Dalam persiapan pernikahan, calon pengantin biasanya perlu memikirkan banyak hal, mulai dari dokumen, acara, tempat tinggal, hingga kondisi keuangan setelah menikah. Salah satu hal yang juga perlu dipersiapkan dalam pernikahan Islam adalah mahar pernikahan.
Mahar merupakan pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai perempuan. Bentuk dan nilainya dapat beragam, seperti uang, emas, perhiasan, barang bernilai, maupun bentuk lain yang disepakati dan memiliki manfaat.
Namun, menentukan mahar tidak sebaiknya hanya mengikuti tren atau membandingkan dengan pernikahan orang lain. Kondisi finansial setiap pasangan berbeda. Karena itu, jumlah dan bentuk mahar idealnya dibicarakan bersama dengan mempertimbangkan keinginan mempelai perempuan sekaligus kemampuan calon mempelai pria.
Memahami ketentuan dan fungsi mahar juga penting agar calon pengantin tidak menyamakannya dengan seserahan maupun biaya pesta pernikahan. Berikut penjelasan mengenai pengertian mahar, ketentuan, bentuk, contoh berdasarkan bujet, hingga cara menyiapkan dananya tanpa mengganggu kondisi keuangan.
Daftar Isi
- Apa Itu Mahar Pernikahan?
- Fungsi Mahar dalam Pernikahan
- Ketentuan Mahar dalam Pernikahan
- Bentuk-bentuk Mahar Pernikahan
- Hal yang Perlu Dipertimbangkan saat Menentukan Mahar
- Contoh Mahar Pernikahan Berdasarkan Bujet
- Perbedaan Mahar dan Seserahan
- Tips Menyiapkan Mahar tanpa Mengganggu Keuangan
- Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Menentukan Mahar
- Mahar Sederhana Tetap Bisa Bermakna
- FAQ Seputar Mahar Pernikahan
Apa Itu Mahar Pernikahan?
Mahar pernikahan adalah pemberian yang wajib diberikan calon mempelai pria kepada calon mempelai perempuan dalam pernikahan Islam. Mahar juga sering disebut sebagai mas kawin.
Dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita. Jumlah, bentuk, dan jenisnya ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
Mahar tidak harus memiliki nominal yang sangat besar. Prinsip kesederhanaan dan kemudahan justru menjadi hal yang dianjurkan dalam menentukan mahar.
Setelah diberikan, mahar menjadi hak pribadi mempelai perempuan. Artinya, mahar tidak otomatis menjadi milik keluarga, orang tua, maupun pihak lain.
Perlu dipahami pula bahwa menurut Kompilasi Hukum Islam, kewajiban menyerahkan mahar bukan merupakan rukun perkawinan. Tidak disebutkannya jumlah atau jenis mahar saat akad juga tidak dengan sendirinya menyebabkan pernikahan menjadi batal. Mahar yang belum dibayarkan tetap menjadi kewajiban yang perlu dipenuhi.
Fungsi Mahar dalam Pernikahan
1. Sebagai Bentuk Pemberian kepada Mempelai Perempuan
Fungsi paling mendasar dari mahar adalah sebagai pemberian calon suami kepada calon istri dalam rangka pernikahan.
Pemberian tersebut menjadi hak mempelai perempuan. Karena itu, penggunaannya pada prinsipnya berada dalam kewenangan perempuan yang menerimanya.
2. Menjadi Bagian dalam Akad Pernikahan
Mahar memiliki hubungan erat dengan proses akad pernikahan dan lazim disebut ketika akad berlangsung.
Namun, mahar perlu dibedakan dari rukun nikah. Dalam Kompilasi Hukum Islam, kewajiban menyerahkan mahar bukan merupakan rukun perkawinan.
Artinya, apabila jumlah mahar belum disebutkan atau penyerahannya masih ditangguhkan berdasarkan kesepakatan, hal tersebut tidak dengan sendirinya membatalkan perkawinan.
3. Memiliki Nilai Simbolis dalam Kehidupan Pernikahan
Bagi banyak pasangan, mahar juga memiliki nilai simbolis karena menjadi salah satu pemberian yang berkaitan dengan awal kehidupan rumah tangga.
