Investor adalah individu maupun institusi yang menempatkan dana pada suatu aset atau instrumen dengan harapan memperoleh manfaat ekonomi di masa depan. Bentuk investasinya sangat beragam, mulai dari deposito, reksa dana, obligasi, saham, emas, hingga properti.
Namun, menjadi investor bukan sekadar membeli aset kemudian menunggu harganya naik. Anda perlu memahami tujuan keuangan, jangka waktu penggunaan dana, risiko yang mampu ditanggung, hingga karakter produk yang dipilih.
Investor juga tidak selalu identik dengan orang yang memiliki modal besar. Saat ini terdapat berbagai produk investasi dengan nilai pembelian awal yang berbeda-beda sehingga seseorang dapat mulai sesuai kemampuan finansialnya.
Ringkasan: Investor adalah pihak yang menempatkan dana pada aset atau produk tertentu untuk mencapai tujuan finansial. Investor dapat memiliki profil konservatif, moderat, atau agresif serta memilih instrumen berdasarkan jangka waktu dan toleransi risikonya. Sebelum memulai, siapkan kondisi keuangan, pahami produknya, periksa legalitas penyedia, dan hindari menggunakan dana kebutuhan sehari-hari.
Apa Itu Investor?
Investor adalah pihak yang menempatkan modal pada suatu aset, perusahaan, proyek, atau instrumen keuangan dengan tujuan mendapatkan manfaat ekonomi di kemudian hari.
Modal tersebut tidak selalu berbentuk uang tunai. Dalam konteks tertentu, investasi juga dapat melibatkan aset atau sumber daya lain. Namun, dalam perencanaan keuangan pribadi, istilah investor paling sering digunakan untuk seseorang yang menempatkan dana pada produk seperti deposito, reksa dana, obligasi, saham, emas, atau properti.
Investor menerima kemungkinan bahwa nilai investasinya dapat berubah. Potensi memperoleh keuntungan selalu berjalan bersama dengan risiko, meskipun tingkat risikonya berbeda untuk setiap instrumen.
Karena itu, keputusan investasi sebaiknya bukan hanya didasarkan pada pertanyaan “berapa keuntungannya?”, tetapi juga:
- apa tujuan investasinya;
- kapan dana akan digunakan;
- berapa kerugian yang masih mampu ditanggung;
- seberapa mudah aset dapat dicairkan;
- berapa biaya dan pajaknya; serta
- apakah produk dan penyedianya legal serta dipahami dengan baik.
Peran Investor dalam Kegiatan Investasi
Dalam pasar keuangan, investor memiliki peran sebagai pihak yang menyediakan modal.
Ketika membeli saham di pasar modal, misalnya, investor memiliki instrumen yang merepresentasikan kepemilikan pada perusahaan sesuai jumlah saham yang dimiliki. Pada obligasi, investor pada dasarnya memberikan dana kepada penerbit surat utang berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan.
Dalam reksa dana, dana dari banyak investor dikelola oleh Manajer Investasi dan ditempatkan ke portofolio efek berdasarkan kebijakan investasi produk tersebut.
Investor juga berperan dalam memberikan likuiditas pada pasar sekunder ketika melakukan transaksi jual beli instrumen yang memang dapat diperdagangkan.
Namun, karakter tersebut tidak berlaku sama untuk semua produk. Deposito, properti, reksa dana, saham, dan obligasi memiliki mekanisme, tingkat likuiditas, biaya, serta risiko yang berbeda.
Tujuan Seseorang Menjadi Investor
Setiap investor dapat memiliki tujuan berbeda. Ada yang ingin mempersiapkan dana pendidikan anak, membeli rumah, membangun dana pensiun, mempertahankan daya beli kekayaan, atau mengembangkan aset dalam jangka panjang.
Tujuan tersebut penting karena akan memengaruhi instrumen dan strategi yang dipilih.
Dana yang akan digunakan dalam waktu dekat, misalnya, umumnya membutuhkan pertimbangan likuiditas dan stabilitas yang berbeda dibandingkan dana untuk tujuan 15 atau 20 tahun lagi.
Dengan memiliki tujuan yang jelas, investor dapat mengevaluasi keberhasilan investasi berdasarkan kemajuan menuju kebutuhan finansialnya, bukan hanya berdasarkan apakah nilai aset sedang naik atau turun dalam jangka pendek.
