Membeli saham berarti menempatkan dana pada sebuah perusahaan dengan harapan memperoleh potensi keuntungan dari pertumbuhan harga saham maupun pembagian dividen. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada saham yang sedang naik, ramai dibicarakan, atau direkomendasikan orang lain. Investor juga perlu memahami kualitas emiten di balik saham tersebut.
Emiten dengan bisnis yang sehat, kemampuan menghasilkan laba dan arus kas yang baik, tingkat utang terkelola, serta tata kelola yang transparan umumnya memiliki fondasi yang lebih kuat. Namun, perusahaan yang bagus belum tentu menjadi investasi yang menarik jika sahamnya dibeli pada valuasi yang terlalu tinggi.
Sebaliknya, saham dengan valuasi terlihat murah belum tentu menarik apabila bisnisnya terus memburuk. Itulah sebabnya pemilihan emiten perlu menggabungkan analisis bisnis, laporan keuangan, manajemen, prospek industri, risiko, serta valuasi.
Berikut beberapa hal yang dapat dipelajari sebelum menentukan emiten yang sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko Anda.
Daftar Isi
- Pengertian Emiten
- Pentingnya Memilih Emiten sebelum Membeli Saham
- Kenali Bisnis Utama Emiten
- Periksa Pertumbuhan Pendapatan dan Laba
- Cek Kondisi Arus Kas Emiten
- Perhatikan Tingkat Utang Emiten
- Nilai Profitabilitas Emiten
- Periksa Kualitas Manajemen dan Tata Kelola Perusahaan
- Pahami Prospek Industri Tempat Emiten Beroperasi
- Periksa Keunggulan Kompetitif Emiten
- Cek Valuasi sebelum Membeli Saham Emiten
- Perhatikan Kebijakan Dividen Emiten
- Cek Risiko Utama Emiten
- Baca Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan Emiten
- Di Mana Bisa Melihat Informasi Resmi Emiten?
- Bandingkan Emiten dengan Perusahaan Sejenis
- Emiten yang Perlu Diwaspadai
- Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Memilih Emiten
- Pilih Emiten Sesuai Tujuan dan Profil Risiko Anda
- FAQ Seputar Emiten
Pengertian Emiten
Emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum efek kepada masyarakat. Dalam pembahasan investasi saham, istilah emiten umumnya merujuk pada perusahaan yang menerbitkan saham dan sahamnya dapat diperdagangkan oleh investor sesuai mekanisme pasar modal.
Ketika membeli saham sebuah emiten, investor pada dasarnya memperoleh bagian kepemilikan pada perusahaan tersebut sesuai jumlah saham yang dimiliki.
Karena itu, membeli saham berbeda dengan sekadar membeli kode saham yang harganya bergerak setiap hari. Di balik kode tersebut terdapat perusahaan dengan:
- produk dan layanan;
- pelanggan;
- karyawan;
- aset;
- utang;
- pendapatan;
- laba atau kerugian;
- strategi bisnis; dan
- berbagai risiko.
Semakin baik investor memahami bisnis tersebut, semakin kuat dasar yang dapat digunakan untuk membuat keputusan investasi.
Pentingnya Memilih Emiten sebelum Membeli Saham
Harga saham dapat berubah setiap hari karena interaksi antara permintaan dan penawaran. Dalam jangka pendek, pergerakannya juga dapat dipengaruhi sentimen pasar, berita, kondisi ekonomi, hingga tindakan investor besar.
Namun, dalam jangka panjang, kemampuan perusahaan menghasilkan laba, kas, dan nilai ekonomi tetap menjadi salah satu faktor yang penting diperhatikan.
Memilih emiten sebelum membeli saham dapat membantu investor:
- memahami sumber keuntungan perusahaan;
- menilai kesehatan keuangannya;
- mengetahui kemampuan perusahaan menghadapi utang;
- mengenali risiko utama;
- membandingkan perusahaan dengan kompetitor;
- menilai apakah harga saham relatif masuk akal; dan
- menghindari keputusan hanya berdasarkan FOMO.
Emiten yang memiliki kinerja baik tetap dapat mengalami penurunan harga saham. Investasi saham tidak memberikan jaminan keuntungan. Namun, analisis fundamental dapat membantu investor membuat keputusan berdasarkan informasi yang lebih memadai.
