Reksadana dan saham menjadi dua instrumen investasi pasar modal yang cukup populer. Keduanya sama-sama memiliki peluang untuk membantu mengembangkan dana, tetapi cara kerja, pengelolaan, tingkat risiko, hingga waktu yang perlu disiapkan investor sangat berbeda.
Memahami perbedaan reksadana dan saham penting terutama bagi pemula. Jangan menentukan pilihan hanya berdasarkan instrumen mana yang berpotensi memberikan keuntungan lebih tinggi. Anda juga perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, jangka waktu, profil risiko, kemampuan finansial, dan seberapa banyak waktu yang dapat digunakan untuk mempelajari investasi.
Pada reksadana, dana investor dikelola oleh Manajer Investasi dalam sebuah portofolio. Sementara ketika membeli saham secara langsung, investor memilih sendiri perusahaan yang ingin dimiliki dan menentukan keputusan transaksi berdasarkan analisis masing-masing.
Lantas, mana yang lebih cocok untuk pemula? Berikut pembahasan lengkap mengenai perbedaan, kelebihan, risiko, hingga contoh penggunaannya.
Ringkasan Artikel:
- Reksadana menghimpun dana investor yang kemudian dikelola oleh Manajer Investasi, sedangkan saham memberikan kepemilikan langsung atas bagian suatu perusahaan.
- Reksadana umumnya lebih praktis bagi investor yang tidak ingin memilih efek satu per satu, sedangkan investasi saham membutuhkan keterlibatan lebih aktif.
- Tingkat risiko reksadana berbeda berdasarkan jenis portofolionya. Reksa dana saham tetap dapat memiliki fluktuasi yang tinggi.
- Saham memiliki potensi capital gain dan dividen, tetapi harga dapat berubah secara signifikan mengikuti kondisi perusahaan maupun pasar.
- Pemula tidak harus memilih salah satu secara mutlak. Reksadana dan saham dapat dikombinasikan berdasarkan tujuan dan profil risiko.
Daftar Isi
- Apa Itu Reksadana dan Saham?
- Perbedaan Reksadana dan Saham
- Kelebihan dan Kekurangan Reksadana
- Kelebihan dan Kekurangan Saham
- Cara Mendapatkan Keuntungan dari Reksadana dan Saham
- Risiko yang Perlu Dipahami Sebelum Berinvestasi
- Reksadana atau Saham, Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?
- Cara Memilih antara Reksadana dan Saham
- Contoh Perbandingan Investasi Reksadana dan Saham
- Mulai Investasi Reksadana melalui M-Smile Bank Mega
- FAQ Seputar Perbedaan Reksadana dan Saham
Apa Itu Reksadana dan Saham?
1. Pengertian Reksadana
Reksadana merupakan wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.
Dengan mekanisme tersebut, investor tidak perlu memilih seluruh saham, obligasi, atau instrumen pasar uang yang membentuk portofolio secara mandiri. Pengelolaannya dilakukan oleh Manajer Investasi berdasarkan kebijakan investasi produk.
Reksadana memiliki beberapa kategori utama, antara lain reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Masing-masing memiliki komposisi portofolio, potensi hasil, serta tingkat risiko yang berbeda.
Karena itu, reksadana tidak dapat dianggap sebagai satu instrumen dengan risiko yang sama. Reksa dana pasar uang, misalnya, memiliki karakter yang berbeda jauh dengan reksa dana saham.
2. Pengertian Saham
Saham merupakan bukti kepemilikan atau bagian modal pada suatu perusahaan. Dengan membeli saham perusahaan terbuka, investor memiliki bagian kepemilikan perusahaan tersebut sesuai jumlah saham yang dimiliki.
Potensi keuntungan dapat berasal dari kenaikan harga saham atau capital gain serta dividen apabila perusahaan memutuskan membagikannya kepada pemegang saham.
Namun, harga saham juga dapat turun. Perubahannya dapat dipengaruhi kinerja perusahaan, kondisi industri, ekonomi, suku bunga, sentimen investor, hingga faktor global.
