Bitcoin menjadi salah satu aset digital yang paling banyak dikenal masyarakat. Pergerakan harganya yang dapat naik maupun turun dengan cepat membuat Bitcoin sering mendapat perhatian, terutama ketika pasar aset kripto sedang mengalami kenaikan besar.
Namun, memahami apa itu Bitcoin tidak cukup hanya dengan melihat harganya. Bitcoin memiliki sistem yang berbeda dari uang Rupiah, menggunakan teknologi blockchain, dapat dipindahkan melalui wallet, dan memiliki risiko yang perlu dipahami sebelum seseorang memutuskan mengalokasikan dana.
Di Indonesia, Bitcoin dan aset kripto dapat diperdagangkan dalam ekosistem aset keuangan digital yang berada di bawah pengaturan dan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Namun, Bitcoin bukan alat pembayaran yang sah di Indonesia. Untuk transaksi pembayaran di wilayah Indonesia, Rupiah tetap menjadi mata uang yang wajib digunakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, jangan membeli Bitcoin hanya karena melihat orang lain memperoleh keuntungan atau khawatir tertinggal tren. Sebelum mengambil keputusan, pahami terlebih dahulu cara kerja, potensi, legalitas, serta berbagai risikonya.
Baca Juga: Pilihan Investasi Modern, Cocok untuk Gaya Hidup Kamu
Daftar Isi
- Apa Itu Bitcoin?
- Bagaimana Awal Mula Bitcoin?
- Cara Kerja Bitcoin
- Dari Mana Bitcoin Berasal?
- Apa yang Membuat Bitcoin Bernilai?
- Alasan Harga Bitcoin Bisa Naik dan Turun Drastis
- Perbedaan Bitcoin dan Uang Rupiah
- Perbedaan Bitcoin dan Aset Kripto Lainnya
- Apakah Bitcoin Legal di Indonesia?
- Cara Membeli Bitcoin di Indonesia
- Di Mana Bitcoin Disimpan?
- Apa Saja Risiko Bitcoin?
- Kelebihan dan Kekurangan Bitcoin
- Hal yang Perlu Dipertimbangkan sebelum Membeli Bitcoin
- Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Mengenal Bitcoin
- Pahami Bitcoin dan Risikonya sebelum Mengalokasikan Dana
- FAQ Seputar Bitcoin
Apa Itu Bitcoin?
Bitcoin adalah aset digital berbasis jaringan peer-to-peer yang menggunakan teknologi blockchain untuk mencatat dan memverifikasi transaksi. Mata uang dikenal dengan simbol BTC dan tidak diterbitkan oleh bank sentral maupun perusahaan tertentu.
Sistem Bitcoin berjalan melalui jaringan komputer yang mengikuti seperangkat aturan atau protokol yang sama. Transaksi disiarkan ke jaringan, diverifikasi, kemudian dicatat dalam blockchain.
Bitcoin juga bersifat dapat dibagi menjadi unit yang lebih kecil. Artinya, seseorang tidak harus membeli satu utuh untuk memilikinya.
Satu Bitcoin dapat dibagi hingga 100 juta unit terkecil yang dikenal sebagai satoshi. Karena itu, pembelian dapat dilakukan berdasarkan nominal dana yang tersedia selama memenuhi minimum transaksi dari platform yang digunakan.
Dalam konteks investasi, Bitcoin memiliki karakteristik risiko tinggi karena harganya dapat berubah secara signifikan dalam waktu singkat. Nilainya tidak dijamin akan terus naik.
Bagaimana Awal Mula Bitcoin?
Konsep Bitcoin diperkenalkan melalui sebuah whitepaper berjudul Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System yang diterbitkan pada 2008 oleh seseorang atau kelompok dengan nama samaran Satoshi Nakamoto.
Jaringannya kemudian mulai beroperasi pada Januari 2009 ketika blok pertama atau genesis block dibuat.
Salah satu gagasan utama Bitcoin adalah memungkinkan perpindahan nilai secara digital melalui jaringan tanpa harus bergantung pada satu lembaga pusat untuk mencatat setiap transaksi.
Seiring berjalannya waktu, penggunaan mata uang ini berkembang. Dari yang awalnya dikenal oleh komunitas teknologi dan kriptografi, Bitcoin kemudian diperdagangkan secara lebih luas sebagai aset digital.
Setelahnya, muncul ribuan aset kripto lainnya dengan teknologi, tujuan, mekanisme, dan tingkat risiko yang berbeda.