Kenali Bisnis Utama Emiten
1. Pahami Produk atau Layanan yang Dijual
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah memahami apa yang sebenarnya dijual oleh perusahaan.
Tanyakan:
- Apa produk atau jasa utamanya?
- Siapa pelanggannya?
- Mengapa pelanggan membeli produk tersebut?
- Apakah permintaannya bersifat rutin atau siklus?
- Apa yang membedakannya dari kompetitor?
Semakin Anda memahami bagaimana sebuah perusahaan menghasilkan uang, semakin mudah menilai berbagai informasi keuangannya.
2. Lihat Sumber Pendapatan Utama
Jangan hanya melihat total pendapatan. Periksa dari mana pendapatan tersebut berasal.
Sebuah emiten dapat memiliki beberapa segmen bisnis, tetapi sebagian besar pendapatannya mungkin berasal dari satu produk atau wilayah tertentu.
Ketergantungan yang terlalu besar pada satu sumber pendapatan dapat meningkatkan risiko apabila permintaan terhadap produk tersebut menurun.
3. Perhatikan Posisi Emiten di Industrinya
Pelajari posisi perusahaan dibandingkan kompetitornya.
Beberapa indikator yang dapat diperhatikan meliputi:
- pangsa pasar;
- kekuatan merek;
- jumlah pelanggan;
- jaringan distribusi;
- kapasitas produksi;
- efisiensi biaya; dan
- kemampuan inovasi.
Perusahaan dengan posisi kompetitif yang kuat dapat memiliki kemampuan lebih baik untuk mempertahankan pelanggan dan profitabilitas.
4. Nilai Apakah Model Bisnisnya Mudah Dipahami
Investor tidak harus memilih bisnis yang sederhana, tetapi sebaiknya memahami bagaimana perusahaan menghasilkan pendapatan dan laba sebelum membeli sahamnya.
Jika model bisnis terlalu kompleks untuk Anda pahami, pelajari lebih dahulu sebelum memutuskan berinvestasi.
Periksa Pertumbuhan Pendapatan dan Laba
1. Lihat Tren Pendapatan Beberapa Tahun Terakhir
Pendapatan menunjukkan nilai penjualan atau penghasilan perusahaan dari aktivitas bisnisnya.
Periksa pertumbuhan selama beberapa tahun, bukan hanya satu kuartal.
Tren pendapatan yang meningkat dapat menunjukkan pertumbuhan bisnis. Namun, cari tahu pula faktor pendorongnya, misalnya:
- kenaikan volume penjualan;
- kenaikan harga;
- pembukaan cabang;
- akuisisi;
- ekspansi pasar; atau
- perubahan harga komoditas.
2. Perhatikan Pertumbuhan Laba Bersih
Pendapatan tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan tinggi.
Investor juga perlu memeriksa laba bersih. Jika penjualan bertumbuh tetapi biaya meningkat lebih cepat, laba dapat stagnan atau menurun.
Pertumbuhan laba yang sehat umumnya lebih menarik apabila berasal dari perkembangan bisnis inti, bukan keuntungan satu kali.
3. Cermati Konsistensi Kinerja, Bukan Hanya Satu Periode
Satu tahun laba tinggi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kinerja emiten sudah sangat baik.
Lihat laporan beberapa tahun agar dapat membedakan antara:
- pertumbuhan yang konsisten;
- pemulihan setelah periode buruk;
- lonjakan sementara; dan
- penurunan struktural.
Untuk perusahaan yang bersifat siklikal seperti komoditas, kinerja juga perlu dibaca dalam satu siklus bisnis yang lebih panjang.
4. Waspadai Pertumbuhan yang Tidak Berkelanjutan
Laba dapat meningkat karena faktor yang tidak berulang, misalnya penjualan aset atau keuntungan dari transaksi tertentu.
Jika keuntungan tersebut tidak berasal dari aktivitas utama perusahaan, jangan langsung mengasumsikan laba pada tahun berikutnya akan sama.
Cek Kondisi Arus Kas Emiten
1. Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Arus kas operasi menunjukkan kas yang dihasilkan atau digunakan dari aktivitas utama perusahaan.
Perusahaan yang konsisten menghasilkan arus kas operasi positif biasanya memiliki kemampuan lebih baik untuk membiayai kegiatan bisnis dari operasinya sendiri.
