Membeli barang baru sering memberikan rasa aman karena kondisi produk masih prima, garansi biasanya tersedia, dan usia pakainya relatif panjang. Di sisi lain, barang preloved dapat menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau untuk produk yang masih layak digunakan.
Namun, menentukan pilihan yang lebih hemat tidak cukup hanya dengan membandingkan harga di awal. Barang preloved yang murah bisa saja membutuhkan biaya servis, penggantian komponen, atau memiliki masa pakai yang lebih pendek. Sebaliknya, barang baru yang lebih mahal dapat menjadi pilihan ekonomis apabila digunakan dalam jangka panjang.
Karena itu, keputusan antara membeli barang baru atau preloved sebaiknya mempertimbangkan kondisi barang, usia pakai, garansi, biaya perawatan, hingga cost per use. Dengan perhitungan yang lebih menyeluruh, Anda dapat memilih barang berdasarkan nilai manfaatnya, bukan sekadar harga termurah.
Daftar Isi
- Pengertian Barang Preloved
- Alasan Barang Preloved Semakin Diminati
- Perbedaan Barang Baru dan Preloved?
- Barang Preloved Lebih Hemat dalam Kondisi Apa?
- Kapan Barang Baru Justru Lebih Hemat?
- Jangan Hanya Lihat Harga, Hitung Juga Cost per Use
- Biaya Tersembunyi saat Membeli Barang Preloved
- Barang Apa yang Cocok Dibeli Preloved?
- Barang Apa yang Sebaiknya Dipertimbangkan untuk Dibeli Baru?
- Cara Membandingkan Harga Baru dan Preloved dengan Bijak
- Tips Membeli Barang tanpa Mengganggu Keuangan
- Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Membeli Barang Preloved
- Pilih Barang Baru atau Preloved Sesuai Kebutuhan dan Bujet
- FAQ Seputar Barang Preloved
Pengertian Barang Preloved
Barang preloved adalah barang yang sebelumnya sudah pernah dimiliki atau digunakan oleh orang lain kemudian dijual kembali. Istilah ini sering digunakan sebagai alternatif dari sebutan barang bekas atau secondhand.
Kondisi barang preloved sangat beragam. Ada barang yang hampir tidak pernah dipakai, ada yang digunakan beberapa kali, dan ada pula yang sudah digunakan cukup lama tetapi masih berfungsi dengan baik.
Karena itu, label preloved tidak selalu menunjukkan kualitas tertentu. Dua barang dengan merek dan model sama dapat memiliki kondisi serta harga yang sangat berbeda tergantung usia pemakaian, cara perawatan, kelengkapan, dan kerusakan yang dimiliki.
Barang preloved dapat ditemukan pada berbagai kategori, seperti pakaian, tas, furnitur, buku, perlengkapan hobi, gadget, hingga perlengkapan anak.
Alasan Barang Preloved Semakin Diminati
1. Harga Lebih Terjangkau
Alasan utama banyak orang memilih preloved adalah harga yang biasanya lebih rendah dibandingkan barang baru.
Penurunan harga dapat cukup besar, terutama untuk barang yang mengalami depresiasi setelah digunakan, seperti gadget, furnitur, maupun barang fashion tertentu.
Jika kondisinya masih baik, pembeli dapat memperoleh fungsi yang hampir sama dengan biaya lebih rendah.
2. Pilihan Barang Lebih Beragam
Pasar preloved tidak hanya menawarkan produk terbaru. Anda juga dapat menemukan model lama, warna tertentu, atau produk yang sudah tidak dijual di toko resmi.
Hal ini memberikan lebih banyak pilihan bagi pembeli yang mencari barang dengan spesifikasi tertentu tanpa harus terpaku pada produk keluaran terbaru.
3. Bisa Mendapat Produk Berkualitas dengan Harga Lebih Rendah
Barang berkualitas tinggi yang memiliki harga baru cukup mahal terkadang dapat ditemukan dalam kondisi preloved dengan harga lebih terjangkau.
Contohnya, sebuah furnitur berkualitas yang dirawat baik dapat tetap digunakan dalam waktu lama meskipun sudah pernah dimiliki orang lain.
Namun, kualitas tetap perlu diperiksa dan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan merek.
4. Cocok untuk Pembelian yang Tidak Harus Selalu Baru
Tidak semua barang membutuhkan kondisi baru.
