Ketika mulai berinvestasi saham, investor tidak hanya perlu memikirkan saham apa yang ingin dibeli. Susunan seluruh saham yang dimiliki, proporsi dana pada setiap saham, hingga perkembangannya dari waktu ke waktu juga perlu diperhatikan. Kumpulan investasi tersebut dikenal sebagai portofolio saham.
Portofolio membantu investor melihat investasinya sebagai satu kesatuan. Dengan begitu, keputusan tidak hanya didasarkan pada apakah satu saham sedang naik atau turun, tetapi juga pada bagaimana keseluruhan investasi berkembang sesuai tujuan dan tingkat risiko yang dapat diterima.
Mengelola portofolio juga berkaitan erat dengan diversifikasi. Menempatkan seluruh dana hanya pada satu saham dapat membuat nilai investasi sangat bergantung pada kinerja satu perusahaan. Sebaliknya, membagi dana tanpa strategi ke terlalu banyak saham juga belum tentu menghasilkan portofolio yang efektif.
Lalu, apa itu portofolio saham, bagaimana cara membuatnya, dan apa saja yang perlu diperhatikan dalam pengelolaannya? Berikut penjelasan lengkapnya.
Daftar Isi
- Apa Itu Portofolio Saham?
- Pentingnya Portofolio Saham bagi Investor
- Komponen yang Ada dalam Portofolio Saham
- Jenis-jenis Portofolio Saham
- Cara Membuat Portofolio Saham untuk Pemula
- Contoh Portofolio Saham Sederhana untuk Pemula
- Cara Menghitung Kinerja Portofolio Saham
- Cara Melakukan Diversifikasi Portofolio Saham
- Cara Mengelola Portofolio Saham agar Tetap Sesuai Tujuan
- Risiko yang Perlu Diperhatikan dalam Portofolio Saham
- Lengkapi Diversifikasi Investasi melalui Bank Mega
- FAQ Seputar Portofolio Saham
Apa Itu Portofolio Saham?
Portofolio saham adalah kumpulan saham yang dimiliki seorang investor sebagai bagian dari strategi investasinya. Di dalam portofolio tersebut dapat terdapat satu atau beberapa saham dengan jumlah, harga pembelian, nilai pasar, dan bobot investasi yang berbeda.
Portofolio tidak hanya berfungsi sebagai daftar saham yang pernah dibeli. Informasi di dalamnya dapat digunakan untuk melihat bagaimana dana dialokasikan, seberapa besar keuntungan atau kerugian yang belum direalisasikan, serta seberapa besar ketergantungan portofolio terhadap saham atau sektor tertentu.
Contohnya, seseorang memiliki dana investasi saham Rp50 juta yang dialokasikan sebagai berikut:
- 30% pada saham sektor keuangan;
- 25% pada saham sektor consumer;
- 20% pada saham sektor telekomunikasi;
- 15% pada saham sektor kesehatan; dan
- 10% pada saham sektor lainnya.
Susunan tersebut dapat disebut sebagai portofolio saham investor. Komposisinya tidak harus sama untuk setiap orang karena tujuan, jangka waktu, pengetahuan investasi, dan profil risiko masing-masing berbeda.
Selain itu, portofolio tidak bersifat permanen. Komposisi dapat berubah ketika investor menambah investasi, menjual saham, melakukan rebalancing, atau menyesuaikan strategi karena tujuan finansial berubah.
Pentingnya Portofolio Saham bagi Investor
1. Membantu Menyebarkan Risiko Investasi
Salah satu fungsi penting portofolio adalah membantu investor mengatur penyebaran risiko.
Jika seluruh dana ditempatkan pada satu perusahaan, penurunan harga saham perusahaan tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap keseluruhan nilai investasi.
Dengan memiliki beberapa saham yang dipilih berdasarkan analisis dan karakteristik berbeda, dampak buruk dari satu saham terhadap keseluruhan portofolio dapat lebih terkendali.