Cara Kerja Bitcoin
Untuk memahami Bitcoin, Anda tidak harus menguasai seluruh aspek teknis blockchain. Namun, terdapat beberapa konsep dasar yang penting diketahui.
1. Transaksi Dicatat dalam Blockchain
Blockchain dapat dipahami secara sederhana sebagai rangkaian catatan transaksi digital yang tersusun dalam blok-blok dan saling terhubung secara kriptografis.
Ketika terjadi transaksi Bitcoin, informasi transaksi disiarkan ke jaringan. Transaksi yang valid kemudian dapat dimasukkan ke dalam sebuah blok.
Blok tersebut selanjutnya terhubung dengan blok sebelumnya sehingga membentuk sebuah rantai data atau blockchain.
Catatan blockchain Bitcoin bersifat publik. Namun, catatan tersebut menggunakan alamat Bitcoin dan bukan secara langsung menampilkan nama lengkap pemilik seperti rekening bank.
2. Transaksi Diverifikasi oleh Jaringan
Bitcoin tidak mempunyai satu server pusat yang menjadi satu-satunya pencatat transaksi.
Komputer-komputer atau node dalam jaringan menjalankan aturan protokol dan dapat memeriksa validitas blok serta transaksi yang diterima.
Sementara itu, proses mining membantu mengelompokkan transaksi yang belum dikonfirmasi ke dalam blok baru melalui mekanisme konsensus proof-of-work.
Sistem tersebut antara lain membantu mencegah seseorang menggunakan unit Bitcoin yang sama untuk melakukan pembayaran berulang atau double spending.
3. Bitcoin Disimpan dan Dipindahkan melalui Wallet
Untuk berinteraksi dengan Bitcoin, pengguna memerlukan wallet.
Istilah menyimpan Bitcoin di wallet sebenarnya merupakan penyederhanaan. Unit aset ini tetap tercatat pada blockchain, sementara wallet mengelola informasi dan kunci kriptografi yang memungkinkan pengguna mengakses serta melakukan transaksi terhadap aset tersebut.
Wallet dapat berupa aplikasi, perangkat khusus, maupun layanan yang disediakan oleh suatu platform.
4. Kepemilikan Bitcoin Dibuktikan dengan Private Key
Salah satu komponen terpenting dalam Bitcoin adalah private key.
Private key digunakan untuk membuat tanda tangan digital yang membuktikan bahwa transaksi dilakukan oleh pihak yang memiliki kendali atas aset tersebut.
Karena itu, private key harus dijaga dengan sangat hati-hati.
Dalam wallet tertentu, pengguna juga memperoleh seed phrase atau frasa pemulihan yang dapat digunakan untuk memulihkan akses. Jangan pernah memberikan private key, seed phrase, password, maupun kode OTP kepada orang lain.
Dari Mana Bitcoin Berasal?
1. Mengenal Proses Mining Bitcoin
Bitcoin baru diterbitkan melalui proses yang dikenal sebagai mining atau penambangan.
Miner menggunakan perangkat komputasi untuk berpartisipasi dalam sistem proof-of-work. Mereka bersaing untuk mendapatkan hak menambahkan blok baru ke blockchain.
Miner yang berhasil dapat menerima imbalan sesuai protokol berupa Bitcoin baru dan biaya transaksi yang terdapat di dalam blok.
Jumlah Bitcoin baru yang diterbitkan tidak tetap selamanya. Besar imbalan blok akan berkurang secara berkala melalui proses yang dikenal sebagai halving.
2. Peran Miner dalam Jaringan Bitcoin
Miner tidak hanya berperan dalam penerbitan Bitcoin baru.
Mining merupakan bagian dari proses konsensus yang membantu:
- mengonfirmasi transaksi;
- memasukkan transaksi ke dalam blok;
- menjaga urutan blockchain;
- meningkatkan kesulitan untuk mengubah catatan transaksi lama; dan
- menjaga keamanan jaringan melalui sumber daya komputasi.
Blok yang dibuat tetap harus memenuhi aturan konsensus Bitcoin dan dapat diverifikasi oleh jaringan.
3. Jumlah Bitcoin yang Terbatas
Bitcoin memiliki batas suplai yang dirancang maksimal sekitar 21 juta BTC.
Penerbitan Bitcoin baru berlangsung secara bertahap dan jumlah imbalan blok berkurang secara berkala.