Buku, meja kerja, dekorasi, perlengkapan hobi tertentu, atau barang yang hanya digunakan untuk periode terbatas dapat dipertimbangkan dalam kondisi preloved.
Jika fungsi masih sama dan kondisi layak, membeli baru mungkin tidak selalu memberikan manfaat tambahan yang sepadan dengan selisih harganya.
Perbedaan Barang Baru dan Preloved?
1. Kondisi Barang
Barang baru biasanya belum pernah digunakan konsumen dan berada dalam kondisi sesuai standar penjual atau produsen.
Sementara barang preloved sudah pernah dimiliki sehingga dapat memiliki tanda penggunaan seperti goresan, warna memudar, atau komponen yang mengalami keausan.
2. Harga Pembelian
Barang preloved umumnya memiliki harga lebih rendah karena nilai barang sudah mengalami depresiasi.
Namun, tidak semua preloved pasti murah. Barang koleksi, produk langka, atau merek tertentu bahkan dapat dijual lebih mahal dibandingkan harga awal.
3. Garansi dan Layanan Purnajual
Barang baru biasanya memiliki peluang lebih besar mendapatkan garansi resmi dan layanan purnajual.
Pada barang preloved, masa garansi dapat sudah habis atau hanya tersisa sebagian. Bahkan, beberapa produk mungkin tidak lagi memiliki bukti pembelian yang diperlukan untuk klaim garansi.
4. Risiko Kerusakan
Barang baru tetap dapat mengalami kerusakan, tetapi terdapat perlindungan tambahan melalui garansi apabila memenuhi ketentuan.
Pada barang preloved, risiko kerusakan cenderung lebih sulit diprediksi karena pembeli tidak selalu mengetahui riwayat penggunaan sebelumnya.
5. Nilai Jual Kembali
Barang baru biasanya mengalami penurunan nilai cukup besar setelah digunakan pertama kali.
Sementara barang preloved yang dibeli pada harga pasar yang wajar dapat mengalami penurunan nilai yang lebih kecil apabila kondisi tetap terjaga.
Faktor ini dapat dipertimbangkan jika Anda berencana menjual kembali barang tersebut.
Barang Preloved Lebih Hemat dalam Kondisi Apa?
1. Saat Selisih Harga dengan Barang Baru Cukup Besar
Preloved menjadi lebih menarik apabila selisih harga dengan barang baru cukup signifikan.
Misalnya barang baru Rp5 juta, sedangkan kondisi preloved yang masih sangat baik ditawarkan Rp3 juta. Selisih Rp2 juta dapat menjadi penghematan yang berarti jika fungsi dan masa pakainya masih memadai.
2. Saat Kondisi Barang Masih Sangat Baik
Semakin baik kondisinya, semakin kecil kemungkinan Anda perlu segera mengeluarkan biaya perbaikan.
Periksa fungsi utama, bagian fisik, kelengkapan, serta tanda-tanda penggunaan sebelum membeli.
3. Saat Barang Tidak Membutuhkan Garansi Panjang
Untuk barang sederhana yang mudah diperiksa dan relatif murah diperbaiki, garansi panjang mungkin tidak menjadi faktor utama.
Dalam kondisi seperti ini, membeli preloved dapat memberikan nilai yang lebih baik.
4. Saat Masa Pakai Masih Cukup Lama
Barang preloved hanya ekonomis jika masih dapat digunakan cukup lama.
Jika produk sudah mendekati akhir masa pakai, harga yang murah dapat menjadi kurang relevan karena Anda mungkin harus segera menggantinya.
5. Saat Anda Sudah Memahami Harga Pasarnya
Mengetahui harga pasar membantu menghindari pembelian preloved dengan harga terlalu tinggi.
Bandingkan beberapa penjual dan kondisi barang serupa sebelum melakukan transaksi.
Kapan Barang Baru Justru Lebih Hemat?
1. Saat Barang Akan Digunakan dalam Jangka Panjang
Barang baru dapat lebih ekonomis apabila direncanakan untuk digunakan selama bertahun-tahun.
Usia pakai yang lebih panjang dapat membuat biaya per tahun atau biaya per penggunaan menjadi lebih rendah.
2. Saat Garansi Sangat Penting
Untuk barang elektronik, perangkat kerja, atau produk bernilai tinggi, garansi dapat mengurangi risiko biaya perbaikan pada periode awal penggunaan.