Karena itu, sebagian pasangan memilih bentuk mahar yang memiliki makna khusus, seperti nominal tertentu, emas, atau barang yang dapat disimpan dalam jangka panjang.
Namun, nilai simbolis sebaiknya tidak membuat pasangan merasa harus menentukan mahar dalam jumlah yang berada di luar kemampuan finansial.
Ketentuan Mahar dalam Pernikahan
1. Mahar Diberikan kepada Mempelai Perempuan
Mahar diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai perempuan.
Dalam Kompilasi Hukum Islam, mahar diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan sejak diberikan menjadi hak pribadinya.
Karena itu, mahar pada dasarnya bukan pembayaran kepada orang tua atau keluarga mempelai perempuan.
2. Jenis dan Nilainya Disepakati Bersama
Tidak terdapat satu nominal mahar yang harus digunakan oleh semua pasangan.
Jumlah, bentuk, dan jenis mahar dapat ditentukan berdasarkan kesepakatan. Kondisi finansial calon mempelai pria serta keinginan calon mempelai perempuan dapat menjadi pertimbangan.
Kesepakatan penting agar mahar tidak menjadi sumber tekanan keuangan maupun perselisihan menjelang pernikahan.
3. Mahar Harus Memiliki Nilai atau Manfaat yang Jelas
Bentuk mahar sebaiknya dapat diketahui dengan jelas sehingga kedua pihak memahami apa yang diberikan.
Jika menggunakan uang, sebutkan nominalnya. Jika berbentuk emas atau perhiasan, jelaskan jenis dan jumlahnya. Jika menggunakan bentuk lain, pastikan kedua pihak memahami bentuk serta manfaat pemberian tersebut.
Kejelasan dapat mengurangi kesalahpahaman mengenai apa yang menjadi kewajiban calon mempelai pria.
4. Pemberiannya Tidak Sebaiknya Memberatkan
Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa penentuan mahar didasarkan pada kesederhanaan dan kemudahan sebagaimana dianjurkan dalam ajaran Islam.
Karena itu, pasangan tidak perlu menetapkan mahar tinggi hanya demi mengikuti tren, gengsi, atau standar pernikahan orang lain.
Sesuaikan dengan kemampuan finansial dan diskusikan secara terbuka sejak awal.
5. Mahar Menjadi Hak Mempelai Perempuan
Setelah mahar diberikan, mahar menjadi hak pribadi mempelai perempuan.
Karena itu, keputusan mengenai penggunaan, penyimpanan, atau pengelolaannya berada pada pemilik mahar tersebut.
Jika mahar berupa uang atau aset bernilai, mempelai perempuan dapat mempertimbangkan menyimpannya, menggunakannya untuk kebutuhan tertentu, atau mengelolanya sesuai tujuan finansial pribadi.
Bentuk-bentuk Mahar Pernikahan
1. Uang Tunai
Uang merupakan salah satu bentuk mahar yang sederhana dan mudah ditentukan nilainya.
Nominal dapat disesuaikan berdasarkan kemampuan serta kesepakatan pasangan.
Beberapa pasangan memilih nominal yang memiliki makna tertentu, seperti angka yang berkaitan dengan tanggal pernikahan. Namun, hal ini tidak wajib.
2. Emas atau Logam Mulia
Emas menjadi salah satu pilihan mahar karena memiliki nilai ekonomi dan relatif mudah disimpan.
Jumlahnya dapat disesuaikan dengan bujet, mulai dari pecahan kecil hingga jumlah yang lebih besar.
Karena harga emas dapat berubah, tentukan berdasarkan kemampuan saat mempersiapkan mahar dan jangan memaksakan jumlah tertentu hanya untuk mengikuti tren.
3. Perhiasan
Perhiasan seperti cincin, gelang, atau kalung juga dapat dipilih sebagai mahar apabila disepakati.
Jika memilih perhiasan, perhatikan kadar bahan, berat, kualitas, dan dokumen pembelian jika tersedia agar nilai barang lebih mudah diketahui.
