.
8. Exchange Traded Fund (ETF)
Exchange Traded Fund atau ETF merupakan reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa seperti saham.
ETF dapat mengikuti indeks atau strategi investasi tertentu sehingga investor dapat memperoleh eksposur terhadap sekumpulan aset melalui satu produk.
Karena diperdagangkan di bursa, harga ETF dapat berubah selama jam perdagangan. Investor perlu memperhatikan likuiditas, spread harga beli-jual, strategi indeks, serta biaya pengelolaan.
9. Sukuk
Sukuk merupakan efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian kepemilikan yang tidak terpisahkan atas aset atau dasar transaksi tertentu sesuai prinsip syariah.
Sukuk dapat diterbitkan pemerintah maupun korporasi. Dalam konteks pemerintah, terdapat pula Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN.
Potensi hasil dapat berasal dari imbalan sesuai struktur produk. Risiko juga berbeda berdasarkan penerbit, tenor, likuiditas, dan karakteristik instrumen.
10. Investasi Valuta Asing
Valuta asing atau valas dapat dimiliki untuk kebutuhan transaksi maupun sebagai bagian dari diversifikasi aset.
Potensi keuntungan dapat muncul ketika mata uang yang dimiliki menguat terhadap rupiah sehingga nilainya lebih tinggi ketika dikonversikan kembali.
Namun, pergerakan nilai tukar dapat berubah dalam dua arah. Jika mata uang tersebut melemah terhadap rupiah, nilai investasi dalam rupiah juga dapat berkurang.
Investor juga perlu memperhitungkan spread kurs beli dan jual serta biaya transaksi.
Jenis Investasi Berdasarkan Jangka Waktu
1. Investasi Jangka Pendek
Investasi jangka pendek umumnya digunakan untuk kebutuhan yang akan muncul dalam waktu relatif dekat.
Likuiditas dan kestabilan nilai biasanya menjadi pertimbangan utama. Contohnya dapat berupa deposito berjangka pendek atau reksa dana pasar uang sesuai tujuan dan profil risiko.
2. Investasi Jangka Menengah
Investasi jangka menengah digunakan untuk tujuan yang berada beberapa tahun di masa depan, seperti mempersiapkan biaya pendidikan atau uang muka rumah.
Investor dapat mempertimbangkan instrumen yang memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan risiko berdasarkan horizon yang tersedia.
Tidak ada batas waktu universal yang harus digunakan. Kategorinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan masing-masing investor.
3. Investasi Jangka Panjang
Investasi jangka panjang ditujukan untuk kebutuhan yang masih bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun mendatang.
Contohnya adalah dana pensiun atau tujuan membangun aset dalam jangka panjang.
Horizon yang lebih panjang dapat memberikan investor lebih banyak waktu untuk menghadapi fluktuasi pasar, tetapi tetap tidak menjamin keuntungan.
Jenis Investasi Berdasarkan Tingkat Risiko
Klasifikasi risiko berikut bersifat umum dan tidak dapat digunakan sebagai patokan mutlak. Tingkat risiko aktual perlu diperiksa pada setiap produk.
1. Investasi dengan Risiko Relatif Rendah
Instrumen yang relatif stabil dan memiliki fluktuasi terbatas sering ditempatkan dalam kategori ini.
Contohnya dapat mencakup deposito yang memenuhi ketentuan penjaminan LPS serta reksa dana pasar uang dalam konteks investasi pasar modal.
Meski disebut relatif rendah, risikonya tetap ada. Reksa dana pasar uang dapat mengalami penurunan nilai, sedangkan deposito memiliki risiko seperti penalti pencairan lebih awal dan imbal hasil yang dapat berada di bawah inflasi.
2. Investasi dengan Risiko Menengah
Instrumen seperti reksa dana pendapatan tetap atau sejumlah obligasi dapat memiliki risiko yang berada di antara instrumen sangat stabil dan aset berfluktuasi tinggi.
Namun, obligasi korporasi dengan kualitas kredit rendah dapat memiliki risiko jauh lebih tinggi. Karena itu, kategori tidak boleh ditentukan hanya dari nama instrumen.
3. Investasi dengan Risiko Tinggi
Saham dan sejumlah aset dengan volatilitas tinggi dapat mengalami kenaikan maupun penurunan nilai yang cukup besar.
Potensi keuntungan dapat lebih besar, tetapi investor juga harus siap menghadapi kemungkinan kerugian.
