Apa Itu ROI? Ini Pengertian, Manfaat, & Cara Menghitungnya
Ketika mengeluarkan modal untuk investasi, bisnis, pemasaran, atau pembelian aset, Anda tentu ingin mengetahui apakah dana tersebut memberikan hasil yang sebanding. Salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengevaluasinya adalah Return on Investment atau ROI.
Secara sederhana, ROI adalah rasio yang membandingkan keuntungan yang diperoleh dengan modal atau biaya yang dikeluarkan. Hasilnya biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase sehingga dapat membantu melihat seberapa efektif suatu penggunaan dana.
ROI dapat digunakan dalam berbagai konteks. Investor dapat menggunakannya untuk membandingkan hasil beberapa investasi, sedangkan pelaku usaha dapat memanfaatkannya untuk mengevaluasi kampanye pemasaran, pembelian mesin, pembukaan cabang, atau pengeluaran bisnis lainnya.
Meski berguna, ROI tidak sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Jangka waktu, risiko, likuiditas, dan berbagai biaya tambahan tetap perlu dipertimbangkan agar analisis lebih menyeluruh.
Daftar Isi
- Pengertian ROI
- Fungsi ROI
- Cara Kerja ROI
- Rumus ROI
- Cara Menghitung ROI
- Contoh Perhitungan ROI Sederhana
- Cara Membaca Nilai ROI
- Manfaat ROI bagi Investor
- Manfaat ROI bagi Bisnis
- Faktor-faktor yang Memengaruhi ROI
- Perbedaan ROI dan Return
- Perbedaan ROI dan ROE
- Perbedaan ROI dan Payback Period
- Keterbatasan ROI
- Cara Menggunakan ROI untuk Membandingkan Pilihan Investasi
- Gunakan ROI sebagai Salah Satu Dasar dalam Mengambil Keputusan
- FAQ Seputar ROI
Pengertian ROI
ROI adalah singkatan dari Return on Investment, yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian dari suatu investasi atau penggunaan modal dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.
ROI membantu menjawab pertanyaan sederhana: apakah dana yang dikeluarkan menghasilkan keuntungan yang sebanding?
Jika seseorang mengeluarkan modal Rp10 juta kemudian memperoleh keuntungan bersih Rp2 juta, maka ROI sederhananya adalah 20%.
Konsep ini dapat digunakan pada berbagai aktivitas, seperti:
- investasi saham;
- pembelian aset bisnis;
- kampanye pemasaran;
- pembukaan cabang;
- pembelian mesin;
- pengembangan produk; atau
- proyek bisnis tertentu.
Namun, cara menghitung keuntungan dan biaya perlu dibuat konsisten agar hasil ROI dapat dibandingkan dengan benar.
Fungsi ROI
1. Mengukur Efektivitas Penggunaan Modal
ROI membantu melihat seberapa besar hasil yang diperoleh dibandingkan dengan modal yang digunakan.
Jika dua proyek membutuhkan modal berbeda, ROI dapat memberikan gambaran mengenai efisiensi penggunaan dana pada masing-masing proyek.
2. Membandingkan Hasil dari Beberapa Pilihan
ROI dapat digunakan untuk membandingkan beberapa pilihan investasi atau program.
Misalnya, suatu bisnis ingin memilih antara membuka cabang baru atau meningkatkan anggaran pemasaran. ROI masing-masing dapat digunakan sebagai salah satu indikator pembanding.
3. Membantu Mengevaluasi Keputusan Investasi atau Bisnis
Setelah investasi atau proyek berjalan, ROI dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah hasil aktual sesuai dengan ekspektasi.
Jika ROI lebih rendah dari target, bisnis dapat mencari penyebabnya dan menentukan langkah perbaikan.
4. Menjadi Dasar untuk Menilai Kinerja
ROI juga dapat menjadi salah satu indikator dalam menilai kinerja suatu penggunaan dana.
Namun, kinerja tidak sebaiknya diukur hanya dari ROI karena setiap investasi memiliki jangka waktu dan tingkat risiko yang berbeda.