Apa Perbedaan Investor dan Trader?
Investor dan trader sama-sama dapat bertransaksi di pasar keuangan, tetapi pendekatan keduanya umumnya berbeda.
1. Perbedaan Tujuan
Investor biasanya berfokus pada pertumbuhan nilai aset, pendapatan, atau pencapaian tujuan finansial dalam periode tertentu.
Trader lebih banyak berusaha memperoleh keuntungan dari pergerakan harga dalam periode yang relatif lebih pendek.
Pembagian tersebut tidak selalu mutlak. Seseorang dapat memiliki portofolio investasi jangka panjang sekaligus menyediakan sebagian dana terpisah untuk trading.
2. Perbedaan Jangka Waktu
Investor cenderung memiliki horizon waktu lebih panjang, mulai dari beberapa tahun hingga puluhan tahun tergantung tujuan.
Trader dapat memegang posisi selama hitungan menit, hari, minggu, maupun periode lainnya sesuai strategi yang digunakan.
3. Perbedaan Cara Mengambil Keputusan
Investor dapat mempertimbangkan fundamental perusahaan, kondisi ekonomi, kualitas aset, prospek jangka panjang, valuasi, pendapatan, dan kesesuaian dengan portofolio.
Trader lebih banyak memperhatikan pergerakan harga, momentum, volume, volatilitas, sentimen, maupun indikator lain yang sesuai dengan sistem trading masing-masing.
4. Perbedaan Tingkat Aktivitas Transaksi
Investor jangka panjang tidak harus sering melakukan transaksi jika tidak terjadi perubahan pada tujuan atau strategi investasinya.
Trader biasanya melakukan transaksi lebih aktif karena peluang yang dicari berasal dari pergerakan pasar dalam jangka yang lebih pendek.
Semakin aktif transaksi dilakukan, investor atau trader juga perlu memperhatikan biaya transaksi, pajak, spread, dan risiko kesalahan pengambilan keputusan.
Jenis-Jenis Investor Berdasarkan Profil Risiko
Profil risiko menggambarkan seberapa besar risiko investasi yang dapat diterima seseorang. OJK secara umum mengenalkan tiga kelompok profil, yaitu konservatif, moderat, dan agresif.
1. Investor Konservatif
Investor konservatif memiliki toleransi yang relatif rendah terhadap perubahan nilai investasi.
Keamanan dana dan stabilitas biasanya menjadi pertimbangan utama. Investor seperti ini umumnya kurang nyaman melihat nilai portofolio mengalami penurunan besar dalam waktu singkat.
Namun, konservatif bukan berarti seluruh investasi pasti tidak dapat mengalami kerugian. Setiap produk tetap memiliki karakter risiko masing-masing.
2. Investor Moderat
Investor moderat dapat menerima fluktuasi dalam batas tertentu untuk mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi.
Portofolionya dapat menggabungkan instrumen yang relatif stabil dengan aset yang memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.
Komposisi ideal tidak dapat disamaratakan karena tetap bergantung pada usia, pendapatan, tujuan, jangka waktu, dan kemampuan seseorang menanggung kerugian.
3. Investor Agresif
Investor agresif memiliki toleransi lebih tinggi terhadap volatilitas dan kemungkinan penurunan nilai investasi.
Mereka dapat mengalokasikan porsi lebih besar pada instrumen yang memiliki fluktuasi tinggi untuk mengejar potensi pertumbuhan jangka panjang.
Profil agresif tidak berarti mengabaikan risiko. Bahkan investor dengan toleransi tinggi tetap perlu memahami produk, melakukan diversifikasi, serta mengelola jumlah modal yang ditempatkan.
Jenis Investor Berdasarkan Bentuknya
1. Investor Individu atau Ritel
Investor individu atau ritel adalah orang perseorangan yang menempatkan dana miliknya sendiri pada instrumen investasi.
Investor ritel dapat memiliki portofolio yang sederhana maupun sangat beragam tergantung kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing.
2. Investor Institusi
Investor institusi merupakan organisasi yang mengelola dan menempatkan dana dalam jumlah tertentu sesuai mandat dan kebijakan investasinya.
Contohnya dapat mencakup perusahaan asuransi, dana pensiun, manajer investasi, maupun institusi keuangan lainnya.