Keterbatasan suplai inilah yang sering menjadi salah satu alasan Bitcoin dibandingkan dengan aset yang jumlahnya terbatas. Namun, suplai yang terbatas tidak berarti harga Bitcoin dijamin terus meningkat.
Nilai pasar tetap ditentukan oleh interaksi antara permintaan, penawaran, likuiditas, sentimen, serta berbagai faktor lainnya.
Apa yang Membuat Bitcoin Bernilai?
1. Jumlah Bitcoin yang Terbatas
Pasokan Bitcoin tidak dapat ditambah secara bebas oleh satu perusahaan atau individu. Protokol menetapkan mekanisme penerbitan dengan batas maksimum sekitar 21 juta BTC.
Kelangkaan tersebut merupakan salah satu karakteristik yang memengaruhi cara pasar menilai Bitcoin.
2. Permintaan dan Penawaran
Seperti aset yang diperdagangkan di pasar, harga Bitcoin dipengaruhi permintaan dan penawaran.
Ketika permintaan beli meningkat lebih cepat daripada jumlah yang ditawarkan, harga dapat naik. Sebaliknya, tekanan jual yang besar dapat menyebabkan harga turun.
3. Tingkat Adopsi dan Sentimen Pasar
Perkembangan penggunaan teknologi Bitcoin, aktivitas investor, perkembangan produk keuangan berbasis kripto di berbagai negara, serta persepsi masyarakat dapat memengaruhi sentimen.
Namun, sentimen dapat berubah dengan cepat sehingga tidak dapat digunakan sebagai jaminan pergerakan harga di masa depan.
4. Kondisi Ekonomi dan Pasar Global
Bitcoin juga dapat dipengaruhi kondisi pasar keuangan global.
Perubahan suku bunga, likuiditas pasar, kondisi ekonomi, tingkat toleransi investor terhadap risiko, maupun pergerakan aset lain dapat ikut memengaruhi permintaan terhadap aset kripto.
Alasan Harga Bitcoin Bisa Naik dan Turun Drastis
1. Perubahan Permintaan Pasar
Jumlah Bitcoin yang diperdagangkan dan perubahan permintaan dapat mendorong pergerakan harga yang besar.
Ketika banyak investor ingin membeli pada waktu bersamaan, harga dapat meningkat. Kondisi sebaliknya dapat terjadi ketika tekanan jual meningkat.
2. Sentimen Investor
Pasar kripto sangat sensitif terhadap psikologi investor.
Optimisme dapat mendorong pembelian dalam jumlah besar. Sementara ketakutan dapat memicu aksi jual.
Karena itu, pergerakan harga jangka pendek tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental.
3. Perkembangan Regulasi
Regulasi aset kripto berbeda di setiap negara dan dapat berubah mengikuti perkembangan industri.
Kebijakan terkait perdagangan, pajak, produk investasi, perizinan platform, maupun penggunaan aset digital dapat memengaruhi persepsi pasar.
4. Kondisi Ekonomi Global
Kondisi makroekonomi seperti inflasi, kebijakan moneter, suku bunga, dan likuiditas global juga dapat memengaruhi perilaku investor.
Ketika investor mengurangi kepemilikan aset berisiko, Bitcoin dapat ikut mengalami tekanan.
5. Berita dan Peristiwa di Industri Kripto
Berita mengenai peretasan platform, kegagalan perusahaan kripto, perubahan regulasi, adopsi institusional, maupun perkembangan teknologi dapat memicu perubahan harga.
Karena pasar berjalan selama 24 jam, reaksi terhadap berita juga dapat terjadi dengan cepat.
Perbedaan Bitcoin dan Uang Rupiah
1. Pihak yang Menerbitkan
Rupiah diterbitkan dalam kerangka kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral Republik Indonesia.
Sementara Bitcoin tidak diterbitkan oleh bank sentral. Bitcoin baru dihasilkan melalui mekanisme protokol jaringan, termasuk mining.
2. Bentuk dan Sistem Penyimpanan
Rupiah tersedia dalam bentuk uang kertas, uang logam, dan representasi dana dalam sistem keuangan serta pembayaran yang berlaku.
Bitcoin berbentuk digital dan kepemilikannya berkaitan dengan catatan pada blockchain serta kontrol atas kunci kriptografi.
3. Stabilitas Nilai
Harga Bitcoin terhadap Rupiah dapat berubah sangat besar dalam waktu relatif singkat.
