Siapa yang tidak ingin mendapatkan keuntungan dari investasi dengan risiko serendah mungkin? Keinginan tersebut wajar, terutama bagi investor pemula yang baru mulai mengembangkan dana di luar tabungan.
Namun, ketika mencari investasi yang aman, ada satu prinsip penting yang perlu dipahami sejak awal: tidak ada instrumen investasi yang sepenuhnya bebas risiko sekaligus menjanjikan keuntungan tinggi.
Setiap pilihan memiliki karakter berbeda. Deposito memiliki risiko yang berbeda dari obligasi. Reksa dana pasar uang berbeda dari saham. Bahkan Surat Berharga Negara yang memiliki dukungan pembayaran dari pemerintah tetap dapat mengalami perubahan harga apabila instrumennya diperdagangkan sebelum jatuh tempo.
Karena itu, istilah “aman dan menguntungkan” sebaiknya tidak diartikan sebagai investasi yang pasti untung. Investasi yang relatif aman justru merupakan produk yang legal, transparan, risikonya dapat dipahami, dan sesuai dengan tujuan serta kemampuan investor.
Lalu, apa saja pilihan yang dapat dipertimbangkan? Berikut perbandingan deposito, SBN, sukuk, reksa dana, obligasi, emas, hingga saham beserta cara memilihnya.
Ringkasan Artikel:
- Tidak ada investasi yang benar-benar bebas risiko dan menjamin keuntungan tinggi.
- Investasi yang relatif aman umumnya memiliki legalitas jelas, mekanisme transparan, dan risiko yang dapat dipahami.
- Deposito, SBN, reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, obligasi, emas, dan saham memiliki tingkat risiko yang berbeda.
- Deposito bank dapat termasuk penjaminan LPS apabila memenuhi persyaratan program penjaminan.
- SBN memiliki kewajiban pembayaran pokok dan kupon atau imbalan oleh pemerintah berdasarkan peraturan yang berlaku, tetapi harga instrumen tradable dapat berfluktuasi.
- Diversifikasi, pemilihan horizon investasi, dan kesesuaian dengan profil risiko membantu mengelola risiko investasi.
Daftar Isi
- Apa yang Dimaksud Investasi yang Aman dan Menguntungkan?
- Apakah Ada Investasi yang Benar-Benar Tanpa Risiko?
- Ciri-Ciri Investasi yang Relatif Aman
- Pilihan Investasi yang Relatif Aman dan Berpotensi Menguntungkan
- Perbandingan Risiko dan Potensi Keuntungan Setiap Investasi
- Investasi Apa yang Cocok untuk Pemula?
- Cara Memilih Investasi yang Aman dan Sesuai Kebutuhan
- Cara Mengecek Legalitas Investasi
- Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Mulai Berinvestasi
- Tips Mengurangi Risiko dalam Berinvestasi
- Pilihan Investasi melalui Bank Mega
- FAQ Seputar Investasi yang Aman dan Menguntungkan
Apa yang Dimaksud Investasi yang Aman dan Menguntungkan?
Investasi yang aman dan menguntungkan dapat dipahami sebagai instrumen yang memiliki tingkat risiko relatif sesuai dengan kemampuan investor sekaligus memberikan potensi hasil yang sepadan dengan risiko tersebut.
Kata aman bukan berarti nilainya tidak mungkin turun. Keamanan investasi dapat dilihat dari berbagai sisi, antara lain:
- legalitas produk dan penyedia;
- risiko gagal bayar;
- fluktuasi harga;
- kemudahan pencairan;
- perlindungan yang tersedia; dan
- kesesuaian produk dengan jangka waktu penggunaan dana.
Sementara itu, istilah menguntungkan juga tidak selalu berarti memberikan return paling tinggi.
Investasi dengan return 5% tetapi sesuai tujuan, dapat dicairkan ketika dibutuhkan, dan risikonya dapat Anda tanggung bisa menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan produk yang berpotensi menghasilkan 20% tetapi memiliki risiko kehilangan modal yang jauh lebih tinggi.
Karena itu, ukuran investasi yang baik sebaiknya tidak hanya berdasarkan besarnya potensi keuntungan, melainkan keseimbangan antara risiko, return, likuiditas, dan jangka waktu.
Apakah Ada Investasi yang Benar-Benar Tanpa Risiko?
Tidak ada investasi yang benar-benar tanpa risiko.
Bahkan instrumen yang dianggap memiliki risiko relatif rendah tetap mempunyai karakter risiko masing-masing.