Berbeda dengan reksadana yang dikelola Manajer Investasi, investor saham langsung menentukan perusahaan apa yang ingin dibeli, kapan melakukan transaksi, dan bagaimana komposisi portofolionya.
Perbedaan Reksadana dan Saham
1. Perbedaan Cara Kerja
Pada reksadana, investor membeli unit penyertaan suatu produk. Dana dari banyak investor kemudian dikelola sesuai kebijakan investasi reksadana tersebut.
Pada saham, investor membeli saham perusahaan secara langsung melalui perusahaan sekuritas. Nilai investasi berubah berdasarkan harga saham yang dimiliki.
Dengan kata lain, reksadana memberikan akses terhadap sebuah portofolio, sedangkan investasi saham langsung memberikan kepemilikan terhadap saham perusahaan tertentu.
2. Perbedaan Pengelolaan Investasi
Reksadana dikelola oleh Manajer Investasi. Pihak tersebut bertugas mengalokasikan dana pada aset yang sesuai dengan kebijakan produk.
Investor tetap perlu memilih produk reksadana yang sesuai, tetapi tidak harus menentukan setiap instrumen di dalam portofolionya.
Sebaliknya, investor saham mengelola keputusan investasinya sendiri. Anda perlu menentukan saham yang dibeli, memahami perusahaan, mengatur komposisi portofolio, serta menentukan kapan ingin membeli atau menjual.
3. Perbedaan Tingkat Risiko
Tingkat risiko reksadana bergantung pada jenis produk dan aset di dalamnya.
Reksa dana pasar uang secara umum memiliki fluktuasi lebih rendah dibandingkan reksa dana saham. Sementara reksa dana saham dapat mengalami perubahan nilai yang cukup besar karena sebagian besar portofolionya berkaitan dengan saham.
Saham individual juga dapat memiliki volatilitas tinggi. Bahkan dua saham dari perusahaan berbeda dapat memiliki tingkat risiko yang sangat berbeda.
Karena itu, jangan menyimpulkan bahwa seluruh reksadana pasti berisiko rendah atau seluruh saham selalu memiliki tingkat risiko yang sama.
4. Perbedaan Potensi Imbal Hasil
Potensi hasil berhubungan erat dengan risiko dan jenis instrumen.
Reksadana mengikuti kinerja aset dalam portofolionya setelah memperhitungkan berbagai komponen yang relevan. Reksa dana saham dapat memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan reksa dana pasar uang, tetapi fluktuasinya juga biasanya lebih besar.
Pada saham, hasil dapat berasal dari perubahan harga dan dividen. Sebuah saham dapat mengalami kenaikan besar, tetapi juga dapat turun secara signifikan.
Tidak ada tingkat keuntungan yang dapat dijamin untuk keduanya.
5. Perbedaan Modal Awal
Minimum investasi reksadana berbeda berdasarkan produk dan agen penjual. Sejumlah produk dapat dimulai dengan nominal relatif terjangkau, sedangkan produk lain menetapkan minimum yang lebih tinggi.
Saham diperdagangkan dalam satuan perdagangan yang berlaku di Bursa Efek Indonesia. Modal yang dibutuhkan bergantung pada harga saham yang ingin dibeli.
Karena harga setiap saham berbeda, modal Rp1 juta dapat memberikan pilihan yang berbeda pada setiap perusahaan.
6. Perbedaan Diversifikasi
Salah satu karakter reksadana adalah dananya ditempatkan dalam sebuah portofolio sehingga investor dapat memperoleh eksposur ke beberapa aset melalui satu produk, tergantung kebijakan investasinya.
Pada saham langsung, diversifikasi perlu dibangun sendiri. Jika seluruh dana digunakan membeli satu saham, nilai portofolio sangat bergantung pada perusahaan tersebut.
Investor dapat mengurangi konsentrasi dengan memiliki beberapa saham dari sektor berbeda, tetapi membutuhkan modal dan perencanaan portofolio yang sesuai.