4. Barang Bernilai
Mahar juga dapat berupa barang yang memiliki nilai dan disepakati oleh calon pengantin.
Contohnya dapat berupa barang tertentu yang memang diinginkan atau dianggap bermanfaat oleh mempelai perempuan.
Hindari memilih barang hanya karena terlihat menarik sebagai dekorasi ketika sebenarnya kurang memiliki manfaat bagi penerima.
5. Bentuk Lain yang Disepakati dan Memiliki Manfaat
Pasangan juga dapat mendiskusikan bentuk lain sesuai keyakinan dan ketentuan agama yang diikuti.
Jika bentuk mahar tidak berupa uang atau benda yang umum, pastikan terlebih dahulu kesesuaiannya dengan ketentuan agama serta sepakati secara jelas bentuk kewajibannya.
Jika diperlukan, calon pengantin dapat berkonsultasi dengan penghulu atau KUA sebelum akad agar tidak terdapat kesalahpahaman.
Hal yang Perlu Dipertimbangkan saat Menentukan Mahar
1. Kemampuan Finansial Calon Mempelai
Mahar sebaiknya tidak ditentukan tanpa mempertimbangkan kemampuan calon mempelai pria.
Ingat bahwa pernikahan merupakan awal dari berbagai kebutuhan baru. Setelah akad, pasangan mungkin perlu menyiapkan tempat tinggal, biaya rumah tangga, transportasi, kesehatan, maupun berbagai pengeluaran lainnya.
Jangan sampai mahar yang terlalu tinggi membuat calon pengantin harus mengambil utang konsumtif yang kemudian membebani kehidupan setelah menikah.
2. Kesepakatan Kedua Pihak
Komunikasi merupakan bagian penting dalam menentukan mahar.
Diskusikan bentuk, nilai, waktu penyerahan, serta hal lain yang berkaitan dengan mahar sejak sebelum akad.
Kesepakatan yang jelas membantu kedua pihak memiliki ekspektasi yang sama.
3. Keinginan Mempelai Perempuan
Karena mahar menjadi hak mempelai perempuan, keinginannya perlu menjadi bagian penting dalam pembicaraan.
Calon mempelai perempuan dapat menyampaikan bentuk mahar yang diinginkan sekaligus mempertimbangkan kemampuan pasangannya.
4. Manfaat dan Nilai Mahar
Selain tampilan, pertimbangkan manfaat jangka panjang.
Contohnya, sebagian pasangan memilih uang atau emas karena mudah disimpan dan memiliki nilai ekonomi yang jelas.
Namun, bentuk yang paling sesuai dapat berbeda untuk setiap pasangan.
5. Kondisi Keuangan setelah Menikah
Jangan melihat persiapan keuangan hanya sampai hari pernikahan.
Perhitungkan kebutuhan setelah menikah, seperti:
- tempat tinggal;
- kebutuhan rumah tangga;
- tagihan;
- transportasi;
- dana darurat;
- asuransi atau perlindungan kesehatan; dan
- tujuan keuangan keluarga.
Mahar yang realistis membantu pasangan memasuki kehidupan rumah tangga tanpa tekanan finansial yang sebenarnya dapat dihindari.
Contoh Mahar Pernikahan Berdasarkan Bujet
Contoh berikut bersifat ilustrasi, bukan ketentuan mengenai jumlah mahar yang harus diberikan. Tidak terdapat nominal mahar yang ideal untuk seluruh pasangan karena kondisi keuangan masing-masing berbeda.
1. Mahar dengan Bujet di Bawah Rp1 Juta
Mahar sederhana tetap dapat memiliki makna.
Dengan bujet di bawah Rp1 juta, beberapa contoh yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- uang tunai sesuai kesepakatan;
- perhiasan sederhana sesuai bujet;
- logam mulia dalam pecahan yang sesuai kemampuan; atau
- barang lain yang bernilai dan bermanfaat berdasarkan kesepakatan.
Anda tidak harus menghabiskan seluruh batas bujet. Pilih nominal yang masih memberikan ruang untuk kebutuhan pernikahan lainnya.