Jika selisih harga preloved tidak terlalu besar, manfaat garansi dapat membuat barang baru lebih menarik.
3. Saat Risiko Kerusakan Barang Bekas Tinggi
Barang dengan banyak komponen internal yang sulit diperiksa dapat membawa risiko biaya perbaikan.
Jika kerusakan baru diketahui setelah transaksi selesai, total pengeluaran dapat melampaui harga barang baru.
4. Saat Selisih Harga Baru dan Preloved Tidak Terlalu Besar
Misalnya produk baru Rp2,5 juta dan preloved Rp2,2 juta.
Selisih Rp300.000 mungkin tidak cukup menarik jika barang baru menawarkan kondisi sempurna, masa pakai lebih panjang, dan garansi resmi.
5. Saat Barang Berkaitan dengan Keamanan atau Kebersihan
Untuk kategori tertentu, faktor keselamatan dan kebersihan sebaiknya ditempatkan di atas pertimbangan harga.
Jika kondisi internal tidak dapat diverifikasi dengan baik, membeli baru dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
Jangan Hanya Lihat Harga, Hitung Juga Cost per Use
1. Apa Itu Cost per Use?
Cost per use adalah biaya pembelian barang dibandingkan dengan berapa kali barang tersebut digunakan.
Konsep ini membantu melihat nilai ekonomis secara lebih realistis daripada hanya berfokus pada harga awal.
2. Cara Menghitung Cost per Use
Rumus sederhananya:
Cost per Use = Total Biaya Barang ÷ Jumlah Penggunaan
Misalnya sepatu seharga Rp1.000.000 digunakan sebanyak 200 kali.
Rp1.000.000 ÷ 200 = Rp5.000 per penggunaan
Jika sepatu preloved seharga Rp600.000 ternyata hanya dapat digunakan 60 kali sebelum perlu diganti:
Rp600.000 ÷ 60 = Rp10.000 per penggunaan
Dalam ilustrasi ini, barang baru yang lebih mahal justru memiliki cost per use lebih rendah.
3. Contoh Barang Murah yang Belum Tentu Lebih Hemat
Misalnya Anda membeli kursi kerja preloved Rp500.000 tetapi harus memperbaiki mekanismenya dengan biaya Rp300.000.
Total biaya menjadi Rp800.000.
Jika kursi baru dengan kualitas serupa tersedia Rp900.000 dan memiliki garansi, selisih aktual hanya Rp100.000. Dalam kondisi tersebut, barang preloved belum tentu menawarkan penghematan terbaik.
4. Bandingkan Umur Pakai Barang Baru dan Preloved
Cost per use akan semakin akurat jika Anda memperkirakan masa pakai.
Pertimbangkan:
- usia barang saat ini;
- frekuensi penggunaan sebelumnya;
- kondisi komponen;
- cara Anda akan menggunakannya; dan
- biaya perawatan.
Barang dengan harga lebih murah tidak otomatis lebih hemat jika usia pakainya jauh lebih pendek.
Biaya Tersembunyi saat Membeli Barang Preloved
1. Biaya Perbaikan
Goresan ringan mungkin hanya bersifat kosmetik, tetapi kerusakan fungsi dapat membutuhkan biaya besar.
Karena itu, estimasikan biaya perbaikan sebelum menentukan apakah harga preloved masih menarik.
2. Biaya Servis atau Penggantian Komponen
Gadget, perangkat elektronik, kendaraan, maupun barang mekanis dapat membutuhkan penggantian baterai atau komponen lain setelah beberapa tahun penggunaan.
Masukkan biaya tersebut dalam perbandingan harga.
3. Ongkos Kirim atau Inspeksi
Furnitur besar atau barang berat dapat memiliki ongkos pengiriman tinggi.
Untuk barang bernilai besar, Anda juga mungkin memilih melakukan inspeksi terlebih dahulu sehingga terdapat biaya tambahan.
4. Risiko Tidak Ada Garansi
Tanpa garansi, seluruh biaya kerusakan setelah transaksi dapat menjadi tanggung jawab pembeli.
Risiko ini perlu dihitung terutama pada barang dengan biaya servis tinggi.
5. Risiko Barang Tidak Sesuai Deskripsi
Foto dan deskripsi tidak selalu menunjukkan seluruh kondisi barang.