Karena dana yang dikelola dapat sangat besar, aktivitas investor institusi juga dapat berpengaruh terhadap likuiditas dan dinamika pasar.
3. Investor Domestik
Investor domestik merupakan investor yang berasal dari dalam negeri.
Dalam konteks pasar modal Indonesia, kelompok ini dapat mencakup investor individu maupun institusi domestik.
4. Investor Asing
Investor asing berasal dari luar negeri dan menempatkan dana pada aset atau pasar investasi suatu negara.
Arus dana investor asing dapat dipengaruhi berbagai faktor seperti kondisi ekonomi global, suku bunga, nilai tukar, valuasi pasar, risiko geopolitik, dan prospek perekonomian.
Instrumen Investasi yang Bisa Dipilih Investor
1. Deposito
Deposito merupakan simpanan berjangka di bank. Dana ditempatkan dalam tenor tertentu dan memperoleh bunga sesuai ketentuan produk.
Karena terdapat periode penempatan, pencairan sebelum jatuh tempo dapat memiliki ketentuan atau konsekuensi tertentu.
Deposito di bank peserta LPS dapat memperoleh penjaminan sepanjang memenuhi ketentuan program penjaminan LPS yang berlaku.
Baca juga: Apa Itu Deposito? Simak Jenis dan Cara Memilih yang Aman
2. Reksa Dana
Reksa dana menghimpun dana investor untuk kemudian dikelola oleh Manajer Investasi ke dalam portofolio efek berdasarkan kebijakan investasi produk.
Jenisnya antara lain reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham.
Karakter risiko masing-masing berbeda. Reksa dana saham, misalnya, dapat mengalami fluktuasi nilai lebih besar daripada reksa dana pasar uang.
Reksa dana merupakan produk pasar modal dan nilainya dapat naik maupun turun. Produk ini bukan simpanan bank dan tidak termasuk objek penjaminan LPS.
Baca juga: Reksa Dana Saham Naik Turun? Kelola Lewat M-Smile
3. Obligasi dan SBN
Obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan pihak tertentu. Investor dapat memperoleh pembayaran kupon sesuai ketentuan dan pengembalian pokok pada jatuh tempo apabila penerbit memenuhi kewajibannya.
Risikonya berbeda berdasarkan penerbit, tenor, struktur produk, dan apakah obligasi diperdagangkan di pasar sekunder.
Sementara itu, Surat Berharga Negara atau SBN diterbitkan Pemerintah Republik Indonesia. Pembayaran pokok dan kupon atau imbalannya mengikuti ketentuan serta dasar hukum penerbitannya.
Untuk SBN yang dapat diperdagangkan, harga di pasar sekunder tetap dapat naik atau turun sehingga investor yang menjual sebelum jatuh tempo dapat memperoleh capital gain maupun mengalami capital loss.
4. Saham
Saham merupakan instrumen yang merepresentasikan kepemilikan pada perusahaan sesuai porsi yang dimiliki.
Investor saham dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga dan pembagian dividen jika perusahaan memutuskan untuk membagikannya.
Namun, harga saham juga dapat turun sehingga investor berpotensi mengalami kerugian.
Karena itu, pembelian saham sebaiknya dilakukan setelah memahami bisnis perusahaan, risiko, kondisi keuangan, valuasi, dan tujuan investasi.
5. Emas
Emas sering digunakan untuk diversifikasi dan penyimpanan nilai dalam jangka panjang.
Harganya tetap dapat mengalami kenaikan maupun penurunan dan terdapat selisih antara harga beli dan harga jual.
Investor juga perlu membedakan antara emas fisik, tabungan emas, serta produk investasi lain yang menggunakan emas sebagai underlying karena mekanisme dan risikonya dapat berbeda.
6. Properti
Properti dapat menghasilkan manfaat melalui kenaikan nilai aset maupun pendapatan sewa.
Namun, investasi properti biasanya memerlukan modal relatif besar dan memiliki likuiditas lebih rendah karena proses penjualan membutuhkan waktu.
Investor juga perlu memperhitungkan pajak, biaya perawatan, renovasi, legalitas aset, biaya transaksi, dan risiko properti tidak tersewa.
Dari Mana Investor Mendapatkan Keuntungan?
1. Capital Gain
Capital gain terjadi ketika aset dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga perolehannya setelah mempertimbangkan biaya terkait.
