Pasar modal menyediakan berbagai pilihan instrumen yang dapat digunakan masyarakat untuk berinvestasi. Pilihannya tidak hanya saham. Investor juga dapat menemukan obligasi, sukuk, reksa dana, Exchange Traded Fund (ETF), Efek Beragun Aset (EBA), hingga produk derivatif dengan karakteristik yang berbeda.
Memahami berbagai produk pasar modal menjadi penting sebelum mulai berinvestasi. Setiap produk memiliki potensi hasil, tingkat risiko, jangka waktu, likuiditas, dan mekanisme transaksi yang tidak sama.
Produk yang sesuai untuk seorang investor belum tentu tepat bagi investor lainnya. Pilihannya perlu disesuaikan dengan tujuan finansial, jangka waktu, kemampuan menerima risiko, serta pemahaman terhadap instrumen tersebut.
Karena itu, jangan hanya memilih investasi berdasarkan return tertinggi yang pernah dicatat. Kenali terlebih dahulu bagaimana produk bekerja dan risiko yang menyertainya.
Berikut tujuh macam produk pasar modal yang penting diketahui sebelum Anda mulai berinvestasi.
Daftar Isi
- Apa Itu Produk Pasar Modal?
- Berbagai Macam Produk Pasar Modal yang Perlu Diketahui
- Perbedaan Produk Pasar Modal Berdasarkan Karakteristiknya
- Dari Mana Keuntungan Produk Pasar Modal Diperoleh?
- Risiko Produk Pasar Modal yang Perlu Dipahami
- Cara Memilih Produk Pasar Modal untuk Pemula
- Produk Pasar Modal Mana yang Cocok untuk Pemula?
- Perbedaan Produk Pasar Modal dan Produk Perbankan
- Cara Mulai Berinvestasi di Produk Pasar Modal
- Akses Produk Investasi melalui M-Smile Bank Mega
- FAQ Seputar Produk Pasar Modal
Apa Itu Produk Pasar Modal?
Produk pasar modal adalah berbagai instrumen atau efek yang diterbitkan maupun diperdagangkan dalam kegiatan pasar modal dan dapat digunakan investor untuk menempatkan dana sesuai tujuan investasinya.
Dalam pasar modal, pihak yang membutuhkan pendanaan dapat menerbitkan efek kepada investor. Bentuknya dapat berupa kepemilikan perusahaan, surat utang, efek syariah, unit penyertaan investasi kolektif, hingga kontrak yang nilainya mengacu pada aset tertentu.
Otoritas Jasa Keuangan atau OJK memperkenalkan berbagai instrumen investasi di pasar modal, antara lain saham, obligasi, reksa dana, sukuk, ETF, EBA, dan instrumen derivatif.
Setiap produk memiliki cara kerja berbeda. Saham, misalnya, merepresentasikan kepemilikan pada perusahaan. Sementara obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan berdasarkan ketentuan penerbitannya.
Karena mekanismenya berbeda, sumber keuntungan dan risiko setiap produk juga berbeda.
Berbagai Macam Produk Pasar Modal yang Perlu Diketahui
1. Saham
Saham merupakan bukti kepemilikan atau penyertaan modal seseorang atau pihak tertentu pada sebuah perusahaan.
Ketika membeli saham perusahaan terbuka, investor menjadi salah satu pemegang saham perusahaan sesuai jumlah saham yang dimiliki.
Potensi keuntungan saham dapat berasal dari:
- capital gain, yaitu selisih positif antara harga jual dan harga beli saham; dan
- dividen, yaitu pembagian bagian laba perusahaan kepada pemegang saham apabila perusahaan memutuskan melakukan pembagian dividen.
Namun, harga saham dapat bergerak naik maupun turun. Investor juga dapat mengalami capital loss ketika menjual saham dengan harga lebih rendah daripada harga pembelian.
Karena fluktuasinya dapat cukup tinggi, pemilihan saham sebaiknya didasarkan pada analisis perusahaan, kondisi keuangan, prospek bisnis, valuasi, dan risiko, bukan hanya tren harga jangka pendek.