Karena itu, Bitcoin tidak memiliki karakteristik kestabilan nilai yang sama seperti mata uang Rupiah dalam penggunaannya untuk menentukan harga dan melakukan pembayaran domestik.
4. Penggunaan sebagai Alat Pembayaran
Perbedaan ini sangat penting bagi pengguna di Indonesia.
Rupiah merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia, sedangkan Bitcoin tidak boleh digunakan sebagai alat pembayaran untuk transaksi domestik yang wajib menggunakan Rupiah.
Jadi, legalnya perdagangan Bitcoin sebagai aset tidak berarti Bitcoin dapat menggantikan Rupiah untuk membayar barang dan jasa di Indonesia.
5. Regulasi yang Berlaku
Rupiah berada dalam kerangka sistem moneter dan pembayaran yang diatur oleh Bank Indonesia serta peraturan perundang-undangan terkait.
Sementara aktivitas perdagangan aset keuangan digital termasuk aset kripto berada dalam pengaturan dan pengawasan OJK.
Peralihan pengawasan perdagangan aset kripto dari Bappebti kepada OJK berlangsung sejak Januari 2025 sesuai amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
Perbedaan Bitcoin dan Aset Kripto Lainnya
Bitcoin adalah salah satu aset kripto, tetapi tidak semua aset kripto adalah Bitcoin.
Bitcoin merupakan aset kripto pertama yang berhasil memperoleh adopsi luas dan memiliki jaringan serta aturan tersendiri.
Aset kripto lain dapat memiliki fungsi berbeda. Ada yang dirancang untuk mendukung smart contract, aplikasi terdesentralisasi, stablecoin, tokenisasi, maupun penggunaan lainnya.
Perbedaannya dapat mencakup:
- mekanisme konsensus;
- jumlah suplai;
- cara penerbitan;
- tujuan penggunaan;
- kecepatan dan biaya transaksi;
- tingkat desentralisasi;
- struktur pengembangan;
- likuiditas; dan
- tingkat risiko.
Karena itu, jangan menganggap seluruh aset kripto memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang sama dengan Bitcoin.
Apakah Bitcoin Legal di Indonesia?
Bitcoin dapat diperdagangkan sebagai aset kripto di Indonesia melalui mekanisme dan penyelenggara yang memenuhi ketentuan OJK.
Sejak 10 Januari 2025, pengaturan dan pengawasan perdagangan Aset Keuangan Digital termasuk Aset Kripto beralih kepada OJK. Salah satu dasar utamanya adalah POJK Nomor 27 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Aset Keuangan Digital Termasuk Aset Kripto, yang kemudian mengalami perubahan melalui POJK Nomor 23 Tahun 2025.
Namun, penting membedakan antara legal untuk diperdagangkan sebagai aset dengan legal digunakan sebagai alat pembayaran.
Bitcoin bukan mata uang resmi Indonesia dan tidak dapat menggantikan Rupiah untuk transaksi pembayaran domestik yang wajib menggunakan Rupiah.
Bank Indonesia menegaskan bahwa Rupiah merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, penggunaan Bitcoin sebagai metode pembayaran tidak dapat disamakan dengan aktivitas membeli atau menjual Bitcoin sebagai aset kripto.
Cara Membeli Bitcoin di Indonesia
1. Pilih Pedagang Aset Keuangan Digital yang Berizin
Langkah pertama adalah memilih Pedagang Aset Keuangan Digital atau PAKD yang memiliki izin OJK.
Periksa daftar atau whitelist terbaru yang dipublikasikan OJK dan pastikan:
- nama badan usaha sesuai;
- nama aplikasi sesuai;
- alamat situs sesuai;
- platform benar-benar berada dalam daftar resmi; dan
- Bitcoin termasuk aset yang dapat diperdagangkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Waspadai situs yang memiliki nama domain menyerupai platform resmi, akun media sosial palsu, maupun pihak yang mengaku sebagai perwakilan platform melalui pesan pribadi.
2. Buat dan Verifikasi Akun
Setelah memilih platform, buat akun sesuai prosedur.
Platform resmi umumnya meminta proses verifikasi identitas atau Know Your Customer untuk memastikan identitas konsumen serta memenuhi ketentuan terkait perlindungan konsumen dan pencegahan penyalahgunaan layanan keuangan.
Gunakan password yang kuat dan aktifkan fitur keamanan tambahan jika tersedia.