Contohnya, investor membeli aset pada harga Rp10 juta dan menjualnya pada Rp12 juta. Selisih positif tersebut dapat menjadi capital gain.
Sebaliknya, menjual pada harga lebih rendah dapat menghasilkan capital loss.
2. Dividen
Dividen merupakan bagian keuntungan perusahaan yang dapat dibagikan kepada pemegang saham berdasarkan keputusan perusahaan dan mekanisme yang berlaku.
Tidak semua perusahaan selalu membagikan dividen. Perusahaan dapat memilih mempertahankan sebagian atau seluruh laba untuk berbagai kebutuhan bisnis.
3. Kupon Obligasi
Pemegang obligasi dapat memperoleh kupon berdasarkan tingkat dan jadwal pembayaran yang ditetapkan dalam ketentuan penerbitan.
Ada obligasi dengan kupon tetap, mengambang, maupun struktur lainnya.
Investor tetap perlu memperhatikan kemampuan penerbit memenuhi kewajibannya serta risiko perubahan harga apabila obligasi diperdagangkan sebelum jatuh tempo.
4. Bunga atau Imbal Hasil
Produk tertentu memberikan bunga atau imbal hasil sesuai ketentuan masing-masing.
Deposito, misalnya, memberikan bunga berdasarkan nominal, tenor, suku bunga, dan ketentuan bank.
Jangan menganggap seluruh bentuk imbal hasil sebagai jaminan keuntungan. Mekanisme dan tingkat kepastiannya berbeda untuk setiap produk.
5. Kenaikan Nilai Aset
Investor juga dapat memperoleh peningkatan kekayaan ketika nilai aset yang dimiliki naik.
Contohnya dapat terjadi pada saham, emas, maupun properti.
Namun, kenaikan yang belum direalisasikan melalui penjualan masih dapat berubah jika harga aset kembali turun.
Risiko yang Perlu Dipahami sebelum Mulai Investasi
1. Risiko Penurunan Nilai Investasi
Harga dan nilai sebagian produk investasi dapat turun.
Semakin tinggi volatilitas suatu instrumen, semakin besar perubahan nilai yang mungkin terlihat dalam periode tertentu.
Investor perlu memastikan bahwa kemungkinan penurunan tersebut masih sesuai dengan toleransi risiko dan jangka waktu investasinya.
2. Risiko Pasar
Kondisi ekonomi, tingkat suku bunga, sentimen investor, nilai tukar, geopolitik, hingga kebijakan pemerintah dapat memengaruhi harga aset.
Dampaknya dapat terjadi pada banyak instrumen sekaligus sehingga tidak seluruh risiko dapat dihilangkan hanya melalui diversifikasi.
3. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas muncul ketika investor sulit menjual atau mencairkan aset pada waktu yang diinginkan dengan harga yang wajar.
Properti umumnya membutuhkan proses penjualan lebih panjang, sementara beberapa efek juga dapat memiliki aktivitas perdagangan yang rendah.
4. Risiko Gagal Bayar
Pada instrumen utang, terdapat kemungkinan penerbit tidak mampu memenuhi pembayaran pokok atau kupon sesuai kewajibannya.
Tingkat risiko tersebut berbeda berdasarkan siapa penerbitnya dan struktur instrumen.
Jangan menyamakan obligasi korporasi dengan SBN pemerintah karena sumber pembayaran dan profil risikonya berbeda.
5. Risiko Inflasi
Inflasi mengurangi daya beli uang dari waktu ke waktu.
Suatu investasi dapat menghasilkan pertumbuhan secara nominal tetapi belum tentu meningkatkan daya beli apabila hasil setelah pajak dan biaya berada di bawah tingkat inflasi.
6. Risiko Konsentrasi Portofolio
Menempatkan sebagian besar atau seluruh dana pada satu perusahaan, sektor, aset, atau jenis instrumen membuat portofolio sangat bergantung pada kinerja satu sumber tersebut.
Jika terjadi masalah pada aset tersebut, dampaknya terhadap keseluruhan portofolio dapat menjadi lebih besar.
Cara Menjadi Investor untuk Pemula
1. Tentukan Tujuan Keuangan
Tuliskan tujuan investasi secara spesifik.