2. Obligasi
Obligasi merupakan efek bersifat utang yang diterbitkan pihak tertentu untuk memperoleh pendanaan dari investor.
Penerbit obligasi dapat berupa pemerintah maupun perusahaan sesuai jenis produknya.
Pada obligasi konvensional dengan kupon, investor dapat memperoleh pembayaran kupon secara berkala dan pengembalian pokok pada saat jatuh tempo sesuai persyaratan obligasi.
Selain kupon, investor yang membeli dan menjual obligasi di pasar sekunder juga dapat memperoleh capital gain apabila harga jual lebih tinggi daripada harga pembelian.
Namun, obligasi memiliki risiko antara lain:
- perubahan harga akibat pergerakan suku bunga;
- risiko kredit penerbit;
- risiko likuiditas; dan
- capital loss apabila dijual pada harga lebih rendah.
Risiko penerbit obligasi pemerintah dan korporasi juga tidak dapat disamakan sehingga investor perlu memeriksa karakteristik masing-masing produk.
3. Sukuk
Sukuk merupakan efek syariah yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah di pasar modal.
Sukuk tidak sekadar diperlakukan sebagai surat utang berbunga. Penerbitannya menggunakan akad dan struktur yang sesuai dengan prinsip syariah serta memiliki aset, manfaat aset, proyek, jasa, atau kegiatan investasi tertentu yang menjadi dasar penerbitannya sesuai karakteristik produk.
Investor dapat memperoleh imbalan berdasarkan akad yang digunakan, misalnya berupa ujrah, margin, atau mekanisme lainnya.
Sukuk dapat diterbitkan oleh pemerintah maupun korporasi.
Seperti instrumen pasar modal lainnya, sukuk tetap memiliki risiko. Investor perlu memahami:
- struktur akad;
- penerbit;
- tenor;
- imbal hasil;
- likuiditas; dan
- risiko pasar.
4. Reksa Dana
Reksa dana merupakan wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang kemudian diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.
Investor tidak harus memilih dan mengelola setiap saham, obligasi, atau instrumen pasar uang secara langsung karena pengelolaan portofolionya dilakukan oleh Manajer Investasi.
Secara umum, terdapat beberapa jenis reksa dana seperti:
- Reksa Dana Pasar Uang;
- Reksa Dana Pendapatan Tetap;
- Reksa Dana Campuran; dan
- Reksa Dana Saham.
Karakteristik risikonya berbeda. Reksa dana pasar uang, misalnya, secara umum memiliki fluktuasi relatif lebih rendah dibandingkan reksa dana saham.
Investor memiliki unit penyertaan dan nilai investasinya dapat berubah mengikuti perkembangan Nilai Aktiva Bersih atau NAB produk.
Reksa dana tidak memberikan keuntungan yang pasti. Kinerja historis juga tidak menjamin hasil pada masa mendatang.
5. Exchange Traded Fund (ETF)
Exchange Traded Fund atau ETF adalah jenis reksa dana yang unit penyertaannya dapat diperdagangkan di bursa.
Karakteristik tersebut membuat ETF menggabungkan unsur pengelolaan portofolio reksa dana dengan mekanisme perdagangan yang memungkinkan unitnya diperjualbelikan melalui bursa selama jam perdagangan.
Banyak ETF menggunakan indeks tertentu sebagai acuan, meskipun karakteristik strategi setiap produk dapat berbeda.
Potensi keuntungan dapat berasal dari kenaikan harga unit dan hasil portofolio sesuai karakteristik ETF.
Namun, investor perlu memperhatikan:
- komposisi aset;
- indeks atau strategi acuannya;
- likuiditas perdagangan;
- selisih harga beli dan jual;
- biaya; dan
- risiko pasar.
ETF tetap merupakan instrumen investasi yang nilainya dapat naik maupun turun.
6. Efek Beragun Aset (EBA)
Efek Beragun Aset atau EBA merupakan efek yang penerbitannya didukung oleh kumpulan aset keuangan tertentu yang menghasilkan arus kas.