Namun, analisis tetap perlu disesuaikan dengan karakter industri dan tahap pertumbuhan perusahaan.
2. Arus Kas untuk Investasi
Arus kas investasi dapat menunjukkan penggunaan dana untuk membeli aset tetap, pembangunan pabrik, investasi pada perusahaan lain, maupun penjualan aset.
Arus kas investasi negatif tidak otomatis buruk. Bisa saja perusahaan sedang melakukan ekspansi produktif.
Yang perlu dianalisis adalah apakah investasi tersebut berpotensi menghasilkan pertumbuhan di masa depan.
3. Arus Kas dari Pendanaan
Bagian pendanaan menunjukkan aktivitas terkait utang dan modal, misalnya:
- penerbitan utang;
- pelunasan pinjaman;
- penerbitan saham;
- pembelian kembali saham; atau
- pembayaran dividen.
Jika perusahaan terus bergantung pada utang atau tambahan modal untuk menutup kebutuhan operasional, investor perlu memahami alasannya.
4. Kenapa Laba Positif Belum Tentu Berarti Cash Flow Sehat
Laba merupakan angka akuntansi, sedangkan arus kas mencerminkan pergerakan kas aktual.
Perusahaan bisa mencatat laba tetapi belum menerima kas dari pelanggan karena sebagian besar penjualan masih berupa piutang.
Contohnya, laba terus meningkat tetapi arus kas operasi negatif selama beberapa periode. Kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk memeriksa:
- pertumbuhan piutang;
- persediaan;
- kualitas pendapatan;
- struktur pembayaran pelanggan; dan
- catatan laporan keuangan.
Perhatikan Tingkat Utang Emiten
1. Bandingkan Utang dengan Ekuitas
Salah satu rasio yang sering digunakan adalah Debt to Equity Ratio atau DER.
Secara sederhana:
DER = Total Utang ÷ Ekuitas
DER dapat membantu menggambarkan besarnya kewajiban dibandingkan modal pemegang saham.
Namun, angka DER yang dianggap wajar berbeda untuk setiap industri.
2. Perhatikan Kemampuan Membayar Bunga
Tidak cukup hanya melihat jumlah utang. Investor juga perlu mengetahui apakah laba operasional cukup untuk membayar beban bunga.
Perusahaan dengan utang besar tetapi arus kas kuat mungkin masih mampu memenuhi kewajibannya dengan baik.
Sebaliknya, utang yang lebih kecil dapat menjadi masalah apabila bisnis menghasilkan kas yang tidak stabil.
3. Cermati Jatuh Tempo Utang
Lihat kapan pinjaman harus dilunasi.
Jika terdapat utang besar yang jatuh tempo dalam waktu dekat sementara kas perusahaan terbatas, emiten dapat membutuhkan refinancing, penerbitan utang baru, atau sumber dana lainnya.
4. Sesuaikan Analisis dengan Karakter Industri
Jangan membandingkan tingkat utang perusahaan dari industri yang sangat berbeda secara langsung.
Perusahaan utilitas, properti, perbankan, manufaktur, dan teknologi memiliki struktur modal serta kebutuhan pendanaan yang berbeda.
Bandingkan rasio utang terutama dengan perusahaan yang memiliki karakter bisnis serupa.
Nilai Profitabilitas Emiten
1. Net Profit Margin
Net Profit Margin atau NPM mengukur laba bersih dibandingkan pendapatan.
Rumus sederhananya:
NPM = Laba Bersih ÷ Pendapatan × 100%
Margin yang meningkat dapat menunjukkan peningkatan efisiensi, kenaikan harga, atau perubahan komposisi produk.
2. Return on Equity
Return on Equity atau ROE mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan ekuitas pemegang saham.
Secara sederhana:
ROE = Laba Bersih ÷ Rata-rata Ekuitas × 100%
ROE tinggi dapat menarik, tetapi investor perlu memastikan angka tersebut tidak semata-mata terdorong oleh penggunaan utang yang sangat tinggi.
3. Return on Assets
Return on Assets atau ROA menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan menggunakan aset yang dimilikinya.
Rumus sederhananya:
ROA = Laba Bersih ÷ Rata-rata Total Aset × 100%
Rasio ini berguna ketika membandingkan efisiensi penggunaan aset antara perusahaan sejenis.