Daripada hanya mengatakan “ingin menghasilkan keuntungan”, Anda dapat menetapkan tujuan seperti menyiapkan uang muka rumah dalam tujuh tahun atau mempersiapkan dana pensiun 25 tahun mendatang.
Tujuan yang jelas membantu menentukan jangka waktu, jumlah dana, dan risiko yang lebih sesuai.
2. Siapkan Dana Darurat Terlebih Dahulu
Sebelum menempatkan dana pada aset yang nilainya berfluktuasi atau sulit dicairkan, pastikan kebutuhan mendadak memiliki sumber dana tersendiri.
Dana darurat membantu mengurangi kemungkinan Anda harus menjual investasi pada saat harga sedang turun hanya karena membutuhkan uang tunai.
Jumlah idealnya tidak harus sama untuk semua orang karena kebutuhan rumah tangga, kestabilan penghasilan, jumlah tanggungan, dan perlindungan finansial setiap orang berbeda.
3. Kenali Profil Risiko
Nilai seberapa nyaman Anda menghadapi kemungkinan kerugian.
Profil risiko tidak hanya berkaitan dengan keberanian, tetapi juga kemampuan finansial untuk menanggung kerugian.
Seseorang mungkin merasa berani mengambil risiko, tetapi jika dana tersebut akan dipakai dalam beberapa bulan, kapasitasnya untuk menanggung volatilitas tetap terbatas.
4. Tentukan Jangka Waktu Investasi
Tentukan kapan dana akan dibutuhkan.
Semakin dekat waktunya, semakin penting mempertimbangkan risiko penurunan nilai dan likuiditas.
Untuk tujuan jangka panjang, investor memiliki waktu lebih banyak menghadapi fluktuasi, tetapi bukan berarti seluruh dana otomatis harus ditempatkan pada aset berisiko tinggi.
5. Pilih Instrumen yang Dipahami
Jangan membeli produk hanya karena sedang populer.
Pahami bagaimana keuntungan diperoleh, apa yang menyebabkan kerugian, kapan dana dapat dicairkan, biaya yang dikenakan, serta siapa pihak yang mengelola atau menerbitkannya.
Untuk reksa dana, baca prospektus dan fund fact sheet. Untuk obligasi, periksa memorandum informasi atau dokumen produk. Untuk saham, pelajari perusahaan dan keterbukaan informasinya.
6. Mulai dengan Nominal yang Sesuai Kemampuan
Tidak perlu memaksakan investasi dalam jumlah besar pada tahap awal.
Gunakan dana yang memang telah dialokasikan untuk investasi setelah kebutuhan sehari-hari dan kewajiban utama diperhitungkan.
Nominal yang lebih kecil juga dapat membantu pemula mengenali respons emosional ketika nilai investasi berfluktuasi.
7. Lakukan Investasi secara Konsisten
Konsistensi dapat membantu membangun kebiasaan mengalokasikan penghasilan untuk tujuan jangka panjang.
Anda dapat menentukan nominal berkala berdasarkan cash flow tanpa harus memaksakan angka yang mengganggu kebutuhan utama.
Namun, investasi rutin bukan jaminan keuntungan. Nilai produk tetap dapat naik dan turun.
8. Evaluasi Portofolio secara Berkala
Evaluasi apakah komposisi investasi masih sesuai dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko Anda.
Evaluasi tidak sama dengan melakukan transaksi setiap kali harga berubah.
Perubahan strategi lebih relevan ketika terdapat perubahan tujuan, kondisi keuangan, horizon investasi, karakter produk, atau komposisi portofolio yang sudah terlalu jauh dari rencana.
Cara Menentukan Investasi Sesuai Tujuan Keuangan
1. Investasi untuk Tujuan Jangka Pendek
Untuk tujuan yang waktunya relatif dekat, faktor stabilitas dan kemudahan mengakses dana biasanya menjadi pertimbangan besar.
Hindari mengambil risiko tinggi jika penurunan nilai sesaat dapat membuat dana tidak cukup ketika dibutuhkan.
Pemilihan produk tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan profil risiko masing-masing.
2. Investasi untuk Tujuan Jangka Menengah
Tujuan jangka menengah dapat memberikan ruang lebih luas untuk mengombinasikan beberapa instrumen.
Investor dapat mempertimbangkan keseimbangan antara stabilitas, likuiditas, dan pertumbuhan berdasarkan tanggal penggunaan dana.