2. Mahar dengan Bujet Rp1 Juta–Rp5 Juta
Dengan bujet ini, pasangan memiliki pilihan yang lebih luas.
Contohnya:
- uang tunai Rp1 juta–Rp5 juta sesuai kesepakatan;
- emas dengan nilai sesuai bujet;
- perhiasan;
- kombinasi uang dan barang bernilai; atau
- bentuk lain yang disepakati pasangan.
Jangan merasa harus menggunakan batas maksimal. Pertimbangkan pula kebutuhan rumah tangga setelah menikah.
3. Mahar dengan Bujet di Atas Rp5 Juta
Jika kondisi finansial memungkinkan dan kedua pihak sepakat, mahar juga dapat memiliki nilai di atas Rp5 juta.
Contohnya:
- uang tunai;
- emas;
- perhiasan;
- kombinasi beberapa bentuk mahar; atau
- barang bernilai lainnya.
Nominal besar tidak otomatis membuat mahar lebih bermakna. Pertimbangkan proporsi terhadap pendapatan, tabungan, biaya pernikahan, dan kebutuhan setelah menikah.
Perbedaan Mahar dan Seserahan
1. Perbedaan Fungsi
Mahar merupakan pemberian yang memiliki kedudukan dalam ketentuan pernikahan Islam.
Sementara itu, seserahan lebih berkaitan dengan tradisi atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat dan dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
2. Perbedaan Penerima
Mahar diberikan kepada mempelai perempuan dan menjadi hak pribadinya.
Sementara penerima serta penggunaan seserahan dapat mengikuti kesepakatan dan tradisi keluarga masing-masing.
3. Perbedaan Kedudukan dalam Pernikahan
Calon mempelai pria memiliki kewajiban memberikan mahar sesuai ketentuan pernikahan Islam.
Sementara seserahan bukan hal yang sama dengan mahar dan keberadaannya lebih banyak dipengaruhi adat, budaya, serta kesepakatan keluarga.
Karena itu, pasangan tidak sebaiknya menganggap seserahan otomatis menggantikan mahar.
4. Perbedaan Jenis Barang
Mahar dapat berupa uang, emas, perhiasan, atau bentuk lain yang disepakati.
Sementara seserahan sering berisi sejumlah barang kebutuhan calon pengantin, misalnya pakaian, perlengkapan pribadi, makanan, atau barang lain sesuai tradisi.
Jenis seserahan dapat sangat berbeda antardaerah dan keluarga.
Tips Menyiapkan Mahar tanpa Mengganggu Keuangan
1. Tentukan Bujet sejak Awal
Tentukan kemampuan sebelum memilih bentuk mahar.
Misalnya, jika memiliki waktu satu tahun sebelum menikah, Anda dapat menentukan target terlebih dahulu lalu menghitung berapa dana yang perlu disisihkan setiap bulan.
Dengan cara tersebut, pembelian mahar tidak harus dilakukan menggunakan dana dalam jumlah besar sekaligus menjelang akad.
2. Pisahkan Dana Mahar dari Biaya Pernikahan
Buat kategori anggaran khusus untuk mahar.
Jangan mencampurkannya dengan biaya:
- venue;
- catering;
- dekorasi;
- dokumentasi;
- busana;
- seserahan; dan
- kebutuhan acara lainnya.
Pemisahan membantu Anda mengetahui dengan jelas berapa dana yang sudah tersedia untuk masing-masing kebutuhan.
3. Menabung secara Bertahap
Jika mahar tidak perlu dibeli dalam waktu dekat, manfaatkan waktu yang tersedia untuk menabung.
Contohnya, target dana mahar Rp3,6 juta dengan waktu persiapan 12 bulan secara sederhana berarti membutuhkan alokasi rata-rata sekitar Rp300 ribu setiap bulan.
Sesuaikan jumlahnya dengan kemampuan. Jika target terasa terlalu berat, pasangan dapat mendiskusikan kembali nilai atau bentuk mahar.
4. Hindari Memaksakan Mahar demi Gengsi
Jangan menentukan mahar berdasarkan apa yang sedang populer di media sosial.