4. Bandingkan dengan Emiten Sejenis
Margin 10% dapat tergolong tinggi pada satu industri dan rendah pada industri lain.
Karena itu, rasio profitabilitas sebaiknya dibandingkan dengan:
- riwayat emiten sendiri;
- kompetitor langsung; dan
- rata-rata industri apabila tersedia.
Periksa Kualitas Manajemen dan Tata Kelola Perusahaan
1. Rekam Jejak Direksi dan Komisaris
Direksi bertanggung jawab menjalankan perusahaan, sedangkan komisaris memiliki fungsi pengawasan sesuai struktur tata kelola perusahaan.
Investor dapat mempelajari pengalaman, rekam jejak, strategi, dan konsistensi manajemen dalam menjalankan rencana bisnis.
2. Transparansi Laporan dan Keterbukaan Informasi
Emiten yang baik seharusnya memberikan informasi material kepada publik sesuai kewajibannya.
Investor dapat memperhatikan apakah perusahaan memberikan penjelasan yang cukup mengenai:
- kinerja;
- risiko;
- aksi korporasi;
- perubahan manajemen;
- transaksi material; dan
- perkembangan bisnis.
3. Transaksi dengan Pihak Terafiliasi
Transaksi dengan pihak terafiliasi tidak otomatis bermasalah. Namun, investor perlu memahami tujuan dan dampaknya bagi perusahaan.
Perhatikan apakah transaksi dilakukan secara wajar serta apakah informasi yang diperlukan telah diungkapkan.
4. Riwayat Permasalahan Tata Kelola
Riwayat persoalan hukum, keterlambatan laporan, konflik kepentingan, pelanggaran regulasi, atau masalah tata kelola lain dapat menjadi bahan pertimbangan.
Jangan hanya berfokus pada angka laba karena kualitas manajemen juga berpengaruh terhadap keberlanjutan bisnis.
Pahami Prospek Industri Tempat Emiten Beroperasi
1. Pertumbuhan Industri
Perusahaan yang bagus tetap dapat menghadapi tantangan jika industrinya mengalami penurunan struktural.
Pelajari apakah permintaan industri berpotensi bertumbuh, stabil, atau menurun dalam jangka panjang.
2. Tingkat Persaingan
Persaingan tinggi dapat menekan harga jual dan margin perusahaan.
Perhatikan jumlah kompetitor, kekuatan pemain baru, perang harga, serta biaya yang diperlukan untuk mempertahankan pelanggan.
3. Perubahan Regulasi
Regulasi dapat berdampak besar pada sektor tertentu seperti keuangan, pertambangan, energi, telekomunikasi, kesehatan, maupun teknologi.
Investor perlu memahami apakah terdapat kebijakan yang dapat memengaruhi biaya, harga jual, permintaan, atau kemampuan perusahaan beroperasi.
4. Risiko Teknologi dan Perubahan Perilaku Konsumen
Teknologi dapat mengubah industri dengan cepat.
Perusahaan yang dahulu dominan dapat kehilangan pasar jika gagal beradaptasi terhadap perubahan perilaku pelanggan atau teknologi baru.
Periksa Keunggulan Kompetitif Emiten
1. Kekuatan Merek
Merek yang kuat dapat membantu perusahaan mempertahankan pelanggan dan dalam beberapa kasus memberikan kemampuan menetapkan harga yang lebih baik.
Namun, kekuatan merek tetap perlu dibuktikan melalui kinerja, bukan hanya popularitas.
2. Pangsa Pasar
Pangsa pasar yang besar dapat memberikan keuntungan skala, distribusi, maupun akses pelanggan.
Periksa pula apakah pangsa pasar tersebut stabil atau justru terus menurun.
3. Efisiensi Biaya
Perusahaan dengan biaya produksi atau distribusi lebih rendah dapat memiliki margin yang lebih baik dan lebih tahan menghadapi persaingan harga.
4. Jaringan Distribusi
Jaringan luas dapat menjadi keunggulan karena produk lebih mudah dijangkau pelanggan.
Keunggulan ini penting terutama pada industri barang konsumsi, ritel, logistik, dan distribusi.
5. Hambatan bagi Kompetitor Baru
Beberapa bisnis memiliki hambatan masuk tinggi karena membutuhkan:
- modal besar;
- lisensi tertentu;
- teknologi khusus;
- jaringan distribusi luas;
- skala ekonomi; atau
- kepercayaan pelanggan.