Cara Kerja ROI
ROI bekerja dengan membandingkan keuntungan bersih yang dihasilkan dari suatu investasi dengan modal atau biaya yang dikeluarkan.
Secara umum, semakin besar keuntungan dibandingkan modal, semakin tinggi ROI yang dihasilkan.
Contohnya, dua proyek sama-sama menghasilkan keuntungan Rp10 juta. Proyek A membutuhkan modal Rp50 juta, sedangkan Proyek B membutuhkan modal Rp100 juta.
Jika faktor lain dianggap sama, Proyek A memiliki ROI lebih tinggi karena menghasilkan keuntungan yang sama dengan modal yang lebih kecil.
Namun, perbandingan tersebut baru relevan apabila periode, risiko, dan komponen biaya yang digunakan relatif sebanding.
Rumus ROI
1. Rumus Dasar ROI
Rumus ROI yang umum digunakan adalah:
ROI = (Keuntungan Bersih ÷ Modal atau Biaya Investasi) × 100%
Keuntungan bersih secara sederhana dapat dihitung sebagai:
Keuntungan Bersih = Nilai Akhir atau Pendapatan − Total Biaya
2. Komponen Keuntungan Bersih
Keuntungan bersih merupakan hasil yang tersisa setelah memperhitungkan biaya yang relevan.
Dalam konteks investasi, misalnya, keuntungan dapat berasal dari kenaikan nilai aset dan pendapatan yang diterima selama periode investasi setelah dikurangi biaya yang relevan.
Dalam bisnis, keuntungan dapat dihitung dari pendapatan tambahan dikurangi biaya untuk menghasilkan pendapatan tersebut.
3. Komponen Modal atau Biaya Investasi
Komponen biaya dapat meliputi:
- harga pembelian aset;
- biaya transaksi;
- biaya pemasaran;
- biaya instalasi;
- biaya operasional terkait proyek; atau
- pengeluaran lain yang relevan.
Semakin lengkap biaya yang diperhitungkan, semakin realistis pula ROI yang dihasilkan.
4. Cara Mengubah Hasil ROI ke Persentase
Setelah keuntungan dibagi dengan modal, hasilnya dikalikan 100%.
Contohnya:
Rp2.000.000 ÷ Rp10.000.000 = 0,20
Kemudian:
0,20 × 100% = 20%
Jadi, ROI investasi tersebut adalah 20%.
Cara Menghitung ROI
1. Tentukan Total Modal atau Biaya
Langkah pertama adalah menghitung seluruh dana yang digunakan.
Jangan hanya memasukkan harga awal apabila terdapat biaya tambahan yang secara langsung berkaitan dengan investasi tersebut.
2. Hitung Nilai Akhir atau Pendapatan yang Diperoleh
Tentukan berapa hasil yang diperoleh dari investasi atau proyek.
Untuk investasi aset, Anda dapat melihat nilai akhir dan pendapatan lain yang relevan. Untuk bisnis, hasil dapat berupa tambahan pendapatan dari proyek tersebut.
3. Hitung Keuntungan Bersih
Kurangi hasil yang diperoleh dengan total biaya.
Contoh:
- Total biaya: Rp20 juta
- Total hasil: Rp25 juta
Maka:
Keuntungan bersih = Rp25 juta − Rp20 juta = Rp5 juta
4. Masukkan Angka ke Rumus ROI
Gunakan rumus:
ROI = (Rp5 juta ÷ Rp20 juta) × 100%
Hasilnya:
ROI = 25%
5. Interpretasikan Hasilnya
ROI sebesar 25% berarti keuntungan bersih setara dengan 25% dari modal yang digunakan berdasarkan perhitungan tersebut.
Namun, Anda masih perlu melihat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan ROI tersebut.
ROI 25% dalam satu tahun tentu memiliki konteks berbeda dengan ROI 25% yang baru diperoleh setelah lima tahun.
Contoh Perhitungan ROI Sederhana
1. Contoh ROI Investasi
Misalnya Anda membeli suatu aset investasi seharga Rp10 juta. Setelah satu tahun, aset tersebut dijual seharga Rp12 juta. Untuk mempermudah ilustrasi, diasumsikan tidak terdapat biaya tambahan.