Aset yang mendasari dapat berasal dari berbagai jenis tagihan sesuai ketentuan, misalnya tagihan Kredit Pemilikan Rumah atau aset keuangan lain yang memenuhi persyaratan.
Melalui proses sekuritisasi, kumpulan aset keuangan tersebut menjadi dasar penerbitan efek yang dapat dimiliki investor.
Karakteristik pendapatan EBA dapat berbeda berdasarkan struktur produknya.
Investor perlu memahami antara lain:
- aset yang mendasari;
- kualitas tagihan;
- struktur pembayaran;
- jatuh tempo;
- risiko kredit;
- likuiditas; dan
- ketentuan produk.
Dibandingkan saham atau reksa dana, EBA mungkin belum sepopuler di kalangan investor pemula sehingga pemahaman terhadap struktur produk menjadi semakin penting.
7. Produk Derivatif
Derivatif merupakan kontrak atau instrumen keuangan yang nilainya berkaitan dengan aset atau variabel yang menjadi dasar atau underlying.
Dalam konteks pasar modal, underlying dapat berupa efek, indeks, saham, maupun aset lain sesuai produk dan regulasi yang berlaku.
Beberapa bentuk instrumen derivatif yang dikenal dalam pasar modal antara lain waran, opsi, kontrak berjangka, maupun bentuk derivatif lainnya.
Derivatif dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti:
- lindung nilai atau hedging;
- mengelola eksposur risiko; atau
- memperoleh peluang dari perubahan harga.
Namun, mekanismenya relatif lebih kompleks dan beberapa produk dapat memiliki risiko tinggi. Investor pemula sebaiknya memahami kontrak, underlying, potensi kerugian, jatuh tempo, dan mekanisme penyelesaian sebelum menggunakan produk derivatif.
Perbedaan Produk Pasar Modal Berdasarkan Karakteristiknya
1. Berdasarkan Potensi Imbal Hasil
Setiap produk memiliki sumber dan potensi hasil berbeda.
Saham dapat menghasilkan capital gain dan dividen. Obligasi dapat memberikan kupon dan perubahan harga. Reksa dana memperoleh hasil dari perkembangan portofolio yang dikelola.
Potensi hasil yang lebih tinggi biasanya perlu dilihat bersama risiko yang menyertainya.
Karena itu, jangan membandingkan produk hanya berdasarkan angka return tanpa memahami sumber dan tingkat ketidakpastiannya.
2. Berdasarkan Tingkat Risiko
Tingkat risiko tidak sama pada seluruh produk maupun pada seluruh produk dalam kategori yang sama.
Reksa dana pasar uang, misalnya, mempunyai karakteristik berbeda dari reksa dana saham. Obligasi pemerintah juga memiliki karakteristik risiko kredit yang berbeda dari obligasi perusahaan tertentu.
Produk derivatif bahkan dapat mempunyai mekanisme risiko yang jauh lebih kompleks daripada saham biasa.
Karena itu, kenali profil risiko sebelum memilih instrumen.
3. Berdasarkan Jangka Waktu Investasi
Beberapa produk mempunyai jatuh tempo, sedangkan produk lainnya tidak.
Obligasi dan sukuk biasanya mempunyai jangka waktu tertentu sampai jatuh tempo. Sementara saham tidak memiliki tanggal jatuh tempo seperti obligasi.
Reksa dana juga dapat digunakan untuk berbagai horizon berdasarkan jenis dan tujuan investasinya.
Cocokkan karakteristik tersebut dengan kapan dana akan digunakan.
4. Berdasarkan Tingkat Likuiditas
Likuiditas menunjukkan seberapa mudah suatu aset dapat dijual atau dicairkan.
Saham dengan transaksi aktif umumnya relatif mudah diperjualbelikan selama jam bursa. Namun, saham dengan volume rendah dapat lebih sulit dijual pada harga yang diinginkan.
Reksa dana terbuka memiliki mekanisme redemption sesuai prospektus, sedangkan obligasi di pasar sekunder bergantung pada ketersediaan transaksi dan harga pasar.
Karena itu, jangan menganggap seluruh instrumen pasar modal dapat langsung menjadi uang tunai pada hari yang sama.