Hambatan masuk yang kuat dapat membantu perusahaan mempertahankan posisi kompetitifnya.
Cek Valuasi sebelum Membeli Saham Emiten
1. Price to Earnings Ratio atau PER
Price to Earnings Ratio atau PER membandingkan harga saham dengan laba per saham.
Secara sederhana:
PER = Harga Saham ÷ Earnings per Share
PER tinggi dapat mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang tinggi, tetapi juga dapat berarti harga saham relatif mahal.
PER rendah tidak otomatis berarti murah karena laba perusahaan bisa saja sedang berada pada puncak siklus atau prospeknya memburuk.
2. Price to Book Value atau PBV
Price to Book Value atau PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham.
Rasio ini sering digunakan pada industri yang nilai aset dan ekuitasnya relevan untuk dianalisis.
Namun, PBV juga tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator.
3. Enterprise Value dan Rasio Lain yang Relevan
Investor juga dapat menggunakan ukuran seperti:
- EV/EBITDA;
- Price to Sales;
- Free Cash Flow Yield; atau
- rasio lain yang sesuai dengan karakter perusahaan.
Setiap industri dapat membutuhkan pendekatan valuasi berbeda.
4. Bandingkan Valuasi dengan Emiten Sejenis
Jika dua perusahaan memiliki bisnis serupa tetapi valuasinya sangat berbeda, cari tahu alasannya.
Perusahaan dengan pertumbuhan, margin, manajemen, atau kualitas neraca lebih baik memang dapat diperdagangkan pada valuasi lebih tinggi.
5. Bandingkan dengan Riwayat Valuasi Emiten
Selain membandingkan dengan kompetitor, lihat pula riwayat valuasinya.
Jika PER biasanya berada di kisaran 10–15 kali kemudian meningkat menjadi 30 kali, investor perlu menilai apakah prospek pertumbuhannya memang berubah secara signifikan.
Perhatikan Kebijakan Dividen Emiten
1. Riwayat Pembayaran Dividen
Bagi investor yang mencari pendapatan dividen, lihat riwayat pembagian selama beberapa tahun.
Perhatikan apakah perusahaan:
- rutin membayar dividen;
- meningkatkan dividen;
- sering mengubah nominal; atau
- pernah tidak membagikan dividen.
2. Dividend Payout Ratio
Dividend Payout Ratio menunjukkan bagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen.
Payout ratio yang terlalu tinggi perlu dianalisis lebih lanjut jika perusahaan masih membutuhkan dana besar untuk ekspansi maupun membayar utang.
3. Dividend Yield
Dividend yield membandingkan dividen per saham dengan harga saham.
Rumusnya:
Dividend Yield = Dividen per Saham ÷ Harga Saham × 100%
Yield tinggi tidak otomatis berarti saham lebih bagus. Yield dapat meningkat hanya karena harga saham turun.
4. Apakah Dividen Didukung Kinerja Keuangan yang Sehat?
Dividen yang berkelanjutan idealnya didukung laba dan arus kas yang memadai.
Jika perusahaan mempertahankan dividen tinggi sementara laba terus turun dan utang meningkat, investor perlu mempertanyakan keberlanjutannya.
Cek Risiko Utama Emiten
1. Risiko Bisnis
Risiko bisnis dapat berupa:
- penurunan permintaan;
- kompetitor baru;
- perubahan teknologi;
- kenaikan biaya bahan baku; atau
- kehilangan pelanggan.
2. Risiko Keuangan
Risiko keuangan dapat berasal dari utang tinggi, arus kas lemah, kebutuhan refinancing, atau tekanan likuiditas.
3. Risiko Regulasi
Perubahan kebijakan pemerintah maupun regulator dapat memengaruhi izin, biaya, tarif, produk, maupun operasional perusahaan.
4. Risiko Ketergantungan pada Pelanggan atau Produk Tertentu
Jika sebagian besar pendapatan berasal dari satu pelanggan, hilangnya pelanggan tersebut dapat berdampak besar.
Hal yang sama berlaku jika perusahaan sangat bergantung pada satu produk.
5. Risiko Perubahan Harga Komoditas atau Nilai Tukar jika Relevan
Emiten tertentu memiliki pendapatan atau biaya yang sangat dipengaruhi harga komoditas dan mata uang asing.