Deposito, misalnya, memiliki risiko likuiditas karena dana ditempatkan dalam tenor tertentu. Perlindungan LPS juga memiliki persyaratan yang harus dipenuhi.
SBN mempunyai risiko gagal bayar yang sangat berbeda dibandingkan obligasi korporasi karena kewajiban pembayarannya berada pada pemerintah sesuai undang-undang. Namun, SBN yang diperdagangkan tetap mempunyai risiko harga pasar jika dijual sebelum jatuh tempo.
Emas dapat mengalami penurunan harga dan memiliki selisih antara harga beli dan jual. Reksa dana dapat mengalami penurunan NAB. Saham bahkan dapat mengalami fluktuasi cukup besar dalam waktu singkat.
Prinsip yang perlu diingat adalah:
semakin tinggi potensi imbal hasil, umumnya semakin besar pula risiko yang perlu ditanggung.
Karena itu, jangan mencari produk yang mengaku tanpa risiko tetapi menjanjikan keuntungan tinggi dan pasti. Kombinasi tersebut justru merupakan salah satu sinyal yang perlu diwaspadai.
Ciri-Ciri Investasi yang Relatif Aman
1. Memiliki Legalitas dan Diawasi Otoritas
Langkah pertama sebelum berinvestasi adalah memastikan produk dan pihak yang menawarkannya memiliki dasar legalitas yang sesuai.
Produk pasar modal dan pelaku industri jasa keuangan tertentu berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.
Namun, otoritas yang relevan dapat berbeda berdasarkan produk dan kegiatan usahanya. Karena itu, periksa siapa regulator yang berwenang untuk jenis investasi yang Anda pilih.
Legalitas tidak menjamin investasi pasti untung, tetapi menjadi syarat dasar agar investor tidak masuk ke penawaran yang beroperasi tanpa izin.
2. Risiko dan Cara Kerjanya Transparan
Produk investasi yang baik seharusnya menjelaskan bagaimana dana dikelola dan dari mana potensi hasil berasal.
Investor juga perlu memperoleh informasi mengenai risiko yang mungkin terjadi.
Jika sebuah produk hanya menjelaskan potensi keuntungan tetapi sulit menjawab bagaimana uang dikelola atau apa risiko terburuknya, pertimbangkan kembali sebelum menempatkan dana.
3. Potensi Imbal Hasil Masuk Akal
Return tinggi tidak otomatis menandakan penipuan, tetapi potensi keuntungan harus sejalan dengan risiko dan mekanisme investasinya.
Waspadai pihak yang menjanjikan keuntungan tinggi secara konsisten, bebas risiko, dan pasti dibayar tanpa menjelaskan sumber pendapatannya.
Bandingkan return yang ditawarkan dengan produk serupa di pasar.
4. Sesuai dengan Profil Risiko Investor
Produk yang relatif aman bagi seorang investor belum tentu terasa aman bagi investor lainnya.
Seseorang yang mampu menghadapi penurunan portofolio 20% memiliki toleransi berbeda dari investor yang merasa tidak nyaman ketika investasinya turun 5%.
Kenali apakah profil Anda konservatif, moderat, atau agresif sebelum memilih produk.
5. Memiliki Informasi Produk yang Jelas
Investor perlu mengetahui informasi dasar seperti:
- siapa penerbit atau pengelola;
- bagaimana dana diinvestasikan;
- berapa biaya yang dikenakan;
- kapan dana dapat dicairkan;
- risiko utama;
- mekanisme keuntungan; dan
- ketentuan produk lainnya.
Untuk reksa dana, misalnya, baca prospektus dan Fund Fact Sheet. Untuk SBN Ritel, pelajari Memorandum Informasi pada setiap seri.
Pilihan Investasi yang Relatif Aman dan Berpotensi Menguntungkan
Berikut beberapa instrumen yang dapat dipertimbangkan. Urutannya bukan peringkat dari yang terbaik hingga terburuk karena pilihan paling sesuai akan bergantung pada kebutuhan investor.
1. Deposito
Deposito merupakan produk simpanan bank yang ditempatkan untuk periode tertentu dengan bunga sesuai ketentuan.
Dibandingkan investasi pasar modal, deposito tidak mengalami fluktuasi harga harian. Investor sudah mengetahui tingkat bunga yang digunakan berdasarkan penempatan yang dilakukan.
Deposito juga termasuk jenis simpanan yang dapat dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS sepanjang memenuhi persyaratan program penjaminan.