Keuntungan bersih:
Rp12 juta − Rp10 juta = Rp2 juta
ROI:
(Rp2 juta ÷ Rp10 juta) × 100% = 20%
Artinya, ROI dari investasi tersebut adalah 20%.
2. Contoh ROI Usaha
Misalnya Anda mengeluarkan modal Rp30 juta untuk sebuah proyek usaha. Setelah seluruh penjualan dan biaya proyek diperhitungkan, keuntungan bersih yang diperoleh mencapai Rp6 juta.
Maka:
ROI = (Rp6 juta ÷ Rp30 juta) × 100% = 20%
ROI proyek tersebut adalah 20%.
3. Contoh ROI dari Pengeluaran Bisnis
Sebuah bisnis mengeluarkan Rp5 juta untuk kampanye pemasaran. Dari kampanye tersebut diperoleh tambahan pendapatan Rp9 juta dan diasumsikan biaya lain yang langsung terkait sudah diperhitungkan sehingga keuntungan bersihnya Rp4 juta.
Maka:
ROI = (Rp4 juta ÷ Rp5 juta) × 100% = 80%
Dalam ilustrasi tersebut, ROI kampanye adalah 80%.
Namun, bisnis perlu berhati-hati membedakan pendapatan dan keuntungan. Menggunakan pendapatan Rp9 juta langsung sebagai keuntungan dapat membuat ROI terlihat lebih tinggi daripada kondisi sebenarnya.
Cara Membaca Nilai ROI
1. ROI Positif
ROI positif menunjukkan bahwa berdasarkan komponen yang dihitung, hasil investasi lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
Contohnya, ROI 15% berarti investasi menghasilkan keuntungan setara 15% dari modal yang digunakan.
Namun, positif belum tentu berarti menarik apabila risikonya tinggi atau periode pencapaiannya sangat panjang.
2. ROI Nol
ROI 0% menunjukkan bahwa berdasarkan perhitungan yang digunakan, hasil yang diperoleh sama dengan biaya.
Artinya, investasi belum menghasilkan keuntungan maupun kerugian secara nominal.
3. ROI Negatif
ROI negatif berarti nilai akhir atau hasil yang diperoleh lebih rendah daripada biaya yang dikeluarkan.
Misalnya modal Rp10 juta menghasilkan nilai akhir Rp8 juta.
Kerugiannya Rp2 juta sehingga:
ROI = (-Rp2 juta ÷ Rp10 juta) × 100% = -20%
Manfaat ROI bagi Investor
1. Membandingkan Kinerja Investasi
ROI dapat membantu investor membandingkan hasil beberapa aset.
Namun, perbandingan sebaiknya menggunakan periode yang sama agar hasilnya lebih relevan.
2. Mengevaluasi Hasil terhadap Modal
Nominal keuntungan saja belum cukup untuk menggambarkan efektivitas investasi.
Keuntungan Rp10 juta dari modal Rp20 juta tentu berbeda dengan keuntungan Rp10 juta dari modal Rp200 juta.
ROI membantu menempatkan keuntungan tersebut dalam konteks modal yang digunakan.
3. Membantu Menentukan Pilihan Investasi
ROI dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketika mempertimbangkan beberapa pilihan.
Namun, investor tetap perlu melihat fundamental aset, potensi risiko, volatilitas, likuiditas, dan tujuan investasi.
4. Mengevaluasi Portofolio
Investor dapat mengevaluasi investasi yang sudah dimiliki dengan membandingkan hasil aktual terhadap modal.
Dari sana, investor dapat menentukan apakah strategi masih sesuai tujuan dan profil risiko.
Manfaat ROI bagi Bisnis
1. Menilai Efektivitas Pengeluaran
Bisnis dapat menggunakan ROI untuk mengevaluasi apakah suatu pengeluaran menghasilkan manfaat finansial yang cukup.
Contohnya kampanye iklan, sistem baru, atau pembelian alat produksi.
2. Membandingkan Proyek atau Program
Jika perusahaan memiliki dana terbatas, ROI dapat membantu membandingkan beberapa proyek.
Namun, keputusan akhir tetap perlu mempertimbangkan strategi bisnis dan risiko.