Jika memungkinkan, lakukan pengecekan langsung atau gunakan platform yang memiliki mekanisme perlindungan transaksi.
Barang Apa yang Cocok Dibeli Preloved?
1. Fashion dan Aksesori
Pakaian, tas, atau aksesori tertentu dapat dipertimbangkan dalam kondisi preloved apabila masih layak pakai, bersih, dan autentik.
Periksa noda, jahitan, resleting, serta tanda kerusakan lainnya.
2. Furnitur
Meja, lemari, rak, atau kursi berkualitas dapat memiliki usia pakai panjang.
Periksa struktur, sambungan, rayap, kelembapan, dan kondisi material sebelum membeli.
3. Buku
Buku merupakan salah satu kategori yang relatif mudah diperiksa dan fungsi utamanya tidak banyak berkurang karena sudah digunakan.
Selama halaman lengkap dan masih dapat dibaca, preloved dapat menjadi pilihan hemat.
4. Perlengkapan Hobi
Beberapa perlengkapan hobi memiliki harga baru cukup tinggi tetapi digunakan tidak terlalu sering.
Barang preloved dapat membantu Anda mencoba hobi baru tanpa mengeluarkan modal terlalu besar.
5. Gadget Tertentu setelah Kondisinya Diperiksa
Smartphone, tablet, kamera, atau perangkat lain dapat dibeli preloved jika Anda memahami cara memeriksanya.
Perhatikan:
- kondisi baterai;
- layar;
- kamera;
- port;
- sensor;
- nomor seri atau identitas perangkat;
- status garansi; dan
- riwayat servis jika tersedia.
6. Perlengkapan Anak dengan Masa Pakai Singkat
Anak dapat tumbuh cepat sehingga beberapa perlengkapan hanya digunakan dalam waktu singkat.
Pakaian, buku, mainan tertentu, atau furnitur sederhana dapat dipertimbangkan preloved apabila kondisinya bersih dan aman.
Untuk produk yang berkaitan langsung dengan keselamatan anak, standar keamanan tetap harus menjadi prioritas.
Barang Apa yang Sebaiknya Dipertimbangkan untuk Dibeli Baru?
1. Produk yang Berkaitan dengan Keamanan
Barang yang kegagalannya dapat membahayakan pengguna perlu dipilih dengan lebih hati-hati.
Jika riwayat penggunaan tidak diketahui atau kerusakan internal sulit dideteksi, membeli baru dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
2. Barang dengan Komponen yang Sulit Diperiksa
Produk elektronik kompleks dapat memiliki kerusakan internal yang tidak terlihat ketika diuji sebentar.
Apabila biaya kerusakannya tinggi, pertimbangkan manfaat garansi produk baru.
3. Produk dengan Risiko Kebersihan Tinggi
Barang yang bersentuhan intensif dengan tubuh atau sulit disanitasi dapat lebih layak dibeli baru.
Faktor kebersihan sebaiknya tidak dikompromikan hanya untuk mengejar harga murah.
4. Barang yang Membutuhkan Garansi Resmi
Jika barang akan digunakan untuk pekerjaan atau kebutuhan penting, risiko downtime akibat kerusakan perlu diperhitungkan.
Garansi resmi dapat memberi nilai tambahan karena terdapat dukungan perbaikan sesuai ketentuan produsen.
Cara Membandingkan Harga Baru dan Preloved dengan Bijak
1. Bandingkan Harga Pasar Terbaru
Jangan hanya percaya pada klaim penjual bahwa harga preloved sudah sangat murah.
Cari harga barang baru yang sedang berlaku dan beberapa listing preloved dengan kondisi serupa.
2. Perhitungkan Kondisi dan Usia Barang
Barang yang baru digunakan tiga bulan seharusnya dinilai berbeda dengan barang yang telah digunakan selama empat tahun.
Semakin tua usia dan semakin tinggi tingkat keausan, semakin besar diskon harga yang wajar.
3. Masukkan Biaya Tambahan
Hitung:
- harga barang;
- ongkos kirim;
- servis;
- penggantian komponen;
- biaya pembersihan; dan
- biaya lain yang diperlukan sebelum digunakan.
Bandingkan total tersebut dengan harga barang baru.
4. Pertimbangkan Nilai Jual Kembali
Jika Anda mungkin menjual kembali barang dalam beberapa tahun, perkirakan nilai jualnya.