Contohnya, perusahaan dapat memperoleh pendapatan dalam dolar AS tetapi memiliki sebagian biaya dalam Rupiah, atau sebaliknya.
Pahami bagaimana perubahan nilai tukar dan harga komoditas memengaruhi marginnya.
Baca Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan Emiten
1. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi membantu melihat:
- pendapatan;
- beban pokok;
- laba kotor;
- beban operasional;
- laba usaha; dan
- laba bersih.
Bandingkan angka beberapa periode untuk mengetahui tren bisnis.
2. Neraca
Neraca menunjukkan posisi:
- aset;
- liabilitas; dan
- ekuitas.
Dari laporan ini, investor dapat melihat kas, piutang, persediaan, aset tetap, utang, serta modal perusahaan.
3. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas membantu memahami pergerakan kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
Bagian ini penting untuk mengecek kualitas laba dan kemampuan perusahaan menghasilkan kas.
4. Catatan atas Laporan Keuangan
Jangan berhenti pada angka utama.
Catatan atas laporan keuangan dapat berisi informasi penting mengenai:
- rincian utang;
- piutang;
- transaksi pihak berelasi;
- komitmen;
- kontinjensi;
- kebijakan akuntansi; dan
- informasi material lainnya.
5. Laporan Tahunan dan Paparan Publik
Laporan tahunan memberikan konteks lebih luas mengenai bisnis, strategi, manajemen, risiko, serta kinerja perusahaan.
Paparan publik dan presentasi investor juga dapat membantu memahami rencana perusahaan serta penjelasan manajemen terhadap perkembangan terbaru.
Di Mana Bisa Melihat Informasi Resmi Emiten?
1. Website Bursa Efek Indonesia
Website Bursa Efek Indonesia dapat digunakan untuk mencari informasi mengenai perusahaan tercatat, laporan keuangan, keterbukaan informasi, pengumuman, dan berbagai data terkait pasar modal.
Gunakan sumber resmi terutama ketika informasi dapat memengaruhi keputusan investasi.
2. Website Resmi Emiten
Banyak perusahaan menyediakan menu Investor Relations pada website resminya.
Di bagian tersebut biasanya tersedia:
- laporan tahunan;
- laporan keuangan;
- presentasi investor;
- informasi dividen;
- aksi korporasi; dan
- informasi pemegang saham.
3. Laporan Keuangan dan Keterbukaan Informasi
Keterbukaan informasi penting untuk mengetahui perkembangan material yang mungkin belum terlihat pada laporan keuangan terakhir.
Contohnya adalah transaksi material, perubahan pengurus, rencana ekspansi, atau aksi korporasi.
4. Paparan Publik dan Presentasi Investor
Materi paparan publik dapat membantu investor memahami bagaimana manajemen menjelaskan kondisi bisnis, tantangan, peluang, serta rencana perusahaan.
Namun, tetap kombinasikan pernyataan manajemen dengan data keuangan aktual.
Bandingkan Emiten dengan Perusahaan Sejenis
1. Pertumbuhan Pendapatan dan Laba
Bandingkan pertumbuhan beberapa perusahaan yang beroperasi pada industri serupa.
Jika satu emiten konsisten bertumbuh lebih tinggi, cari tahu apakah keunggulannya berasal dari pangsa pasar, produk, efisiensi, atau faktor lain.
2. Profitabilitas
Bandingkan margin laba, ROE, ROA, atau indikator profitabilitas yang relevan.
Perusahaan dengan margin lebih tinggi dapat memiliki keunggulan biaya maupun kemampuan menetapkan harga yang lebih baik.
3. Tingkat Utang
Bandingkan leverage perusahaan dalam konteks bisnis yang serupa.
Jika sebuah emiten memiliki utang jauh lebih tinggi daripada kompetitor, pahami apakah utang tersebut menghasilkan pertumbuhan yang sepadan.
4. Valuasi
Perusahaan dengan kualitas fundamental lebih baik dapat memiliki valuasi lebih tinggi.
Namun, investor tetap perlu menilai apakah premi valuasi tersebut masih masuk akal.
5. Prospek Bisnis
Terakhir, bandingkan prospek pertumbuhan, strategi, produk baru, ekspansi, dan risiko masing-masing perusahaan.