Nilai simpanan yang dijamin maksimal Rp2 miliar per nasabah per bank. Selain batas nominal, terdapat persyaratan terkait pencatatan simpanan, tingkat bunga, dan kondisi nasabah yang harus dipenuhi.
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah likuiditas. Pencairan sebelum jatuh tempo dapat dikenakan penalti sesuai ketentuan bank.
Deposito dapat dipertimbangkan untuk investor konservatif atau dana yang memiliki jangka waktu penggunaan relatif jelas.
2. Surat Berharga Negara (SBN)
Surat Berharga Negara atau SBN adalah surat berharga yang diterbitkan Pemerintah Republik Indonesia.
Secara umum, SBN terdiri atas Surat Utang Negara dan Surat Berharga Syariah Negara.
Untuk investor individu, pemerintah secara berkala menawarkan SBN Ritel melalui mitra distribusi.
Pembayaran pokok dan kupon atau imbalan merupakan kewajiban pemerintah berdasarkan ketentuan undang-undang yang menjadi dasar penerbitannya.
Namun, karakter setiap seri berbeda. ORI, misalnya, dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah periode tertentu sehingga harganya dapat naik atau turun.
Jika dijual pada harga yang lebih rendah dari harga pembelian, investor tetap dapat mengalami capital loss.
3. Sukuk Negara
Sukuk Negara sebenarnya merupakan bagian dari SBN, tepatnya Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN.
Instrumen ini diterbitkan berdasarkan prinsip syariah dengan menggunakan akad dan aset yang menjadi dasar penerbitannya sesuai ketentuan.
Investor memperoleh imbalan, bukan bunga.
Untuk investor ritel, pemerintah antara lain menerbitkan Sukuk Ritel atau SR dan Sukuk Tabungan atau ST.
SR dapat diperdagangkan setelah melewati minimum holding period sesuai ketentuan seri, sehingga harganya dapat berubah di pasar sekunder.
ST tidak diperdagangkan di pasar sekunder, tetapi dapat menyediakan fasilitas early redemption berdasarkan persyaratan yang ditentukan.
4. Reksa Dana Pasar Uang
Reksa Dana Pasar Uang menempatkan dana pada instrumen pasar uang dalam negeri dan/atau efek bersifat utang dengan jangka waktu atau sisa jatuh tempo maksimum satu tahun.
Karena aset dasarnya relatif berjangka pendek, fluktuasinya umumnya lebih rendah dibandingkan reksa dana saham.
Produk ini sering dipertimbangkan untuk tujuan jangka pendek atau investor yang baru mengenal reksa dana.
Namun, reksa dana pasar uang tetap bukan tabungan atau deposito. Nilai unit penyertaan dapat berubah dan produk ini tidak menjadi objek penjaminan LPS.
5. Reksa Dana Pendapatan Tetap
Reksa Dana Pendapatan Tetap menempatkan sekurang-kurangnya 80% Nilai Aktiva Bersih pada efek bersifat utang.
Risikonya umumnya lebih tinggi dibandingkan reksa dana pasar uang karena harga obligasi dalam portofolio dapat berubah akibat pergerakan suku bunga, kondisi pasar, maupun faktor penerbit.
Di sisi lain, potensi pertumbuhannya juga dapat menjadi lebih menarik untuk tujuan dengan horizon yang lebih panjang.
Jangan terkecoh dengan kata “pendapatan tetap”. NAB reksa dana pendapatan tetap tetap dapat naik maupun turun.
6. Obligasi
Obligasi merupakan surat utang yang dapat diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan.
Investor dapat memperoleh pendapatan dari kupon dan, untuk obligasi yang diperdagangkan, potensi capital gain.
Namun, risiko obligasi sangat bergantung pada penerbit.
Obligasi korporasi memiliki risiko gagal bayar apabila perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya. Peringkat kredit dapat digunakan sebagai salah satu bahan untuk menilai risiko, tetapi bukan jaminan bebas gagal bayar.
Harga obligasi juga dapat turun ketika suku bunga pasar meningkat.
7. Emas
Emas sering digunakan sebagai salah satu instrumen diversifikasi dan penyimpan nilai dalam jangka panjang.
Harganya dapat dipengaruhi kondisi ekonomi global, inflasi, tingkat bunga, nilai tukar, permintaan, dan sentimen pasar.
Meski sering dianggap defensif, harga emas tidak selalu naik.