Namun, diversifikasi tidak menghilangkan seluruh risiko. Ketika pasar saham secara keseluruhan mengalami tekanan, beberapa saham dalam portofolio tetap dapat turun secara bersamaan.
2. Memudahkan Pemantauan Kinerja Investasi
Portofolio membantu investor mengetahui berapa modal yang telah ditempatkan dan bagaimana perkembangannya.
Dari sana, investor dapat melihat:
- saham dengan kontribusi keuntungan terbesar;
- saham yang mengalami penurunan;
- return keseluruhan portofolio;
- dividen yang diperoleh; dan
- perubahan bobot setiap saham akibat pergerakan harga.
Evaluasi tersebut lebih bermanfaat daripada hanya memperhatikan pergerakan harga satu saham setiap hari.
3. Membantu Menyesuaikan Investasi dengan Tujuan Keuangan
Portofolio sebaiknya dibangun berdasarkan alasan yang jelas.
Investor yang sedang mempersiapkan tujuan jangka panjang dapat memiliki strategi berbeda dengan seseorang yang akan membutuhkan dananya dalam waktu relatif lebih dekat.
Dengan menyusun portofolio, investor dapat mengevaluasi apakah komposisi investasinya masih sesuai dengan target waktu, profil risiko, dan tujuan finansial.
Komponen yang Ada dalam Portofolio Saham
1. Daftar Saham yang Dimiliki
Komponen pertama adalah daftar emiten atau saham yang menjadi bagian dari portofolio.
Daftar ini dapat digunakan untuk melihat apakah investor memiliki terlalu banyak saham pada satu sektor atau terlalu terkonsentrasi pada beberapa perusahaan.
2. Jumlah Lot dan Harga Beli
Investor juga perlu mengetahui jumlah saham yang dimiliki dan harga rata-rata pembeliannya.
Harga rata-rata penting karena investor dapat melakukan pembelian saham yang sama beberapa kali pada harga berbeda.
Informasi tersebut menjadi salah satu dasar untuk menghitung capital gain atau capital loss.
3. Nilai Investasi Saat Ini
Nilai investasi saat ini menunjukkan berapa nilai pasar seluruh kepemilikan apabila dihitung menggunakan harga saham terbaru.
Nilainya dapat lebih tinggi maupun lebih rendah daripada jumlah dana yang sebelumnya dikeluarkan.
4. Keuntungan atau Kerugian
Portofolio biasanya memperlihatkan selisih antara nilai investasi saat ini dan modal yang telah dikeluarkan.
Ketika harga pasar berada di atas harga beli, investor memiliki keuntungan yang belum direalisasikan atau unrealized gain.
Sebaliknya, ketika harga berada di bawah harga beli, terdapat unrealized loss.
Keuntungan atau kerugian baru terealisasi setelah investor melakukan transaksi penjualan, dengan memperhitungkan biaya transaksi.
5. Bobot Setiap Saham dalam Portofolio
Bobot menunjukkan persentase nilai suatu saham terhadap nilai keseluruhan portofolio.
Rumus sederhananya:
Bobot saham = Nilai saham / Total nilai portofolio × 100%
Misalnya nilai seluruh portofolio Rp100 juta dan satu saham bernilai Rp25 juta. Bobot saham tersebut adalah 25%.
Informasi bobot membantu investor mengetahui apakah portofolio terlalu bergantung pada satu saham tertentu.
Jenis-jenis Portofolio Saham
Istilah berikut merupakan pengelompokan berdasarkan gaya atau tujuan pengelolaan portofolio dan bukan kategori produk resmi yang menjamin tingkat risiko maupun return tertentu.
1. Portofolio Growth
Portofolio growth berfokus pada perusahaan yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan bisnis dan laba dalam jangka panjang.
Perusahaan growth dapat mengalokasikan sebagian besar keuntungan untuk ekspansi sehingga dividen bukan selalu menjadi fokus utama.
Investor biasanya mengharapkan peningkatan nilai perusahaan dapat tercermin pada kenaikan harga saham dalam jangka panjang.