Analisis relatif dapat membantu melihat emiten mana yang memiliki kombinasi kualitas dan valuasi lebih menarik.
Emiten yang Perlu Diwaspadai
1. Laba Naik tetapi Arus Kas Operasi Lemah
Jika laba terus meningkat sementara arus kas operasi konsisten lemah, investor perlu memeriksa kualitas pendapatannya.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan peningkatan piutang, persediaan, atau faktor lainnya.
2. Utang Bertambah Terlalu Cepat
Utang dapat digunakan untuk ekspansi produktif. Namun, pertumbuhan utang yang jauh lebih cepat daripada laba dan arus kas dapat meningkatkan risiko keuangan.
3. Sering Melakukan Aksi Korporasi tanpa Hasil yang Jelas
Aksi korporasi seperti penerbitan saham baru, akuisisi, atau ekspansi tidak otomatis buruk.
Namun, investor perlu mengevaluasi apakah tindakan tersebut benar-benar menghasilkan peningkatan kinerja dan nilai bagi perusahaan.
4. Keterbukaan Informasi Kurang Transparan
Jika investor kesulitan memperoleh penjelasan mengenai transaksi material, struktur bisnis, atau perkembangan penting, tingkat kehati-hatian perlu ditingkatkan.
5. Ketergantungan pada Satu Sumber Pendapatan
Ketergantungan tinggi terhadap satu produk, pelanggan, wilayah, maupun komoditas dapat memperbesar risiko apabila kondisi berubah.
6. Kinerja Terus Menurun tanpa Rencana Perbaikan yang Jelas
Penurunan kinerja satu atau dua periode belum tentu menunjukkan bisnis bermasalah permanen.
Namun, jika pendapatan, margin, dan arus kas terus menurun tanpa strategi pemulihan yang dapat dipahami, investor perlu mempertimbangkan risikonya dengan lebih serius.
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Memilih Emiten
1. Membeli Hanya karena Harga Saham Naik
Kenaikan harga tidak membuktikan bahwa fundamental perusahaan membaik.
Saham dapat naik karena sentimen jangka pendek, spekulasi, atau perubahan permintaan pasar.
2. Mengikuti Rekomendasi tanpa Analisis
Rekomendasi dari analis, komunitas, teman, maupun media dapat digunakan sebagai sumber ide, tetapi sebaiknya bukan satu-satunya alasan membeli saham.
Lakukan analisis sendiri agar memahami alasan memiliki saham tersebut.
3. Hanya Melihat PER atau PBV
PER rendah atau PBV rendah tidak otomatis berarti murah.
Valuasi perlu dibaca bersama pertumbuhan, profitabilitas, utang, arus kas, kualitas bisnis, dan prospek perusahaan.
4. Mengabaikan Utang dan Arus Kas
Laba tinggi dapat terlihat menarik, tetapi perusahaan tetap dapat mengalami masalah jika kas tidak mencukupi atau utang terlalu besar.
Karena itu, periksa laporan arus kas dan neraca selain laporan laba rugi.
5. Terlalu Fokus pada Dividen
Dividend yield tinggi dapat terlihat menarik, tetapi tidak berarti fundamental perusahaan otomatis sehat.
Yield juga dapat meningkat akibat harga saham turun tajam.
6. Membeli karena FOMO
Fear of missing out dapat membuat investor membeli setelah harga naik tinggi tanpa memahami valuasi dan fundamentalnya.
Jika belum memahami alasan membeli suatu saham, tidak ada keharusan untuk segera masuk hanya karena saham tersebut sedang populer.
Pilih Emiten Sesuai Tujuan dan Profil Risiko Anda
Tidak terdapat satu emiten yang otomatis menjadi pilihan terbaik bagi seluruh investor.
Investor yang mencari pertumbuhan dapat memiliki kriteria berbeda dengan investor yang memprioritaskan pendapatan dividen. Investor dengan toleransi risiko tinggi juga dapat mengambil keputusan berbeda dibandingkan investor yang lebih konservatif.
Sebelum membeli saham, Anda dapat menggunakan checklist sederhana berikut:
- Apakah saya memahami bisnisnya?
- Apakah pendapatan dan laba memiliki tren yang sehat?
- Apakah arus kas operasi mendukung kinerja?
- Apakah utang masih dapat dikelola?
- Apakah profitabilitas cukup baik dibandingkan kompetitor?