Instrumen seperti ini lebih sesuai bagi investor yang memahami risikonya, memiliki horizon yang mendukung, dan mampu menghadapi fluktuasi nilai.
Dari Mana Potensi Keuntungan Investasi Diperoleh?
1. Bunga
Bunga merupakan imbalan yang dapat diperoleh dari produk perbankan tertentu seperti deposito.
Besarnya dipengaruhi tingkat bunga, jumlah dana, tenor, pajak, serta ketentuan produk.
2. Kupon
Kupon merupakan pembayaran berkala yang dapat diterima pemegang obligasi sesuai ketentuan penerbitan.
Besaran serta frekuensi pembayaran berbeda berdasarkan jenis obligasi.
Pada instrumen syariah, istilah serta struktur imbalannya dapat berbeda mengikuti akad dan karakteristik produk.
3. Dividen
Dividen merupakan bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham berdasarkan keputusan perusahaan.
Namun, perusahaan tidak selalu membagikan dividen setiap periode. Pembayaran dan jumlahnya bergantung pada kondisi serta kebijakan perusahaan.
4. Capital Gain
Capital gain terjadi ketika investor menjual aset pada harga lebih tinggi dibandingkan harga pembelian.
Misalnya, saham dibeli pada harga Rp4.000 per lembar kemudian dijual Rp5.000. Selisih positif sebelum memperhitungkan biaya transaksi merupakan capital gain.
Sebaliknya, penjualan pada harga lebih rendah menghasilkan capital loss.
5. Kenaikan Nilai Aset
Properti, emas, dan aset lainnya dapat mengalami kenaikan nilai dari waktu ke waktu.
Namun, kenaikan tidak selalu terjadi secara konsisten. Nilai dapat turun akibat perubahan kondisi ekonomi, permintaan pasar, lokasi, suku bunga, maupun faktor lainnya.
Risiko Investasi yang Perlu Dipahami
1. Risiko Pasar
Risiko pasar adalah kemungkinan nilai investasi turun akibat perubahan kondisi pasar.
Harga saham, obligasi, ETF, maupun instrumen lainnya dapat bergerak karena kondisi ekonomi, suku bunga, geopolitik, dan sentimen investor.
2. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas muncul ketika aset sulit dijual atau dicairkan pada waktu dan harga yang diharapkan.
Properti menjadi salah satu contoh aset yang proses penjualannya dapat membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan instrumen yang aktif diperdagangkan.
3. Risiko Kredit atau Gagal Bayar
Risiko kredit berkaitan dengan kemampuan pihak yang memiliki kewajiban untuk memenuhi pembayaran.
Pada obligasi korporasi, misalnya, kondisi keuangan perusahaan penerbit perlu diperhatikan karena terdapat kemungkinan gagal memenuhi pembayaran sesuai perjanjian.
4. Risiko Suku Bunga
Perubahan tingkat suku bunga dapat memengaruhi nilai berbagai aset, khususnya obligasi.
Secara umum, kenaikan tingkat bunga pasar dapat menekan harga obligasi yang sudah beredar, terutama jika dijual sebelum jatuh tempo.
5. Risiko Inflasi
Inflasi dapat mengurangi daya beli hasil investasi.
Jika nilai investasi tumbuh 3% dalam satu tahun tetapi kenaikan harga kebutuhan lebih tinggi, pertumbuhan daya beli riil dapat menjadi terbatas atau bahkan negatif.
6. Risiko Perubahan Nilai Aset
Hampir semua aset yang ditentukan oleh mekanisme pasar dapat mengalami perubahan nilai.
Saham dapat turun karena kinerja perusahaan, emas dapat turun akibat perubahan permintaan global, properti dapat tertekan karena kondisi lokasi, sedangkan mata uang dapat melemah akibat perubahan kurs.
Karena itu, hindari menganggap bahwa harga suatu aset pasti selalu meningkat.
Perbandingan Jenis-jenis Investasi
1. Berdasarkan Modal Awal
Modal investasi sangat bervariasi. Reksa dana dan sebagian produk investasi digital dapat dimulai dengan nominal relatif terjangkau.
Saham dibeli berdasarkan satuan perdagangan yang berlaku, sedangkan SBN Ritel pada masa penawaran dapat memiliki minimum pemesanan tertentu.