3. Deposit Dana Sesuai Ketentuan Platform
Selanjutnya, masukkan dana menggunakan metode yang tersedia pada platform resmi.
Pastikan tujuan pembayaran maupun rekening benar-benar sesuai informasi pada aplikasi. Jangan mengirim dana ke rekening pribadi seseorang yang mengaku dapat membeli Bitcoin atas nama Anda.
4. Tentukan Nominal Pembelian
Anda tidak harus membeli satu BTC utuh.
Bitcoin dapat dibeli dalam pecahan kecil sehingga nominal pembelian dapat disesuaikan dengan ketentuan minimum platform dan kemampuan keuangan.
Namun, kemampuan membeli bukan berarti seluruh dana yang tersedia sebaiknya digunakan. Sesuaikan jumlah dengan profil risiko dan tujuan finansial.
5. Lakukan Pembelian Bitcoin
Masuk ke pasar atau menu transaksi Bitcoin, masukkan nominal yang ingin dibeli, lalu periksa:
- harga;
- jumlah Bitcoin yang diterima;
- biaya transaksi;
- jenis order; dan
- nilai transaksi keseluruhan.
Jangan menekan tombol konfirmasi sebelum memahami informasi transaksi yang ditampilkan.
6. Pantau dan Simpan Aset dengan Aman
Setelah pembelian, jangan hanya memantau harga.
Perhatikan pula keamanan akun, aktivitas login, perangkat yang digunakan, dan metode penyimpanan Bitcoin.
Jika memilih memindahkan Bitcoin ke wallet pribadi, pahami terlebih dahulu cara menggunakan wallet dan mengelola private key atau seed phrase. Kesalahan mengirim ke alamat yang salah atau kehilangan informasi pemulihan dapat berakibat serius.
Di Mana Bitcoin Disimpan?
1. Wallet yang Disediakan Platform
Bagi pemula, aset sering kali tetap berada dalam sistem penyimpanan yang berkaitan dengan platform tempat transaksi dilakukan.
Cara ini lebih sederhana karena pengguna tidak perlu mengelola private key sendiri. Namun, pengguna bergantung pada keamanan, operasional, dan prosedur pihak penyedia layanan.
Pilih hanya penyelenggara yang sesuai ketentuan dan terapkan seluruh fitur keamanan yang tersedia.
2. Hot Wallet
Hot wallet adalah wallet yang terhubung dengan internet, misalnya aplikasi pada smartphone atau komputer.
Hot wallet lebih mudah digunakan untuk transaksi, tetapi koneksi internet juga membuka risiko keamanan apabila perangkat, password, atau seed phrase tidak dijaga dengan baik.
3. Cold Wallet
Cold wallet adalah metode penyimpanan private key yang dirancang agar tidak terus-menerus terhubung ke internet. Salah satu bentuk yang dikenal adalah hardware wallet.
Metode ini dapat mengurangi jenis risiko serangan daring tertentu, tetapi bukan berarti bebas risiko.
Pengguna tetap dapat kehilangan akses apabila perangkat, backup, PIN, atau seed phrase hilang dan tidak memiliki metode pemulihan yang benar.
Apa Saja Risiko Bitcoin?
1. Risiko Harga yang Sangat Fluktuatif
Harga Bitcoin dapat naik atau turun puluhan persen dalam periode yang relatif singkat.
Pergerakan tersebut membuat Bitcoin tidak cocok diperlakukan seperti tabungan untuk kebutuhan yang harus tersedia pada tanggal tertentu.
2. Risiko Kehilangan Sebagian atau Seluruh Modal
Tidak ada jaminan harga Bitcoin akan kembali ke harga pembelian Anda.
Jika membeli ketika harga tinggi kemudian menjual setelah terjadi penurunan besar, kerugian dapat menjadi signifikan.
Gunakan hanya dana yang memang mampu menghadapi risiko kehilangan nilai.
3. Risiko Penipuan dan Phishing
Popularitas Bitcoin juga dimanfaatkan oleh pelaku penipuan.
Modus dapat berupa:
- website palsu;
- akun customer service palsu;
- tautan phishing;
- aplikasi palsu;
- giveaway Bitcoin palsu;
- investasi dengan keuntungan pasti; atau
- permintaan transfer ke wallet tertentu.
4. Risiko Kehilangan Akses ke Wallet
Dalam self-custody, kehilangan private key atau seed phrase dapat menyebabkan pengguna tidak lagi mampu mengakses asetnya.