2. Portofolio Income
Portofolio income lebih menitikberatkan pada saham perusahaan yang memiliki rekam jejak atau kemampuan membagikan dividen.
Strategi ini dapat dipertimbangkan investor yang ingin mendapatkan potensi pendapatan dari distribusi dividen selain capital gain.
Namun, pembagian dividen tidak dijamin. Jumlah dan keputusan pembagian tetap bergantung pada kinerja serta keputusan perusahaan.
3. Portofolio Value
Portofolio value berisi saham yang menurut analisis investor memiliki harga pasar relatif rendah dibandingkan nilai fundamentalnya.
Investor value mencoba mencari perusahaan dengan kondisi bisnis yang dianggap baik tetapi sahamnya diperdagangkan pada valuasi yang menarik.
Tantangannya adalah menentukan apakah suatu saham benar-benar undervalued atau justru murah karena fundamental perusahaan memang sedang memburuk.
4. Portofolio Agresif
Portofolio agresif umumnya memberikan porsi lebih besar kepada saham dengan potensi pertumbuhan tinggi sekaligus fluktuasi yang lebih besar.
Strategi seperti ini lebih sesuai bagi investor yang benar-benar mampu menerima penurunan nilai dalam jumlah besar dan memiliki jangka waktu memadai.
5. Portofolio Defensif
Portofolio defensif lebih berfokus pada perusahaan yang bisnisnya dinilai relatif tahan terhadap perubahan siklus ekonomi.
Contohnya dapat berasal dari sektor yang menyediakan kebutuhan yang tetap digunakan masyarakat dalam berbagai kondisi ekonomi.
Meski disebut defensif, saham tetap memiliki risiko pasar dan harganya tetap dapat turun.
6. Portofolio Seimbang
Portofolio saham yang lebih seimbang mencoba mengombinasikan beberapa karakteristik, misalnya saham growth, value, dan perusahaan yang relatif defensif.
Tujuannya adalah menghindari ketergantungan penuh terhadap satu strategi.
Komposisinya tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko investor dan bukan mengikuti persentase baku tertentu.
Cara Membuat Portofolio Saham untuk Pemula
1. Tentukan Tujuan Investasi
Mulailah dengan menentukan untuk apa dana tersebut diinvestasikan.
Tujuannya dapat berupa dana pensiun, pendidikan, pembelian properti, pengembangan kekayaan jangka panjang, atau tujuan lainnya.
Tujuan membantu investor menentukan berapa lama dana dapat ditempatkan serta seberapa besar risiko yang realistis untuk diambil.
2. Tentukan Jangka Waktu Investasi
Saham merupakan aset yang dapat mengalami fluktuasi tinggi dalam jangka pendek.
Karena itu, semakin dekat waktu penggunaan dana, semakin penting mempertimbangkan apakah porsi saham masih sesuai.
Hindari menggunakan dana yang akan dibutuhkan dalam waktu dekat untuk mengejar keuntungan saham.
3. Kenali Profil Risiko
Investor perlu mengetahui kemampuan dan kenyamanannya menghadapi penurunan nilai investasi.
Jangan menganggap diri agresif hanya ketika harga saham sedang naik.
Pertimbangkan bagaimana Anda akan bereaksi apabila nilai portofolio turun cukup besar dalam waktu singkat.
4. Tentukan Dana yang Akan Diinvestasikan
Investasikan dana yang memang telah dialokasikan untuk tujuan investasi.
Jangan menggunakan uang untuk:
- kebutuhan sehari-hari;
- tagihan bulanan;
- dana darurat;
- cicilan; atau
- kebutuhan jangka dekat.
Menentukan jumlah dana sejak awal juga membantu investor mengatur batas alokasi pada setiap saham.
5. Pilih Saham yang Sesuai dengan Strategi
Jangan membeli saham hanya karena sedang ramai dibicarakan.
Periksa perusahaan di balik saham tersebut, termasuk:
- model bisnis;
- pendapatan dan laba;
- utang;
- arus kas;
- prospek industri;
- kualitas pengelolaan;
- valuasi; dan
- risiko bisnis.