Investor juga perlu memperhatikan spread atau selisih antara harga beli dan jual. Pada emas fisik, terdapat pula aspek penyimpanan dan keamanan.
Jika membeli melalui layanan digital, periksa legalitas penyedia dan mekanisme kepemilikan emas secara jelas.
8. Saham (untuk Investor yang Siap dengan Risiko Lebih Tinggi)
Saham memberikan bukti kepemilikan atas bagian suatu perusahaan.
Potensi keuntungannya dapat berasal dari kenaikan harga saham dan dividen apabila perusahaan membagikannya.
Dibandingkan beberapa instrumen sebelumnya, saham umumnya memiliki fluktuasi yang lebih tinggi.
Harga dapat naik maupun turun secara signifikan akibat kinerja perusahaan, kondisi industri, ekonomi, suku bunga, dan sentimen pasar.
Karena itu, saham lebih sesuai bagi investor yang memahami risiko, mempunyai horizon investasi cukup panjang, dan mampu menghadapi volatilitas.
Perbandingan Risiko dan Potensi Keuntungan Setiap Investasi
Tidak ada klasifikasi risiko yang berlaku mutlak untuk setiap produk. Obligasi korporasi berperingkat rendah, misalnya, dapat mempunyai risiko lebih besar daripada obligasi pemerintah.
Namun, gambaran berikut dapat digunakan sebagai titik awal.
1. Instrumen dengan Risiko Relatif Rendah
Kelompok ini dapat mencakup deposito yang memenuhi ketentuan penjaminan LPS, SBN yang dipegang sesuai karakter produknya, serta reksa dana pasar uang.
Meski demikian, bentuk risikonya berbeda.
Deposito memiliki risiko likuiditas serta persyaratan penjaminan. SBN tradable mempunyai risiko harga jika dijual sebelum jatuh tempo. Reksa dana pasar uang memiliki risiko pasar, kredit, maupun likuiditas sesuai portofolionya.
2. Instrumen dengan Risiko Menengah
Reksa dana pendapatan tetap, obligasi berkualitas kredit baik, serta sebagian strategi emas dapat berada pada kategori risiko menengah tergantung produk dan horizon investasi.
Pergerakan suku bunga dapat memengaruhi harga obligasi. Emas juga dapat mengalami koreksi cukup panjang.
Karena itu, investor tetap perlu menyediakan waktu investasi yang memadai.
3. Instrumen dengan Risiko Lebih Tinggi
Saham dapat masuk kelompok risiko lebih tinggi karena harganya dapat berfluktuasi tajam.
Obligasi dengan kualitas kredit rendah juga dapat mempunyai risiko tinggi meskipun berada dalam kategori fixed income.
Potensi return yang lebih tinggi harus selalu dibaca bersama kemungkinan kerugian yang lebih besar.
| Instrumen | Risiko Relatif | Potensi Keuntungan | Catatan Utama |
|---|---|---|---|
| Deposito | Relatif rendah | Bunga | Perhatikan tenor dan persyaratan penjaminan LPS |
| SBN | Relatif rendah dari sisi kredit negara | Kupon/imbalan dan potensi capital gain pada seri tradable | Harga pasar dapat berubah sebelum jatuh tempo |
| Reksa Dana Pasar Uang | Relatif rendah | Pertumbuhan NAB | Bukan simpanan dan tidak dijamin LPS |
| Reksa Dana Pendapatan Tetap | Menengah | Pertumbuhan NAB | Dipengaruhi harga efek utang |
| Obligasi Korporasi | Bervariasi | Kupon dan capital gain | Perhatikan risiko kredit penerbit |
| Emas | Menengah | Kenaikan harga | Perhatikan spread dan volatilitas |
| Saham | Lebih tinggi | Capital gain dan dividen | Fluktuasi harga relatif tinggi |
Investasi Apa yang Cocok untuk Pemula?
Tidak ada satu produk yang otomatis paling cocok untuk semua investor pemula. Pilihan sebaiknya dimulai dari kapan dana akan digunakan.
1. Untuk Tujuan Jangka Pendek
Jika dana dibutuhkan dalam waktu relatif dekat, fokus utama sebaiknya adalah menjaga likuiditas dan membatasi fluktuasi.
Pilihan yang dapat dipelajari antara lain:
- deposito dengan tenor sesuai kebutuhan;
- reksa dana pasar uang; atau
- instrumen jangka pendek lain sesuai profil risiko.