Mahar milik teman, saudara, atau figur publik tidak dapat digunakan sebagai standar karena kondisi keuangan setiap pasangan berbeda.
Pilih berdasarkan kemampuan dan kesepakatan.
5. Jangan Mengorbankan Dana Darurat
Dana darurat memiliki fungsi untuk menghadapi kebutuhan tidak terduga.
Sebaiknya jangan menghabiskan seluruh dana darurat hanya untuk meningkatkan nilai mahar atau biaya pesta.
Setelah menikah, keberadaan dana cadangan justru semakin penting karena pasangan mulai mengelola berbagai kebutuhan bersama.
6. Sesuaikan dengan Kondisi Keuangan setelah Menikah
Pertimbangkan biaya yang akan muncul setelah pesta selesai.
Pasangan mungkin harus membayar sewa tempat tinggal, membeli perlengkapan rumah, memenuhi tagihan, atau menyiapkan dana untuk tujuan lainnya.
Karena itu, jangan menempatkan seluruh kemampuan finansial hanya pada hari pernikahan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Menentukan Mahar
1. Menentukan Mahar Hanya karena Tren atau Gengsi
Nominal unik atau dekorasi mahar yang sedang populer dapat menjadi inspirasi, tetapi tidak harus diikuti.
Jika tren tersebut membuat pengeluaran semakin besar tanpa memberikan manfaat yang sebanding, pertimbangkan pilihan lain.
2. Memaksakan Nominal di Luar Kemampuan
Mahar sebaiknya tidak menjadi alasan untuk menimbulkan masalah finansial sebelum kehidupan rumah tangga dimulai.
Jika target membutuhkan utang yang sulit dilunasi, diskusikan kembali pilihan mahar yang lebih realistis.
3. Tidak Membicarakan Bentuk dan Waktu Pemberian
Kesalahpahaman dapat terjadi apabila masing-masing pihak memiliki asumsi berbeda mengenai mahar.
Diskusikan bentuk, jumlah, dan kapan mahar akan diberikan.
Menurut Kompilasi Hukum Islam, penyerahan pada prinsipnya dilakukan secara tunai. Namun, dengan persetujuan calon mempelai perempuan, seluruh atau sebagian mahar dapat ditangguhkan. Bagian yang belum diserahkan menjadi utang calon mempelai pria.
4. Menyamakan Mahar dengan Seserahan dan Biaya Pernikahan
Mahar, seserahan, dan biaya pesta merupakan kebutuhan yang berbeda.
Jika seluruhnya digabung dalam satu anggaran tanpa rincian, calon pengantin dapat kesulitan mengetahui berapa dana yang sebenarnya masih tersedia.
5. Menggunakan Dana Darurat atau Utang Konsumtif secara Berlebihan
Keinginan menghadirkan mahar atau pesta yang terlihat mewah dapat mendorong seseorang menggunakan dana darurat atau menambah utang.
Pertimbangkan konsekuensinya terhadap arus kas setelah menikah.
Jika perlu, kurangi pengeluaran yang sifatnya dekoratif terlebih dahulu sebelum mengorbankan dana untuk kebutuhan penting.
Mahar Sederhana Tetap Bisa Bermakna
Mahar pernikahan tidak harus bernilai besar untuk memiliki makna. Hal terpenting adalah memenuhi ketentuan, disepakati dengan baik, dan diberikan dengan mempertimbangkan kemampuan serta hak mempelai perempuan.
Uang tunai, emas, perhiasan, atau barang bernilai dapat menjadi pilihan. Tidak ada satu bentuk yang otomatis lebih baik untuk seluruh pasangan.
Dalam menentukan mahar, hindari menjadikan tren dan gengsi sebagai ukuran utama. Pertimbangkan pula kondisi keuangan setelah pernikahan karena kebutuhan pasangan tidak berhenti setelah acara selesai.
Jika pernikahan masih beberapa bulan atau tahun lagi, persiapkan dana secara bertahap. Pisahkan tabungan mahar dari dana resepsi, seserahan, kebutuhan sehari-hari, dan dana darurat agar progresnya lebih mudah dipantau.