3. Mengevaluasi Pembelian Aset
Pembelian mesin atau teknologi baru dapat dievaluasi berdasarkan tambahan keuntungan atau efisiensi yang dihasilkan dibandingkan dengan biaya investasi.
4. Membantu Pengambilan Keputusan Bisnis
ROI memberikan ukuran kuantitatif yang dapat digunakan bersama indikator lain dalam pengambilan keputusan.
Dengan data yang lebih lengkap, manajemen dapat mengalokasikan modal ke aktivitas yang dianggap lebih efektif.
Faktor-faktor yang Memengaruhi ROI
1. Besarnya Modal Awal
Semakin besar modal yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat keuntungan tertentu, semakin rendah ROI jika faktor lain tetap sama.
2. Pendapatan atau Nilai Akhir
Kenaikan hasil investasi atau pendapatan proyek dapat meningkatkan keuntungan bersih dan ROI.
Namun, pastikan yang dihitung bukan sekadar omzet jika masih terdapat biaya yang perlu dikurangi.
3. Biaya Tambahan
Biaya transaksi, operasional, pemeliharaan, pemasaran, pajak, atau pengeluaran lain dapat menurunkan keuntungan bersih.
Jika biaya tersebut diabaikan, ROI dapat terlihat lebih tinggi daripada hasil sebenarnya.
4. Jangka Waktu
Dua investasi dapat memiliki ROI yang sama tetapi membutuhkan waktu yang berbeda.
Karena rumus ROI sederhana tidak otomatis memasukkan waktu, faktor ini perlu dianalisis secara terpisah.
5. Risiko
ROI tinggi dapat berasal dari investasi dengan risiko tinggi.
Karena itu, jangan membandingkan angka ROI tanpa mempertimbangkan kemungkinan kerugian.
6. Perubahan Kondisi Pasar
Harga bahan baku, suku bunga, permintaan konsumen, persaingan, maupun kondisi ekonomi dapat memengaruhi hasil aktual investasi atau bisnis.
ROI yang diproyeksikan sebelum proyek berjalan belum tentu sama dengan ROI yang terealisasi.
Perbedaan ROI dan Return
1. Return sebagai Hasil Investasi
Return secara umum merujuk pada hasil atau tingkat pengembalian dari suatu investasi.
Return dapat dihitung dengan berbagai pendekatan tergantung jenis instrumen, misalnya berdasarkan kenaikan harga, pendapatan, atau kombinasi keduanya.
2. ROI sebagai Perbandingan Hasil terhadap Modal
ROI merupakan salah satu cara untuk mengukur return dengan membandingkan keuntungan bersih terhadap modal yang digunakan.
Karena menggunakan rasio, ROI memudahkan perbandingan efisiensi modal.
3. Kapan Masing-Masing Digunakan?
Istilah return banyak digunakan ketika membahas hasil investasi secara umum.
Sementara ROI sering digunakan untuk mengevaluasi efisiensi penggunaan modal dalam investasi maupun bisnis.
Dalam praktiknya, istilah keduanya terkadang digunakan secara berdekatan sehingga penting memahami rumus yang digunakan dalam suatu analisis.
Perbedaan ROI dan ROE
1. ROI Mengukur Pengembalian terhadap Investasi
ROI mengukur keuntungan dibandingkan dengan modal atau biaya investasi yang dikeluarkan.
Penggunaannya cukup luas dan dapat diterapkan pada proyek, investasi, maupun aktivitas bisnis tertentu.
2. ROE Mengukur Pengembalian terhadap Ekuitas
Return on Equity atau ROE merupakan rasio yang mengukur laba bersih dibandingkan dengan ekuitas.
Secara sederhana:
ROE = (Laba Bersih ÷ Ekuitas) × 100%
ROE banyak digunakan dalam analisis perusahaan untuk melihat kemampuan menghasilkan laba dari modal pemegang saham.
3. Penggunaan ROI dan ROE dalam Analisis
ROI lebih fleksibel digunakan untuk mengevaluasi proyek atau investasi tertentu.
Sementara ROE lebih spesifik digunakan untuk mengevaluasi tingkat pengembalian perusahaan terhadap ekuitas pemegang saham.