7. Perbedaan Waktu dan Pengetahuan yang Dibutuhkan
Reksadana dapat menjadi pilihan lebih praktis karena investor tidak perlu melakukan analisis setiap saham atau obligasi di dalam portofolio secara mandiri.
Meski demikian, Anda tetap harus memahami jenis reksadana, profil risiko, Prospektus, Fund Fact Sheet, biaya, dan kinerja produk.
Investasi saham secara langsung membutuhkan keterlibatan lebih banyak apabila ingin memilih perusahaan secara berdasarkan analisis. Investor perlu memahami laporan keuangan, model bisnis, valuasi, kondisi industri, serta risiko perusahaan.
8. Perbedaan Likuiditas
Reksadana memiliki mekanisme redemption atau penjualan kembali unit penyertaan. Dana tidak selalu diterima seketika karena terdapat periode penyelesaian sesuai ketentuan produk.
Saham yang aktif diperdagangkan dapat dijual melalui bursa ketika pasar dibuka selama terdapat permintaan pada harga yang sesuai. Namun, hasil transaksi juga mengikuti mekanisme penyelesaian perdagangan yang berlaku.
Saham dengan aktivitas perdagangan rendah dapat lebih sulit dijual pada harga yang diinginkan.
9. Perbedaan Biaya Investasi
Reksadana dapat memiliki biaya pembelian, penjualan kembali, pengalihan, atau biaya lain sesuai produk dan agen penjual. Sebagian produk atau kanal juga dapat menetapkan biaya tertentu sebesar nol.
Pada saham, investor umumnya menghadapi biaya transaksi ketika membeli dan menjual melalui perusahaan sekuritas serta ketentuan pajak yang berlaku.
Sebelum memilih, baca struktur biaya karena biaya dapat memengaruhi hasil investasi bersih.
Kelebihan dan Kekurangan Reksadana
1. Kelebihan Reksadana
Salah satu kelebihan reksadana adalah pengelolaannya dilakukan oleh Manajer Investasi sehingga investor tidak perlu memilih seluruh instrumen secara langsung.
Reksadana juga memberikan pilihan berdasarkan profil risiko dan tujuan. Investor dapat mempertimbangkan kategori pasar uang, pendapatan tetap, campuran, maupun saham.
Diversifikasi juga relatif lebih mudah karena satu reksadana dapat berisi berbagai aset sesuai kebijakan portofolionya.
Bagi pemula, karakter tersebut dapat membantu memulai investasi tanpa harus langsung melakukan analisis saham individual secara mendalam.
2. Kekurangan Reksadana
Pengelolaan profesional bukan berarti reksadana bebas risiko atau selalu menghasilkan keuntungan.
Nilai unit penyertaan dapat turun karena perubahan kondisi pasar maupun aset di dalam portofolio.
Investor juga tidak mempunyai kendali langsung untuk menentukan seluruh efek yang dibeli atau dijual oleh Manajer Investasi.
Selain itu, proses pencairan umumnya tidak seketika seperti mengambil uang tunai dari rekening sehingga kebutuhan likuiditas perlu diperhitungkan.
Kelebihan dan Kekurangan Saham
1. Kelebihan Saham
Saham memberikan investor kendali lebih besar dalam memilih perusahaan yang ingin dimiliki.
Jika perusahaan bertumbuh dan pasar memberikan valuasi lebih tinggi, investor berpotensi memperoleh capital gain.
Pemegang saham juga dapat memperoleh dividen apabila perusahaan memutuskan membagikan sebagian labanya.
Investor yang memahami perusahaan dengan baik dapat menyusun portofolio berdasarkan sektor, strategi, dan preferensi masing-masing.
2. Kekurangan Saham
Harga saham dapat mengalami fluktuasi besar dalam periode singkat.
Jika keputusan investasi dibuat hanya berdasarkan tren atau rekomendasi tanpa analisis, risiko membeli saham yang tidak sesuai menjadi lebih tinggi.
Investasi langsung juga membutuhkan waktu untuk mempelajari emiten dan memantau perkembangan yang dapat memengaruhi perusahaan.