Ketika tanggal tujuan semakin dekat, komposisi portofolio juga dapat dievaluasi untuk mengurangi risiko dana mengalami penurunan besar tepat sebelum digunakan.
3. Investasi untuk Tujuan Jangka Panjang
Tujuan seperti pensiun dapat memiliki horizon belasan hingga puluhan tahun.
Jangka waktu yang panjang memberikan lebih banyak waktu menghadapi fluktuasi pasar sehingga investor dengan profil yang sesuai dapat mempertimbangkan aset dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi.
Tetap lakukan diversifikasi dan evaluasi secara berkala karena kebutuhan serta toleransi risiko dapat berubah seiring waktu.
Pentingnya Diversifikasi bagi Investor
1. Mengurangi Ketergantungan pada Satu Aset
Jika seluruh kekayaan investasi ditempatkan pada satu aset, hasil portofolio sangat bergantung pada kinerja aset tersebut.
Diversifikasi membantu mengurangi ketergantungan tersebut dengan membagi eksposur ke beberapa sumber.
2. Membagi Risiko ke Beberapa Instrumen
Investor dapat melakukan diversifikasi melalui berbagai kelas aset, sektor, penerbit, tenor, maupun wilayah sesuai strategi yang digunakan.
Namun, memiliki banyak produk tidak otomatis berarti sudah terdiversifikasi dengan baik. Beberapa produk dapat memiliki underlying atau faktor risiko yang sangat mirip.
3. Menyesuaikan Komposisi Portofolio dengan Profil Risiko
Diversifikasi juga membantu membangun portofolio yang sesuai dengan tingkat risiko yang mampu diterima.
Investor konservatif, moderat, dan agresif tidak harus memiliki komposisi aset yang sama.
Komposisi juga dapat berubah ketika tujuan semakin dekat atau kondisi keuangan investor berubah.
Kesalahan Investor Pemula yang Perlu Dihindari
1. Berinvestasi karena Ikut Tren
Harga aset yang sedang naik atau ramai dibicarakan di media sosial dapat memunculkan fear of missing out atau FOMO.
Masalahnya, investor dapat membeli tanpa memahami nilai, risiko, dan alasan harga bergerak.
Jangan menggunakan popularitas sebagai satu-satunya dasar investasi.
2. Mengharapkan Keuntungan dalam Waktu Sangat Singkat
Investasi bukan mekanisme untuk menghasilkan keuntungan cepat secara pasti.
Potensi imbal hasil yang lebih tinggi biasanya disertai risiko lebih besar. Janji keuntungan tinggi, tetap, dan nyaris tanpa risiko justru perlu diwaspadai.
3. Menggunakan Dana Kebutuhan Sehari-hari
Hindari menggunakan uang untuk makan, cicilan, sewa rumah, pendidikan, atau kebutuhan rutin sebagai dana investasi berisiko.
Jika investasi turun ketika uang dibutuhkan, Anda mungkin terpaksa menjual pada kondisi yang kurang menguntungkan.
4. Tidak Memahami Produk yang Dibeli
Jangan hanya melihat grafik keuntungan historis.
Pahami aset yang dimiliki produk, siapa pengelolanya, biaya, risiko, ketentuan pencairan, dan kemungkinan kerugiannya.
Kinerja masa lalu juga tidak menjamin hasil serupa pada masa depan.
5. Menaruh Seluruh Dana pada Satu Instrumen
Menempatkan seluruh dana pada satu aset meningkatkan risiko konsentrasi.
Jika aset mengalami masalah, dampaknya dapat mengenai sebagian besar dana investasi.
Diversifikasi dapat membantu mengelola risiko, meskipun tidak dapat menjamin portofolio bebas dari kerugian.
6. Mengabaikan Risiko karena Hanya Fokus pada Potensi Keuntungan
Ketika mengevaluasi produk, tanyakan bukan hanya “berapa return-nya?”, tetapi juga “apa yang dapat membuat saya kehilangan uang?”
Pahami skenario terburuk yang realistis dan pertimbangkan apakah kondisi keuangan Anda mampu menghadapinya.
Cara Mengecek Investasi yang Legal dan Kredibel
1. Periksa Legalitas Penyedia Produk
Pastikan pihak yang menjual atau menawarkan investasi memiliki izin yang sesuai dengan kegiatan usahanya.