Keduanya dapat memberikan informasi berbeda dan tidak sebaiknya dianggap sebagai indikator yang sama.
Perbedaan ROI dan Payback Period
ROI dan payback period sama-sama dapat digunakan untuk mengevaluasi investasi, tetapi fokus keduanya berbeda.
1. ROI Berfokus pada Tingkat Pengembalian
ROI menunjukkan seberapa besar keuntungan dibandingkan dengan modal yang digunakan.
Hasilnya biasanya dinyatakan dalam persentase.
2. Payback Period Berfokus pada Waktu Pengembalian Modal
Payback period mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan agar arus kas yang diperoleh dapat menutup modal awal.
Contohnya, investasi Rp100 juta yang menghasilkan arus kas bersih Rp25 juta per tahun memiliki payback period sederhana sekitar empat tahun, dengan asumsi arus kas relatif tetap.
3. ROI dan Payback Period Bisa Digunakan Bersamaan
Sebuah investasi dapat memiliki ROI tinggi tetapi membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan modal.
Karena itu, menggunakan kedua indikator dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan hanya melihat satu angka.
Keterbatasan ROI
1. Tidak Selalu Memperhitungkan Jangka Waktu
Rumus ROI dasar tidak secara otomatis menunjukkan berapa lama keuntungan diperoleh.
ROI 30% selama satu tahun tentu berbeda dengan ROI 30% selama sepuluh tahun.
2. Tidak Menggambarkan Risiko secara Langsung
ROI tidak memberi tahu seberapa besar kemungkinan investasi mengalami kerugian.
Dua investasi dengan potensi ROI 20% dapat memiliki tingkat risiko yang sangat berbeda.
3. Hasil Bergantung pada Komponen Biaya yang Digunakan
Jika sebagian biaya tidak dimasukkan dalam perhitungan, ROI dapat terlihat lebih tinggi.
Karena itu, tentukan sejak awal komponen apa saja yang dianggap sebagai modal dan keuntungan.
4. Tidak Sebaiknya Digunakan sebagai Satu-satunya Indikator
ROI hanya memberikan satu sudut pandang.
Dalam keputusan investasi atau bisnis, Anda juga dapat mempertimbangkan:
- risiko;
- jangka waktu;
- likuiditas;
- arus kas;
- payback period;
- kondisi pasar; dan
- tujuan keuangan.
Cara Menggunakan ROI untuk Membandingkan Pilihan Investasi
1. Gunakan Periode yang Sama
Bandingkan ROI dalam jangka waktu yang setara.
Jangan langsung membandingkan ROI satu tahun dengan ROI lima tahun karena hasilnya dapat menyesatkan.
2. Hitung Semua Biaya yang Relevan
Pastikan biaya transaksi, pajak, operasional, atau biaya lainnya dimasukkan secara konsisten.
Perhitungan yang tidak konsisten membuat perbandingan menjadi kurang akurat.
3. Bandingkan Tingkat Risiko
Investasi dengan ROI lebih tinggi belum tentu lebih baik jika risiko kehilangan modal juga jauh lebih besar.
Sesuaikan dengan toleransi risiko Anda.
4. Pertimbangkan Likuiditas
Likuiditas menunjukkan seberapa mudah aset dapat dicairkan menjadi uang.
Aset dengan ROI tinggi tetapi sulit dijual mungkin kurang sesuai apabila Anda membutuhkan dana dalam waktu dekat.
5. Sesuaikan dengan Tujuan Keuangan
Investasi sebaiknya dipilih berdasarkan tujuan, bukan hanya angka ROI.
Dana untuk kebutuhan satu tahun ke depan memerlukan pendekatan berbeda dengan dana untuk pensiun 20 tahun mendatang.
Gunakan ROI sebagai Salah Satu Dasar dalam Mengambil Keputusan
ROI adalah salah satu indikator yang membantu mengukur efektivitas penggunaan modal dengan membandingkan keuntungan bersih terhadap biaya investasi.
Rumus sederhananya adalah:
ROI = (Keuntungan Bersih ÷ Modal) × 100%
Semakin tinggi ROI, semakin besar tingkat keuntungan relatif terhadap modal berdasarkan komponen yang digunakan dalam perhitungan.