Hindari memasukkan dana yang akan digunakan dalam beberapa bulan ke investasi dengan fluktuasi tinggi.
2. Untuk Tujuan Jangka Menengah
Untuk target beberapa tahun mendatang, investor dapat mempertimbangkan kombinasi instrumen.
Contohnya adalah SBN, obligasi, atau reksa dana pendapatan tetap, tergantung kebutuhan likuiditas dan profil risiko.
Jatuh tempo instrumen sebaiknya tidak terlalu jauh melewati waktu ketika dana akan digunakan.
3. Untuk Tujuan Jangka Panjang
Horizon yang panjang memberikan ruang lebih besar untuk menghadapi fluktuasi pasar.
Investor dapat mempertimbangkan kombinasi saham, reksa dana saham, fixed income, emas, dan aset lainnya berdasarkan profil risiko.
Semakin panjang horizon bukan berarti semakin bebas mengambil risiko. Alokasi tetap harus mempertimbangkan kemampuan menghadapi kerugian.
Cara Memilih Investasi yang Aman dan Sesuai Kebutuhan
1. Tentukan Tujuan Investasi
Mulailah dari tujuan, bukan dari produk yang sedang populer.
Apakah dana digunakan untuk membeli rumah, pendidikan anak, pensiun, liburan, atau sekadar membangun kekayaan jangka panjang?
Tujuan akan menentukan berapa dana yang dibutuhkan dan kapan uang tersebut harus tersedia.
2. Kenali Profil Risiko
Pahami kemampuan dan kenyamanan Anda menghadapi penurunan nilai.
Jangan memilih profil agresif hanya karena menginginkan return tinggi jika Anda sebenarnya akan panik ketika pasar turun.
Keputusan investasi yang tidak sesuai dengan profil risiko dapat mendorong investor menjual pada waktu yang tidak tepat.
3. Tentukan Jangka Waktu Investasi
Semakin dekat waktu penggunaan dana, semakin penting mengurangi ketergantungan pada aset yang mudah berfluktuasi.
Sebaliknya, dana yang baru digunakan belasan tahun mendatang memiliki lebih banyak waktu untuk menghadapi siklus pasar.
4. Sesuaikan dengan Kemampuan Finansial
Investasikan dana setelah kebutuhan utama dan kewajiban penting dapat dipenuhi.
Jangan memaksakan nominal besar hingga mengganggu arus kas.
Memulai dari jumlah yang lebih kecil secara konsisten dapat menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan menginvestasikan dana besar tetapi kemudian harus dicairkan untuk kebutuhan sehari-hari.
5. Perhatikan Likuiditas
Likuiditas menunjukkan seberapa mudah aset dapat dikonversikan menjadi uang tunai.
Saham yang aktif diperdagangkan relatif mudah dijual, tetapi harganya dapat sedang turun ketika dana dibutuhkan.
Deposito memiliki waktu jatuh tempo. SBN tertentu tidak dapat diperdagangkan, sementara obligasi yang tradable tetap bergantung pada kondisi pasar.
Sesuaikan karakter tersebut dengan kebutuhan Anda.
6. Bandingkan Risiko dan Potensi Imbal Hasil
Jangan hanya membandingkan return historis.
Perhatikan pula risiko kerugian, volatilitas, biaya, pajak, likuiditas, kualitas penerbit, dan jangka waktunya.
Return historis juga tidak menjamin kinerja yang sama pada masa depan.
Cara Mengecek Legalitas Investasi
1. Periksa Izin dan Pengawasan Otoritas
Sebelum mentransfer dana, cari tahu siapa pihak yang menawarkan investasi dan apakah kegiatan usahanya memiliki izin yang sesuai.
Untuk sektor jasa keuangan yang berada di bawah OJK, gunakan informasi resmi OJK untuk memeriksa lembaga maupun produk terkait.
Satgas PASTI juga secara berkala mengumumkan aktivitas keuangan ilegal yang telah ditemukan dan dihentikan.
Jangan menganggap sebuah perusahaan legal hanya karena memiliki kantor, aplikasi, banyak pengikut media sosial, atau mencantumkan logo regulator pada materi promosi.
2. Cek Identitas Perusahaan atau Penyedia Produk
Periksa nama badan hukum, alamat, kontak resmi, pihak pengelola, serta kanal digital yang digunakan.
Pastikan rekening tujuan pembayaran sesuai dengan mekanisme resmi produk.
Waspadai permintaan untuk mentransfer dana ke rekening pribadi tanpa penjelasan yang masuk akal.