5. Berdasarkan Cara Mendapatkan Keuntungan
Sumber hasil investasi juga berbeda.
| Produk | Contoh Sumber Potensi Hasil |
|---|---|
| Saham | Capital gain dan dividen |
| Obligasi | Kupon dan capital gain |
| Sukuk | Imbalan sesuai akad dan potensi perubahan harga |
| Reksa Dana | Perubahan nilai investasi berdasarkan portofolio |
| ETF | Perubahan nilai/harga unit dan hasil portofolio |
| EBA | Arus kas atau pendapatan sesuai struktur efek |
| Derivatif | Perubahan nilai kontrak berdasarkan underlying |
Tabel tersebut merupakan gambaran umum. Mekanisme setiap produk perlu diperiksa lebih lanjut melalui dokumen dan ketentuannya.
Dari Mana Keuntungan Produk Pasar Modal Diperoleh?
1. Capital Gain
Capital gain terjadi ketika suatu efek dijual pada harga lebih tinggi daripada harga perolehannya, setelah memperhatikan biaya yang relevan.
Contohnya, investor membeli saham senilai Rp10 juta dan kemudian menjualnya seharga Rp11 juta.
Secara bruto terdapat selisih positif Rp1 juta sebelum memperhitungkan biaya dan pajak yang berlaku.
Namun, kondisi sebaliknya juga dapat terjadi dan menghasilkan capital loss.
2. Dividen
Dividen merupakan bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham berdasarkan keputusan perusahaan dan ketentuan yang berlaku.
Tidak semua perusahaan membagikan dividen setiap tahun.
Perusahaan dapat menggunakan laba untuk ekspansi, memperkuat modal, membayar kewajiban, atau kebutuhan lainnya.
Karena itu, dividen tidak boleh dianggap sebagai pendapatan yang pasti akan selalu diterima.
3. Kupon atau Imbal Hasil
Pemegang obligasi konvensional dapat memperoleh kupon berdasarkan ketentuan penerbitan.
Pada instrumen syariah seperti sukuk, investor dapat memperoleh imbalan sesuai akad yang digunakan.
Nilai yang diterima perlu dilihat bersama harga pembelian, tenor, pajak, dan risiko penerbit agar investor memperoleh gambaran hasil yang lebih menyeluruh.
4. Kenaikan Nilai Aktiva Bersih
Pada reksa dana, nilai investasi berkaitan dengan jumlah unit penyertaan dan NAB per unit.
Jika NAB per unit meningkat dibandingkan saat pembelian, nilai investasi investor dapat meningkat.
Sebaliknya, penurunan NAB dapat menyebabkan nilai investasi berada di bawah modal awal.
Karena itu, reksa dana juga tidak memberikan jaminan bahwa nilai investasi selalu bertambah.
Risiko Produk Pasar Modal yang Perlu Dipahami
1. Risiko Pasar
Risiko pasar muncul akibat perubahan kondisi pasar yang memengaruhi harga berbagai instrumen.
Faktornya dapat berupa:
- suku bunga;
- inflasi;
- pertumbuhan ekonomi;
- nilai tukar;
- sentimen investor;
- kondisi geopolitik; dan
- berbagai faktor lainnya.
Dampaknya dapat berbeda pada masing-masing jenis efek.
2. Risiko Likuiditas
Investor mungkin kesulitan menjual suatu efek ketika jumlah pembeli di pasar terbatas.
Dalam kondisi tersebut, investor dapat harus menunggu atau menjual pada harga lebih rendah untuk mendapatkan likuiditas.
Karena itu, produk dengan potensi return menarik belum tentu cocok apabila Anda membutuhkan akses dana dalam waktu dekat.
3. Risiko Kredit atau Gagal Bayar
Risiko kredit terutama relevan pada instrumen yang bergantung pada kemampuan penerbit memenuhi kewajiban.
Pada obligasi korporasi, misalnya, perusahaan penerbit dapat menghadapi kesulitan membayar kupon atau pokok apabila kondisi keuangannya memburuk.