Properti biasanya membutuhkan dana yang jauh lebih besar dibandingkan sejumlah instrumen finansial.
2. Berdasarkan Potensi Imbal Hasil
Instrumen yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi umumnya juga disertai risiko lebih besar.
Saham, misalnya, dapat menghasilkan capital gain yang signifikan tetapi juga dapat mengalami penurunan nilai besar.
Deposito memiliki pola hasil yang lebih dapat diperkirakan sesuai tingkat bunga, tetapi potensi pengembaliannya biasanya lebih terbatas.
3. Berdasarkan Tingkat Risiko
Tingkat risiko perlu dilihat dari karakteristik spesifik produk, bukan sekadar kategorinya.
Obligasi pemerintah dan obligasi korporasi, misalnya, sama-sama disebut obligasi tetapi memiliki profil risiko kredit yang berbeda.
4. Berdasarkan Likuiditas
Saham dan ETF yang aktif diperdagangkan dapat memiliki likuiditas relatif tinggi selama terdapat pembeli dan pasar sedang dibuka.
Reksa dana memiliki mekanisme redemption dengan periode penyelesaian tertentu, sedangkan properti biasanya memerlukan proses penjualan yang lebih panjang.
5. Berdasarkan Jangka Waktu
Deposito memiliki tenor tertentu, obligasi memiliki tanggal jatuh tempo, sedangkan saham tidak memiliki jatuh tempo selama perusahaan tetap tercatat dan instrumennya tersedia.
Investor perlu mencocokkan karakter tersebut dengan kapan dana akan digunakan.
Cara Memilih Jenis Investasi yang Sesuai
1. Tentukan Tujuan Keuangan
Mulailah dengan menentukan untuk apa dana tersebut dikumpulkan.
Tujuan yang jelas membantu menentukan nominal, horizon waktu, kebutuhan likuiditas, serta toleransi terhadap risiko.
2. Kenali Profil Risiko
Profil risiko menggambarkan kemampuan dan kenyamanan seseorang menghadapi perubahan nilai investasi.
Jangan memilih instrumen dengan fluktuasi tinggi hanya karena melihat orang lain mendapatkan keuntungan besar apabila Anda tidak siap menghadapi penurunan nilainya.
3. Tentukan Jangka Waktu Investasi
Tanyakan kapan dana akan digunakan. Semakin dekat kebutuhan tersebut, semakin terbatas waktu untuk memulihkan kerugian jika pasar turun.
Jangka waktu juga membantu menentukan apakah instrumen dengan tenor tertentu sesuai dengan kebutuhan Anda.
4. Sesuaikan dengan Kemampuan Finansial
Investasikan dana yang memang telah dialokasikan dan tidak mengganggu kebutuhan utama.
Jangan memaksakan nominal hanya untuk mengejar target investasi jika kebutuhan makan, tempat tinggal, cicilan, atau kewajiban penting lainnya belum terpenuhi.
5. Pelajari Karakteristik Instrumen
Sebelum membeli, pahami sumber keuntungan, risiko, biaya, pajak, mekanisme pencairan, pihak penerbit atau pengelola, dan legalitas produk.
Untuk reksa dana, baca Prospektus dan Fund Fact Sheet. Untuk obligasi, perhatikan penerbit dan dokumen penawaran. Untuk saham, pelajari perusahaan yang mendasari investasi tersebut.
6. Pertimbangkan Diversifikasi
Anda tidak harus menempatkan semua dana pada satu aset.
Diversifikasi dapat membantu membagi risiko selama setiap instrumen memiliki fungsi yang jelas dalam portofolio.
Namun, memiliki terlalu banyak produk tanpa memahami tujuannya juga dapat membuat portofolio sulit dikelola.
Jenis Investasi yang Bisa Dipertimbangkan Pemula
1. Deposito
Deposito memiliki mekanisme yang relatif mudah dipahami karena dana ditempatkan selama tenor tertentu dan memperoleh bunga sesuai ketentuan bank.
Instrumen ini dapat dipertimbangkan oleh pemula yang lebih mengutamakan kepastian tenor dan kestabilan nilai pokok.
2. Reksa Dana Pasar Uang
Reksa dana pasar uang dapat menjadi sarana untuk mulai mengenal investasi pasar modal dengan pengelolaan oleh Manajer Investasi.
Fluktuasinya secara umum lebih rendah dibandingkan reksa dana saham, tetapi tetap dapat mengalami penurunan nilai dan tidak dijamin LPS.