Tidak ada fitur sederhana seperti “lupa password” dari pihak pusat apabila tidak terdapat mekanisme pemulihan lain.
5. Risiko Keamanan Platform
Meskipun blockchain Bitcoin memiliki sistem keamanan tersendiri, platform tempat pengguna membeli atau menyimpan aset tetap dapat menghadapi risiko operasional maupun serangan siber.
Karena itu, legalitas platform dan keamanan akun tetap perlu diperhatikan.
6. Risiko Perubahan Regulasi
Aturan aset kripto masih berkembang di berbagai negara.
Perubahan regulasi dapat memengaruhi layanan yang tersedia, struktur pasar, kewajiban pengguna, maupun sentimen harga.
7. Risiko Keputusan Investasi karena FOMO
Fear of missing out atau FOMO terjadi ketika seseorang merasa harus segera membeli karena takut kehilangan peluang keuntungan.
FOMO dapat mendorong pembelian tanpa analisis, terutama ketika harga baru mengalami kenaikan tajam.
OJK juga menekankan pentingnya memahami risiko dan tidak menciptakan kesan bahwa seseorang harus membeli aset kripto segera demi memperoleh keuntungan di masa depan.
Kelebihan dan Kekurangan Bitcoin
1. Kelebihan Bitcoin
Beberapa karakteristik Bitcoin yang sering menjadi perhatian antara lain:
- memiliki suplai maksimum yang terbatas;
- dapat dibagi menjadi unit yang sangat kecil;
- beroperasi melalui jaringan global;
- transaksi dicatat pada blockchain;
- dapat ditransfer tanpa bergantung pada satu otoritas pusat untuk mengelola jaringan Bitcoin;
- dapat dimiliki dalam jumlah pecahan; dan
- memiliki pasar perdagangan yang berkembang secara global.
Namun, kelebihan tersebut tidak menghilangkan risiko investasi.
2. Kekurangan Bitcoin
Beberapa kekurangan dan risiko yang perlu dipertimbangkan adalah:
- harga sangat fluktuatif;
- tidak memberikan jaminan keuntungan;
- terdapat risiko keamanan akun dan wallet;
- kesalahan pengiriman transaksi dapat sulit diperbaiki;
- self-custody membutuhkan pemahaman keamanan yang baik;
- sentimen pasar dapat berubah cepat; dan
- Bitcoin tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia.
Hal yang Perlu Dipertimbangkan sebelum Membeli Bitcoin
1. Pahami Cara Kerjanya Terlebih Dahulu
Jangan membeli aset yang tidak dipahami.
Setidaknya kenali blockchain, wallet, private key, volatilitas harga, cara transaksi, serta risiko platform sebelum mengalokasikan dana.
2. Kenali Profil dan Toleransi Risiko
Tanyakan kepada diri sendiri apakah Anda siap jika nilai aset turun secara signifikan.
Jika penurunan 20%, 30%, atau lebih akan membuat Anda terpaksa menjual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, alokasi tersebut mungkin terlalu besar.
3. Gunakan Dana yang Tidak Dibutuhkan untuk Kebutuhan Pokok
Prioritaskan kebutuhan rumah tangga, tagihan, pendidikan, cicilan, dan kewajiban utama sebelum mengalokasikan dana ke aset berisiko tinggi.
Jangan menggunakan uang yang akan dibutuhkan dalam waktu dekat hanya karena berharap harga Bitcoin naik.
4. Jangan Menggunakan Dana Darurat
Dana darurat membutuhkan likuiditas dan kepastian ketersediaan ketika terjadi kondisi mendesak.
Bitcoin memiliki volatilitas tinggi sehingga nilainya mungkin sedang turun ketika Anda membutuhkan uang.
5. Hindari Berutang untuk Membeli Bitcoin
Membeli Bitcoin dengan utang meningkatkan risiko karena Anda menghadapi dua ketidakpastian sekaligus: pergerakan harga aset dan kewajiban membayar cicilan.
Jika harga turun, kewajiban utang tetap harus diselesaikan.
6. Gunakan Platform yang Berizin
Periksa daftar penyelenggara yang dipublikasikan OJK sebelum melakukan transaksi.
Pastikan nama perusahaan, aplikasi, dan domain sesuai. Jangan hanya percaya pada iklan atau rekomendasi influencer.