Beberapa kategori memiliki depresiasi besar pada tahun pertama, sehingga membeli preloved dapat mengurangi penurunan nilai yang Anda tanggung.
5. Sesuaikan dengan Lama Pemakaian yang Direncanakan
Jika barang hanya digunakan selama enam bulan, produk preloved yang masih baik mungkin sudah mencukupi.
Namun, untuk penggunaan lima hingga sepuluh tahun, barang baru dengan masa pakai lebih panjang dapat lebih efisien.
Tips Membeli Barang tanpa Mengganggu Keuangan
1. Tentukan Bujet Sebelum Mencari Barang
Menentukan bujet lebih dahulu membantu Anda membatasi pilihan.
Jika Anda mulai mencari barang tanpa batas harga, fitur tambahan dan promo dapat membuat pengeluaran membesar.
2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Tanyakan apakah barang benar-benar diperlukan atau hanya diinginkan karena sedang populer.
Untuk kebutuhan, pertimbangkan fungsi utama terlebih dahulu sebelum merek, model, atau fitur tambahan.
3. Hindari Membeli Hanya karena Diskon
Diskon hanya menghasilkan penghematan apabila barang memang perlu dibeli.
Barang seharga Rp1 juta dengan diskon 50% tetap membuat Anda mengeluarkan Rp500.000 jika sebenarnya tidak dibutuhkan.
4. Jangan Menggunakan Dana Darurat untuk Belanja
Dana darurat ditujukan untuk kebutuhan tidak terduga yang penting, bukan pembelian konsumtif yang dapat ditunda.
Jika pembelian membuat dana darurat berkurang secara signifikan, pertimbangkan menunda transaksi.
5. Pertimbangkan Membeli Setelah Menabung
Untuk pembelian bernilai besar yang tidak mendesak, buat target tabungan terlebih dahulu.
Misalnya Anda membutuhkan Rp6 juta dalam enam bulan. Secara sederhana, target dapat dibagi menjadi:
Rp6.000.000 ÷ 6 = Rp1.000.000 per bulan
Cara ini membantu pembelian tidak terlalu menekan arus kas pada satu periode.
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Membeli Barang Preloved
1. Terlalu Fokus pada Harga Murah
Harga sangat murah dapat terlihat menarik, tetapi kualitas tetap harus menjadi pertimbangan.
Jika barang harus segera diperbaiki atau diganti, penghematan awal dapat hilang.
2. Tidak Memeriksa Kondisi Barang
Mintalah foto detail, video penggunaan, atau lakukan pemeriksaan langsung jika memungkinkan.
Jangan hanya melihat kondisi dari satu foto yang diambil dari sudut terbaik.
3. Mengabaikan Biaya Perbaikan
Perkirakan biaya servis sebelum menawar.
Harga preloved Rp3 juta ditambah perbaikan Rp2 juta mungkin tidak menarik apabila produk baru tersedia Rp5,5 juta dengan garansi.
4. Tidak Membandingkan Harga Baru
Harga produk baru dapat turun setelah muncul model berikutnya.
Akibatnya, penjual preloved dapat memasang harga berdasarkan harga lama yang sudah tidak relevan.
5. Membeli karena FOMO
Kalimat seperti “tinggal satu”, “banyak yang antre”, atau “harga hanya hari ini” dapat mendorong keputusan terburu-buru.
Berikan waktu untuk mengecek barang dan kondisi keuangan sebelum melakukan pembayaran.
6. Mengabaikan Risiko Barang Palsu
Risiko barang palsu terutama penting untuk produk bermerek dan barang bernilai tinggi.
Jangan menganggap harga murah selalu merupakan kesempatan baik. Periksa keaslian, bukti pembelian jika tersedia, nomor seri, detail produk, dan reputasi penjual.
Pilih Barang Baru atau Preloved Sesuai Kebutuhan dan Bujet
Jadi, apakah barang baru atau preloved lebih hemat? Jawabannya bergantung pada jenis produk, kondisi, harga, usia pakai, serta kebutuhan Anda.
Preloved dapat menjadi pilihan ekonomis ketika selisih harga dengan barang baru cukup besar, kondisi masih baik, masa pakai masih panjang, dan risiko perbaikannya rendah.
Sebaliknya, barang baru dapat memberikan nilai lebih baik ketika produk akan digunakan dalam jangka panjang, membutuhkan garansi, memiliki komponen yang sulit diperiksa, atau berkaitan dengan keamanan dan kebersihan.