Pasangan juga dapat berdiskusi secara terbuka mengenai kemampuan finansial. Jika target mahar terlalu tinggi, mencari bentuk lain yang lebih realistis dapat menjadi keputusan yang lebih sehat dibandingkan memaksakan diri mengambil utang.
Dengan perencanaan yang matang, mahar sederhana tetap dapat menjadi pemberian yang bermakna sekaligus membantu calon pasangan memulai rumah tangga dengan kondisi keuangan yang lebih terjaga.
Untuk membantu mempersiapkan mahar pernikahan tanpa mengganggu kebutuhan lainnya, Anda dapat memanfaatkan Tabungan Bank Mega sebagai tempat memisahkan dana mahar dari biaya resepsi, kebutuhan sehari-hari, dan dana darurat. Dengan menentukan target sejak awal dan menyisihkan dana secara rutin sesuai kemampuan, persiapan mahar dapat dilakukan secara bertahap tanpa harus membebani keuangan menjelang hari pernikahan. Kebiasaan menabung ini juga dapat menjadi langkah awal membangun pengelolaan keuangan yang lebih terencana bersama pasangan setelah menikah.
Baca Juga: Tabungan Nikah Anti Kalap: Pakai Mega Zaver di M-Smile
FAQ Seputar Mahar Pernikahan
1. Apa yang dimaksud dengan mahar pernikahan?
Mahar pernikahan adalah pemberian yang wajib diberikan calon mempelai pria kepada calon mempelai perempuan dalam pernikahan Islam. Jumlah, bentuk, dan jenisnya dapat ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua pihak.
2. Apakah mahar wajib diberikan dalam pernikahan?
Ya. Dalam Kompilasi Hukum Islam, calon mempelai pria wajib memberikan mahar kepada calon mempelai perempuan. Namun, kewajiban memberikan mahar bukan merupakan rukun perkawinan. Tidak disebutkannya mahar ketika akad atau adanya mahar yang masih terutang tidak dengan sendirinya membuat perkawinan batal.
3. Apakah mahar harus berupa uang?
Tidak harus. Mahar dapat berupa uang, emas, perhiasan, barang bernilai, maupun bentuk lain yang disepakati dan sesuai ketentuan. Pastikan bentuknya jelas agar tidak menimbulkan perbedaan pemahaman.
4. Berapa jumlah mahar yang ideal?
Tidak terdapat satu nominal ideal yang berlaku untuk semua pasangan. Nilainya sebaiknya berdasarkan kesepakatan, keinginan mempelai perempuan, dan kemampuan calon mempelai pria. Prinsip kesederhanaan dan kemudahan juga menjadi pertimbangan penting.
5. Apakah emas bisa dijadikan mahar?
Bisa. Emas atau logam mulia dapat dijadikan mahar apabila kedua pihak menyepakatinya. Jumlahnya dapat disesuaikan dengan kemampuan dan sebaiknya dinyatakan dengan jelas.
6. Apa perbedaan mahar dan seserahan?
Mahar merupakan pemberian kepada mempelai perempuan yang memiliki kedudukan dalam ketentuan pernikahan Islam dan menjadi hak pribadinya. Sementara seserahan lebih berkaitan dengan tradisi, adat, atau kesepakatan keluarga dan bukan hal yang sama dengan mahar.
7. Apakah mahar boleh diberikan setelah menikah?
Dalam Kompilasi Hukum Islam, penyerahan mahar pada prinsipnya dilakukan tunai. Namun, apabila calon mempelai perempuan menyetujui, seluruh atau sebagian mahar dapat ditangguhkan. Mahar yang belum ditunaikan tersebut menjadi utang calon mempelai pria dan tetap perlu dilunasi.
8. Bagaimana cara menyiapkan dana untuk mahar?
Tentukan target berdasarkan kemampuan dan kesepakatan, lalu hitung waktu yang tersedia sebelum menikah. Pisahkan dana mahar dari biaya pesta dan kebutuhan lainnya, kemudian sisihkan dana secara rutin. Hindari mengorbankan dana darurat atau menggunakan utang konsumtif hanya untuk meningkatkan nilai mahar demi gengsi.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