Peringkat kredit dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan, tetapi investor tetap perlu memahami penerbit dan kondisi keuangannya.
4. Risiko Perubahan Suku Bunga
Perubahan tingkat bunga dapat memengaruhi harga instrumen pendapatan tetap.
Secara umum, ketika tingkat bunga pasar meningkat, harga obligasi fixed rate yang sudah beredar dapat mengalami tekanan.
Risiko menjadi relevan apabila investor perlu menjual obligasi sebelum jatuh tempo.
5. Risiko Fluktuasi Harga
Saham, ETF, obligasi yang diperdagangkan, serta instrumen lainnya dapat mengalami perubahan harga.
Harga yang tercantum hari ini belum tentu sama beberapa hari atau bulan berikutnya.
Semakin besar volatilitas instrumen, semakin penting memastikan produk sesuai dengan toleransi risiko investor.
Cara Memilih Produk Pasar Modal untuk Pemula
1. Tentukan Tujuan Investasi
Mulailah dari alasan Anda berinvestasi.
Contohnya:
- mempersiapkan dana pensiun;
- pendidikan;
- DP rumah;
- membangun aset jangka panjang; atau
- tujuan finansial lainnya.
Tujuan membantu menentukan berapa lama dana dapat ditempatkan dan tingkat risiko yang realistis.
2. Kenali Profil Risiko
Profil risiko menggambarkan kemampuan serta kenyamanan investor menghadapi perubahan nilai investasi.
Investor yang panik ketika nilai investasinya turun relatif kecil tidak seharusnya memaksakan diri menggunakan strategi yang sangat agresif hanya untuk mengejar return tinggi.
Jawablah penilaian profil risiko sesuai kondisi sebenarnya.
3. Tentukan Jangka Waktu Investasi
Dana yang dibutuhkan setahun lagi membutuhkan pendekatan berbeda dari dana pensiun yang baru akan digunakan puluhan tahun kemudian.
Semakin dekat tujuan, semakin penting mempertimbangkan risiko penurunan nilai pada saat dana harus dicairkan.
4. Pelajari Karakteristik Produknya
Sebelum membeli, pahami:
- bagaimana produk menghasilkan return;
- risiko yang dimiliki;
- siapa penerbit atau pengelolanya;
- cara membeli dan menjual;
- biaya;
- pajak; dan
- mekanisme pencairan.
Hindari membeli instrumen yang mekanismenya belum Anda pahami.
5. Perhatikan Potensi Hasil dan Risiko
Return tinggi biasanya datang dengan tingkat ketidakpastian yang perlu diperhitungkan.
Ketika melihat investasi dengan potensi keuntungan menarik, tanyakan pula:
- berapa besar potensi kerugiannya;
- seberapa sering nilainya berfluktuasi;
- apakah terdapat risiko gagal bayar; dan
- seberapa mudah produk tersebut dijual.
Dengan begitu, keputusan tidak hanya didasarkan pada sisi keuntungannya.
6. Pertimbangkan Diversifikasi
Hindari menempatkan seluruh dana investasi pada satu instrumen tanpa pertimbangan.
Diversifikasi dapat dilakukan antara beberapa produk, penerbit, sektor, maupun kelas aset berdasarkan kebutuhan.
Tujuannya bukan menghilangkan seluruh risiko, tetapi mengurangi ketergantungan portofolio terhadap satu sumber risiko.
Produk Pasar Modal Mana yang Cocok untuk Pemula?
Tidak ada satu produk yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk seluruh investor pemula. Kesesuaian lebih ditentukan oleh tujuan, waktu, dan kemampuan menerima risiko.
1. Untuk Profil Risiko Konservatif
Investor yang relatif konservatif dapat mempelajari instrumen dengan fluktuasi yang cenderung lebih rendah terlebih dahulu, misalnya Reksa Dana Pasar Uang atau jenis Obligasi Pemerintah tertentu yang karakteristiknya sesuai dengan jangka waktu.
Namun, reksa dana tetap memiliki risiko investasi dan obligasi yang diperdagangkan di pasar sekunder dapat mengalami perubahan harga.