Selain itu, kepemilikan saham perusahaan yang buruk dapat menghasilkan kerugian besar apabila kinerja bisnis memburuk dan harga saham terus menurun.
Cara Mendapatkan Keuntungan dari Reksadana dan Saham
1. Keuntungan dari Kenaikan Nilai Investasi Reksadana
Investor reksadana dapat memperoleh keuntungan ketika nilai investasi meningkat dibandingkan nilai saat pembelian.
Misalnya, dana awal Rp1.000.000 berkembang menjadi Rp1.080.000. Secara sederhana, terdapat kenaikan nilai Rp80.000 sebelum memperhitungkan komponen lain yang relevan.
Namun, nilai tersebut juga dapat bergerak turun. Kinerja sebelumnya tidak menjamin hasil yang sama pada masa mendatang.
2. Keuntungan dari Capital Gain Saham
Capital gain diperoleh ketika saham dijual pada harga lebih tinggi dibandingkan harga pembelian.
Misalnya, total nilai pembelian saham adalah Rp1.000.000 kemudian nilainya meningkat dan saham dijual dengan nilai Rp1.100.000. Selisih kotornya adalah Rp100.000 sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan pajak yang berlaku.
Jika harga justru turun dan dijual di bawah nilai pembelian, investor mengalami capital loss.
3. Potensi Dividen dari Saham
Dividen merupakan bagian laba yang dapat dibagikan perusahaan kepada pemegang saham berdasarkan keputusan perusahaan.
Jumlah dan jadwal pembagiannya berbeda pada setiap emiten. Bahkan perusahaan yang mencatat laba tidak selalu membagikan dividen karena dana dapat dipertahankan untuk ekspansi atau kebutuhan lainnya.
Karena itu, investor tidak sebaiknya menganggap dividen sebagai pembayaran yang pasti diterima setiap tahun.
Risiko yang Perlu Dipahami Sebelum Berinvestasi
1. Risiko Penurunan Nilai Investasi
Baik reksadana maupun saham dapat mengalami penurunan nilai.
Reksadana tidak memiliki jaminan bahwa nilai unitnya akan selalu meningkat. Demikian pula harga saham dapat bergerak di bawah harga saat investor membelinya.
Gunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi sesuai tujuan dan jangka waktu.
2. Risiko Pasar
Perubahan kondisi ekonomi, suku bunga, kebijakan, geopolitik, maupun sentimen pasar dapat memengaruhi nilai instrumen investasi.
Risiko tersebut dapat memengaruhi saham secara langsung serta reksadana yang memiliki aset pasar modal di dalam portofolionya.
3. Risiko Likuiditas
Investor perlu mengetahui seberapa mudah investasi dapat dicairkan.
Reksadana memiliki proses redemption sesuai ketentuan produk, sedangkan suatu saham dapat memiliki tingkat aktivitas perdagangan yang berbeda.
Karena itu, dana yang mungkin dibutuhkan dalam waktu dekat sebaiknya tidak ditempatkan tanpa mempertimbangkan mekanisme pencairannya.
4. Risiko Salah Memilih Instrumen
Instrumen yang sebenarnya baik belum tentu sesuai untuk semua tujuan.
Reksa dana saham dapat kurang tepat untuk tujuan yang harus dicapai dalam waktu sangat dekat karena nilainya dapat berfluktuasi. Saham individual juga dapat kurang cocok bagi seseorang yang tidak siap menghadapi perubahan harga yang besar.
Kesalahan dapat dikurangi dengan mengenali profil risiko dan memahami produk sebelum berinvestasi.
Reksadana atau Saham, Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?
1. Pilih Reksadana Jika Ingin Investasi Lebih Praktis
Reksadana dapat dipertimbangkan jika Anda ingin dana dikelola dalam portofolio oleh Manajer Investasi dan belum memiliki waktu untuk memilih saham individual.
Pemula dapat memilih kategori produk berdasarkan tujuan dan profil risiko kemudian mempelajari perkembangan investasi secara bertahap.