3. Surat Berharga Negara
SBN Ritel yang ditawarkan pemerintah dapat menjadi alternatif bagi investor pemula yang ingin memahami instrumen berpendapatan tetap.
Investor perlu mempelajari kupon atau imbalan, tenor, masa penawaran, minimum pemesanan, serta apakah produknya dapat diperdagangkan sebelum jatuh tempo.
4. Emas
Emas relatif mudah dikenal dan dapat dibeli dalam berbagai nominal.
Namun, pemula perlu memahami adanya spread harga beli dan jual. Karena selisih tersebut, emas biasanya kurang tepat jika dibeli hari ini lalu berharap memperoleh keuntungan dalam waktu sangat singkat.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Memulai Investasi
1. Berinvestasi Tanpa Tujuan
Tanpa tujuan, investor lebih mudah berganti-ganti instrumen karena mengikuti tren.
Tentukan terlebih dahulu target nominal dan kapan dana akan digunakan agar strategi investasi memiliki arah.
2. Menggunakan Dana Kebutuhan Harian
Hindari menggunakan uang untuk makan, tempat tinggal, biaya pendidikan, atau kewajiban penting lainnya sebagai modal investasi.
Jika pasar turun ketika dana dibutuhkan, Anda mungkin terpaksa menjual aset dalam kondisi rugi.
3. Mengejar Imbal Hasil Tinggi Tanpa Memahami Risiko
Potensi imbal hasil tinggi biasanya datang bersama risiko yang perlu dipahami.
Waspadai penawaran yang menjanjikan keuntungan besar, tetap, dan seolah-olah tanpa risiko. Pastikan legalitas pihak yang menawarkan serta pahami bagaimana keuntungan tersebut dihasilkan.
4. Mengikuti Tren atau Rekomendasi Tanpa Riset
Jangan membeli investasi hanya karena sedang viral atau direkomendasikan influencer, teman, maupun komunitas.
Gunakan informasi tersebut sebagai bahan awal, kemudian lakukan riset sendiri dan bandingkan dengan sumber resmi.
5. Menempatkan Seluruh Dana pada Satu Instrumen
Konsentrasi seluruh investasi pada satu aset membuat portofolio sangat bergantung pada kinerja aset tersebut.
Diversifikasi dapat dipertimbangkan untuk membantu membagi risiko sesuai tujuan investasi.
6. Mengabaikan Biaya dan Pajak
Keuntungan investasi yang terlihat belum tentu sama dengan hasil bersih yang diterima.
Biaya transaksi, biaya pengelolaan, spread, pajak, dan biaya lainnya dapat mengurangi hasil akhir.
Perhatikan seluruh komponen tersebut ketika membandingkan produk.
Mulai Investasi Lebih Praktis Bersama Bank Mega
Setelah mengenal berbagai jenis investasi, langkah berikutnya adalah memilih produk berdasarkan tujuan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan profil risiko. Bank Mega menyediakan beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan tersebut.
Untuk penempatan dana berjangka, tersedia Mega Depo. Produk deposito Bank Mega ini memiliki pilihan tenor sehingga nasabah dapat menyesuaikannya dengan rencana penggunaan dana. Sebelum menempatkan dana, perhatikan bunga, minimum penempatan, ketentuan pencairan sebelum jatuh tempo, pajak, serta ketentuan penjaminan simpanan yang berlaku.
Bagi Anda yang ingin berinvestasi di pasar modal, M-Smile juga menyediakan akses ke berbagai kategori reksa dana, mulai dari reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, hingga saham.
Melalui M-Smile, nasabah dapat membuat SID dan memperbarui profil risiko, kemudian melakukan transaksi reksa dana seperti pembelian, penambahan investasi, penjualan kembali, hingga pengalihan sesuai produk yang tersedia.
Bank Mega bertindak sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana. Karena itu, penting dipahami bahwa reksa dana merupakan produk pasar modal, bukan produk Bank Mega dan tidak termasuk objek penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Nilai investasi dapat naik maupun turun.
M-Smile juga menyediakan akses ke Obligasi Pemerintah. Nasabah dapat melakukan pemesanan SBN Ritel di pasar perdana pada masa penawaran maupun mengakses Obligasi Pemerintah tertentu di pasar sekunder sesuai ketersediaan dan ketentuan yang berlaku.