Karena itu, istilah konservatif tidak berarti bebas risiko.
2. Untuk Profil Risiko Moderat
Investor moderat dapat mempertimbangkan kombinasi instrumen dengan karakteristik pertumbuhan dan stabilitas yang berbeda.
Contohnya dapat berupa Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, obligasi, atau kombinasi dengan porsi saham yang sesuai profil.
Komposisi tidak harus sama untuk setiap investor.
3. Untuk Profil Risiko Agresif
Investor agresif yang memiliki jangka waktu cukup panjang dan mampu menghadapi fluktuasi lebih tinggi dapat mempertimbangkan porsi saham, Reksa Dana Saham, maupun ETF yang sesuai strategi.
Produk derivatif sebaiknya tidak otomatis dipilih hanya karena profil risiko agresif. Instrumen tersebut mempunyai mekanisme yang lebih kompleks dan membutuhkan pemahaman khusus terhadap kontrak serta risikonya.
Profil risiko tinggi bukan pengganti pengetahuan produk.
Perbedaan Produk Pasar Modal dan Produk Perbankan
1. Perbedaan Risiko
Produk simpanan bank seperti tabungan dan deposito mempunyai karakteristik berbeda dari investasi pasar modal.
Nilai produk pasar modal dapat naik maupun turun berdasarkan kondisi aset, penerbit, dan pasar.
Sementara produk simpanan memiliki mekanisme bunga atau bagi hasil serta ketentuan tersendiri dari bank.
2. Perbedaan Potensi Imbal Hasil
Produk pasar modal dapat memberikan potensi return dari perubahan harga, dividen, kupon, atau perkembangan portofolio.
Namun, potensi tersebut disertai risiko kerugian.
Pada produk perbankan seperti deposito, tingkat bunga biasanya diketahui berdasarkan periode penempatan, meskipun rate dapat berubah untuk penempatan atau perpanjangan berikutnya.
3. Perbedaan Perlindungan Dana
Ini menjadi salah satu perbedaan yang paling penting.
Produk pasar modal bukan simpanan bank dan tidak termasuk objek program penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
LPS memberikan penjaminan terhadap kategori simpanan bank seperti giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu dengan memenuhi ketentuan penjaminan.
Namun, bukan berarti seluruh produk pasar modal tidak mempunyai bentuk perlindungan atau mekanisme hukum tersendiri. Contohnya, pembayaran pokok dan imbalan Surat Berharga Negara tertentu dijamin oleh pemerintah berdasarkan undang-undang yang berlaku.
Jaminan pemerintah tersebut berbeda dari penjaminan simpanan oleh LPS.
4. Perbedaan Cara Pengelolaan
Pada saham, investor secara langsung memilih saham yang ingin dimiliki.
Pada reksa dana, pengelolaan portofolio dilakukan oleh Manajer Investasi.
Sementara produk simpanan merupakan kewajiban bank kepada nasabah sesuai karakteristik dan perjanjian produknya.
Perbedaan cara pengelolaan tersebut membuat dokumen, risiko, dan cara evaluasi produknya juga berbeda.
Cara Mulai Berinvestasi di Produk Pasar Modal
1. Siapkan Dana Investasi
Gunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi.
Hindari menggunakan uang yang akan segera diperlukan untuk:
- kebutuhan sehari-hari;
- tagihan;
- cicilan;
- dana darurat; atau
- kebutuhan jangka dekat lainnya.
Mulailah dari nominal yang sesuai kemampuan daripada memaksakan jumlah besar.
2. Pilih Produk Sesuai Tujuan
Gunakan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko sebagai filter awal.
Jika dana akan digunakan dalam waktu relatif dekat, produk dengan fluktuasi tinggi mungkin kurang sesuai.
Sebaliknya, tujuan jangka panjang dapat memberikan waktu lebih panjang menghadapi perubahan pasar, meskipun risiko tetap perlu dipertimbangkan.
3. Gunakan Lembaga atau Agen Penjual Resmi
Lakukan transaksi melalui pihak yang memiliki izin atau kewenangan sesuai ketentuan.