Namun, tetap baca informasi produk dan jangan membeli hanya karena melihat hasil historis tertinggi.
2. Pilih Saham Jika Siap Belajar dan Mengelola Investasi Sendiri
Saham dapat dipertimbangkan jika Anda tertarik mempelajari perusahaan dan siap mengambil keputusan investasi secara mandiri.
Belajar saham tidak berarti harus aktif melakukan transaksi setiap hari. Investor jangka panjang tetap perlu melakukan riset mengenai kualitas bisnis dan harga yang dibayarkan.
Mulailah dengan nominal yang sesuai kemampuan sambil membangun pemahaman.
3. Pertimbangkan Kombinasi Keduanya Sesuai Profil Risiko
Anda tidak selalu harus memilih antara reksadana atau saham secara mutlak.
Seseorang dapat menggunakan reksadana untuk sebagian portofolio dan membeli saham secara langsung untuk bagian lainnya.
Komposisinya dapat disesuaikan dengan tujuan, kemampuan menghadapi risiko, dan tingkat keterlibatan yang diinginkan.
Diversifikasi juga tidak sekadar memiliki banyak produk. Pastikan setiap instrumen memiliki fungsi dalam rencana keuangan.
Cara Memilih antara Reksadana dan Saham
1. Tentukan Tujuan Investasi
Tentukan terlebih dahulu untuk apa dana dikumpulkan.
Investasi untuk membeli rumah lima tahun lagi dapat membutuhkan pendekatan berbeda dengan investasi dana pensiun 25 tahun mendatang.
Tujuan membantu menentukan seberapa besar fluktuasi yang dapat ditoleransi dan kapan dana harus tersedia.
2. Kenali Profil Risiko
Profil risiko menggambarkan kemampuan dan kenyamanan menghadapi perubahan nilai investasi.
Jika penurunan nilai 10% membuat Anda langsung ingin mencairkan seluruh investasi, instrumen berfluktuasi tinggi mungkin belum sesuai dalam porsi besar.
Jangan memilih profil risiko berdasarkan imbal hasil yang diinginkan saja.
3. Sesuaikan dengan Jangka Waktu Investasi
Semakin dekat waktu penggunaan dana, semakin penting mempertimbangkan kestabilan dan likuiditas.
Untuk tujuan jangka panjang, investor dapat memiliki waktu lebih panjang menghadapi fluktuasi, tetapi tetap perlu menggunakan instrumen yang sesuai profil risiko.
4. Pertimbangkan Waktu untuk Memantau Investasi
Jika memiliki waktu terbatas untuk menganalisis perusahaan, reksadana dapat memberikan pendekatan lebih praktis.
Jika menikmati proses membaca laporan keuangan dan mempelajari bisnis, saham langsung dapat memberikan keterlibatan lebih besar.
Pilih pendekatan yang realistis dengan rutinitas sehari-hari.
5. Sesuaikan dengan Kemampuan Finansial
Jangan menggunakan dana kebutuhan pokok, pembayaran cicilan, maupun uang yang akan segera dibutuhkan sebagai modal hanya karena ingin mulai investasi.
Jumlah investasi tidak harus besar pada tahap awal. Prioritaskan konsistensi dan kemampuan memahami risiko.
Contoh Perbandingan Investasi Reksadana dan Saham
Simulasi berikut hanya bertujuan menjelaskan mekanisme dan tidak menggambarkan tingkat hasil yang pasti.
1. Simulasi Investasi dengan Modal Rp1 Juta
Misalnya Anda memiliki dana Rp1.000.000.
Jika dana tersebut ditempatkan pada sebuah reksadana, Anda membeli unit penyertaan berdasarkan nilai yang berlaku. Selanjutnya dana menjadi bagian dari portofolio yang dikelola Manajer Investasi.