Pilih saham yang dapat Anda pahami dan sesuai dengan strategi investasi.
6. Tentukan Alokasi Setiap Saham
Setelah memilih saham, tentukan berapa persen dana yang akan ditempatkan pada setiap perusahaan.
Jangan hanya menentukan berapa banyak saham yang dimiliki. Bobot investasi jauh lebih penting.
Portofolio berisi lima saham belum tentu terdiversifikasi jika 80% dananya berada pada satu saham.
7. Lakukan Diversifikasi
Diversifikasi dapat dilakukan dengan membagi dana pada beberapa perusahaan, sektor, maupun karakteristik saham.
Namun, semakin banyak saham belum tentu semakin baik.
Jika jumlah saham terlalu banyak hingga investor tidak mampu mengikuti perkembangan perusahaannya, portofolio justru dapat menjadi sulit dikelola.
8. Pantau dan Evaluasi Portofolio Secara Berkala
Setelah portofolio terbentuk, lakukan evaluasi sesuai jadwal.
Investor tidak harus mengubah portofolio setiap kali harga bergerak.
Evaluasi dapat dilakukan berdasarkan perkembangan fundamental perusahaan, perubahan tujuan keuangan, risiko, serta komposisi portofolio.
Contoh Portofolio Saham Sederhana untuk Pemula
Contoh berikut dibuat hanya untuk menjelaskan konsep alokasi dan bukan rekomendasi membeli saham atau sektor tertentu. Seluruh portofolio yang berisi saham tetap memiliki risiko tinggi dibandingkan instrumen yang lebih konservatif.
1. Contoh Portofolio Konservatif
Istilah konservatif di sini berarti relatif lebih defensif di dalam alokasi saham, bukan berarti portofolio saham secara keseluruhan merupakan investasi berisiko rendah.
Contoh alokasi:
| Karakteristik Saham | Ilustrasi Bobot |
|---|---|
| Perusahaan besar dengan bisnis relatif mapan | 40% |
| Sektor kebutuhan konsumen | 20% |
| Sektor kesehatan | 15% |
| Sektor infrastruktur atau telekomunikasi | 15% |
| Saham growth pilihan | 10% |
Portofolio seperti ini mencoba memberikan bobot lebih besar pada perusahaan yang relatif mapan dan bisnis defensif.
2. Contoh Portofolio Moderat
Portofolio moderat dapat menggabungkan saham perusahaan mapan dengan perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi.
| Karakteristik Saham | Ilustrasi Bobot |
|---|---|
| Perusahaan besar dan mapan | 30% |
| Saham growth | 25% |
| Saham value | 20% |
| Sektor defensif | 15% |
| Saham dengan karakteristik lain | 10% |
Komposisi ini hanya menunjukkan bagaimana strategi berbeda dapat dikombinasikan.
3. Contoh Portofolio Agresif
Investor agresif dapat memberikan bobot lebih besar kepada perusahaan dengan potensi pertumbuhan tinggi, tetapi harus siap menghadapi fluktuasi yang lebih besar.
| Karakteristik Saham | Ilustrasi Bobot |
|---|---|
| Saham growth | 45% |
| Perusahaan berkapitalisasi menengah dengan prospek pertumbuhan | 20% |
| Saham siklikal | 15% |
| Perusahaan besar dan mapan | 15% |
| Saham lainnya | 5% |
Semakin agresif susunannya, semakin penting investor memahami fundamental perusahaan dan kemampuan dirinya menerima kerugian.
Cara Menghitung Kinerja Portofolio Saham
1. Menghitung Capital Gain atau Capital Loss
Capital gain terjadi ketika saham dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga belinya, sedangkan capital loss terjadi ketika harga jual lebih rendah.
Rumus sederhananya:
Capital gain/loss = Nilai penjualan − Nilai pembelian
Untuk hasil aktual, investor juga perlu memperhitungkan biaya transaksi.
Misalnya dana pembelian suatu saham Rp10 juta dan kemudian saham tersebut dijual dengan nilai Rp10,8 juta sebelum memperhitungkan biaya.