3. Pelajari Dokumen dan Ketentuan Produk
Produk investasi yang sah biasanya memiliki dokumen yang menjelaskan cara kerja, risiko, biaya, serta hak investor.
Contohnya adalah prospektus dan Fund Fact Sheet pada reksa dana atau Memorandum Informasi pada SBN Ritel.
Baca dokumen tersebut sebelum bertransaksi, terutama pada bagian risiko dan ketentuan pencairan.
4. Waspadai Penawaran dengan Janji Keuntungan Tidak Wajar
Hati-hati jika promosi menggunakan klaim seperti:
- “pasti untung”;
- “tanpa risiko”;
- “return tinggi dijamin setiap hari”;
- “harus transfer sekarang”; atau
- “keuntungan hanya didapat jika merekrut anggota baru”.
Pada 2026, Satgas PASTI masih menemukan dan menghentikan berbagai penawaran investasi serta aktivitas keuangan ilegal. Artinya, kewaspadaan terhadap penawaran semacam ini tetap relevan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Mulai Berinvestasi
1. Menganggap Keuntungan Tinggi Pasti Aman
Potensi return dan risiko biasanya berjalan beriringan.
Semakin tinggi hasil yang ditawarkan, tanyakan terlebih dahulu risiko apa yang harus ditanggung untuk memperolehnya.
Jangan menggunakan nominal return sebagai satu-satunya dasar keputusan.
2. Mengikuti Tren tanpa Memahami Produknya
Popularitas sebuah aset tidak menjamin harganya akan terus naik.
Sebelum membeli, pahami bagaimana produk bekerja, faktor yang memengaruhi harga, serta bagaimana Anda dapat keluar dari investasi tersebut.
3. Menempatkan Seluruh Dana pada Satu Instrumen
Memusatkan semua aset pada satu perusahaan, satu saham, satu obligasi, atau satu jenis investasi meningkatkan risiko konsentrasi.
Diversifikasi membantu membagi eksposur ke beberapa sumber risiko.
Namun, memiliki banyak produk yang isinya sama juga belum tentu disebut diversifikasi yang efektif.
4. Menggunakan Dana Darurat untuk Investasi
Dana darurat sebaiknya disiapkan untuk kebutuhan tidak terduga dan mudah diakses.
Jika dana tersebut ditempatkan pada investasi berfluktuasi, Anda mungkin harus menjual ketika harganya sedang turun.
Pisahkan dana investasi dari kebutuhan jangka pendek.
5. Mengabaikan Risiko dan Biaya
Keuntungan yang terlihat tinggi dapat berkurang setelah biaya transaksi, biaya pengelolaan, spread, atau pajak diperhitungkan.
Selalu periksa return bersih yang berpotensi diterima dan biaya untuk keluar dari produk.
6. Tergiur Janji Keuntungan Pasti
Investasi pasar modal tidak dapat menjamin keuntungan tertentu setiap saat.
Jika seseorang menjanjikan return besar dan pasti sambil mengatakan modal tidak mungkin rugi, lakukan pemeriksaan ekstra terhadap legalitas dan model bisnisnya.
Tips Mengurangi Risiko dalam Berinvestasi
1. Lakukan Diversifikasi
Diversifikasi dilakukan dengan menyebarkan dana ke beberapa aset yang memiliki karakter berbeda.
Contohnya, portofolio dapat mempunyai kombinasi instrumen likuid, fixed income, dan saham sesuai profil risiko.
Ketika satu jenis aset mengalami tekanan, bagian lain tidak selalu bergerak dengan pola yang sama.
2. Mulai dengan Nominal Sesuai Kemampuan
Anda tidak harus menunggu mempunyai modal besar.
Mulailah dengan nominal yang tidak mengganggu kebutuhan rutin dan gunakan proses tersebut untuk memahami perilaku produk.
Naikkan jumlah investasi ketika kemampuan finansial meningkat.
3. Investasikan Dana secara Bertahap
Investasi secara berkala dapat membantu membangun kebiasaan dan mengurangi kebutuhan menentukan satu titik harga yang dianggap paling tepat.
Namun, metode bertahap tidak otomatis menjamin hasil lebih baik daripada investasi sekaligus.
Pilih berdasarkan kondisi dana, horizon, dan toleransi terhadap volatilitas.
4. Evaluasi Portofolio secara Berkala
Komposisi portofolio dapat berubah akibat pergerakan harga.