7. Jangan Membeli Hanya karena Ikut Tren
Harga yang baru naik bukan bukti bahwa harga akan terus naik.
Buat keputusan berdasarkan pemahaman, kondisi keuangan, dan risiko yang mampu Anda tanggung.
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Mengenal Bitcoin
1. Menganggap Harga Bitcoin Selalu Naik
Bitcoin pernah mengalami periode kenaikan besar sekaligus penurunan yang dalam.
Kinerja masa lalu tidak memberikan jaminan terhadap hasil di masa depan.
2. Membeli tanpa Memahami Risikonya
Jangan menjadikan cerita keuntungan orang lain sebagai satu-satunya alasan membeli.
Pelajari terlebih dahulu bagaimana aset disimpan, bagaimana harga terbentuk, serta bagaimana kerugian dapat terjadi.
3. Menggunakan Seluruh Tabungan
Mengalokasikan seluruh tabungan ke Bitcoin membuat kondisi keuangan terlalu bergantung pada satu aset yang volatil.
Pastikan kebutuhan sehari-hari, dana darurat, dan tujuan finansial penting tetap terlindungi.
4. Mudah Percaya pada Janji Keuntungan Pasti
Tidak ada pihak yang dapat menjamin harga Bitcoin selalu naik.
Waspadai tawaran yang menjanjikan keuntungan tetap, keuntungan tanpa risiko, atau meminta Anda mentransfer Bitcoin kepada pihak tertentu untuk memperoleh hasil besar.
5. Membagikan Password, OTP, atau Seed Phrase
Jangan pernah memberikan password, OTP, private key, atau seed phrase kepada orang lain, termasuk pihak yang mengaku sebagai customer service.
Informasi tersebut dapat memberikan akses terhadap akun atau aset Anda.
6. Panik Mengikuti Pergerakan Harga Jangka Pendek
Memeriksa harga terlalu sering dapat mendorong keputusan emosional.
Tentukan strategi dan batas risiko sebelum membeli sehingga keputusan tidak hanya bergantung pada pergerakan harga beberapa menit atau jam.
Pahami Bitcoin dan Risikonya sebelum Mengalokasikan Dana
Bitcoin adalah aset digital berbasis jaringan blockchain yang diperkenalkan melalui whitepaper Satoshi Nakamoto pada 2008 dan mulai beroperasi pada 2009. Bitcoin menggunakan sistem peer-to-peer, mining, blockchain, serta kriptografi untuk mencatat dan memverifikasi transaksi.
Jumlah Bitcoin baru yang dapat diterbitkan juga dibatasi hingga sekitar 21 juta BTC berdasarkan aturan protokol. Namun, keterbatasan jumlah tersebut tidak menjamin harga akan selalu meningkat.
Di Indonesia, Bitcoin dapat diperdagangkan sebagai aset kripto dalam ekosistem perdagangan Aset Keuangan Digital yang berada di bawah pengawasan OJK. Namun, Bitcoin bukan alat pembayaran yang sah. Untuk transaksi pembayaran di Indonesia, Rupiah tetap menjadi mata uang yang wajib digunakan sesuai ketentuan.
Bagi pemula yang tertarik membeli Bitcoin, periksa legalitas platform terlebih dahulu, pahami cara transaksi dan penyimpanan, serta gunakan dana sesuai kemampuan menanggung risiko.
Jangan menggunakan dana darurat, uang kebutuhan pokok, atau dana hasil utang. Hindari pula keputusan karena FOMO maupun janji keuntungan pasti.
Bitcoin dapat menjadi salah satu aset yang dipelajari dalam perencanaan investasi, tetapi keputusan pengalokasian dana tetap perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, profil risiko, dan kondisi finansial secara keseluruhan.
Sebelum mengalokasikan dana ke aset berisiko tinggi seperti Bitcoin, pastikan kebutuhan utama, dana darurat, dan tujuan keuangan jangka pendek tetap memiliki porsi yang memadai. Anda dapat memanfaatkan Tabungan Bank Mega untuk membantu memisahkan dana kebutuhan rutin dan cadangan keuangan dari dana yang memang disiapkan untuk investasi. Dengan pengelolaan dana yang lebih terstruktur, keputusan investasi dapat dilakukan sesuai kemampuan finansial tanpa mengganggu kebutuhan penting lainnya.
Baca Juga: Apa Itu Crypto? Panduan Mudah dan Praktis untuk Pemula
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