Untuk saham, investor biasanya membuka rekening melalui Perusahaan Efek. Untuk reksa dana, transaksi dapat dilakukan melalui Manajer Investasi maupun Agen Penjual Efek Reksa Dana yang resmi.
Hindari mentransfer dana investasi ke rekening pribadi pihak yang mengaku sebagai agen atau penasihat investasi tanpa legalitas yang jelas.
4. Lengkapi Profil Risiko dan SID
Single Investor Identification atau SID merupakan identitas tunggal investor di pasar modal.
Dalam berbagai layanan investasi, investor juga diminta mengisi profil risiko untuk membantu mengetahui tingkat toleransi terhadap risiko investasi.
Prosedur dokumen dapat berbeda berdasarkan produk dan lembaga yang digunakan.
5. Lakukan Transaksi Investasi
Setelah akun dan dokumen siap, pilih produk berdasarkan hasil analisis.
Sebelum mengonfirmasi transaksi, periksa kembali:
- nama produk;
- nominal;
- harga jika relevan;
- tenor;
- risiko;
- biaya;
- pajak; dan
- ketentuan transaksi.
Jangan terburu-buru karena takut kehilangan kesempatan.
6. Pantau dan Evaluasi Portofolio
Investasi tidak berhenti setelah transaksi berhasil.
Lakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui apakah:
- produk masih sesuai tujuan;
- profil risiko berubah;
- fundamental investasi berubah;
- alokasi portofolio terlalu terkonsentrasi; atau
- waktu penggunaan dana semakin dekat.
Namun, evaluasi tidak berarti harus membeli dan menjual produk setiap kali pasar bergerak.
Akses Produk Investasi melalui M-Smile Bank Mega
Bagi nasabah Bank Mega yang ingin mulai mengenal produk pasar modal, M-Smile menyediakan akses investasi secara digital untuk reksa dana dan Obligasi Pemerintah.
Untuk reksa dana, PT Bank Mega Tbk bertindak sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana atau APERD. Dana investasi kemudian dikelola oleh Manajer Investasi berdasarkan produk yang dipilih, bukan dikelola sebagai produk simpanan Bank Mega.
Melalui M-Smile, tersedia kategori reksa dana:
- Pasar Uang;
- Pendapatan Tetap;
- Campuran; dan
- Saham.
Produk tersedia dalam pilihan denominasi IDR maupun USD sesuai produk yang ditawarkan. Transaksi reksa dana melalui M-Smile dapat mencakup subscribe, top up, redeem, dan switch sesuai ketentuan.
Berdasarkan informasi Bank Mega saat artikel ini ditulis, investasi reksa dana melalui M-Smile dapat dimulai dari Rp1.000.000.
Sebelum melakukan transaksi, nasabah perlu mengisi Profil Risiko dan memiliki SID. Bank Mega saat ini mencantumkan proses Profil Risiko dan SID reksa dana dapat berlangsung maksimal 3 × 24 jam.
Selain reksa dana, M-Smile juga memberikan akses ke Obligasi Pemerintah.
Nasabah dapat menggunakan layanan untuk:
- melakukan pemesanan SBN Ritel pada pasar perdana ketika masa penawaran tersedia; dan
- membeli Obligasi Pemerintah yang tersedia di pasar sekunder.
Untuk transaksi obligasi, nasabah juga perlu memiliki SID dan Risk Profile terlebih dahulu. Minimum investasi yang tercantum pada informasi Bank Mega saat ini dimulai dari Rp1 juta sesuai produk dan ketentuan transaksi.
Perlu dipahami bahwa reksa dana dan obligasi merupakan produk pasar modal, bukan produk simpanan Bank Mega. Nilai investasi memiliki karakteristik dan risiko masing-masing serta bukan objek program penjaminan LPS.
Untuk Obligasi Pemerintah yang tersedia, jaminan pembayaran pokok dan kupon berasal dari Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan ketentuan perundang-undangan, bukan dari Bank Mega.
Karena itu, sebelum membeli, pelajari prospektus, memorandum informasi, fund fact sheet, risiko, tenor, harga, maupun dokumen produk lainnya. Gunakan tujuan keuangan dan profil risiko sebagai dasar, bukan hanya potensi return.