Apabila nilai investasi naik 5% secara hipotetis, nilainya menjadi sekitar:
Rp1.000.000 × 105% = Rp1.050.000
Jika justru turun 5%, nilainya menjadi sekitar:
Rp1.000.000 × 95% = Rp950.000
Pada saham, modal Rp1 juta digunakan untuk membeli saham berdasarkan harga dan satuan perdagangan yang berlaku. Jika nilai saham yang dimiliki naik 10%, nilai pasar secara sederhana menjadi sekitar Rp1,1 juta. Jika turun 10%, nilainya menjadi sekitar Rp900.000 sebelum biaya terkait.
Persentase tersebut hanya contoh matematika, bukan prediksi kinerja reksadana maupun saham.
2. Simulasi untuk Tujuan Jangka Pendek
Bayangkan Anda membutuhkan Rp1 juta tersebut enam bulan lagi untuk membayar kursus.
Dalam kondisi seperti ini, kemampuan menjaga dana dan mencairkannya sesuai jadwal menjadi pertimbangan penting.
Menempatkan seluruh dana pada saham individual atau reksa dana saham dapat memberikan risiko fluktuasi yang kurang sesuai karena nilainya dapat turun tepat ketika dana dibutuhkan.
Instrumen yang lebih konservatif dan likuid dapat lebih relevan, tergantung profil risiko dan tujuan. Bahkan untuk kebutuhan yang sangat dekat, tabungan dapat lebih sesuai daripada memaksakan dana masuk ke investasi.
3. Simulasi untuk Tujuan Jangka Panjang
Untuk tujuan yang masih 10 atau 20 tahun lagi, investor memiliki horizon lebih panjang.
Reksa dana saham maupun saham dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jika sesuai profil risiko.
Namun, jangka waktu panjang tidak membuat risiko hilang. Diversifikasi, kualitas instrumen, harga pembelian, konsistensi investasi, dan evaluasi portofolio tetap berpengaruh terhadap hasil.
Mulai Investasi Reksadana melalui M-Smile Bank Mega
Jika setelah memahami perbedaan reksadana dan saham Anda menilai reksadana lebih sesuai dengan kebutuhan, Bank Mega menyediakan akses investasi reksadana melalui M-Smile.
Nasabah dapat membuat Single Investor Identification atau SID dan mengisi atau memperbarui profil risiko melalui aplikasi. Profil risiko membantu memberikan gambaran mengenai tingkat risiko produk yang sesuai dengan karakter investor.
Setelah SID tersedia, nasabah dapat memilih reksadana berdasarkan Manajer Investasi maupun profil risiko produk yang tersedia di M-Smile.
Bank Mega saat ini menyediakan berbagai kategori reksadana melalui M-Smile, yaitu:
- Reksa Dana Pasar Uang;
- Reksa Dana Pendapatan Tetap;
- Reksa Dana Campuran; dan
- Reksa Dana Saham.
Produk tersedia dalam pilihan mata uang tertentu sesuai penawaran yang tersedia. Melalui M-Smile, transaksi reksadana juga dapat dilakukan secara online mulai dari subscribe, top up, redeem, hingga switch.
Minimum subscription reksadana yang dicantumkan Bank Mega melalui M-Smile saat ini adalah Rp1.000.000. Karena nominal dan ketersediaan produk dapat berubah, periksa kembali informasi yang ditampilkan pada aplikasi ketika akan melakukan transaksi.
Sebelum membeli, Anda dapat mempelajari informasi kinerja historis dan karakteristik produk yang tersedia. Jangan memilih reksadana hanya berdasarkan kinerja tertinggi dalam periode terakhir. Perhatikan kategori, komposisi portofolio, jangka waktu, risiko, biaya, serta kesesuaiannya dengan tujuan Anda.
Bank Mega berperan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana atau APERD. Reksa dana merupakan produk pasar modal, bukan produk simpanan Bank Mega, tidak dijamin oleh Bank Mega, dan bukan merupakan objek penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS.
Nilai reksadana dapat mengalami kenaikan maupun penurunan. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain penurunan nilai unit penyertaan, risiko pasar, risiko likuiditas, perubahan regulasi atau perpajakan, serta risiko lain sebagaimana dijelaskan dalam dokumen produk.