Untuk produk pasar modal, Anda dapat memeriksa pihak dan produk melalui sumber resmi Otoritas Jasa Keuangan serta kanal resmi otoritas terkait.
Perlu diingat bahwa tidak seluruh aset diatur oleh regulator yang sama. Karena itu, ketahui terlebih dahulu produk apa yang ditawarkan dan lembaga mana yang berwenang mengawasinya.
2. Pahami Prospektus dan Informasi Produk
OJK mengingatkan investor untuk memahami manfaat, biaya, risiko, serta hak dan kewajiban sebelum membeli suatu produk.
Dalam reksa dana, informasi penting dapat ditemukan melalui prospektus dan fund fact sheet.
Jangan hanya membaca materi promosi yang menonjolkan potensi keuntungan.
3. Waspadai Janji Keuntungan Tetap yang Tidak Wajar
Tawaran keuntungan sangat tinggi dengan risiko yang diklaim hampir tidak ada merupakan tanda yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Semakin tinggi potensi keuntungan suatu investasi, pada umumnya investor juga perlu mempertimbangkan risiko yang menyertainya.
Jangan terburu-buru mentransfer dana hanya karena diberikan batas waktu singkat atau disebut sebagai kesempatan eksklusif.
4. Jangan Mudah Tergiur Penawaran Investasi dari Sumber Tidak Jelas
Waspadai pesan pribadi, grup chat, akun media sosial, atau pihak yang meminta transfer ke rekening personal tanpa dokumentasi yang jelas.
Periksa nama perusahaan, izin, produk, pihak pengelola, serta saluran komunikasi resminya secara mandiri.
OJK juga menyediakan saluran konsumen dan Satgas PASTI untuk membantu masyarakat memperoleh informasi mengenai aktivitas keuangan yang mencurigakan.
Mulai Investasi melalui M-Smile Bank Mega
Setelah memahami tujuan dan profil risiko, nasabah Bank Mega dapat mengakses pilihan investasi melalui M-Smile, termasuk Reksa Dana dan Obligasi Pemerintah.
Untuk Reksa Dana, M-Smile menyediakan proses pembukaan investasi secara online. Nasabah dapat mengisi kuesioner profil risiko serta melakukan pembuatan Single Investor Identification atau SID melalui aplikasi. Setelah proses SID dan profil risiko selesai, nasabah dapat memilih produk serta melakukan transaksi reksa dana.
Jenis Reksa Dana yang tersedia mencakup Pasar Uang, Pendapatan Tetap, Campuran, dan Saham dengan pilihan produk dalam mata uang tertentu sesuai ketersediaan. Transaksi dapat mencakup subscription atau pembelian, top up, redemption atau penjualan kembali, hingga switching sesuai fitur dan ketentuan produk.
M-Smile juga menyediakan akses ke SBN Ritel pada Pasar Perdana ketika terdapat seri yang sedang ditawarkan Pemerintah. Nasabah yang telah memenuhi persyaratan SID dan profil risiko dapat melakukan registrasi serta pemesanan melalui menu Obligasi.
Selain SBN Ritel di pasar perdana, terdapat fasilitas pembelian Obligasi Pemerintah di Pasar Sekunder berdasarkan produk yang tersedia.
Namun, Reksa Dana dan obligasi merupakan produk pasar modal, bukan produk simpanan Bank Mega. Reksa Dana tidak dijamin oleh Bank Mega maupun Lembaga Penjamin Simpanan dan memiliki risiko antara lain penurunan nilai investasi, pasar, likuiditas, serta risiko lain sesuai produk.
Untuk obligasi pemerintah dan SBN, pembayaran pokok serta kupon atau imbalan mengikuti ketentuan dan dasar hukum penerbitannya oleh Pemerintah Republik Indonesia. Apabila instrumen dapat diperdagangkan di pasar sekunder, harga jualnya tetap dapat mengalami kenaikan maupun penurunan sebelum jatuh tempo.
Karena itu, jangan memilih Reksa Dana atau Obligasi hanya berdasarkan besarnya potensi imbal hasil. Pelajari informasi produk, jangka waktu, likuiditas, risiko, biaya, serta kesesuaiannya dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda sebelum melakukan transaksi.