Baca Juga: Pilihan Investasi agar Lifestyle Jalan, Uang Tetap Tumbuh
FAQ Seputar Produk Pasar Modal
1. Apakah Semua Produk Pasar Modal Bisa Dibeli dengan Modal Kecil?
Tidak. Minimum investasi berbeda pada setiap produk dan penyedia layanan. Saham diperdagangkan berdasarkan satuan perdagangan tertentu, sedangkan reksa dana dapat memiliki minimum pembelian yang berbeda-beda. Obligasi dan produk lain juga mempunyai minimum transaksi berdasarkan penerbitan serta platform. Sebagai contoh, informasi Bank Mega saat ini mencantumkan investasi reksa dana dan Obligasi Pemerintah melalui M-Smile mulai dari Rp1 juta sesuai ketentuan produk.
2. Apakah Produk Pasar Modal Bisa Dicairkan Kapan Saja?
Tergantung produknya. Saham dan ETF yang diperdagangkan di bursa dapat dijual ketika pasar berlangsung selama terdapat transaksi yang dapat memenuhi order. Reksa dana mempunyai mekanisme redemption dan waktu penyelesaian sesuai prospektus. Obligasi tertentu dapat dijual di pasar sekunder, tetapi harga serta likuiditasnya berubah. Produk lain dapat memiliki jatuh tempo atau pembatasan transaksi tertentu. Karena itu, jangan menganggap seluruh investasi dapat dicairkan secara instan.
3. Apakah Investor Bisa Memiliki Beberapa Jenis Produk Pasar Modal Sekaligus?
Bisa. Investor dapat memiliki saham, reksa dana, obligasi, maupun instrumen lain dalam satu portofolio sepanjang sesuai dengan kemampuan dan ketentuan produk. Memiliki beberapa jenis aset dapat menjadi bagian dari diversifikasi. Namun, jumlah produk yang banyak tidak otomatis membuat portofolio lebih aman. Perhatikan bobot, korelasi risiko, tujuan, dan kemampuan memantau setiap instrumen.
4. Apakah Produk Pasar Modal Dijamin oleh LPS?
Tidak. Program LPS ditujukan untuk simpanan bank yang memenuhi ketentuan penjaminan, seperti tabungan, giro, dan deposito. Saham, obligasi, sukuk, reksa dana, ETF, EBA, dan derivatif merupakan produk pasar modal sehingga bukan simpanan yang dijamin LPS. Khusus Surat Berharga Negara atau Obligasi Pemerintah tertentu, pembayaran pokok dan imbalannya memiliki jaminan pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan. Mekanisme tersebut berbeda dari penjaminan LPS.
5. Apa Perbedaan Membeli Produk Pasar Modal di Pasar Perdana dan Pasar Sekunder?
Pasar perdana merupakan tahap ketika efek ditawarkan kepada investor dalam proses penerbitannya sesuai mekanisme penawaran yang berlaku. Sementara itu, pasar sekunder merupakan tempat efek yang telah diterbitkan diperdagangkan kembali antarinvestor. Contohnya, SBN Ritel dapat dipesan ketika masa penawaran di pasar perdana, sedangkan seri Obligasi Pemerintah yang sudah dapat diperdagangkan dapat dibeli di pasar sekunder. Harga di pasar sekunder dapat berada di atas, sama dengan, atau di bawah nilai nominal sehingga investor perlu memperhatikan harga dan yield sebelum bertransaksi.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang produk dan layanan dari Bank Mega, kamu bisa kunjungi website kami, hubungi layanan pelanggan kami di 08041500010, atau bisa juga download aplikasi M-Smile yang tersedia di App Store dan Play Store untuk daftar dan apply Tabungan Bank Mega dan Kartu Kredit Bank Mega sekarang juga!
Kamu juga bisa apply kartu kredit hanya 5 menit langsung di-approve lewat sini. Untuk data dan referensi terbaru, silakan kunjungi bankmega.com.
Bank Mega Berizin dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