Jangan hanya membandingkan harga beli. Pertimbangkan pula cost per use, biaya servis, ongkos pengiriman, nilai jual kembali, serta kemungkinan barang perlu diganti lebih cepat.
Dari sisi keuangan, pembelian yang paling hemat bukan selalu barang yang memiliki harga paling murah. Pilihan yang lebih baik adalah barang yang memberikan fungsi sesuai kebutuhan dengan total biaya yang paling masuk akal selama periode penggunaan.
Tentukan bujet sebelum berbelanja, hindari menggunakan dana darurat, dan pertimbangkan menabung terlebih dahulu untuk kebutuhan bernilai besar. Dengan cara ini, keputusan membeli barang baru maupun preloved dapat tetap sesuai dengan kondisi keuangan.
Untuk membantu menjaga pengeluaran tetap terencana saat memilih antara barang baru dan preloved, Anda dapat memanfaatkan Tabungan Bank Mega sebagai tempat memisahkan dana belanja dari kebutuhan rutin dan dana darurat. Dengan menabung terlebih dahulu sesuai target pembelian, Anda memiliki waktu untuk membandingkan harga, kondisi barang, serta total biaya yang mungkin timbul sebelum bertransaksi. Cara ini membantu keputusan belanja tetap sesuai bujet tanpa mengganggu kebutuhan keuangan yang lebih penting.
Baca Juga: Preloved: Tren Belanja Barang Bekas yang Masih Hits di 2025
FAQ Seputar Barang Preloved
1. Apa arti preloved?
Preloved adalah istilah untuk barang yang sebelumnya sudah pernah dimiliki atau digunakan kemudian dijual kembali. Kondisinya dapat sangat beragam, mulai dari hampir seperti baru hingga menunjukkan tanda pemakaian yang cukup jelas.
2. Apakah barang preloved selalu lebih murah?
Tidak selalu. Sebagian besar barang preloved memang dijual lebih murah daripada produk baru, tetapi barang koleksi, edisi langka, atau produk tertentu dapat memiliki harga lebih tinggi. Bandingkan selalu dengan harga pasar terbaru sebelum membeli.
3. Kapan sebaiknya membeli barang preloved?
Barang preloved dapat dipertimbangkan jika selisih harga dengan produk baru cukup besar, kondisinya masih baik, masa pakainya masih panjang, biaya perbaikan rendah, dan Anda memahami harga pasar produk tersebut.
4. Barang apa yang aman dibeli preloved?
Tidak ada kategori yang otomatis aman dalam seluruh kondisi. Buku, furnitur, fashion, perlengkapan hobi, dan beberapa gadget dapat dipertimbangkan jika kondisinya dapat diperiksa dengan baik. Untuk produk yang berkaitan dengan keselamatan, kebersihan, atau komponen internal sulit diperiksa, tingkat kehati-hatian perlu ditingkatkan.
5. Kapan sebaiknya membeli barang baru?
Pertimbangkan membeli baru apabila Anda membutuhkan masa pakai panjang, garansi resmi, risiko kerusakan barang bekas tinggi, selisih harga preloved relatif kecil, atau produk berkaitan dengan faktor keamanan dan kebersihan.
6. Bagaimana cara mengecek kondisi barang preloved?
Periksa fungsi utama, kondisi fisik, kelengkapan, usia barang, bukti pembelian, riwayat servis jika tersedia, serta tanda kerusakan. Untuk barang bernilai tinggi, lakukan pemeriksaan langsung atau gunakan bantuan pihak yang memahami produk tersebut.
7. Bagaimana cara mengetahui harga preloved masih wajar?
Bandingkan dengan harga baru saat ini dan beberapa barang preloved sejenis. Sesuaikan harga berdasarkan usia, kondisi, masa garansi, kelengkapan, biaya perbaikan, serta nilai jual kembali.
8. Apakah membeli preloved bisa membantu menghemat pengeluaran?
Ya, membeli preloved dapat membantu menghemat pengeluaran apabila barang dibeli pada harga yang wajar, kondisinya masih baik, dan tidak membutuhkan biaya tambahan besar. Namun, jika barang sering rusak atau masa pakainya pendek, total pengeluaran justru dapat lebih tinggi daripada membeli barang baru.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