Capital gain bruto adalah:
Rp10.800.000 − Rp10.000.000 = Rp800.000
2. Menghitung Return Portofolio
Untuk memperoleh gambaran sederhana mengenai perkembangan keseluruhan portofolio, investor dapat menggunakan:
Return portofolio = (Nilai akhir − Modal awal) / Modal awal × 100%
Misalnya:
- modal awal: Rp50 juta;
- nilai portofolio sekarang: Rp55 juta.
Maka return sederhana:
(Rp55 juta − Rp50 juta) / Rp50 juta × 100% = 10%
Perhitungan aktual sebaiknya mempertimbangkan tambahan investasi, penarikan dana, dividen, biaya transaksi, dan periode investasi agar hasil evaluasinya lebih akurat.
3. Memperhitungkan Dividen
Selain perubahan harga saham, dividen dapat menjadi bagian dari total hasil investasi.
Misalnya:
- modal awal: Rp10 juta;
- nilai investasi akhir: Rp10,8 juta;
- dividen yang diperoleh: Rp300.000.
Nilai hasil investasi sebelum biaya dan pajak yang relevan menjadi:
Rp10.800.000 + Rp300.000 = Rp11.100.000
Return sederhananya:
(Rp11.100.000 − Rp10.000.000) / Rp10.000.000 × 100% = 11%
Dengan memasukkan dividen, investor memperoleh gambaran yang lebih lengkap dibandingkan hanya melihat kenaikan harga saham.
Cara Melakukan Diversifikasi Portofolio Saham
1. Diversifikasi Berdasarkan Sektor
Investor dapat membagi dana pada perusahaan dari beberapa sektor berbeda.
Tujuannya agar portofolio tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi satu industri.
Namun, sektor berbeda tetap dapat dipengaruhi faktor ekonomi yang sama sehingga diversifikasi sektor tidak menghilangkan risiko pasar.
2. Diversifikasi Berdasarkan Karakteristik Emiten
Portofolio juga dapat mengombinasikan perusahaan berdasarkan karakteristiknya, seperti:
- perusahaan besar dan mapan;
- perusahaan growth;
- saham value;
- perusahaan pembagi dividen; dan
- perusahaan berkapitalisasi menengah atau kecil sesuai strategi.
Pendekatan ini membantu investor menghindari ketergantungan hanya pada satu gaya investasi.
3. Diversifikasi Berdasarkan Tingkat Risiko
Tidak semua saham memiliki tingkat volatilitas yang sama.
Investor dapat mengombinasikan saham dengan karakteristik lebih defensif dan saham yang memiliki fluktuasi lebih tinggi berdasarkan profil risikonya.
Bobot masing-masing perlu diperhatikan karena satu posisi besar tetap dapat mendominasi risiko portofolio.
4. Diversifikasi ke Instrumen Investasi Lain
Diversifikasi tidak harus berhenti pada saham.
Dalam konteks keseluruhan aset, investor dapat mempertimbangkan instrumen lain seperti:
- reksadana;
- obligasi;
- deposito;
- instrumen pasar uang; atau
- aset lain yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko.
Dengan demikian, penurunan pasar saham tidak otomatis membuat seluruh kekayaan investasi memiliki eksposur yang sama.
Cara Mengelola Portofolio Saham agar Tetap Sesuai Tujuan
1. Evaluasi Kinerja Secara Berkala
Buat jadwal evaluasi, misalnya setiap beberapa bulan atau sesuai strategi investasi.
Evaluasi tidak hanya melihat saham mana yang naik dan turun, tetapi juga apakah fundamental dan alasan awal pembelian masih berlaku.
2. Lakukan Rebalancing Jika Diperlukan
Rebalancing merupakan penyesuaian kembali komposisi portofolio ketika bobotnya sudah terlalu jauh dari target.
Misalnya sebuah saham awalnya memiliki target 20%, tetapi kenaikan harga membuat bobotnya menjadi 35%.