Jika alokasi saham awalnya 40% tetapi kemudian meningkat menjadi 60% karena harga naik, risiko portofolio juga dapat berubah.
Evaluasi dan lakukan rebalancing apabila komposisi sudah tidak sesuai dengan tujuan dan profil risiko.
5. Tingkatkan Pengetahuan sebelum Menambah Risiko
Semakin kompleks produk, semakin penting memahami mekanismenya.
Sebelum berpindah dari deposito ke obligasi, misalnya, pelajari hubungan harga dengan yield dan suku bunga.
Sebelum membeli saham individual, pelajari bisnis perusahaan, laporan keuangan, valuasi, dan risikonya.
Menambah potensi return tanpa menambah pemahaman dapat membuat keputusan investasi semakin spekulatif.
Pilihan Investasi melalui Bank Mega
Bagi nasabah yang ingin mulai membangun portofolio secara bertahap, Bank Mega menyediakan beberapa pilihan dengan karakter yang berbeda, mulai dari Mega Depo, Reksa Dana, hingga Obligasi Pemerintah dan SBN Ritel melalui M-Smile.
Pemilihan produknya tetap perlu dimulai dari tujuan dan jangka waktu investasi, bukan semata-mata mencari return tertinggi.
1. Mega Depo untuk Penempatan Dana Berjangka
Mega Depo merupakan produk deposito Bank Mega yang tersedia untuk nasabah perorangan maupun nonperorangan.
Produk ini memiliki beberapa pilihan mata uang dan tenor. Untuk Rupiah, pilihan tenornya saat ini mencakup 1, 3, 6, 12, hingga 24 bulan.
Mega Depo juga memiliki pilihan fasilitas Automatic Roll Over sesuai ketentuan produk.
Karena deposito merupakan simpanan bank, produk ini memiliki karakter berbeda dari reksa dana dan obligasi pasar modal.
Bank Mega merupakan peserta program penjaminan LPS. Namun, penjaminan simpanan tetap tunduk pada batas maksimal serta seluruh persyaratan yang ditentukan LPS.
Selain itu, pencairan Mega Depo sebelum jatuh tempo dapat dikenakan penalti sesuai ketentuan. Karena itu, sesuaikan tenor dengan kapan dana akan dibutuhkan.
2. Reksa Dana untuk Pilihan Profil Risiko yang Beragam
Bank Mega bertindak sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana atau APERD dan bekerja sama dengan beberapa Manajer Investasi.
Pilihan yang tersedia mencakup:
- Reksa Dana Pasar Uang;
- Reksa Dana Pendapatan Tetap;
- Reksa Dana Campuran; dan
- Reksa Dana Saham.
Setiap kategori memiliki karakter risiko berbeda.
Reksa Dana Pasar Uang Bank Mega, misalnya, tersedia untuk profil yang relatif konservatif, sedangkan sejumlah Reksa Dana Pendapatan Tetap tercantum pada tingkat risiko moderat.
Reksa Dana Saham mempunyai eksposur yang lebih besar terhadap saham sehingga fluktuasinya juga berbeda.
Melalui M-Smile, nasabah dapat membuat SID dan memperbarui profil risiko. Transaksi reksa dana yang didukung mencakup subscribe, top up, redeem, hingga switch sesuai produk.
Reksa dana merupakan produk pasar modal, bukan produk Bank Mega dan tidak menjadi objek program penjaminan LPS. Nilai investasi dapat naik maupun turun.
3. Obligasi Pemerintah dan SBN melalui M-Smile
Bank Mega juga menyediakan akses ke Obligasi Pemerintah melalui M-Smile.
Untuk SBN Ritel yang sedang ditawarkan Pemerintah, nasabah dapat memilih menu SBN Ritel untuk melakukan pemesanan di pasar perdana setelah memiliki SID dan profil risiko.
Selain itu, tersedia pilihan Obligasi Pemerintah di pasar sekunder berdasarkan seri yang sedang tersedia.
Pada pasar sekunder, harga obligasi dapat berada di atas atau di bawah nilai nominal. Artinya, investor berpotensi memperoleh capital gain maupun mengalami capital loss apabila menjual sebelum jatuh tempo.
Produk Obligasi merupakan produk pasar modal dan bukan produk simpanan Bank Mega. Untuk Obligasi Pemerintah/SBN, pembayaran kewajiban pemerintah mengikuti dasar hukum penerbitannya dan bukan penjaminan dari LPS.