Baca Juga: Apa Arti Dividen? Panduan Lengkap untuk Investor Pemula
FAQ Seputar Investor dan Investasi
1. Apakah Harus Memiliki Penghasilan Besar untuk Menjadi Investor?
Tidak harus.
Yang lebih penting adalah memiliki kondisi keuangan yang memungkinkan sebagian dana dialokasikan untuk investasi setelah kebutuhan utama dan kewajiban diperhitungkan.
Setiap produk memiliki nominal pembelian minimum berbeda. Karena itu, sesuaikan pilihan dengan kemampuan finansial dan jangan memaksakan nominal hanya karena ingin mengikuti orang lain.
2. Apakah Investor Harus Memantau Investasi Setiap Hari?
Tidak selalu.
Frekuensi pemantauan sebaiknya menyesuaikan karakter produk dan strategi Anda. Investor jangka panjang tidak harus melakukan transaksi hanya karena harga bergerak setiap hari.
Namun, tetap lakukan evaluasi secara berkala dan perhatikan informasi material yang dapat memengaruhi investasi.
3. Bisakah Seseorang Menjadi Investor sekaligus Trader?
Bisa.
Seseorang dapat memiliki portofolio jangka panjang sekaligus melakukan trading menggunakan dana dan strategi yang berbeda.
Jika menggunakan kedua pendekatan, sebaiknya pisahkan tujuan, modal, strategi, dan pencatatan sehingga keputusan trading jangka pendek tidak mengganggu rencana investasi jangka panjang.
4. Apakah Semua Investasi Bisa Mengalami Kerugian?
Setiap bentuk investasi memiliki risiko, tetapi jenis dan tingkat risikonya berbeda.
Saham dapat mengalami penurunan harga, reksa dana dapat mengalami penurunan Nilai Aktiva Bersih, obligasi dapat menghadapi perubahan harga maupun risiko penerbit, dan properti dapat mengalami penurunan nilai atau kesulitan dijual.
Karena itu, jangan menyamakan risiko seluruh instrumen hanya karena semuanya disebut investasi.
5. Kapan Waktu yang Tepat untuk Mulai Investasi?
Waktu yang tepat bukan sekadar ketika pasar sedang naik atau turun.
Anda dapat mempertimbangkan mulai ketika sudah memiliki tujuan keuangan, memahami produk yang akan digunakan, mempunyai dana yang memang dapat dialokasikan, dan telah mempertimbangkan kebutuhan darurat serta kewajiban finansial.
Daripada mencoba menebak waktu pasar dengan sempurna, bangun rencana yang dapat dijalankan secara konsisten sesuai kemampuan.
6. Apakah Investor Pemula Sebaiknya Memilih Satu atau Beberapa Instrumen?
Tidak ada jumlah instrumen yang harus dimiliki semua pemula.
Memulai dari produk yang benar-benar dipahami dapat lebih baik daripada membeli banyak aset tanpa mengetahui cara kerjanya.
Setelah memahami dasar investasi, diversifikasi dapat dilakukan secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber risiko.
7. Apa yang Harus Dilakukan jika Nilai Investasi Sedang Turun?
Jangan langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa takut.
Evaluasi terlebih dahulu penyebab penurunan, kondisi fundamental aset atau produk, jangka waktu investasi, tujuan keuangan, dan apakah profil risikonya masih sesuai.
Penurunan pasar secara umum berbeda dengan masalah fundamental pada satu perusahaan atau penerbit tertentu.
Jika dana akan segera digunakan atau risiko ternyata berada di luar kemampuan Anda, pertimbangkan kembali strategi berdasarkan kondisi keuangan secara menyeluruh. Untuk keputusan yang kompleks, Anda juga dapat berkonsultasi dengan profesional keuangan yang memiliki izin dan kompetensi sesuai kebutuhan.
Menjadi investor bukan tentang mencari produk dengan keuntungan paling tinggi. Fondasi yang lebih penting adalah mengetahui tujuan, memahami risiko, memilih instrumen yang legal dan dipahami, serta menggunakan dana yang memang tersedia untuk investasi.
Mulailah secara bertahap dan lakukan evaluasi secara berkala. Dengan pendekatan tersebut, investasi dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang lebih terarah, bukan sekadar keputusan karena tren atau potensi keuntungan sesaat.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