Obligasi Pemerintah memiliki karakteristik yang berbeda dengan deposito maupun reksa dana. Meskipun kewajiban pembayaran pokok dan kuponnya dijamin pemerintah berdasarkan undang-undang, harga obligasi yang diperdagangkan di pasar sekunder tetap dapat mengalami perubahan. Investor dapat memperoleh keuntungan atau kerugian apabila menjual sebelum jatuh tempo.
Karena setiap produk memiliki karakteristik yang berbeda, jangan memilih investasi hanya berdasarkan potensi hasil. Kenali profil risiko, baca dokumen produk, dan pastikan jangka waktu investasi sesuai dengan kebutuhan keuangan Anda.
Baca Juga: Investasi Emas vs Deposito: Mana yang Paling Menguntungkan?
FAQ Seputar Investasi
1. Apakah Satu Orang Bisa Memiliki Banyak Jenis Investasi?
Bisa. Seorang investor dapat memiliki deposito, reksa dana, saham, obligasi, emas, atau aset lainnya secara bersamaan.
Bahkan, memiliki beberapa jenis aset dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi.
Namun, jumlah instrumen sebaiknya tetap disesuaikan dengan kemampuan mengelola portofolio. Tidak ada manfaat memiliki banyak produk jika Anda tidak memahami fungsi dan risikonya.
2. Apakah Investasi Harus Dimulai dengan Modal Besar?
Tidak selalu. Minimum investasi berbeda pada setiap produk.
Sejumlah reksa dana maupun instrumen digital dapat dimulai dari nominal relatif terjangkau. SBN Ritel dan deposito memiliki minimum penempatan sesuai ketentuan produk, sementara properti biasanya membutuhkan modal lebih besar.
Daripada menunggu dana sangat besar, Anda dapat mulai berdasarkan kemampuan finansial selama kebutuhan utama dan dana cadangan sudah diperhitungkan.
3. Apakah Semua Investasi Bisa Mengalami Kerugian?
Setiap keputusan investasi memiliki risiko, tetapi bentuknya berbeda-beda.
Instrumen pasar dapat mengalami penurunan nilai secara langsung. Produk lain mungkin memiliki risiko berupa likuiditas, gagal bayar, perubahan suku bunga, atau hasil yang tidak mampu mengejar inflasi.
Deposito memiliki karakter berbeda karena merupakan simpanan bank dengan nominal pokok yang tidak berfluktuasi mengikuti pasar. Namun, nasabah tetap perlu memperhatikan syarat penjaminan LPS, pencairan sebelum jatuh tempo, serta risiko daya beli akibat inflasi.
4. Kapan Sebaiknya Mulai Menambah Jenis Investasi dalam Portofolio?
Anda dapat mempertimbangkan menambah instrumen ketika sudah memahami investasi yang dimiliki dan terdapat alasan yang jelas untuk melakukan diversifikasi.
Misalnya, portofolio saat ini terlalu terkonsentrasi pada aset berfluktuasi tinggi atau Anda memiliki tujuan baru dengan jangka waktu berbeda.
Jangan menambah investasi hanya agar portofolio terlihat lebih banyak. Setiap aset sebaiknya memiliki fungsi yang jelas.
5. Apakah Dana Darurat Boleh Digunakan untuk Investasi?
Dana darurat sebaiknya diprioritaskan untuk menghadapi kebutuhan mendadak sehingga keamanan dan kemudahan akses menjadi pertimbangan utama.
Karena itu, hindari menempatkan seluruh dana darurat pada instrumen yang nilainya dapat berfluktuasi besar atau sulit dicairkan.
Jika sebagian dana ditempatkan pada instrumen tertentu, pastikan tetap terdapat dana yang dapat diakses dengan cepat ketika keadaan darurat terjadi.
Kesimpulannya, memahami berbagai jenis investasi membantu Anda melihat bahwa setiap instrumen memiliki fungsi yang berbeda. Deposito dapat menawarkan penempatan dana berjangka, reksa dana memberikan akses ke portofolio yang dikelola Manajer Investasi, obligasi menawarkan potensi kupon, saham memberikan kesempatan pertumbuhan perusahaan, sedangkan emas dan properti memiliki karakter aset yang berbeda lagi. Tentukan tujuan, kenali profil risiko, pahami produk, dan pilih kombinasi investasi berdasarkan kebutuhan finansial Anda sendiri.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