Karena deposito, reksa dana, dan obligasi mempunyai karakter yang berbeda, tidak ada kewajiban untuk memilih hanya satu.
Investor dapat mempertimbangkan kombinasi beberapa instrumen berdasarkan:
- tujuan finansial;
- jangka waktu;
- kebutuhan likuiditas;
- profil risiko; dan
- kemampuan menanggung perubahan nilai investasi.
Dengan memahami fungsi setiap produk, investasi dapat dibangun sebagai bagian dari rencana keuangan dan bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek.
Baca Juga: Pinjam Modal Usaha, Apa Saja yang Perlu Dipertimbangkan?
FAQ Seputar Investasi yang Aman dan Menguntungkan
1. Apakah Investasi dengan Modal Kecil Bisa Menguntungkan?
Bisa.
Besarnya keuntungan tidak hanya ditentukan modal awal, tetapi juga tingkat return, jangka waktu, frekuensi menambah investasi, dan konsistensi.
Modal kecil yang ditambahkan secara rutin selama bertahun-tahun dapat berkembang menjadi nilai yang lebih besar.
Namun, jangan hanya mengejar persentase return tinggi karena ingin mempercepat pertumbuhan modal. Risiko tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan.
2. Apakah Investasi yang Aman Selalu Memberikan Imbal Hasil Rendah?
Tidak selalu, tetapi secara umum instrumen dengan risiko lebih rendah cenderung menawarkan potensi return yang lebih terbatas daripada aset berisiko tinggi.
Hubungan tersebut tidak selalu linear.
Suku bunga, kondisi pasar, tenor, dan waktu pembelian juga memengaruhi hasil investasi.
Fokuskan perbandingan pada risk-adjusted return, yaitu apakah potensi hasil sepadan dengan risiko yang harus ditanggung.
3. Apakah Lebih Baik Berinvestasi Sekaligus atau Bertahap?
Keduanya dapat digunakan.
Jika Anda mempunyai dana yang memang dialokasikan untuk jangka panjang dan memahami risiko pasar, investasi sekaligus dapat memberikan lebih banyak waktu bagi seluruh dana untuk berada di pasar.
Sementara investasi bertahap dapat membantu investor yang memperoleh penghasilan bulanan dan ingin membangun kebiasaan secara konsisten.
Investasi bertahap juga dapat mengurangi tekanan psikologis untuk menebak waktu terbaik membeli.
Pilih pendekatan sesuai sumber dana dan kenyamanan Anda, bukan karena menganggap salah satunya selalu menghasilkan return lebih tinggi.
4. Berapa Banyak Jenis Investasi yang Sebaiknya Dimiliki?
Tidak ada angka ideal yang berlaku untuk semua orang.
Diversifikasi bukan berarti semakin banyak produk selalu semakin baik.
Anda dapat memiliki sepuluh reksa dana tetapi tetap tidak terdiversifikasi jika seluruhnya mempunyai saham atau obligasi yang hampir sama.
Fokuslah pada diversifikasi berdasarkan kelas aset, penerbit, sektor, tenor, mata uang jika relevan, serta sumber risiko.
Portofolio juga harus tetap cukup sederhana agar dapat Anda pahami dan pantau.
5. Kapan Waktu yang Tepat untuk Menambah Nominal Investasi?
Nominal investasi dapat ditingkatkan ketika kondisi keuangan memungkinkan.
Contohnya ketika pendapatan meningkat, utang berkurang, bonus diterima, atau dana darurat sudah memadai.
Anda juga dapat menaikkan investasi secara berkala, misalnya setiap kali memperoleh kenaikan penghasilan.
Namun, jangan meningkatkan nominal hanya karena harga suatu aset sedang naik dan takut tertinggal.
Periksa kembali apakah tujuan, alokasi aset, serta profil risiko masih sama sebelum menambahkan dana dalam jumlah besar.
Kesimpulannya, mencari investasi yang aman bukan berarti mencari produk yang tidak mungkin rugi. Tujuan utamanya adalah menemukan instrumen legal dengan risiko yang dipahami dan sesuai kemampuan finansial. Deposito, SBN, sukuk, reksa dana, obligasi, emas, dan saham masing-masing mempunyai fungsi serta tingkat risiko yang berbeda. Dengan menentukan tujuan, melakukan diversifikasi, mengecek legalitas, dan berinvestasi secara disiplin, Anda dapat membangun portofolio yang lebih terarah sekaligus tetap memiliki peluang untuk mengembangkan dana dalam jangka panjang.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