Namun, angka yang tinggi tidak otomatis menunjukkan bahwa suatu investasi merupakan pilihan terbaik.
Periksa berapa lama ROI tersebut diperoleh, risiko yang harus ditanggung, kemudahan mencairkan aset, serta seluruh biaya yang terkait.
Dalam bisnis, ROI dapat membantu mengevaluasi kampanye pemasaran, pembelian aset, ekspansi, atau proyek tertentu. Sementara investor dapat menggunakannya sebagai salah satu alat untuk membandingkan kinerja beberapa pilihan investasi.
Gunakan metode perhitungan yang konsisten ketika melakukan perbandingan dan hindari mengandalkan ROI sebagai satu-satunya indikator.
Dengan menggabungkan ROI dengan analisis risiko, jangka waktu, likuiditas, arus kas, serta tujuan keuangan, keputusan dapat dibuat dengan pertimbangan yang lebih lengkap.
Sebelum menggunakan ROI sebagai dasar untuk menambah investasi atau mengembangkan bisnis, pastikan kebutuhan rutin, dana darurat, dan dana jangka pendek tetap memiliki porsi yang memadai. Anda dapat memanfaatkan Tabungan Bank Mega untuk membantu memisahkan dana yang perlu dijaga likuiditasnya dari dana yang memang disiapkan untuk investasi atau kebutuhan usaha. Dengan pengelolaan dana yang lebih terstruktur, keputusan berdasarkan perhitungan ROI dapat dilakukan secara lebih terencana tanpa mengganggu kebutuhan keuangan utama.
Baca Juga: Pilihan Investasi agar Lifestyle Jalan, Uang Tetap Tumbuh
FAQ Seputar ROI
1. ROI adalah apa?
ROI adalah singkatan dari Return on Investment, yaitu rasio yang membandingkan keuntungan bersih dengan modal atau biaya investasi yang dikeluarkan. Hasil ROI biasanya dinyatakan dalam persentase.
2. Apa rumus ROI?
Rumus dasar ROI adalah (Keuntungan Bersih ÷ Modal atau Biaya Investasi) × 100%. Keuntungan bersih dihitung setelah memperhitungkan biaya yang relevan dengan investasi atau proyek tersebut.
3. Bagaimana cara menghitung ROI?
Tentukan total modal, hitung nilai akhir atau pendapatan yang diperoleh, kemudian kurangi dengan biaya untuk mendapatkan keuntungan bersih. Setelah itu, bagi keuntungan bersih dengan modal dan kalikan 100%.
4. Apa arti ROI positif?
ROI positif menunjukkan bahwa berdasarkan komponen yang digunakan dalam perhitungan, hasil investasi lebih tinggi daripada modal atau biaya yang dikeluarkan. Namun, hasil tersebut tetap perlu dilihat bersama jangka waktu dan risikonya.
5. Apakah ROI tinggi selalu bagus?
Tidak selalu. ROI tinggi dapat disertai risiko tinggi, periode investasi panjang, atau likuiditas rendah. Karena itu, jangan hanya menggunakan nilai ROI ketika membandingkan pilihan investasi.
6. Apa perbedaan ROI dan return?
Return merupakan istilah umum untuk hasil atau pengembalian investasi. ROI merupakan salah satu cara mengukur pengembalian dengan membandingkan keuntungan bersih terhadap modal yang dikeluarkan.
7. Apa perbedaan ROI dan ROE?
ROI membandingkan keuntungan dengan modal atau biaya investasi, sedangkan ROE membandingkan laba bersih perusahaan dengan ekuitas pemegang saham. ROI memiliki penggunaan lebih luas, sementara ROE lebih banyak digunakan dalam analisis perusahaan.
8. Apa kekurangan menggunakan ROI?
ROI sederhana tidak secara langsung memperhitungkan jangka waktu, risiko, dan likuiditas. Hasilnya juga dapat berbeda tergantung komponen biaya yang dimasukkan. Karena itu, ROI sebaiknya digunakan bersama indikator dan analisis lainnya.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