Investor dapat mengevaluasi apakah konsentrasi tersebut masih sesuai tingkat risiko yang diinginkan.
Rebalancing dapat dilakukan melalui penjualan sebagian aset atau mengarahkan dana baru ke bagian portofolio yang bobotnya lebih rendah.
3. Perhatikan Perubahan Fundamental Perusahaan
Harga saham dapat bergerak setiap hari, tetapi investor jangka panjang juga perlu memperhatikan kondisi bisnis di baliknya.
Evaluasi apabila terjadi perubahan signifikan pada:
- pendapatan dan laba;
- utang;
- arus kas;
- strategi perusahaan;
- manajemen;
- persaingan; atau
- prospek industri.
Jika alasan fundamental saat membeli saham sudah tidak lagi berlaku, keputusan investasi dapat ditinjau kembali.
4. Hindari Keputusan Investasi Berdasarkan Emosi
Ketakutan dan keserakahan dapat membuat investor mengambil keputusan yang tidak sesuai rencana.
Contohnya membeli ketika harga sudah naik tajam hanya karena takut tertinggal atau langsung menjual seluruh investasi setelah pasar turun sementara.
Gunakan rencana investasi dan analisis sebagai dasar pengambilan keputusan.
5. Sesuaikan Portofolio Saat Tujuan Keuangan Berubah
Portofolio yang sesuai pada usia 25 tahun belum tentu tetap tepat ketika tujuan keuangan berubah.
Contohnya, ketika waktu penggunaan dana semakin dekat, investor mungkin perlu mengevaluasi apakah porsi saham yang berfluktuasi tinggi masih sesuai.
Perubahan pendapatan, keluarga, pekerjaan, dan toleransi risiko juga dapat menjadi alasan melakukan evaluasi.
Risiko yang Perlu Diperhatikan dalam Portofolio Saham
1. Risiko Pasar
Harga saham dapat turun karena kondisi pasar secara keseluruhan.
Faktor seperti suku bunga, inflasi, kondisi ekonomi, nilai tukar, geopolitik, maupun sentimen investor dapat memengaruhi banyak saham sekaligus.
2. Risiko Emiten
Setiap perusahaan mempunyai risiko bisnis tersendiri.
Kinerja dapat memburuk karena persaingan, utang, perubahan regulasi, masalah operasional, perubahan manajemen, atau berbagai faktor lainnya.
Karena itulah analisis perusahaan tetap penting meskipun portofolio sudah terdiversifikasi.
3. Risiko Konsentrasi
Risiko konsentrasi muncul ketika porsi terlalu besar ditempatkan pada satu saham, sektor, atau tema investasi.
Misalnya investor memiliki 10 saham tetapi 70% nilai portofolionya berasal dari satu sektor. Secara jumlah saham terlihat banyak, tetapi eksposur risikonya masih terkonsentrasi.
4. Risiko Likuiditas
Tidak semua saham mempunyai tingkat aktivitas perdagangan yang sama.
Pada saham dengan likuiditas rendah, investor dapat mengalami kesulitan membeli atau menjual dalam jumlah tertentu pada harga yang diinginkan.
5. Risiko Keputusan Investasi yang Tidak Sesuai Profil Risiko
Portofolio yang terlalu agresif dapat membuat investor mengambil keputusan emosional ketika terjadi koreksi.
Contohnya, investor yang sebenarnya tidak mampu menerima penurunan besar justru menempatkan hampir seluruh dana pada saham dengan volatilitas tinggi.
Karena itu, komposisi portofolio sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pribadi, bukan sekadar mengikuti strategi investor lain.
Lengkapi Diversifikasi Investasi melalui Bank Mega
Mengelola portofolio saham juga dapat menjadi pengingat bahwa seluruh dana investasi tidak harus ditempatkan pada satu jenis aset. Selain melakukan diversifikasi di antara beberapa saham, Anda dapat mempertimbangkan instrumen lain yang karakteristik risikonya sesuai dengan tujuan finansial.
Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah reksadana melalui M-Smile dari Bank Mega. PT Bank Mega Tbk bertindak sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), sedangkan pengelolaan dana dilakukan oleh Manajer Investasi sesuai produk yang dipilih.
Melalui M-Smile, tersedia pilihan reksadana Pasar Uang, Pendapatan Tetap, Campuran, dan Saham dalam produk berdenominasi IDR maupun USD. Transaksi dapat dilakukan secara online, mulai dari subscribe, top up, redeem, hingga switch sesuai ketentuan yang berlaku.
Investor tetap perlu memilih berdasarkan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko serta membaca prospektus dan fund fact sheet sebelum bertransaksi. Reksadana merupakan produk pasar modal, bukan produk simpanan Bank Mega dan tidak termasuk objek program penjaminan LPS. Nilai investasi dapat meningkat maupun menurun sesuai perkembangan portofolio yang dikelola Manajer Investasi.
Dengan memadukan pemahaman mengenai saham dan instrumen lain secara tepat, Anda dapat membangun strategi diversifikasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan tanpa harus menempatkan seluruh dana pada satu sumber risiko.
Baca Juga: 21 Istilah Saham Pemula yang Wajib Dipahami Sebelum Investasi
FAQ Seputar Portofolio Saham
1. Berapa Jumlah Saham yang Ideal dalam Satu Portofolio?
Tidak ada jumlah saham yang ideal untuk semua investor. Jumlahnya perlu mempertimbangkan nilai dana, kemampuan melakukan analisis, strategi, serta kebutuhan diversifikasi. Memiliki terlalu sedikit saham dapat meningkatkan risiko konsentrasi, tetapi terlalu banyak saham dapat membuat portofolio sulit dipantau. Yang lebih penting adalah melihat bobot setiap saham dan sumber risiko yang dimiliki, bukan hanya menghitung jumlah emitennya.
2. Apakah Portofolio Saham Harus Selalu Berisi Saham dari Banyak Sektor?
Tidak harus dalam jumlah sektor tertentu. Namun, memiliki saham yang semuanya berasal dari satu sektor membuat portofolio lebih rentan terhadap masalah yang secara khusus memengaruhi industri tersebut. Diversifikasi sektor dapat digunakan untuk mengurangi konsentrasi, tetapi tetap perlu memperhatikan kualitas setiap perusahaan dan tujuan investasi. Jangan membeli perusahaan yang tidak dipahami hanya demi menambah jumlah sektor.
3. Apakah Saham yang Rugi Harus Langsung Dijual?
Tidak selalu. Penurunan harga belum tentu berarti alasan awal investasi sudah salah. Evaluasi terlebih dahulu apakah fundamental perusahaan berubah, valuasi masih masuk akal, risiko meningkat, atau alasan pembelian sebelumnya sudah tidak lagi berlaku. Sebaliknya, mempertahankan saham hanya karena berharap kembali ke harga beli juga bukan dasar analisis yang baik. Keputusan sebaiknya didasarkan pada prospek dan strategi, bukan sekadar posisi untung atau rugi.
4. Apakah Investor Bisa Memiliki Lebih dari Satu Portofolio Saham?
Bisa. Investor dapat memisahkan portofolio berdasarkan tujuan atau strategi, misalnya portofolio jangka panjang dan portofolio dengan pendekatan berbeda. Namun, secara keseluruhan seluruh kepemilikan tetap perlu dilihat bersama agar investor mengetahui eksposur risiko total. Dua portofolio terpisah yang ternyata sama-sama berisi saham dari sektor yang sama tetap dapat menimbulkan konsentrasi.
5. Apa Perbedaan Portofolio Saham dan Watchlist Saham?
Portofolio saham berisi saham yang benar-benar telah dimiliki investor beserta jumlah, harga beli, nilai investasi, serta perkembangan kinerjanya. Sementara itu, watchlist merupakan daftar saham yang sedang dipantau tetapi belum tentu sudah dibeli. Watchlist dapat digunakan untuk melakukan riset dan menunggu kondisi yang dianggap sesuai sebelum mengambil keputusan investasi.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