Karena itu, meskipun pembelian dapat dilakukan secara praktis melalui aplikasi, keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada pemahaman produk dan kondisi finansial Anda.
Baca Juga: Reksa Dana Pendapatan Tetap: Cara Kerja dan Risikonya
FAQ Seputar Perbedaan Reksadana dan Saham
1. Apakah Bisa Berinvestasi Reksadana dan Saham Secara Bersamaan?
Bisa. Reksadana dan saham dapat dimiliki dalam satu portofolio selama keduanya memiliki fungsi yang sesuai dengan strategi investasi.
Misalnya, sebagian dana ditempatkan pada reksadana untuk memperoleh pengelolaan portofolio oleh Manajer Investasi, sementara sebagian lainnya digunakan membeli saham secara langsung.
Komposisinya tidak harus sama dan perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan, jangka waktu, serta kemampuan finansial.
2. Apakah Reksadana Bisa Mengalami Kerugian?
Bisa. Reksadana merupakan produk investasi dan nilainya dapat turun.
Tingkat fluktuasi berbeda berdasarkan kategori dan aset yang dimiliki. Reksa dana saham secara umum dapat mengalami perubahan nilai lebih besar dibandingkan reksa dana pasar uang.
Karena itu, jangan menganggap pengelolaan oleh Manajer Investasi berarti modal atau keuntungan dijamin.
3. Apakah Saham Cocok untuk Investasi dengan Modal Kecil?
Bisa, selama modal yang tersedia cukup untuk membeli saham sesuai harga dan satuan perdagangan yang berlaku serta tidak berasal dari dana kebutuhan utama.
Namun, modal yang kecil dapat membatasi pilihan diversifikasi jika harga saham tertentu relatif tinggi.
Pemula dapat memulai sesuai kemampuan sambil mempelajari cara menganalisis perusahaan daripada mengejar jumlah kepemilikan sebanyak mungkin.
4. Apakah Reksadana Cocok untuk Menyiapkan Dana Darurat?
Tergantung jenis reksadana dan bagaimana dana darurat Anda disusun.
Reksa dana pasar uang sering dipertimbangkan untuk sebagian dana dengan kebutuhan relatif likuid karena portofolionya berada pada instrumen pasar uang dan surat utang berjangka pendek. Namun, reksa dana tetap merupakan produk pasar modal yang dapat mengalami penurunan nilai dan proses redemption tidak selalu seketika.
Karena dana darurat harus dapat diakses saat kebutuhan mendadak muncul, sebaiknya tetap ada bagian yang tersedia sangat likuid, misalnya di rekening tabungan. Jangan menempatkan seluruh dana darurat pada instrumen yang pencairannya membutuhkan waktu.
5. Apakah Perlu Memiliki Dana Darurat Sebelum Mulai Investasi?
Memiliki cadangan untuk kebutuhan darurat merupakan bagian penting dari fondasi keuangan sebelum mengambil risiko investasi dalam jumlah besar.
Tanpa dana cadangan, Anda dapat terpaksa menjual investasi ketika harga sedang turun hanya karena membutuhkan uang mendadak.
Anda tidak harus menunggu seluruh tujuan keuangan sempurna untuk mulai belajar investasi. Namun, prioritaskan kebutuhan pokok, kewajiban, serta membangun dana darurat sesuai kemampuan sebelum meningkatkan porsi investasi yang berisiko.
Kesimpulannya, perbedaan reksadana dan saham terutama terletak pada cara kerja dan pengelolaannya. Reksadana menawarkan pengelolaan portofolio oleh Manajer Investasi sehingga dapat lebih praktis bagi pemula, sedangkan saham memberikan kendali langsung untuk memilih perusahaan tetapi membutuhkan pemahaman dan keterlibatan yang lebih besar. Tidak ada pilihan yang otomatis paling baik untuk semua orang. Tentukan tujuan, profil risiko, jangka waktu, kemampuan finansial, dan waktu yang Anda miliki untuk mengelola investasi sebelum menentukan instrumen.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