- Apakah tata kelola dan keterbukaan informasinya memadai?
- Apakah perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif?
- Bagaimana prospek industrinya?
- Apa risiko utama perusahaan?
- Apakah valuasi saham masih masuk akal?
Jangan hanya mencari emiten dengan laba terbesar, dividend yield tertinggi, atau PER terendah. Tujuan analisis adalah memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kualitas bisnis dan harga yang harus dibayar untuk memilikinya.
Perlu diingat pula bahwa analisis fundamental tidak dapat menghilangkan seluruh risiko investasi. Kondisi perusahaan dan ekonomi dapat berubah, sementara harga saham tetap dapat naik maupun turun.
Karena itu, sesuaikan alokasi dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko, lakukan diversifikasi sesuai kebutuhan, serta gunakan dana yang memang telah disiapkan untuk investasi.
Sebelum mengalokasikan dana untuk membeli saham suatu emiten, pastikan kebutuhan rutin, dana darurat, dan tujuan keuangan jangka pendek tetap memiliki porsi yang memadai. Anda dapat memanfaatkan Tabungan Bank Mega untuk membantu memisahkan dana yang perlu dijaga likuiditasnya dari dana yang memang disiapkan untuk investasi. Dengan pengelolaan dana yang lebih terstruktur, keputusan membeli saham dapat dilakukan secara lebih terencana sesuai tujuan keuangan dan profil risiko Anda.
Baca Juga: Apa yang Dimaksud Emiten? Pengertian, Fungsi, dan Tujuannya
FAQ Seputar Emiten
1. Apa itu emiten?
Emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum efek kepada masyarakat. Dalam konteks investasi saham, istilah emiten sering digunakan untuk menyebut perusahaan yang menerbitkan saham yang dapat dimiliki investor melalui pasar modal.
2. Bagaimana cara memilih emiten yang baik?
Pelajari bisnis utama, tren pendapatan dan laba, arus kas, utang, profitabilitas, manajemen, tata kelola, keunggulan kompetitif, prospek industri, risiko, dividen, serta valuasi. Jangan mengandalkan satu indikator saja.
3. Apa yang harus dilihat dari laporan keuangan emiten?
Periksa laporan laba rugi untuk melihat pendapatan dan laba, neraca untuk mengetahui aset serta utang, dan laporan arus kas untuk melihat pergerakan kas. Baca pula catatan atas laporan keuangan karena dapat berisi informasi penting mengenai utang, transaksi pihak berelasi, dan berbagai kewajiban.
4. Apakah emiten dengan laba besar selalu bagus?
Tidak selalu. Investor perlu melihat kualitas dan keberlanjutan laba tersebut. Laba dapat meningkat karena faktor satu kali, sementara arus kas operasi justru lemah. Bandingkan pula laba dengan modal, aset, utang, dan valuasi perusahaan.
5. Apa rasio keuangan yang penting untuk menilai emiten?
Beberapa rasio yang sering digunakan antara lain Net Profit Margin, ROE, ROA, DER, PER, PBV, dividend payout ratio, dan dividend yield. Rasio yang paling relevan dapat berbeda berdasarkan karakter industri, sehingga sebaiknya digunakan secara bersamaan dengan analisis bisnis dan laporan keuangan.
6. Bagaimana cara mengetahui emiten memiliki utang yang sehat?
Lihat jumlah dan pertumbuhan utang, DER, beban bunga, arus kas operasi, jatuh tempo pinjaman, serta kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya. Bandingkan dengan perusahaan sejenis karena tingkat utang yang wajar berbeda antarindustri.
7. Apakah dividend yield tinggi berarti emitennya bagus?
Tidak. Dividend yield tinggi dapat berasal dari dividen yang besar, tetapi juga dapat terjadi karena harga saham turun tajam. Periksa pertumbuhan laba, arus kas, payout ratio, utang, riwayat dividen, dan alasan pergerakan harga sebelum mengambil kesimpulan.
8. Di mana melihat informasi resmi suatu emiten?
Investor dapat memeriksa website Bursa Efek Indonesia serta website resmi emiten, khususnya bagian Investor Relations. Sumber tersebut dapat digunakan untuk memperoleh laporan keuangan, laporan tahunan, keterbukaan informasi, paparan publik, presentasi investor, dan informasi aksi korporasi.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
